DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 144. BYE LONDON


__ADS_3

"Saingan apa sih bii? Ga akan ada yang bisa nyaingin Qolbi nya aku," usap Aiswa pada kepala Amir yang menyandar pada bahunya.


"Seperti yang aku bilang kemarin, aku menunggu izin qolbie turun setiap akan melakukan sesuatu atau menginginkan sesuatu bahkan jika umma atau Buya yang meminta ... Qolbiku harus tahu semua tentang aku, jadi jangan cemas, suamiku lebih utama dari semua yang disekitar ku," imbuhnya lembut membelai pipi Amir.


"Jangan pernah merasa kecil hati terlebih padaku atau keluargaku, yaa my Bii...." ujarnya tersenyum manis saat Amir menyelusupkan kepalanya menciumi ceruk leher kiri Aiswa.


"Aku tuh kayak ga kenal kamu sekarang ... dua tahun banyak mengubah segalanya yaa termasuk pemikiran kamu sayang," lirihnya seakan dia kurang memahami karakter Aiswa saat ini.


"Kenapa memangnya? ga ada yang berubah ko ... Bii, jangan merasa asing denganku," cicitnya takut Amir keberatan akan orang-orang yang menyayangi disekitar yang bukan mahram baginya.


"Mungkin karena dulu kamu dilarang keluar rumah selain agenda sekolah atau ngobrol karena ga boleh sama Buya ... juga aku belum mengenalmu lebih dalam kala itu kan."


"Memang iya ... suaraku emas," Aiswa terkekeh renyah.


"Nah ini aku mau tanya, kenapa dulu kamu gampang banget ngasih senyum ke aku ... senyum Aiswa itu terkenal mahal apalagi bisa ngobrol lama saat di sana meski Umma menemani dari kejauhan," tanya Amir penasaran tentang hal ini.


"Qolbi kan udah bantu aku, yang banyak bicara waktu itu juga bukan aku ... Qolbi ngajarin dari awal sampai betul, dengerin aku yang suka salah mulu ... sabar banget padahal aku emosian, terus aku ga ngasih apa2 gitu?"


"Kalau tentang senyum, ga tau reflek aja aku pengen senyum saat itu didepan qolbi...." kenangnya kala perjumpaan mereka pertama kali.


"Gada niatan lain beneran, ya gitu aja...." Aiswa melepaskan pelukan Amir dan melangkah menuju meja riasnya.


Amir menatap Aiswa yang memunggunginya, melepaskan hijab panjang yang menutupi kepalanya.


"Aku tahu ... dan itu adalah hadiah untukku hingga rasa sayang dan cinta untukmu tak bisa tergantikan oleh siapapun ... semakin kuat aku mencoba melupakanmu nyatanya semakin menarikku untuk mendekat lagi padamu."


" ... sini sayang, aku bantuin ... makasih banyak yaa udah kasih aku senyum yang ga pernah kamu berikan pada lelaki lain," Amir menatap wajah istrinya yang merona dari pantulan cermin dihadapannya.


"Bahkan dia, Bii."


Hening.


Maksudnya siapa, Hasbi?


"Aku bisa Bii, jangan manjain aku terus nanti ketergantungan sama kamu ... gih dzuhur dulu, nanti waktunya habis... aku ke kamar kakak disebelah yaa, nanti Qolbi susulin aku jika sudah selesai sholat," ujarnya bergegas mengganti hijab dengan pashmina panjang.


"Jangan lama-lama."


"Ya ampun ... mau nanya doank besok bisa antar aku ga ke bandara, dia tuh paling bawel ... juga obat aku kan kakak yang siapkan, pokoknya dia kayak hallodoc 24 jam standby," ucapnya saat akan meraih handle pintu.


"Mulai besok aku yang siapkan semua kebutuhan kamu Rohi ... Dewiq sudah beri aku beberapa note obat, essential oil juga suplemen yang harus kamu minum ... ckck isteriku punya dua dokter pribadi jadi semuanya detail."


"Begitulah bii sabar yaa isterimu ini masih belum pulih benar ... kata Papa, aku juga harus check up tahun ini." Setelah Aiswa meninggalkan kamar menuju kamar Dewiq, Amir menyetel alarm untuk jadwal check up Aiswa lima bulan ke depan.

__ADS_1


Tok. Tok.


"Kak, boleh aku masuk?" Aiswa menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Aey sini ... aku sudah minta ke Amir ingetin kamu agar rajin minum obat, vitamin, juga stretching ringan setiap pagi atau sebelum tidur."


"Jangan remehkan jika sakit kepala hebat yaa, segera kasih tahu aku atau Papa agar secepatnya diambil tindakan ... luka pada tengkorak pasca operasi itu butuh pemulihan serius ... aku cemas, Amir bisa ga ya jagain kamu," ujarnya saat Aiswa telah duduk disisi ranjang.


"Bisa donk kak, dia itu jagonya merawat orang terdekatnya."


"Iya sih, dia telaten banget waktu uyutnya sakit juga lalu saat aru-"


Sunyi. Dewiq kelepasan bicara.


"Dia merawat mba runi dengan sayang, apalagi dengan cinta pasti lebih kan," kekeh aiswa


"Mulai bucin yaa, aku dengar keluhan Joanna tadi, memalukan." Tawa keduanya lepas.


"Hati-hati disana ya sayang, bilang padaku kalau amir bikin kamu nangis ... aku bakal hajar dia ... urusan dengan mahendra bisa belakangan," tatapnya sendu pada Aiswa, ia berat untuk berpisah darinya yang bagai Aeyza.


Aiswa memeluk Dewiq, menangis dalam pelukan hangat kakak perempuannya. Sosok tegas, disiplin dan penyayang baginya yang terkadang manja akan sekitar jika keadaan tak sedang memihaknya.


"Thanks Kak, kamu kakakku seterusnya," peluknya lagi kembali terisak.


"Panggil suamimu, kita makan siang sama-sama," urainya pada pelukan mereka.


Aiswa mengikuti Dewiq keluar kamar, lalu membuka handle pintu kamar miliknya mengajak Amir untuk turun.


"Bii kata mama makan dulu," panggilnya lembut menggait lengan suaminya yang baru selesai melipat sajadah. Keduanya lalu turun menuju ruang makan di lantai dasar.


"Besok kita berangkat pagi jam delapan dari sini ya Mir ... agar tiba di indo ga terlalu malam, papa akan langsung ke mansion ... kalian ikut ya," pinta Hermana Arya.


"Lihat nanti Pa karena Umma minta kita langsung pulang."


"Mama menyusul dua hari lagi, syukuran kalian di jakarta kan ... Rayyan juga ingin datang katanya kemarin," timpal Mama.


"Dia shock mengetahui jika kalian ini kisah masa lalu," Dewiq tertawa.


Kebersamaan, kehangatan keluarga kedua yang akan aku rindukan.


...*...


Malam hari.

__ADS_1


"Biar aku packing Bii, bacakan bil ghoib saja, aku dengarkan...."


"Engga, kamu cape, biar aku yang packing ... kalau mau denger aku ngaji, duduk sini." Amir menepuk sisi ranjang disebelahnya.


Aiswa mengikuti keinginan suaminya. Dia duduk di ujung tempat tidurnya seraya meluruskan kaki.


"Jangan Bii, jangan, harusnya aku...." Aiswa menarik kembali kakinya namun ditahan oleh tangan Amir.


"Kamu cape sayang, sini ... nih ototnya kaku begini, pokoknya setelah landing nanti, kita ke spa, titik." Amir memijat pangkal kaki Aiswa perlahan seraya membacakan juz 6.


"Bii, jangan...." Aiswa rikuh.


"Diem ... tidur cepat malam ini biar besok segar, aku sudah siapkan semua obat kamu tadi, minta tolong ke Joanna, sisa packing aja."


"Harusnya aku Bii," lirihnya.


"Sudah, kita sama-sama nanti ... tapi biarkan aku mengurusmu dulu ... kalau kamu sehat dan happy aku juga ketularan ... tidur yaa." Ujarnya sambil melanjutkan kembali bacaan surah an-nisa.


...*...


Keesokan Pagi.


Ketiganya telah siap menuju Bandara, tidak banyak barang yang mereka bawa. Semua peralatan design milik Aiswa dikirim via kargo oleh Joanna.


Mama dan Dewiq melepas kepergian Aiswa, Amir dan Hermana Arya dipintu kediaman mereka.


"Kabari jika telah sampai ya Aey," ujar Mama memeluk putrinya.


"Titip adikku ya Mir, awas kalau dia sedih atau nangis ... kamu berhadapan dengan aku."


Amir hanya tersenyum mengusap kepala istrinya sayang atas ancaman Dewiq.


"Bye Kak, moms, aku sayang kalian."


Kedua wanita Hermana akhirnya melepaskan kembali gadis yang selama ini dititipkan pada mereka.


Bye London, aku kembali pulang bersama cintaku.


.


.


..._______________________...

__ADS_1


...Ngebut mau perang ama si anu. ...


__ADS_2