DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 141. MENGENAL KEMBALI


__ADS_3

Hermana Arya mengajak Amir memasuki ruang kerjanya dilantai dasar. Saat hendak masuk, Rosalie menegur menantunya.


"Mas, kamu lihat Aeyza? kemana anak itu," tanya Mama.


"Tadi kan masuk duluan ya Ma, aku sama Papa diluar."


"Ga ada ko, dikamar juga ... Joanna ada dengan Ulfa di belakang, Dewiq ke kampus sendirian tadi baru saja ... nah Aeyza kemana?"


"Coba cari Ma, yang betul ... tanya maid," saran Hermana Arya.


"Maaf Madam, Nona ngegym diatas ... baru saja Nona meminta saya membawakan minuman sari apel hangat," ujarnya sembari menunduk.


"Tuh dia olahraga ko, anak itu kan biasa kalau ga ada kakaknya larinya nge gym atau tidur ... panikan gitu sih, kebiasaan ... kita mau ngobrol bentar Ma, jangan ganggu ya ... yuk Mir," ajaknya agar lekas masuk.


Hermana Arya menyilakan menantunya itu duduk disofa kulit yang menghadap meja kerjanya sekaligus merangkap milik Dewiq putrinya.


"Mengenai gugatan Hasbi, dia men-somasi Papa atas penipuan, menyembunyikan identitas serta memalsukan kematian pasien."


"Juga, dia menyertakan bukti foto Aeyza dan baru saja lawyer kami memforward pesan darinya ke Dewiq berisi screenshot dari postingan Gamal untuk menguatkan tuduhannya ... sampaikan pada Gamal, jangan menghapus ataupun mengedit apa yang dia posting sejak dua hari lalu," ujarnya Hermana Arya lagi.


"Baik Pa," Amir mengeluarkan ponselnya, mengetik barisan kalimat panjang sesuai permintaan Hermana Arya.


"Dia juga menawarkan opsi damai Mir," sambungnya lagi.


"Mengenai apa Pa?"


"Kerjasama, proposal pengajuan kerjasama dengan Hermana Grup yang beberapa kali management tolak ... pengadaan alat medis serta menawarkan pengolahan sampah medis yang lebih modern, hemat budget tapi ga jelas ini cara kerjanya bagaimana, dia ga mau presentasi sebelum review awal disetujui ... kan itu menyalahi aturan, seharusnya dia memberikan preview atau tata cara nya ke kita dahulu di dalam proposalnya atau paling ga ada visualisasinya," ia menjeda kalimatnya.


"Harusnya dia juga tawarkan opsi, pengembangan serta problem solvingnya satu paket saat pengajuan ... aneh dia itu, justru meminta team khusus untuk kerjasama ini padahal belum apa-apa ... kan Papa ogah diatur, dia yang butuh ko," tegasnya berapi-api.


"Aku baru tahu ada jenis proposal demikian Pa, meminta team khusus untuk review awal sebelum preview presentasi? maksudnya ini semacam menilik pengajuan dahulu kan ya? ... jika rencana disetujui, mereka akan presentasi ... mungkin sekalian MoU jika deal... begitu?" Amir meraba penjelasan Hermana Arya.


"Iya, yang heran itu loh ... minta dibuatkan team khusus baginya, ga ngerti lah Papa gimana biar management yang mengurus ... Oh iya, nanti Joanna akan tetap ikut kalian, buat nemenin Aeyza kalau kamu sedang ada kesibukan r... rumah Abah cukup kan kamarnya?"


"Mengenai kerjasama yang ditolak, mungkin dia akan mencari cara menekan Papa ... tapi aku masih belum paham polanya Pa"

__ADS_1


"... kami awalnya kenal sedari tsanawiyah hanya karena Abah dan Yai Maksum kawan baik, juga karena aku mondok ditempat Abuyanya ... beneran sahabatan sama dia itu saat di Tazkiya karena kami satu almamater meski beda kelas, apalagi dia lanjut S2 di Singapura ... jadi aku juga kayak yang ga kenal dia lagi ... dirumah Abah punya lima kamar utama Pa, kamar art ada dua kosong satu ... paviliun ada dua kamar ... mang sapri dan Bang Alex tidur diworkshop," Jelasnya rinci mengenai kedekatan mereka berdua dimasa lalu serta kondisi rumah Abahnya bila Joanna ikut tinggal dengan mereka.


"Ok kalau gitu ... manusia akan banyak berubah seiring dengan circle yang dia temui Mir ... untuk Hasbi, biar Papa yang mengurusnya ... kamu fokus dengan pengurusan sekolah Aeyza saja dulu ... dan keputusan akan tinggal dimana nanti ... penting loh Mir, untuk kelangsungan kenyamanan kalian berdua."


"Baik Pa, aku izin bersiap ke kampus Aeyza hari ini," ujarnya seraya bangkit.


"Jangan lama-lama diluar, masih dingin ... Aeyza gampang flu sejak disini makanya dia seneng nge gym untuk penguatan fisiknya, dia belum pulih benar Mir, masih suka sakit kepala apalagi kalau habis perjalanan jauh atau flight."


"Oh iya, ada pantangan ga Pa, buat Aeyza?"


"Ga boleh makan terlalu pedas dan mikir berat dalam interval waktu yang berdekatan atau terus menerus ... check up ya setiap enam bulan sekali dalam satu tahun ini, dia lebih suka obat tradisional dan memakai essensial oil ... ini karena Dewiq awalnya kesulitan menemukan dokter wanita disini, jadi mereka berdua memilih alternatif pengobatan."


"Aku noted dulu Pa, obat yang wajib aku punya dirumah apa? vitamin atau suplemennya?"


"Paracetamol wajib ada, selebihnya nanti Dewiq yang akan meresepkan buat Aeyza ... Dewiq sangat menjaganya, selain dokter, suster wanita yang dia tunjuk, semua dilarang menyentuh Aeyza ... bahkan hanya dia yang memandikan Aeyza saat pemulihan, sesibuk apapun Dewiq, dia akan melakukannya ... izinkan mereka Qtime atau semacamnya nanti ya Mir," pinta Hermana Arya.


"Tentu Pa, aku akan mengizinkan selama baik untuk keduanya... aku permisi ya Pa, syukron segalanya." Amir bangkit dan keluar dari ruang kerja mertua angkatnya itu.


Pantesan badan kamu kebentuk begitu, kamu rajin nge gym juga sayang? kebiasaan Aiswa Fajri saat keluar dari Tazkiya yang baru aku tahu adalah, nge gym, stylish, bisa berbagai look make up, pengoleksi parfum, wewangian dan hobi banget minum sari apel hangat.


Amir terus melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


"Rohi, kamu disini?" panggilnya saat pintu kamar ia buka tak menemukan Aiswa disana.


"Ya bii, bentar aku lagi ganti baju habis gym," seru suara dari bathroom.


Dia duduk ditepi ranjang, menunggu Aiswa keluar dari sana.


"Seger banget sih liatnya, kek mangga baru keluar dari kulkas gitu ... bentar lagi kita ke kampus ya, ngurus kepindahan kamu karena visaku tiga hari lagi sayang."


"Mulai deh ... aku jadi pindah kan Bii?" sahutnya mendekati meja rias untuk mengeringkan rambut panjangnya yang sedikit lembab.


"Iya ... sini aku bantuin." Amir meraih sisir serta hairdryer dari tangan Aiswa.


"Dhuha Bii, jangan kelewat ... aku bisa ko," cegahnya saat Amir mulai menyisir.

__ADS_1


"Bentar, habis ini ... dipotong yaa biar ga gerah, Jawa panas loh nanti."


"He em, siap Park BoJo, manut."


"Korban drakor ... disana jangan lirik-lirik bule nanti, juga jika kuliah dosennya laki-laki, aku temenin yaa."


Aiswa hanya tersenyum. "Kuliah online by zoom itu bisa offcam sayang."


"Aku tahu, justru karena offcam kamu kan leluasa lihat dosenmu."


Aiswa tertawa, larangan yang menurutnya berlebihan dengan alasan alay.


"Ngaco ah, dosenku wanita semua Bii, kalau ga percaya nanti Qolbie tanya disana, Ok?"


"Ga boleh keluar rumah tanpa aku ... ga boleh pake hijab pendek diluar kamar apalagi luar rumah ... ga usah masak, soalnya dirumah banyak orang ... kalau malam mau ambil apa-apa diluar kamar, bilang sama aku karena dirumah ada mang sapri dan bang Alex ... apalagi ya?"


"Bii, aku paham, semua kudu sama Qolbie, meski dirumah ... gitu kan maksudnya," Aiswa melihat suaminya yang masih menyisir rambut dari pantulan cermin didepannya.


"Susah ya jadi istriku?"


"Engga, in sya Allah."


Huft.


" ... karena kamu terlalu cantik sayang, duh kenapa sih cantik banget ... rasanya pengen ngurung kamu dikamar aja seterusnya."


"Boleh."


"Serius?"


.


.


...____________________...

__ADS_1


__ADS_2