
Waktu Indonesia, pukul sepuluh pagi.
Kedua orang tua Ahmad memanggil putra sulungnya ke kamar. Masih membawa kitab Al hikam selepas memberi kajian, Ahmad masuk ke kamar beliau memenuhi panggilan.
"Kak, yang dibawa itu, tapi ko belum peka," sindir Umma masih di atas sajadah selepas mengaji.
Ahmad hanya diam, menanti wejangan yang akan ia dapat hari ini setelah aksi menghindar lebih dari sepekan yang lalu.
"Susulin kalau mau selesai. Mengalah bukan berarti kalah dan gak gentle namun kamu sebagai pemimpin bertanggungjawab atas siapa yang di pimpinnya ... dia juga bingung, Ahmad," tegur Umma.
"Kamu paham gak watak istrimu?" tanya Buya.
"In sya Allah sedikit demi sedikit, aku ngerti dia maunya gimana tapi...."
"Tapi apa? gengsi? atau merasa bahwa suami maha benar?" cecar Umma.
"Gak semua masalah bisa di selesaikan dengan pemikiran begitu Kak. Ungkapkan apa saja keinginanmu dan dengarkan apa yang dia mau darimu," sambung Umma lagi.
"Kalian itu selayaknya pasangan perjodohan pada umumnya. Belajar saat setelah menikah, justru lebih enak bisa leluasa, bukan malah menjadi semakin menutup diri," Buya menambahkan.
Ahmad hanya mendengarkan tanpa mendebat. Kuncinya ada pada dirinya, seperti Gamal dan Amir bahkan Aiswa yang menyampaikan hal serupa dalam versi bahasa berbeda.
"Nah tuh, jangan seperti Buya juga. Kaku, wanita itu asalnya dari rusukmu yang sudah bengkok, jika terlalu keras mengatur agar dia tak terlalu bengkok. Akan retak perlahan dan bisa patah bilamana tak di bubuhi perekat...." sindir Umma pada kedua lelakinya.
"Buya juga kena, alhamdulillah. Kan sekarang udah gak ya, Sayang," bisik Buya mengusap kepala Umma.
"Alhamdulillah meski nyadarnya lama. Kakak, jangan sampai istrimu menangis karena sifatmu yang kaku sehingga melukainya ... dia tak berhutang apapun terhadapmu. Kamu kewajiban baginya, jadi jangan buat Dewiq sulit untuk meraih banyak pahala darimu ... dengar tidak, Ahmad Hariri bin Hariri salim bin Abdulaziz Salim Azkiya," geram Umma.
Kenapa para lelaki Tazkiya semua lamban menyadari untuk mengambil tindakan jika sudah berhubungan dengan wanitanya.
"Gih sana, renungi ... perjalanan kalian masih panjang, Umma gak akan selamanya bisa menegurmu. Dan tidak seterusnya mencampuri urusan kalian," imbuh Buya.
"Daritadi juga Umma yang bicara, Buya ngapain aja?" tegur Maryam.
"Kan dengerin kamu, Sayang ... salah lagi," keluh Hariri salim.
"Miiiirr, Amir ... Buya belajar sama kamu aja dah, menaklukkan Umma lagi," gumam Hariri salim mencium pipi istrinya di depan Ahmad.
Maryam hanya tersenyum menanggapi keluhan suaminya. Memang ia telah banyak berubah setelah insiden Aiswa.
"Ya ampun, ada aku," protes Ahmad.
"Sana kamu Kak, Umma udah kelar...." usir Hariri Salim pada Ahmad yang masih ada di kamar mereka.
"Ada Kakak, ih, lagian aku masih mau ngaji," bisik Umma.
"Astaghfirullah...." Ahmad bangkit, mengusap dada atas kelakuan orang tuanya.
"Umma, Buya, aku gak mau punya adek lagi ya...." ujar Ahmad seraya menutup pintu.
"Jangan lupa dikunci, pintunya," serunya lagi seraya membuka pintu kamar.
__ADS_1
Tak habis pikir, gara-gara Amir, orang Tuanya makin intens saja bermesraan meski terkadang ada dia di hadapan mereka.
"Dia sedang apa ya?"
Ahmad meraih ponselnya di atas ranjang, merebahkan badannya disana.
"Assalamu'alaikum, Sha," tulis Ahmad, mengirimkan pesan.
Sepuluh menit, tiga puluh menit ia menanti.
"Wa'alaikumussalam, Bear. Maaf ya habis mandi tadi gak dengar. Menjelang maghrib di sini," balas Dewiq.
Ahmad merubah panggilan menjadi video call. Tapi tak direspon oleh istrinya.
"Kangen kamu, Sha," tulisnya lagi di chat.
"Aku belum ganti baju, Mas. Sebentar ya," balas Dewiq.
"Astaghfirullah, dari kemarin di suguhi ginian mulu. Ternyata efek tulisan itu bisa bikin otak travelling melebihi audio," kekehnya membaca balasan dari Dewiq.
"Mas, dia manggil aku gitu, ko jadi grogi ya," Ahmad masih senyam senyum bermonolog.
"Kenapa, Bear?" Dewiq melakukan panggilan.
"Kangen kamu, Sayang. Tapi aku belum bisa nyusulin karena besok harus hadir saat temu agreement kerjasama," keluhnya.
"Iya gak apa, Bear. Aku lusa baru selesai ujian ko," Dewiq membalas.
"Aku ngerti ko. Jaga kesehatan ya di sana," lirih Dewiq.
"Maafin aku ya, Sha. Aku gak peka ... maksudku diam hanya ingin kamu juga berpikir ulang. Jika dilanjutkan, aku takut emosi kian meningkat... tapi kamu mengartikan sebaliknya. Memang ini salahku, " tutur Ahmad.
Dewiq hanya diam mendengar Ahmad bicara. Ia sibuk mengatur agar suaranya nanti tak terdengar sedih.
"Sha," panggil Ahmad.
"Iya, aku juga salah, maaf."
"Sayang...." lirih Ahmad, suaranya mulai berat.
Hening.
Menjeda lama keduanya dalam diam.
"Sayang, say something please," Ahmad ingin mendengar Dewiq bicara namun nampaknya ia masih enggan.
"Pada kenyataannya kita berdua merasa saling terasing kembali, kamu pergi dengan kekesalanmu terhadap ku yang tak kau ungkap, sedangkan aku diam dengan segala penyesalanku mengapa tak mencegah kau pergi."
Samar, isakan halus terdengar lirih dari ujung sana.
"Sayang, please ... jangan siksa aku begini, Marsha," Ahmad putus asa. Inginnya segera terbang ke sana namun perjanjian telah mengikatnya. Ia telah memesan tiket semalam dan akan pergi ke London esok pagi setelah MoU dilakukan.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, Ya Allah, Sha, maafkan aku...."
Dewiq menjauhkan ponselnya. Ia tak lagi marah, namun justru sangat bahagia Ahmad mau mengalah padanya.
Dia kehilangan kata-kata tatkala pria yang ia cintai terdengar putus asa di seberang sana. Putri Hermana Arya lalu menghela nafas panjang. Menetralisir kekakuan lidahnya.
"Bear...." suaranya serak.
"Alhamdulillah. Iya, Sayang...."
"Aku minta maaf jika sikapku sudah sangat mengganggu hati dan pikiranmu ... mungkin juga tak sadar menuntut agar mengikuti keinginanku, serta untuk setiap hal yang aku lakukan dengan cara yang salah."
"Sayang, ubah jadi video call ya. Boleh?"
Dewiq merubah panggilan menjadi video call.
"Gak pake hijab karena rambutku masih basah," Ia tak mengubah posisi kameranya.
"Hak ku, Sha...." pinta Ahmad.
Dewiq menurut, mengikuti permintaan suaminya. Menukar posisi kamera ponselnya.
"Maa sya Allah, jadi makin kangen kamu, Sayang ... kurusan sih?"
"Cape, Bear ... mikirin kamu juga," tunduk Dewiq malu. Sementara Ahmad mulai tersenyum melihat istrinya tersipu.
Tak ada percakapan lagi di antara mereka. Dewiq menyandarkan kepalanya di atas ranjang dengan rambut panjang tergerai.
"Maghrib Bear, aku sholat dulu ya," ujar Dewiq kemudian setelah mereka hanya saling memandang.
"Iya, Sayang...."
"Matikan dulu ya," ujar Dewiq.
"Gak usah, aku pengen nemenin kamu sampai tidur," pintanya.
"Lama, Bear...."
"Kata Mama, kamu habis maghrib suka minum suplemen dan biasanya ba'da isya langsung tidur...."
Kekakuan yang di pelihara selama hampir dua pekan akhirnya perlahan mencair, Ahmad menemani Dewiq hingga wanita itu mulai terlelap.
"Gimana gak luluh, melihat kamu yang begini Maa sya Allah. Sesungguhnya aku gak akan pernah mampu menaruh kesal dan marahku padamu, Sayang. Hanya saja, terkadang ego masih sulit di kendalikan ... karena aku dan kamu, sama, Sha ... laila sa'idah, Sayang ... mulai kini, aku akan selalu berusaha mendahulukan kepentinganmu, ya 'Azizatii...."
.
.
...__________________________...
...😌 ya Azizii wa Azizatii vs Qolbi and Rohi...
__ADS_1