
Ahmad Zaid Sanusi alias Raden Mas Brajawisesa masih setia melantunkan kalimat Allah di kedua telinga cucu lelaki pertama keluarganya.
"Maa sya Allah, antengnya, malah semakin pulas. Persis Abi saat baru lahir, Eyang putri itu kalau malam gak tidur. Mendekap erat Abimu sampai pagi selama empat puluh hari hingga khatam tiga kali ... kita gantian sambung juz, semoga Umma dan Abimu juga demikian ya Nak. Sholih, selain sebab nasab kedua orangtua mu ... aamiin," Abah tak henti mendoakan Fayyadh.
Adzan subuh berkumandang.
Masih setia menggendong cucu tampan, Abah membangunkan putra kesayangannya.
"Mir, subuh. Kamu gak tahajud tadi, ayo bangun. Beri Fayyadh dzikir pagi sebelum dia asi nanti," pria Sepuh menepuk kaki anaknya.
"Nggih, Mban udah datang, Bah?" tanyanya mengurai pelukan perlahan karena Aiswa masih terlelap.
"Lagi dijalan, biar Aiswa diurusi Mban saat mandi wiladah nanti, kamu ngurusi Fayyadh. Abah mau tidur ba'da duha nanti," ujar Abah, meletakkan Fayyadh dalam box bayinya kemudian menuju bathroom untuk berwudhu.
Amir bangkit dari posisinya, menurunkan kedua kaki perlahan mendekatkan ranjang Fayyadh menempel dengan brangkar Aiswa. Kedua netranya menangkap pemandangan indah, wanita yang dulu ia cinta kini telah menjadi ibu dari putranya.
"Tegas, santun, cerdas dan gigih seperti Umma, sayangi dan jangan buat beliau sedih, sehat jiwa raga, jadi penolong kami kelak, kebanggan Rosulullah ya Althafariz Fayyadh. Abi cuma ingin kamu menjadi penerus penghafal Kitabullah di keluarga Kusuma," Amir membisikkan sederet harapan dan doa untuk putranya.
Airmatanya tak sengaja menetes, bagaikan mimpi. Bayi tampan ini adalah keturunan Tazkiya, tempat mukim orang-orang sholih.
*
Tujuh hari kemudian.
Terlihat kesibukan di Joglo Ageng sejak pagi hari. Ba'da Ashar nanti, akan diadakan syukuran aqiqah Fayyadh.
Semua keluarga besar Kusuma hadir, termasuk undangan para tamu istimewa kenalan Danarhadi.
Di ruang keluarga sudah berkumpul beberapa pasangan. Abyan dan keluarga kecilnya. Naya yang berebut Mahen dengan Maira, juga Gamal Almahyra tengah repot mencegah Kaffa agar tak menjahili Maira.
Para sesepuh Kusuma, termasuk Ibunda Aruni berada di sofa seberang kawula muda. Tempat acara telah siap, hadroh sudah mulai mendendangkan sholawat.
Ba'da Ashar.
Panitia mulai sibuk menyambut para tamu istimewa termasuk Sinuhun. Bodyguard bertebaran dimana-mana. Mahen hanya fokus pada keluarga inti.
Pengajian dimulai, menyambung maulid. Amir menggendong Fayyadh keluar dari kamar. Sementara Aiswa di temani Joanna bergabung di ruangan khusus wanita. Acara syukuran Fayyadh ditayangkan langsung di dua tempat. Tazkiya pun menggelar kegiatan yang sama sore itu.
Dua jam berlalu, Fayyadh tak sedikitpun merasa terusik oleh keramaian. Justru ia semakin pulas.
"Anteng banget, malam juga begini?" tanya Qonita.
"Iya, alhamdulillah ... jadi Aiswa bisa tidur," jawab Amir saat akan menyerahkan Fayyadh dalam gendongan istrinya.
"Biasanya umur segini masih doyan tidur. Tapi Maira dulu enggak. Aku begadang, tidur jelang subuh sampai usia Maira tiga bulan," sambung Naya.
"Ya sama kayak Fatima, begitu. Mungkin karena ayahnya demen jaga buku," sindir Qonita pada Abyan yang sedang bermain dengan Fatima.
"Jaga laptop...." imbuh Naya.
Kedua lelaki yang merasa di bicarakan para istrinya, hanya diam menoleh pada mereka dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Asal jangan jaga lilin...." sambung Gamaliel. Diikuti tawa semuanya.
"Mir, ada Hasbi dan Yai Maksum," Abah memanggil putranya.
Aiswa berpura tak mendengar, agar suaminya tak merasa rikuh.
"Sayang," lirihnya disela obrolan para Mahmud.
"Iya, gak apa. Ada Joanna jika aku butuh sesuatu. Temui tamu, Bii. Jangan lupa minta doa pada mereka," balas Aiswa.
Amir mengiyakan lalu mengajak Gamal ke luar hunian utama, memenuhi panggilan sang ayah, untuk menemui sahabat mereka.
Setelah kepergian suaminya, Aiswa pamit masuk ke dalam kamar, meninggalkan keluarga besar Kusuma.
"Istirahat Mba, jangan kecapean. Rahimnya masih luka, hati-hati," pesan Naya ketika melihat Aiswa masih terlihat sangat pelan saat bangkit dari duduknya.
"Iya Kak Naya, syukron. Ini Mban ngiket stagennya kekencengan jadi agak susah," keluhnya seraya berlalu melangkah menuju kamar.
"Mbaaaaaaaaaaa...." Naya berteriak memanggil asisten rumah tangga Danarhadi.
Blukk.
"Gak sopan, tarzan!" Abyan memukul kepala adik bar-bar nya itu dengan gulungan majalah.
"Yeee Kak, tugas aku itu. Siniin," ujar Mahen.
"Abang berani sama aku? sok aja," ancam Naya menoleh pada suaminya.
"Enggak, cuma mau ngamanin ini dari Kak Abyan biar gak bisa mukul kamu lagi," kilah Mahen.
"Buya, tolong panggilkan Mba donk, minta ke kamar Aiswa segera. Kasian itu, aku gak bisa bukanya takut salah," pinta Qonita pada Abyan.
"Fatima tidur, susah bangun," jawabnya asal padahal Fatima hanya menempel padanya, belum terlelap.
"Buya...." Qonita menatap tajam.
"Iya Sayang," sahutnya meski enggan namun ia bangkit dari duduknya berjalan menuju ruang belakang.
Mahen tertawa, "Yeee, sama aja," serunya sembari ikut bangkit meninggalkan ruang keluarga. Acara inti telah usai, saatnya beristirahat menjelang maghrib.
Di dalam kamar Aiswa.
Wanita yang baru menyandang status Ibu itu melakukan panggilan dengan Trio Labils.
"Hai Kak, sudah pulang?" tanya Aiswa pada Dewiq saat sambungan mereka tersambung.
"Baru pulang tiga hari lalu. Diluar juga ada acara syukuran Fayyadh tapi aku gak bisa ikut nemenin Umma," Dewiq terlihat payah diatas ranjangnya.
"Sabar, baby Sulthan wajar kalau rewel," balas Aiswa masih menggendong putranya.
"Hai guys, para calon Ibu. Apa kabar?" Dwiana bergabung.
__ADS_1
"Dwi, kamu sakit? pucat amat? infus?" Aiswa memicingkan matanya. Ia tak bisa membungkuk sebab lilitan stagen yang terlalu kencang belum terurai.
"Kebanyakan ya Lu, di porsir," sindir Dewiq.
"Emang Lu kagak? alibi apa yang Lu punya Wiq? buncit begitu, kalau bukan hasil pergaulan bebas," balas Dwi.
"Kagak lah, udah waktunya aja ini sih," kilah Dewiq enggan membalas lebih jauh. Dia sedang tak mood.
"Heleh, ngeles. Gempa berasa sampai Jakarta Barat," samber Dwi masih ingin berdebat.
"Kalian sama saja, tiga-tiganya." Suara Mama Rini, perlahan sosok ayu itu muncul di sebelah Dwiana.
"Hai moms," sapa Aiswa dan Dewiq bersama.
"Dwiana sakit karena Rayyan gak ngasih mantu Mama keluar kamar selama tiga hari ... Aey, selamat ya. Kapan ke Jakarta?" tanya sang Bunda.
"Entah Moms, gimana Qolbi aja ... Dwi, keenakan yaa disekap tiga hari sama babang dokter."
"Ciyyeeeeeee," sambung Aiswa kompak dengan sang kakak.
"Biar cepet nyusul kamu, Aey ... masih sakit, Sayang?" suara Rayyan masuk kedalam kamar mereka, memeriksa laju tetes infus, sosok yang masih mengenakan jas putih itu terlihat di layar laptop.
"Selamat berjuang ya, Dokter,"
"Sayang, kata Mba Qonita kamu sakit? mana?" Amir masuk ke kamar, terdengar khawatir.
"Beaaaaarrrr...."
"Kak, ish. Udahan yaa, Qolbi mau beresin stagen aku," Aiswa pamit lebih dulu.
"Mas ... Krisdayanti...."
"Maksudnya, Dok?" Amir kurang paham dengan maksud dokter pribadi uyutnya.
"Menghitung hari," Dewiq tertawa diikuti Rayyan diujung sana.
"Bang Haji dia mah, A," imbuh Dwi.
"Beaaaaarrrr ... yang lain ada lakinya, kamu kemana sih, Bear?"
"Beaaaaarrrr...." teriak Dewiq lagi.
"Kak, brisik. Tar umma marah loh ... Byee...."
"Bye juga," Dwiana ikut mematikan panggilan.
"Bear ... Bear ... mereka ninggalin aku. Kamu juga ninggalin aku...."
.
.
__ADS_1
..._______________________...
...Bumil, labil... review semua tokoh dulu.. (mandi wiladah : mandi setelah melahirkan) ...