DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 142. MULAI PACARAN LAGI


__ADS_3

"Serius boleh?" tanya Amir lagi.


"Iya, lagian aku diluar ngapain?"


"Sayang, disana ada butik yang bisa kamu pakai, ada beberapa karyawan Queeny juga ditambah ruang kerja kita, apply pola dan sebagainya ada dilantai dua butik ... letaknya lima ratus meter dari rumah Abah dijalan utama," jelas Amir.


"Lalu?"


"Kamu ga pengen kerja di workshop gitu?"


"Sama Qolbie?"


"Iyalah sama aku."


"Kan bisa kerja dari kamar, kalau mau bikin pola juga ... kalau mau apply ga usah ke butik kan, bisa di rumah, workshop kita masih nyatu sama Abah kan?"


"Iya masih."


"Lalu, gunanya aku keluar rumah, untuk apa?... kalau sekedar belanja, bisa DO kan ... kalau keluarnya nemenin Qolbie jalan kemana gitu, baru aku mau ... selain itu selama semua bisa dikerjakan dari rumah, buat apa keluar?"


Aiswa bicara panjang, seraya tangannya mengoleskan serum serta sunscreen ke wajahnya, dilanjutkan dengan membalurkan handbody pada lengannya.


Amir menjauhkan hairdryer dari rambut Aiswa, memandang istrinya dari pantulan cermin.


"Benar mau begitu?" tanyanya serius.


"Qolbie maunya aku gimana?"


"Yaa kayak gitu," senyumnya mengembang.


"Masih nanya juga, gimana sih ... udah kering yaa?"


"Aku kan pengen denger kamu yang bilang langsung, Rohi ... aku ga mau kamu merasa terpaksa," tuturnya lembut.


"Kalau Qolbie ga bilang belum tentu aku tahu, lain kali sampaikan saja kalau aku salah atau Qolbie ingin aku gimana gitu, Ok?"


"Maa sya Allah ... aku ga boleh cium yaa, kamu udah make up?"


"Make up apa? aku belum izin make up kan? berarti belum ... lagian sekarang semua ini, cuma buat suamiku, kalau Qolbie izinkan aku make pada saat keluar rumah maka akan aku pakai, jika tidak yaa ga masalah buat aku...." tunjuk nya pada semua skincare yang ada di atas meja riasnya.


Kamu jauh lebih dewasa kini, Aiswa.


"Ilmunya sekarang dipake yaa sayang, kemarin waktu kabur lupa?"


"Ish kita sama lah, lupa," mereka berdua tertawa mengingat kebodohan serta kekhilafan beberapa tahun lalu. Menyadari kesalahan yang seharusnya bisa dihindari. Melanggar norma dan berani berbuat dosa dengan pergi berdua.


"Bii, nanti bacakan aku 30 juz yaa, perasaan dulu pernah ada yang mau hadiahkan bil ghoib buat aku?"


"Masih ingat aja ... mulai nanti malam yaa, ba'da maghrib hingga isya, lima juz dulu sampai kamu tidur ... sekarang ke kampus yuk ... mana karetnya? aku yang ikat rambut kamu," Amir meraih karet rambut warna coklat dari tangan Aiswa, mengikat rambut panjang istrinya agar tidak gerah saat mengenakan hijab nanti.


"Joanna diajak untuk ambil semua barang kamu yang didalam asrama sayang," ingatnya lagi pada Aiswa.

__ADS_1


"Dia selalu ikut kemana aku pergi, kan aku ga hafal jalan Bii, selama disini aku ga kemana-mana," ujarnya sembari merapikan hijab warna dusty pink dan mengaturnya agar menutupi dada.


"Anak baik," usapnya dikepala Aiswa.


"Alhamdulillah, diakui baik sama Qolbie...."


"Ga jadi make up sayang?"


"Ga ah."


"Pake aja, boleh ko Rohi, asal jika keluar denganku," sahutnya lagi mengizinkan Aiswa memakai make up tipis.


"Bener yaa, aku cuma pake bedak dan liptint nih Bii, liatin," tarik tangannya agar Amir duduk disisi ranjang melihat apa yang dia kenakan.


Makin cantik, duh.


Seusai Aiswa siap, Amir bergegas melakukan sholat duha. Hingga pukul sepuluh tepat, mereka pun bertolak ke kampus Aiswa untuk mengurus kepindahan istrinya selama masa study satu tahun kedepan.


*


Central Saint.


Sudah satu jam Amir berada di sekretariat kampus mengisi berbagai dokumen kepindahan Aiswa, karena dia adalah walinya kini.


Aiswa kemana sih, lama bener ngambil barangnya, apa ketemu pacarnya disini ya?


Beberapa kali kepalanya menoleh kearah pintu, duduknya tak tenang membayangkan istri cantiknya berkeliaran di lorong kampus, dilihat mata lelaki yang bukan mahramnya. Ia gelisah.


"Aku ga punya nomer Istriku, bodoh, kemarin ngapain aja coba yaa duh," ia gusar menyentuh pelipisnya lalu menyugar rambut yang telah rapi tertata.


Si-al ... aksinya itu ternyata menarik perhatian beberapa staff muda disana, makin terpesona oleh kehadiran pria tampan di ruangan mereka.


"Sayang ... serunya bahagia kala melihat Aiswa menghampirinya."


Aiswa mendengar bisik-bisik para wanita disana.


"Bii, betah ya disini," sindirnya halus.


"Apanya, aku mau cari kamu tapi takut nyasar ... mana ga tahu nomer kamu kan."


Aiswa hanya diam, jemarinya meraih benda pilih dalam genggaman suaminya, menekan tombol kontak disana.


"Rohi? nomermu yang dulu waktu kabur, ga ganti?"


"Aku pakai dua nomer Bii, yang ini tetap aku pakai dan satunya khusus teman kuliah saja," ujarnya sambil mengembalikan ponsel Amir.


"Kenapa aku ga kepikiran ya waktu di Singapura dan Malaysia kemarin?"


"Takdir, ayo sudah kan?"


"Iya sudah semua dan sisa menunggu dokumen siap," imbuhnya lagi.

__ADS_1


Tak berapa lama dokumen yang dibutuhkan telah dalam genggaman, mereka pun keluar dari kantor sekretariat menyusuri lorong kampus menuju parkiran.


Hari ini terakhir ia berada di London, beberapa kawan satu teamnya berkumpul melepas kepergian Little A yang cemerlang.


"Bye Little A, we're miss you," seru mereka menghambur dalam pelukan Aiswa satu persatu.


"Sayang kalian semua," balas Aiswa tak kalah haru seraya mengeratkan pelukan.


Perhatian Amir teralihkan pada dua sosok pria dari kejauhan yang sedang menghampiri mereka.


"Aey, bye, take care disana ... 'am i right speak bahasa?" ujar salah satu bule tampan pada Aiswa saat para gadis itu telah melerai pelukan mereka.


"Thanks Dave," balas Aiswa tanpa melihat wajah pria dihadapannya.


"Bye baby, you're so beautifull Aey, i'm gonna miss you," ucap salah satunya lagi.


Aiswa hanya diam ditempatnya, masih bergandengan tangan dengan para sahabatnya.


Saat kedua pria bule menjulurkan tangan mereka untuk berjabat, Amir menyambut uluran tangan keduanya.


"Thanks, Gent, she's my wife," balasnya ketus disertai tatapan tak suka. Aiswa yang melihatnya hanya tersenyum simpul mengetahui suaminya cemburu.


"Thanks to all of you, sampai jumpa lagi...." sambung Amir menarik jemari Aiswa untuk pergi dari sana diiringi lambaian tangan keduanya.


"Aku sekarang nyesel izinkan kamu pakai make up sayang, lihat itu, tatapan pria lapar melihatmu," sungut nya sebal, tangannya menarik tubuh Aiswa agar menempel erat padanya.


"Ga kebalik Bii? para cewek itu, lihat kamu kek strawberry seger," kekehnya tak kalah.


"Mana ada, mereka lihat kamu... Jo, jaket donk," pintanya kala melihat Joanna membawa mantel Aiswa diatas kopernya.


"Ini, Den Mas, buat apa?"


"Kamu pake sayang," Amir menyampirkan jaket dari Joanna menutupi kepala dan wajah Aiswa. Lengan kekar itupun merangkul tubuh istrinya menempel ketat padanya.


Bukannya marah, Aiswa justru tertawa atas kelakuan suaminya itu.


"Bii, kebalik bii, harusnya aku yang kayak gini sama Qolbie...." Tawa Aiswa masih terdengar hingga mereka memasuki mobil dan keluar dari sana.


"Ga ya sayang, ga lagi aku izinin kamu dandan...." Amir masih kesal.


"Jo, kita langsung pulang."


"Jalan dulu donk Bii, ke Big Ben boleh ya," rengek Aiswa.


"Asal kayak tadi yaa, pakai jaket atau syal atau masker, Ok?" tawarnya.


.


.


...__________________________...

__ADS_1


__ADS_2