
Serli menangis sejadinya di toilet. Ia merasa menyesali semua perbuatannya. Dirinya teringat kala Mahendra menegurnya di Singapura waktu lalu.
"Hallo Nyonya Serli, kau pasti tahu siapa aku," tegur Mahendra saat Serli sedang menunggu obat untuk bayinya di rumah sakit yang sama dengan uyutnya dirawat.
(episode berapa nieh, 113an kayaknya pas Aiswa disana juga, lupa mommy)
"Aku baru tahu semuanya ... jadi ini memang berujung pada ku dan Naya ... sebegitu bencikah kamu pada istriku? bukan salahnya dia cantik hingga Hasbi tergila-gila padanya."
"Kau bahkan menyuruh Melissa merayu ku agar dia bekerjasama dengan Anggara menculik Naya saat dalam pelariannya menghindari ku karena nyawa kakak dan Abahnya terancam ... Aku bahkan terluka tusukan karenanya."
(kisah di judul satunya : dia pilihan untukku)
"Kau rela mengotori tanganmu demi agar Hasbi tak bunuh diri, dan berencana membawa Naya menjadi istrinya jika Melissa berhasil menjebakku? dimana hatimu? kau sungguh rela dimadu Hasbi?"
"Bahkan ketika misi ini gagal, kau putar haluan menghasut Hasbi agar membenci Ka Amir sebagai penyebab dia kehilangan Naya karena Ka Amir tak membantu Hasbi meloloskan khitbah darinya? Serli, cinta seperti apa yang kau punya? sungguh mengerikan."
"Aku tahu Serli Oktavia bukanlah wanita sembarangan ... kau adalah putri Oktavianus, pemain lama bisnis bawah di Singapura ... bukan sembarangan orang yang bisa mengeluarkan warga asing yang terduga terkait penyalahgunaan visa visit di UK jika kau tak punya backing kuat disana, sehingga Hasbi lolos dengan mudah saat diperiksa imigrasi ... seketika aku sadar ini semua karena kamu yang berkedok wanita lemah."
(lupa ini narasi nya episode berapa yaa, yang ketahuan Buya kalau ga salah)
"Mana mungkin Oktavianus menyerahkan putrinya untuk menikah sirri jika menantunya bukan orang pintar dan berpengaruh ... latar belakang Hasbi akan menyamarkan beberapa bisnis kalian bukan? makanya orang tuamu setuju kau menikah sirri denganya ... Hasbi juga berpotensi menggantikan bisnis keluarga kalian karena ambisinya sama dengan ayahmu."
"Karena tidak bisa menyentuh Naya, kau gunakan Aiswa untuk menyakiti Ka Amir sebagai pelampiasan dendam agar Hasbi mau menikahimu ... kau menyodorkan Aiswa padanya untuk dinikahi ... ckckck sempurna sekali, Serli."
"Namun kau salah, Aiswa ternyata tangguh ... dia menunjukkan baktinya pada orangtua dan teguh pada pernikahannya ... Hasbi tak dapat menyentuhnya begitu pula kamu, hingga Hermana Arya menyelamatkannya... aku menduga, kamu pun mengetahui jika Aiswa masih hidup."
"Ku pikir ini dendam antara kalian saja ... Hasbi dan kak Amir, nyatanya semua ini berasal dari ku dan Naya ... kau mulai menyesali perbuatan mu ketika melihat Aiswa tetap bersikap lembut pada suamimu kan? setengah mati kau merayu Hasbi agar berbaik hati padanya namun apa yang kau tanam sebelumnya telah membekas diingatan suamimu itu ... Hasbi menyakiti Aiswa namun tak berdampak pada Kak Amir, kau mulai menyesal."
"Bilang padaku jika ini salah, Nyonya Serli ... aku memahami cinta yang begitu besar, seperti cintaku untuk Naya tapi bukan begini caranya memberikan kebahagiaan untuk orang yang kita cintai ... kau tahu, sesakit apa dua insan yang kau hancurkan kehidupannya? tapi mungkin Allah menggunakan dirimu agar mereka berdua menikmati hidup lebih bahagia dimasa datang."
"Aku minta maaf jika Naya pernah menyakiti Hasbi secara lisan meski aku tahu dia tak pernah begitu ... bertaubatlah sebelum terlambat ... kau punya anak bukan? jangan sampai anakmu menuai hasil kejahatan orang tuanya dimasa depan."
"Aku tahu, Anda wanita baik Nyonya, hanya cinta Anda melebihi kecintaan pada sesama ... semoga Allah masih berkenan merahmati kalian ... aamiin."
"Aku menyesal Tuhan ... ampuni aku, Aiswa begitu lembut, lelaki itu juga sangat santun bahkan keduanya dengan ringan mendoakan anakku dan menyebutnya sebagai putra mereka...."
Serli membasahi dirinya, mengguyur tubuhnya yang kian pucat dengan shower. Dia merasa kotor dan jijik atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Mungkinkah sakitnya Reezi sejak lahir adalah sebuah teguran untuknya?.
Selama ini suaminya lah yang menjadi tertuduh, padahal dirinya yang bermain lakon dibelakang semua kejadian ini.
"Aiswa, Amir maafkan aku ... maafkan aku," racaunya lagi disela gemericik derasnya shower.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
"Serli, sayang, buka! kamu kenapa? apa yang mereka katakan padamu ... SERLI!" Hasbi berteriak.
Ia panik saat Buya mengatakan bahwa Serli mengurung diri dikamar mandi seraya menangis.
Kyai Maksum menggendong Reezi yang terbangun karena ulah putranya menggedor pintu sekuat tenaga.
"SERLI, BUKA!" Hasbi kalap, terus berteriak hingga ketika ia berniat mendobrak paksa pintu itu, Serli muncul dengan wajah pucat pasi daan badan basah kuyup.
"Innalillahi, sayang," Ia menarik tubuh istrinya masuk kembali ke toilet, menyelimuti dengan handuk lalu mengambil baju ganti.
"Salahku Mas, salahku ... antar aku pada mereka, aku ingin minta maaf Mas."
"Maaf ke siapa?"
Bruk.
"Serli!" Hasbi panik, istrinya pingsan saat akan berganti pakaian.
...***...
Sementara ditempat lainnya.
Saat keduanya menunggu hasil, Amir mengajak Aiswa melaksanakan sholat dzuhur. Disanalah pasangan ini bermunajat.
Ya Robb, jangan timpakan kesusahan dan kesalahan orang tuanya pada Habrizi. Jadikanlah putranya sebagai penyejuk hati keduanya, obat dan harapan serta syafa'at kelak sebagai bekal orang tuanya.
Aku ikhlas, sesungguhnya semua ini berasal dariMu. Engkau Maha Pemaaf lagi Pengampun, Engkau juga Maha Penyayang, sayangilah mereka ya Robb, seperti Engkau menyayangiku dan Qolbi, aamiin.
Keduanya melantunkan doa yang berbeda namun satu tujuan.
Ya Allah, sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, maka mudahkanlah langkah kami. Sayangilah, ampunilah mereka yang telah berbuat kekeliruan, rahmatilah keluarga Hasbi ... sesungguhnya kami mahlukMu yang lemah.
Dan sebaik nya tempat memohon adalah padaMu, Robbul 'alamiin.
Aiswa menunduk masih dalam balutan mukenahnya. Ia menangis, betapa Allah sayang padanya. Menjaganya sedemikian rupa sehingga kembali bertemu dengan cintanya.
Amir menunggu diluar mushola rumah sakit seraya memejam, mengingat semua perjalanan kisahnya yang rumit.
Alhamdulillah, nikmat ya Robb.
__ADS_1
"Bii, udah selesai? makan dulu boleh ga ya? aku lapar," rengeknya manja.
"Makan yuk, sekalian beli snack agar setelah donor nanti kamu ga lemas banget ... yakin sayang? kamu baru pulih loh," ujarnya mengusap pipi Aiswa.
"Yakin." Aiswa bersiap memakai kaus kakinya lagi.
"Sini, biar aku." Amir merebut kaus kaki istrinya dari tangan Aiswa.
"Jangan Bii," Aiswa hendak meminta kembali namun suaminya menatap tajam.
"Nurut atau ga aku izinkan," ancamnya seraya memakaikan kaus kaki di kaki Aiswa.
"Iya deh."
"Pokoknya kalau mau begitu, aku siaga sejak saat ini ... semangat ya sayang, semoga rhesusnya baik."
Setelah makan siang, mereka kembali menuju lab. Hasilnya semua baik lalu keduanya dibawa menuju ruangan khusus pendonor darah dan memulai proses pengambilan darah hingga 100cc.
Satu jam kemudian.
"Masih pusing? sakit? mana yang ngilu?" Tanyanya saat semua telah selesai dan suster merapikan kembali peralatan medis mereka.
"Engga, karena lihat Qolbi," ujarnya tersenyum manis. Yang diikuti oleh suster.
"Vibenya nular nieh ... semua telah selesai Nyonya, terimakasih banyak ... lekas pulih kembali...."
Amir lalu memapah Aiswa perlahan turun dari brangkar dan keluar ruangan. Baru saja berjalan beberapa langkah sambil bercanda, mereka berpapasan dengan Hasbi yang tergesa-gesa.
"Bi, Hasbi, kenapa?" Amir menahan lengannya saat mereka bersisian.
"Bukan urusanmu." Balasnya acuh sambil lalu.
"Biarkan Bii ... nanti bisa cari tahu kabar lewat Abah."
Huft. Amir menarik nafas panjang.
Aiswa Aiswa....
.
.
__ADS_1
...___________________...