DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 151. PREPARE


__ADS_3

"Maksud kakak?" Tanya Dewiq bingung.


"Boleh tidak?"


"Boleh apanya? kontak aku? minta Aeyza saja," terkait Dewiq melihat gelagat Ahmad. Kakak sahabat sekaligus adik angkatnya itu.


"Gak bisa langsung dari kamu ya?" desak Ahmad lagi.


"Hmmm...." Dewiq tak dapat mengatakan alasannya. Dia belum pernah memberikan nomer ponsel untuk lawan jenis terlebih seseorang yang tak berkepentingan, pikirnya.


"Jika tidak boleh, tak apa mungkin aku harus lebih berusaha lagi setelah ini," ujar Ahmad berlalu meninggalkan Dewiq yang terpaku ditempatnya.


Susahnya, padahal cuma minta nomer. Dia kan orang awam ya, apa susahnya sih. Apa aku terlihat tak setara, begitu?


Dewiq mengerjapkan mata beberapa kali, apakah tadi yang dinamakan lamaran untuk dekat dengan seseorang atau apa istilahnya Dewiq kurang paham.


Hatiku, kenapa saat melihat kakak pertama kali ada rasa ingin mengenalnya ya? wajahnya teduh seperti Buya.


Ia membiarkan Ahmad berlalu begitu saja dari hadapannya, pernyataan kakak sulung Aiswa itu terlalu tiba-tiba baginya. Ajakan Dwiana agar masuk kedalam kamar karena sudah larut malam, sejenak ia abaikan.


Malam ini dirinya menginap di paviliun khusus tamu dalam komplek Tazkiya. Kamar mereka bersisian dengan kedua orang tuanya juga Rayyan. Dewiq dilanda gelisah.


Baru saja Amir mencapai ruang tamu, Ahmad memanggilnya. Pria yang ingin segera menyusul istrinya ini pun berhenti sejenak.


"Mir, mintakan nomer Dewiq ke Aish nanti yaa, aku punya niatan dengannya," ujarnya sedikit terengah karena mengejar sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"Maa sya allah, jadi nih kayaknya ... udah yakin sejak awal jumpa? ada getar di hati ya tadi siang?" goda Amir sekaligus mencari tahu.


"Ga tahu, hatiku hanya ingin kenal dia lebih dekat, misi membawanya lebih sholihah ... semacam itulah, sayang-sayang gadis cantik jadi kayu bak-...."


"Yassalam, mulia bener niatnya ... cinta ga?"


"Urusan nanti itu sih, yang jelas aku care sama dia," Ahmad berkata dengan wajah serius.


Amir menegaskan bahwa Dewiq adalah wanita mandiri, harapan satu-satunya klan Hermana. Posisi mereka adalah sama sulung dan mengemban tugas masing-masing keluarga. Terlebih Ahmad sebagai penerus generasi ketiga Tazkiya.


"Pikirkan tentang tempat tinggal, juga keinginan Dewiq. Bicarakan ini sejak awal saat akan mengajukan lamaran nanti. Kalian sama sulung, punya misi," nasehat Amir bagi Ahmad. Sahabat sekaligus kakak ipar nya itu.

__ADS_1


"Nah itu, gimana ngomonginnya, dia aja bakal balik ke London segera. Gue pedekate sama siapa kalau begini? kalimatan sih Dewiq itu cerdas dan ambisius. Apa gue mampu ya, Mir?" Ahmad meragu.


"Lah tadi yakin, sekarang ragu. Mantapin niat kamu dulu lah, jangan asal lamar. Pikirkan masak-masak. Toh jodoh gak kemana," pungkas Amir.


Mereka berdua akhirnya kembali duduk diruang tamu. Melanjutkan rencana yang mungkin akan berujung pada keseriusan Ahmad juga membahas pembayaran hutangnya pada Hasbi.


Amir yang duduk didekat pintu penghubung menuju ruang keluarga, sekilas ia melihat khidmah baru saja keluar dari kamarnya membawa wadah bukhur yang masih mengepulkan sedikit asap.


Aiswa masih mual kah butuh aroma terapi?


Dua puluh menit berikutnya, kedua pria itu berpisah memasuki kamar masing-masing setelah dicapai kesepakatan atas kedua urusan mereka.


Amir kemudian memutar handle pintu kamarnya perlahan.


"Sayang ko temaram?"


"Ya Bii? ... sengaja biar asapnya ga lekas hilang," sahut Aiswa dari sisi ranjang.


"Aku kira sudah tidur ... wangi banget, tadi yang dibawa mba ini ya?"


"Iya, sisaan dari kamar umma, kan umma cuma butuh asapnya aja dikit kalau dirasa udah wangi yaa dibawa keluar ... masih banyak sisanya jadi aku minta buat disini ... seger ga? atau mau ganti?"


"Stop Bii, aku sudah punya wudhu mau witir dulu, tadi udah ngantuk berat cuma ingat belum isya jadi kebangun."


"Sudah sholat sejak kapan?" Amir menanyakan hal ini karena pagi tadi Aiswa bilang belum suci.


"Dzuhur tadi." Dia lalu bangkit hendak melanjutkan ibadahnya.


Amir pun menuju bathroom didalam kamarnya, membersihkan diri dan mengganti bajunya sekaligus berwudhu. Saat ia kembali, Aiswa telah selesai melaksanakan witir dan melihat sajadahnya telah menghampar disana.


"Langsung yaa sayang, dua rokaat dulu," ujarnya diangguki Aiswa yang menjadi makmun telah siap berdiri dibelakangnya.


Setelah salamnya sempurna, keduanya berdoa, tanpa terasa air mata Aiswa kembali luruh, mengingat moment yang sama ketika dia mengamini segala lantunan doa pria di depannya. Namun kala itu, status mereka tak seperti saat ini. Justru moment terpedih sebab Amir harus mengembalikan Aiswa yang kabur dari rumah.


Aiswa tertunduk saat Amir mencium keningnya melafalkan semua doa dan harapan bagi rumah tangganya kelak.


"Jangan sedih lagi ya Rohi, kita saling belajar untuk menyempurnakan perjalanan rumah tangga kita," ujarnya menghapus sisa air mata istrinya.

__ADS_1


Keduanya lalu merapikan peralatan sholat mereka. Saat Aiswa membuka mukenahnya, Amir kembali disuguhkan pemandangan indah. Tubuh putih terbalut gaun tidur satin berwarna navy sebatas lutut dengan tali pita di bahunya. Mengekspose punggung mulus miliknya.


Ia menghampiri istrinya yang tengah melipat mukena, memeluknya dari belakang membuat sang pemilik raga dengan gaun terbuka itu sedikit berjingkat karena terkejut.


"Bii, minum dulu," jemarinya meraih gelas berisi minuman manis diatas meja nakas.


Amir menariknya duduk dalam pangkuannya di sisi tempat tidur mereka. Keduanya lalu minum bergantian dari gelas yang sama.


Aiswa rupanya telah menyusun segalanya dengan baik malam ini. Kamar yang wangi, minuman manis, air putih juga ranjang yang telah rapi berganti sepre, dirinya yang begitu sensual siap menyambut suaminya. Menyuguhkan malam terbaik yang akan mereka jelang.


Masih memeluk tubuh istrinya yang duduk dipangkuan, dengan lengan Aiswa yang melingkar di lehernya, Amir membisikkan kata cinta bagi Rohinya.


"Cinta pertamaku tak akan pernah mati, pudar atau bahkan kehilangan kilaunya... dan kamu adalah patah hati yang tak akan pernah ku sesali meski tidurku hancur karena rindu."


"Kamu cantik banget malam ini sayang, Aiswa istriku."


"Love you Bii," Aiswa hanya tersenyum menanggapi ungkapan cinta suaminya.


Meski usia Aiswa terpaut tujuh tahun dengannya, karena dia adalah putri seorang yang fahim ilmu maka untuk urusan begini Aiswa sangat mengerti hingga menyiapkan malamnya dengan sempurna. Keduanya saling berpandangan dengan sorot mata sarat akan cinta, mengungkapkan berjuta kata yang tak mampu dilukiskan.


"Syukron sayang, bismillah."


Amir membelai wajah ayu itu dengan tatapan memuja. Jemarinya menekan tombol lampu tidur untuk dipadamkan.


Suasana kamar seketika menjadi gelap, hanya ada seberkas cahaya yang berasal dari celah pintu bathroom sebagai sumber penerangan. Perlahan wajah keduanya saling mendekat, melekatkan pelan dua benda kenyal nan lembut.


"Do-a Bii," jari Aiswa berusaha menggapai selimut sebagai tabir bagi mereka .


"Bersama sayang ... Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna," lirih keduanya.


Amir meraih dan menarik selimut. Kecanggungan dialami Aiswa, dia hanya mengikuti alur semata hingga sang suami berkali menyebut dirinya. "Milikku."


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Mon maap, nahan naikin yang ini setelah maghrib 🤭. Kalau kurang hot, beli bencabe level 25 ya 😂...


__ADS_2