
"Intinya aku akan berusaha melindungi istriku baik dari Hasbi ataupun dari yang bukan mahram lainnya," tegas Amir melirik sekilas pada Rayyan dari ekor matanya.
"Jika Anda meminta jaminan kebahagiaan Aiswa dariku, maka aku menjawab tidak punya karena ukuran kebahagiaan istriku terlihat dari dirinya yang menikmati itu ... secara lahiriah, aku akan tertular keberkahan dari sumber bahagianya...."
"Nak Amir, Papa percaya dan yakin padamu ... Kak, sudah," Hermana Arya menahan Dewiq yang akan berbicara kembali.
"Tapi Pa," Dewiq masih belum puas.
"Dia kesini, membuktikan bahwa dia bersungguh mencari Aeyza sayang, jangan dipersulit ... mereka memang seharusnya sudah bersama sejak lebih dari dua tahun lalu jika tidak ada intervensi manusia serakah," tandasnya.
"Nak, Mama titip Aey ya ... meski berat melepaskan tapi Mama sayang padanya," Mama terisak, membayangkan akan berpisah dengan anak angkat yang bagaikan kandung.
"In sya Allah, jadi kapan waktu untuk aku melangsungkan niatku?"
"Sesuai keinginanmu, jika keluargamu tiba nanti ... Papa akan melakukan persiapan segera jika begitu ... Nak Amir, menginap disini saja ya malam ini," tawar Hermana Arya mengingat jarak tempuh kembali ke hotel lumayan jauh dan hari kian berangsur gelap.
"Aku kembali ke hotel, dan kemari saat akan akad nanti ... aku, ingin menjaganya dari fitnah meski undangan bermalam disini atas keinginan Anda namun prasangka manusia tidaklah pernah sama, aku hanya ingin ketika memulai babak baru kehidupan dengannya, semua tanpa cela ... sebagai penghormatan untuk Anda, Abuya, Abahku dan juga Aiswa ... mohon diterima alasanku, Tuan Hermana."
Hermana Arya tersenyum lebar, sedangkan Mama menghujani pucuk kepala Aiswa, mengucapkan banyak syukur bahwa Allah berkenan mempertemukan mereka kembali.
"Aey, selamat sayang, imammu luar biasa...." Mama memeluk putri angkatnya itu, dirangkul oleh Dewiq yang tak kalah haru.
"Biarkan dia Pa, Mahendra memberinya satu rangers elite untuk menjaganya," Dewiq berucap masih memeluk adiknya.
"Mahendra, Papa lupa ... salam untuk Jimsey Exona yaa Mir, dia pamanmu kan? keluarga Kusuma memang istimewa," sambung Hermana.
"Benar ... aku pamit agar tidak terlalu malam, untuk selanjutnya aku akan menyerahkan semua pada WO dan langsung berkoordinasi dengan Aiswa, Tuan," ujarnya sebelum pergi beranjak.
"Papa, Mir ... jangan, izinkan kami yang menyiapkan disini, Aeyza putri kami jika kamu lupa...." seloroh Hermana Arya.
"Baik, terimakasih ... hmm, Rohi, adakah syarat untukku? atau mahar yang kau inginkan?" tanyanya hampir lupa.
"Ga ada Bii, mahar apapun aku terima ... aku cuma minta hadiah cincin besi yang bisa kita pakai, itu saja ... juga tentang mendua, aku tidak suka, meski Allah memberikan pilihan serta batasan tapi kita memiliki kesempatan untuk memilih...."
"In sya Allah, aku pamit yaa ... jaga dirimu," Amir bangkit, mengulurkan tangan kanannya pada ayah angkat Aiswa.
"Sebentar, aku masih belum paham ... jadi tadi itu, kamu sedang melamar kekasihku?" ujar Dokter Rayyan bingung.
__ADS_1
"Aku bukan kekasihmu," sungut Aiswa bangkit pergi setelah melerai pelukan kedua wanita disisinya.
"Ya akhi, aku dan Aiswa lebih dulu saling mengenal ... sebuah peristiwa menghalangi kami dimasa lalu kemudian dipertemukan kembali saat ini, kiranya ini cukup menjawab rasa keingintahuanmu ... semoga Allah memberimu jodoh yang sama baik dengan calon istriku Aiswa yang kau kenal dengan nama Aeyza," ungkapnya seraya melangkah menuju pintu keluar kediaman sang wali sementara Aiswa ditemani oleh Mama.
"Rayyan, sudah, biar Papa jelaskan nanti...." cegah Hermana Arya saat Rayyan hendak menahan Amir.
Mama menarik diri dari ruang tamu mengantar Amir, menemaninya mengenakan mantel dan alas kaki sebelum ia berpamitan terakhir kali.
"Nak, hati-hati yaa ... pokoknya Mama happy ... Mama ga boleh ya peluk kamu," tanya Mama.
"Bukan mahram Ma ... in sya Allah, doakan kami ya Ma, agar selalu merasa cukup ... Assalamu'alaikum," ujarnya tersenyum.
"Wa'alaikumussalam."
Amir menyalakan remote mobilnya lalu menaiki sedan sewaan itu menjauh dari kediaman Hermana dengan lambaian tangan wanita paruh baya nan cantik, melepas kepergiannya.
Beberapa ratus meter jarak dari kediaman Hermana, Amir menepikan mobilnya sejenak, menarik tuas rem keatas sebelum kepalanya dia sandarkan pada stir mobil.
Bahu tegap itu bergetar halus, isakannya mulai terdengar. Disini, beribu mil jauhnya jarak yang harus dia tempuh untuk menemukan lagi cintanya.
Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan Aiswa Fajri bintu Hariri salim, untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya.
Entah apa yang dia rasa, hatinya kini ringan tak ada lagi sesak disana.
***
Indonesia.
Setelah mendapat kabar dari Amir bahwa dia telah menemukan dan menerima jawaban atas lamarannya. Abah dan Danarhadi langsung bertolak ke Jakarta, malam itu juga.
Begitupun dengan Abyan, Qonita dan Fatima, Gamal membawa Alma serta Kafa anak mereka pergi ke Jakarta tanpa sepengetahuan Amir. Mereka akan melakukan lamaran resmi untuknya.
(London jam 2 siang, Indonesia jam 8 malam)
Mahen dan Naya yang menyiapkan segala kebutuhan prosesi lamaran, tidak banyak bingkisan yang mereka bawa, hanya perhiasan serta beberapa stel gamis hasil design Amir yang setengah jadi hingga Naya yang menyelesaikan polanya.
Saat Mahendra mendapatkan kabar dari Adnan bahwa Amir mendatangi kediaman Hermana, keluarga mereka telah tiba satu persatu menjelang dini hari.
__ADS_1
Setelah lamaran, rencananya mereka akan terbang ke London bersama.
Keesokan hari, pukul 8 pagi Ba'da Dhuha.
Umma panik saat rombongan keluarga Abah bertandang ke Tazkiya.
Dirinya memang tidak diberitahu oleh suaminya perihal Aiswa yang masih hidup hingga saat Abah melafalkan kalimat, Umma baru menyadari maksud kedatangan mereka.
Naya mendekati wanita bersahaja itu, menggenggam tangannya erat, menyalurkan kekuatan serta berbagi kebahagiaan yang datang bergulung hingga sesak memenuhi rongga dada.
"Ana Ahmad zaid sanusi alias Brajawisesa mewakili putra kedua Ana, Amirzain zaidi berniat meminta Putri Antum, Aiswa Fajri bintu Hariri salim untuk menjadi menantu Ana ... sebagai istri Amirzain, melanjutkan khitbah yang telah diajukan oleh Putra Ana beberapa hari lalu," ucap Abah pada Hariri salim.
"Ya kheir Akhi, Ana terima lamaran resmi keluarga Antum untuk Putri Ana, Aiswa Fajri." Jawab Hariri salim menjabat tangan Abah.
"Alhamdulillah," para tamu yang hadir mengucap syukur disambung doa.
"Kita langsung flight jam sepuluh pagi ini agar tiba di sana esok jam dua belas malam ... istirahat dan persiapan lebih leluasa karena Amir meminta akad ba'da maghrib," Abah menyarankan agar kedua pasangan itu bersiap.
"Kami telah menyewa Bussines Boing Charter agar nyaman karena cicitku membawa bayi dan balita ... Maira, Kafa serta Fatima dan semoga waktu tempuhnya sedikit lebih cepat," ujar Danarhadi menimpali.
(3 milyar pergi pulang, murah buat uyut mah ya 😌)
Setelah kesepakatan antara dua keluarga, akhirnya mereka terbang ke London membawa kejutan bagi kedua anak mereka.
Danarhadi mungkin yang paling antusias di antara semua keluarga. Dia sangat menyayangi cicitnya itu selain Naya, hanya Amir yang telaten mengurusnya persis abahnya.
Maka dari itu, dialah penyokong dana terbesar kali ini.
Mas, uyut bahagia akhirnya lihat kamu bahagia.
.
.
..._________________________...
...Mommy besok safar, mau nengok sulung dulu ya, namun tetap Up after midnight, luv kalian... sabar yaa kan diurai dulu nih surprisenya.. 😁 siapin angpao yang banyak, soalnya modal nikahnya gede, 😂...
__ADS_1