
Setelah sarapan, Aiswa bersama Dewiq menuju ruang perawatan Mama.
Dewiq membuka pintu ruangan yang didominasi oleh kaca disekelilingnya. Bau khas cairan medis menyeruak kala keduanya memasuki ruangan itu.
"Pagi Moms, lihat siapa yang datang. Aku membawanya serta pagi ini meski dia belum sepenuhnya pulih namun sudah bisa diajak berkomunikasi dengan lancar."
Dewiq menyapa sang bunda yang masih setia memejamkan matanya rapat. Mendekati ranjang dan dengan sabar dia mulai menyeka sebaris cairan yang kerap membasahi pipi dari sudut mata wanita itu.
"Kita sapa Mama," Dewiq kembali mendorong kursi roda Aiswa mendekat pada brangkar mewah dimana wanita itu berbaring.
"Hai Moms, aku datang."
Aiswa meraih tangan wanita yang terkulai lemah seakan tiada tulang yang menyangga gumpalan daging berbalut kulit putih pucat yang mulai mnegeriput itu.
Menempelkan telapak tangan kanan wanita yang baru saja dia sebut dengan Mama, sebuah kata asing baginya yang terbiasa memanggil Umma, panggilan hormatnya pada sang bunda nun jauh disana yang kini entah bagaimana kabarnya.
Merasakan kehangatan yang sepertinya telah jauh menepi dari raga, bahkan batin. Mungkin alam bawah sadarnya tahu bahwa sosok gadis yang tengah menggenggam jemarinya ini bukanlah sang anak kandung yang dia harapkan bangkit dari sakitnya.
"Mama tahu? aku juga kehilangan Mama, aku sangat rindu padanya namun ketika aku melihatmu, seketika rinduku perlahan terobati meski belum seutuhnya."
"Moms, aku akan menjadi anakmu yang baik, yang berbakti dan menghujanimu dengan cinta ... kita adalah dua orang yang sama saling membutuhkan bukan? maukah Mama memberikan kesempatan untukku? agar bisa menyambung bakti ku lagi?"
Aiswa merasakan netranya memanas, tak tega rasanya melihat kondisi wanita didepannya ini. Ditubuhnya banyak terpasang alat medis yang tak dia ketahui apa nama dan fungsi kegunaannya.
"Moms, kau dengar aku?"
"Apa yang akan kita lakukan pertama kali ketika Mama melihatku,"
"Jika aku ... aku akan memelukmu, menciumi semua wajahmu bila aku telah mampu berdiri kembali nanti ... kita akan memulai hidup baru bukan? saling bergandengan tangan membuat banyak pasang mata iri dengan kedekatan kita."
Aiswa menjeda sejenak ucapannya. Semua yang dia katakan sejatinya untuk Umma nya, dia tak pernah punya kesempatan berjalan berdua dengan sang Bunda mengunjungi berbagai tempat yang dia inginkan.
Menjadi putri Hariri salim nyatanya sesesak itu, jubah emas yang dia kenakan sungguh teramat berat untuk raganya yang ringkih. Nafsu akan ketidakmampuan menyerupai gaya hidup teman-temannya nyatanya membuat Aiswa kecil menyimpan keinginan mendalam agar bisa bebas.
__ADS_1
"Aey, Aiswa ... Ai or aey sama saja bukan? aku tak merubahmu sayang ... jadilah kuat bersamaku, jiwa kalian menjadi satu. Adikku sangat introvert, dan kau sangat berani meski ditutupi oleh kabut yang disebut pendiam ... jadilah kuat, untuk kami, untukmu dan juga hatimu."
Dewiq sangat paham bagaimana rasanya terkekang sekian lama, Aiswa merasakan kebebasan pertama kalinya saat kabur dulu. Dia memberikan rasa itu bukan tanpa alasan, dia ingin melihat apakah ketegaran Aiswa jauh dari keluarganya sanggup membuatnya bertahan.
Nyatanya ujian yang Dewiq berikan dulu lolos dengan mudah untuk seorang Aiswa Fajri, kemauan serta tekad bulatnya sama membara seperti dirinya jika menginginkan sesuatu.
Kamu memanglah pantas jadi adikku, Aiswa Fajri.
Dewiq meninggalkan mereka berdua saat Ulfa memanggilnya.
"Aey aku tinggal sebentar yaa, lanjutkan rangsangan audio dan sentuhan fisik untuk Mama."
"Boleh aku minta mushaf Kak? aku masih punya wudhu dan rindu mengaji," pintanya.
"Ambilkan Nona Aeyza apa yang diminta," alih pandang pada asisten salah satu team dokter yang menangani diruangan itu.
Entah apa yang dibisikkan Aiswa di telinga bundanya, satu hal yang pasti tentulah sebaris doa karena Aiswa tak pernah berkata hal sia-sia. Jangan lupakan dia anak siapa, lisannya sangat terjaga, pikir Dewiq.
Sembari menunggu mushaf yang dia minta tersedia. Aiswa kembali mengelus telapak tangan yang kini dia genggam.
"Moms, aku dulu disayangi, sangat, namun semua berubah saat Abuya menerima amanah dari ayah beliau ... Abuya jarang pulang, dan tak pernah lagi menggendong ku. Begitupun Umma, menjadi sangat sibuk dengan para jama'ahnya. Aku bahkan tak pernah sekalipun jalan berdua dengan Umma bebas tanpa pengawalan ... apakah Aeyza sama seperti ku? "
"Jika sama, anggaplah aku adalah dirinya ... apa Mama sudah nyaman disana? apakah telah bertemu Aeyza yang sesungguhnya? jika iya, katakan aku yang akan menyambung bakti untuknya ... aku akan mendoakannya juga, dan aku akan menjaga Mama."
Umma, maafkan Aish, tak bisa lagi menjaga umma dari dekat.
Namun, Aish lega bahwa Umma tak lagi mendapatkan kesusahan karena Aish. Kakak pun tak lagi bersusah payah cemerlang mengambil hati Abuya agar melihatnya.
Maafkan Aish mengambil langkah ini, anakmu memang sangat berambisi meraih kebebasannya ... Umma, aku akan kembali bila saatnya nanti kita berjumpa lagi. Aku akan memanggilmu meski dari dalam hati.
Aiswa sayang Umma, sehat lah selalu disana, Aish melihat Umma dari jauh yaa.
"Nona Aeyza, ini mushaf nya ... aku baru tahu jika Nona muda yang tak diketahui rimbanya ternyata bisa membaca alquran." Sang asisten menyatakan kekagumannya.
__ADS_1
"Aku juga belajar ilmu agama, Mama yang memanggil guru untukku," jawabnya lugas.
"Kerjakan apa yang seharusnya kamu kerjakan, bukan mengomentari majikanmu, " tegas Dewiq saat ia mendapati asistennya banyak bicara.
"Ma-af Nona Sulung, aku pamit ... sekali lagi, maaf." tunduk nya takut seraya menjauh dari sisi Aiswa.
Dewiq menarik kursi di seberang Aiswa ketika gadis itu mulai membacakan surat Al Baqarah. Entah kenapa, hatinya sangat tentram kala mendengar suara Aiswa mengaji. Beda halnya dengan saat dia menyalakan Murottal, ini jauh lebih nyessss merasuk ke dalam sukma.
Dia memejamkan matanya selama kurang lebih satu jam mendampingi Aiswa disana.
"Aey, mulai terapi, cukup untuk Mama ... sore nanti kita kesini lagi."
"Terapi apa Kak?" tanya Aiswa menutup mushaf dan meletakkannya diatas meja samping brangkar.
"Motorik, belajar berdiri, melemaskan otot yang kaku ... stretching sayang."
"Baik, bismillah."
Dewiq meraih gagang kursi roda Aiswa, mendorongnya perlahan keluar dari ruangan dikelilingi oleh kaca tebal nan kedap suara menuju ruangan dimana dokter fisioterapi telah menunggu mereka.
Dalam perjalanan menuju kesana, Aiswa melihat beberapa wanita dengan setelan serba hitam.
"Mereka siapa?"
"Calon pengawalmu nanti ... kuatlah dulu, nanti kau juga akan tahu kegiatan apa saja yang harus dijalani ... termasuk bela diri, agar bila terdesak di situasi genting paling tidak kamu dapat bertahan hingga bantuan datang."
"Waw, maa sya Allah ... sepertinya seru Kak, keluarga ka Dewiq adalah orang penting dinegeri ini ya," Aiswa justru antusias.
"Haha, kamu sebentar lagi akan menjadi bagian dari kami ... nah, sekarang semangat bangkit."
.
.
__ADS_1
..._______________________________...
...Ngebut but alurnya slow menurun......