DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 138. SUNGKEMAN


__ADS_3

Aiswa menghambur kepelukan Umma, memeluk wanita paruh baya yang bersahaja itu erat, menumpahkan segala sakit akibat menahan rindu teramat yang dia tahan selama ini.


"Maafkan Aish ya Umma, maaf," ucapnya terus menerus disertai isakan halus dalam dekapan.


"... kami yang minta ma-af, Aiswa," balas umma terbata. Tangan tuanya membelai kepala putri satu-satunya, putri sumber kebahagiannya yang hilang beberapa waktu ini.


Tak ada netra yang kering melihat betapa kerinduan dua insan melebur jadi satu saat ini. Rasa haru menguar, hingga suara Abah meredam banyaknya aliran air mata yang berderai pada setiap wajah.


"Mir, sungkeman dulu sama uyut, ajak Aiswa lalu kita isya berjama'ah ... tamu Tuan Hermana terbatas waktunya, ayo," ajak Abah menetralisir suasana haru.


Nyai Maryam, melepas pelukan mereka, menyeka wajah putrinya yang sembab dengan jari keriput miliknya, perlahan.


"Aish makin cantik yaa, makin berisi ... kamu bahagia ya sayang," usapnya lembut membelai pipi Aiswa.


"Bahagia meski menahan rindu sama Umma," balasnya lirih.


"Sayang, ayo kita ke uyut dulu di depan ... beliau sudah lelah," panggilnya lembut seraya menarik jemari Aiswa.


"Gih, sana ikuti suamimu...." ulur umma pada tautan jemari mereka.


Mama Rosalie sudah menyiapkan tempat untuk sungkeman. Dimulai dari Danarhadi paling ujung kanan, berurutan disusul Abah, Hariri salim, H. Emran, Hermana.


Diteruskan oleh jajaran wanita, Umma, dirinya lalu Anggita.


Aiswa mengikuti Amir lebih dulu, Danarhadi memeluknya erat.


"Mas, jaga semuanya yaa ... silaturahim terutama," pesannya mengingat banyak yang terlibat dalam pernikahannya kali ini mulai dari Hermana hingga Anggita.


Amir mengangguk pelan disertai ciuman bertubi di kepalanya oleh Danarhadi.


"Nduk, diterima lebih kurangnya suamimu, jaga dia baik-baik ya," ujar Danarhadi membelai kepala Aiswa.


Gadis yang telah melepas masa jandanya itu mengangguk perlahan sembari tersenyum.


"Sabar dan telaten ya Mas," sambung Abah memeluk Amir erat, menepuk punggung putranya beberapa kali.


"Nggih, in sya Allah Bah, do'anya," balas Amir haru.


"Nduk, titip Amir ya, ingatkan jika dia salah ... kamu boleh minta bantuan Abah menasehati suamimu apabila dia telah melenceng dari jalurnya," Aiswa mencium takzim tangan pria yang dikenalnya sangat santun dan lembut itu.


"In sya Allah, do'anya Abah," tuturnya lembut.


"Mir, semoga Allah jaga kalian, menaungi dengan rahmat sepanjang hayat, titip Aiswa ya," Buya Hariri salim memeluk menantu kesayangannya itu.


"Buya ... maaf," cicit Aiswa takut.


"Buya yang minta maaf sama Aish yaa, maafkan Buya ... Buya redho, sekarang berbahagialah Nak, ikuti kemana suamimu membawa pergi ... patuhi dia selama tidak melanggar syariat ... baktilah dengan benar terhadapnya, dia kewajibanmu yang utama," Hariri salim memeluk putrinya, menciumi wajahnya yang tak pernah dia lakukan.


"Iya Buya," Aiswa terisak, ia memeluk ayahnya lama hingga Amir mengelus punggungnya perlahan.

__ADS_1


Hariri salim mengurai pelukan mereka, menyeka air mata diwajah ayu putrinya.


"Perlakukan Aiswa penuh sayang ya Mas, terimakasih sudah jadi menantuku yang istimewa ... Abi, selalu terbuka untukmu," pesan H. Emran ayah Aruni.


"Titip menantu Abi ya sayang, tugasmu melanjutkan tugas Aruni putriku untuk melayaninya." H. Emran menatap Aiswa sendu, teringat anaknya yang telah lebih dulu berpulang.


"Do'anya Abi, in sya Allah," jawab Aiswa menunduk, menangkupkan tangannya didepan dada karena beliau bukan mahramnya.


Keduanya bergeser didepan Hermana kini.


"Mir, Papa percaya kamu mampu ... kami semua adalah orang tuamu kini," Hermana menepuk bahu menantu angkatnya beberapa kali diiringi senyum pria muda di depannya.


"Aey, terimakasih sudah ada dalam keluargaku, membawa ceria dan banyak ilmu untuk kami ... Kami selamanya akan jadi keluargamu," ujarnya terbata menahan isak saat Aiswa hanya menunduk dan menganggukkan kepala.


"Suamimu, ladang pahala Aish, layani dengan baik dan benar ya sayang."


"Mama Anggi titip menantu Mama yang maa sya Allah padamu Aiswa, sayangi dia dengan sepenuh hati ya Nak."


"Aey, putriku ... jangan lupakan Mama ya sayang, meski Amir adalah sumber cintamu tapi Mama juga cinta dan sayang sama Aeyza."


Aiswa memeluk ketiganya erat. Dia kini memiliki banyak ibu.


Naya, Qonita, Almahyra yang melihat pemandangan ini sedari tadi, memeluk para suaminya. Teringat perjuangan keduanya selama ini.


Akhirnya kamu akan mendapat banyak limpahan sayang dari para mertua mu ya Mir, terutama Maryam, dia akan menyayangimu, seperti ummi mu. Abah lega.


"Alhamdulillah, berkah malam ini ... kita isya berjama'ah dulu," Imam Islamic centre menjeda haru.


"Bii, aku dikamar aja yaa, lagi ga sholat," bisik Aiswa saat Amir mengajaknya mengambil mukena dikamar sembari membawa kopernya ke atas.


"Sudah berapa hari?" Amir menoleh lalu tersenyum melihat wajah Aiswa bersemu.


"Empat, dua hari lagi selesai biasanya," jawabnya malu.


"Masih pekat atau sudah berubah warna?"


"Ga terlalu, sudah pink," balasnya mengikuti Amir yang menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ya sudah dikamar dulu, nanti turun kalau kita selesai karena Mama bilang ada jamuan setelah isya," ujarnya seraya membuka pintu kamar.


"Iya, aku rapikan ini dulu sambil nunggu kalian beres." Jemarinya membuka resleting koper milik Amir untuk dirapikan dalam lemarinya.


"Aku turun," ucapnya seraya mengulurkan tangan mengusap kepala Aiswa.


Setelah isya, Amir menunggu Aiswa turun namun tak kunjung jua datang. Ia lalu menyusulnya keatas karena Mama Rosalie sudah menyilakan tamu untuk makan malam di halaman belakang.


"Sa-yang, ko la-ma...." Ketika membuka pintu kamar, ia disuguhkan pemandangan menggoda oleh Aiswa. Istrinya tengah merapikan rambut panjangnya, masih menggunakan handuk yang melilit tubuhnya dari dada hingga sebatas paha.


"Sini, aku bantuin," Amir meraih sisir dari tangan Aiswa membuat wanita itu terkejut.

__ADS_1


"Dih, ko kesini, sana dulu Bii ... aku kan belum selesai ganti," serunya menutupi bagian tubuh yang terbuka dengan handuk kecil bekas lilitan rambutnya yang setengah basah akibat mandi kilat sekalian ganti pembalut.


"Ini hak aku loh, ko di tutupin?"


"Bii, pamungkas amat jurusnya," cebiknya lucu sembari meraih gamis ungu tua dari atas ranjang, sementara rambutnya diikat oleh Amir.


"Ga dilepas sekalian handuknya?" godanya lagi.


"Ish, Bii," Aiswa memakai bajunya cepat, meluruhkan handuk setelah gamisnya terpakai. Tangannya lalu meraih hijab segi empat yang telah dia lipat dan disampirkan disisi ranjang.


Amir memeluk tubuh putih mulus itu dari belakang, menciumi tengkuk terbuka Aiswa leluasa sebelum menarik resletingnya keatas.


"Ini kalau kepanjangan, boleh dipotong ya sayang, nanti aku temani ... tapi jika ingin tetap seperti ini, aku akan bantu merawatnya," raihnya pada rambut panjang Aiswa.


"Tadinya mau dipotong biar ga kepanjangan, suka lama kering kalau buru-buru mau pergi, jadi lembab kena hijab."


"Apalagi besok-besok, ini bakal selalu basah loh sayang," bisiknya ditelinga Aiswa.


"Bii, ih mesum melulu ... ayo turun, mau ganti baju dulu ga? aku siapkan."


"Gantiin tapi ya."


"Iya." Aiswa membalikkan badan menghadap suaminya, membuka kancing bajunya perlahan dengan tatapan mata Amir yang tak lepas dari wajahnya.


Aiswa yang ditatap intens lama kelamaan jadi gugup, ia kesulitan membuka beberapa kancing dibagian bawah.


"Kamu sengaja lama disana apa gimana sih sayang?" Amir tertawa melihat istrinya grogi.


"Au ah, buka sendiri aja," sungut Aiswa berlalu meninggalkan suaminya, memilih menyiapkan baju yang akan dipakai.


"Kamu tuh makin cantik sekarang," tariknya pada lengan Aiswa hingga mereka terduduk di tepi ranjang.


"C-up."


Tok. Tok.


"Kaaakk ... ditunggu dibawah sama semuanya, ayo," suara Naya mengetuk pintu kamar mereka.


"Bii, udah lepas ... Ka Naya udah manggil itu."


"Bentar lagi, serasa ini mimpi," Amir masih mendekap Aiswa yang duduk dalam pangkuannya.


***


"Ulf, tahan berkas Hasbi, aku akan membereskan setelah jamuan makan malam...."


.


.

__ADS_1


...____________________...


__ADS_2