
Jadwal kuliah online Aiswa telah turun sejak kemarin siang, dia mengejar ketinggalan hingga jam sepuluh malah mengerjakan modul pembelajaran. Semua peralatan menggambarnya dikirimkan oleh Mama Rosalie ke Jawa karena rencana awal mereka di Jakarta hanya tiga hari namun meleset hampir satu pekan.
Pagi ini dia merengek meminta pulang ke Jawa agar segera mengerjakan tugas kuliahnya yang tertunda. Padahal niatan Amir ingin meng-handle langsung ke produsen untuk produksi Qiswa series yang akan diluncurkan.
Keinginannya dikabulkan sang suami tampan, namun setelah dirinya menyelesaikan urusan dengan sang kakak dan juga lainnya. Kedua orang tua mereka menjenguk putra Hasbi dirumah sakit, jadilah Aiswa hanya sendiri dirumah ditemani dua orang santri khidmah wanita.
"Sayang, jangan keluar kamar ya, ga ada aku." Pesannya saat kedua pria itu akan keluar rumah.
"Iya Bii, aku ga keluar kan mau packing juga kuliah," ujarnya didepan pintu kamar.
"Biar aku yang packing, urusanku cuma bentar ko ... dikunci ya Rohi," titahnya lagi.
"Ya ampun Mir, ayo, ada Mba ko berdua lagian siapa berani masuk sini?"
"Aku cuma ingin dia aman meski dari sesama akhwat ... yuk pergi." Aiswa menyalami tangan suaminya sebelum keduanya pergi.
Dalam perjalanan.
"Tadi kenapa?"
"Lamaranku diterima Dewiq, Mir ... alhamdulillah," Ahmad sumringah.
"Alhamdulillah, jadi tiga bulan lagi ya ... lama amat," Amir nyeletuk berniat memanasi.
"Kamu aja dua tahun baru ketemu lagi sama Aish," balasnya telak dibarengi tawa Amir.
Satu jam kemudian, mereka tiba di kantor yang sama seperti semalam. Amir didampingi kuasa hukum Queeny kali ini karena dia tak ingin ribet mencari lawyer baru meski kerjasama dengan Ahmad adalah project mandiri miliknya.
Setelah semua penyerahan berkas juga salinan kontrak lengkap telah mereka terima, keduanya menyusul Buya dan Umma menuju rumah sakit menjenguk Hasbi.
Tiga puluh menit selanjutnya.
Kedua pria muda yang berjalan dilorong barisan kamar VVIP melihat sosok yang akrab dengan mereka, Buya dengan Yai maksum, tengah berbincang di kursi luar depan cluster.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, masuk Mir, Ahmad ... ada Umma Maryam didalam dengan Serli ... Hasbi sedang keluar sebentar," sahut Yai Maksum.
Ahmad masuk kedalam ruangan, sementara Amir duduk bersama kedua orang gurunya. Rasanya dirinya enggan bertemu Serli tanpa Aiswa meski ada umma didalam.
"Ga masuk Mir," tanya Buya melihat menantunya memilih bersama mereka.
"Disini dulu Buya, kemarin sama Aish sudah lihat Reezi, tadi aku ga bilang padanya mau jenguk kesini," dalih Amir agar ia tak sungkan.
Hampir lima belas menit lamanya menunggu Ahmad keluar dari ruangan itu. Amir sudah gelisah karena waktunya mepet untuk ia bersiap pulang ke Jawa.
__ADS_1
Akhirnya ia menelpon kawan sekaligus kakak iparnya itu meminta agar bersegera pulang. Ahmad yang trenyuh akan kondisi bayi mungil yang sudah mulai agak ceria, akhirnya memutuskan pamit undur diri.
Rencananya ia akan memberitahukan pada Hasbi langsung perihal berakhirnya kerjasama diantara mereka. Namun yang ditunggu tak kunjung muncul, ia pun bangkit keluar ruangan.
Keduanya lalu izin pamit undur diri pada Yai Maksum dan menitipkan salam pada Hasbi serta tak lupa mendoakan agar keluarganya lekas membaik kembali karena menurut Ahmad, istri Hasbi pun sakit.
Mereka kemudian berjalan bersisian menuju basement dimana mobil Ahmad berada. Baru saja keluar dari lift dan berbelok beberapa langkah menuju parking area. Netra Ahmad melihat beberapa orang tengah bertikai diujung basement yang jauh dari jangkauan keramaian.
"Mir, Mir ... tolongin yuk Mir," tepuknya beruntun di lengan Amir yang berjalan seraya memainkan ponselnya.
"Apa?"
"I-itu ... Hasbi bukan? Mir, iya kayaknya ya," Ahmad panik melihat kawannya di kroyok pria tegap dan menyeramkan.
"Innalillahi, kayaknya iya ... yuk, yuk," Amir memasukkan ponselnya kedalam saku celana bagian kirinya.
"Woy, lepasin ga temen gue....!" Seru Ahmad seraya setengah berlari menuju kerumunan itu.
"Mad, tunggu."
Merasa ada yang mengusik urusan mereka, kedua preman berbalik badan menghadap tamu yang tak diundang.
"Bukan urusan kalian, pergi!" Bentak preman berambut gondrong.
"Dia temen gue," seru Ahmad tak kalah lantang.
"Lepaskan dia," pinta Amir dengan nada tenang.
"Jangan ikut campur!" Ancam preman menggunakan pisau lipat yang diacungkan pada Amir.
"Bismillah."
Teringat pesan Mahendra, apabila lawannya menggunakan senjata tajam, lihatlah bagian sisi tubuhnya yang kosong, disanalah titik menyerang pertama kali untuk menghindar dan gunakan untuk membalik kekuatannya agar jatuh.
Dia memang mempunyai dasar ilmu bela diri meski tak selihai Ahmad yang mengantongi sabuk hitam karate. Kemampuan Amir hanya cukup untuk membentengi diri dari kejahatan preman jalanan.
Perkelahian pun terjadi, Amir menghindar ke setelah kiri tubuh preman, dengan gerakan halus ia menarik lengan kiri penjahat itu lalu menggunakan kaki kanan yang bertumpu, ia mencondongkan tubuhnya sedikit membungkuk untuk membuat lawan jatuh.
"Arrghhh," teriaknya saat pergelangan tangan kanannya dipelintir oleh Amir hingga pisau lipat itu terjatuh. Amir lalu menghempaskan senjata tajam itu dengan kakinya.
Seorang pria yang masih memegangi Hasbi pun hendak kembali menyerang, namun Ahmad sigap menghajarnya hingga tersungkur.
"PERGI!" Seru Ahmad, suaranya memekakkan telinga.
Brugh. Tubuh Hasbi luruh disanggah oleh Amir agar dia tak jatuh membentur lantai semen basement.
__ADS_1
"Papah Mir, ke IGD dulu," saran Ahmad karena Hasbi mulai tak sadarkan diri.
Keduanya membawa kawan lama mereka menuju IGD untuk mendapatkan pertolongan awal. Setelah Hasbi diberi tindakan, Ahmad menelpon Buya memberitahukan perihal Hasbi.
Ting.
Pesan masuk ke ponsel Amir. Ia membaca pelan pesan disana lalu tersenyum.
"Mad, aku balik pakai ojek online aja ya, kasihan Aish dirumah lama nunggu lagi ... kita mau pulang kan hari ini."
"Ya ampun, adik gue ga apa-apa kali ah, kamu senewen amat ninggalin Aiswa," cibir Ahmad saat mereka diruang tunggu.
"Aku ga izin sama dia mau kesini, aku ga mau dia cemas juga," hatinya mulai tak tenang meninggalkan Aiswa lama sendiri dirumah.
"Gih balik, nanti aku sampaikan ke Yai Maksum...."
"Syukron ya akhi, aku pulang ya." Amir bangkit setelah dia memesan taksi online untuknya pulang.
"Iya sayang, aku pulang...." balasnya atas pesan Aiswa.
Sejujurnya ia menghindari kecanggungan yang akan tercipta bila Hasbi melihatnya disana. Amir hanya ingin memberikan sahabatnya waktu juga kesempatan untuk menata hati jika memang hidayah Allah telah turun padanya. Dia dan Aiswa sepakat, tak akan lagi muncul di sekitar mereka hingga keinginan dari Hasbi sendiri yang siap mengunjungi keduanya suatu saat nanti.
Rohi, sejujurnya aku kasihan padanya ... namun setelah kejadian Reezi kita sudah sepakat, biarlah taubatnya menjadi urusan dia dengan Allah ... aku mengikuti saranmu sayang.
*
Sesaat sebelumnya.
Merasa suaminya lama kembali, Aiswa menelpon Buya, firasatnya mengatakan bahwa Ahmad pasti mengajak suaminya ke rumah sakit menjenguk anak Hasbi sekaligus memberitahukan langsung perihal kerjasama mereka yang usai karena menurut cerita Amir, Hasbi belum mengetahui tentang ini.
Aiswa terkejut mendapat kabar dari Buya bahwa Amir dan Ahmad menolong Hasbi dari amukan preman.
Sejenak Aiswa berpikir, lalu mengirimkan pesan meminta agar suaminya lekas kembali karena ia tahu, posisi Amir tak mengenakkan, pasti merasa serba salah menghadapi kondisi demikian.
"Aku kangen Qolbi, lekas kembali...."
Aiswa menunggu beberapa saat lalu balasan pesan yang dia inginkan pun sampai.
"Iya sayang, aku pulang...."
"Jurus pamungkas," lirih Aiswa sembari tersenyum membaca pesan di ponselnya.
Maaf menarikmu keluar dari sana, sayangku Habibi Qolbi, jangan lagi merasa terbebani mengingat dia sahabatmu juga mantan suamiku. Kita lepaskan dia sama-sama.
.
__ADS_1
.
...______________________...