DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 204. PESONA DWIANA ROSE


__ADS_3

Basement.


Bip. Bip.


Jemari kurus nan terawat menekan remote mobil, membuka handle pintu kemudi.


Rambut hitam lurus sebahu dengan model bob, sangat pas di wajahnya yang tirus putih bersih dengan manik mata berwarna coklat kehitaman kian menegaskan bahwa matanya setajam elang.


Pangkal hidung tegak dengan cuping mengecil, bibir mungil nan sensual pink merona membuat pemilik wajah oval itu terlihat semakin cantik.


Kaki jenjang terbalut trouser dan sneaker navy strip oren itu mulai masuk ke mobil. Menyesuaikan kursi dan pijakan kaki pada pedal serta rem. Mendudukkan badan sensual tertutup kemeja oversize yang ia kenakan agar nyaman saat berkendara nanti.


Dwiana memiliki postur tinggi tegap, meski ia terlihat kurus namun dirinya tetap menjaga kebugaran sehingga lekukan tubuhnya terbentuk sempurna.


Bila Aiswa mengenakan gamis atau abaya longgar untuk menutupi kesensualan tubuhnya, begitu juga dengan Dwiana. Menyembunyikan kemolekan kulit dan badannya dengan mengenakan pakaian serba longgar. Kecuali jika mood urakannya kembali on, dia akan memakai baju kurang bahan atau ketat.


Ketiga wanita yang mempunyai keistimewaan masing-masing dengan apa yang Tuhan karuniakan, nyatanya membawa mereka bertemu pada satu kesamaan. Kisah kelam masa lalu.


Aiswa dengan mode pemberontak, Dewiq dengan gaya malas dan dunia malam juga Dwiana yang akrab dengan pelaku bisnis keras yang melibatkan para pemain kasar.


"Alien, bagiku kamu bagai kapas dan aku adalah kotorannya. Kapas mungkin akan membersihkan permukaan namun tetap sisa-sisa reduksi polusi akan tetap bercokol di sana."


Gadis cantik yang pesonanya tak terlihat akibat respon dingin terhadap lawan jenis itu mulai menginjak pedal meninggalkan basement apart menuju pemakaman.


"Setelah dari pemakaman aku akan mengunjungi tempat latihan. Rasanya tak meliukkan badan membuat semua otot ku kaku. Thanks Derens, kamu pernah membawaku ke dojo, latihan karate dan wushu. Namun aku sangat menikmati wushu, maaf mengecewakanmu," gumamnya melihat jam tangan yang terpajang di dashboard, pemberian sang kakak kala ia berbohong telah naik tingkat.


Kriing.


Ponsel Dwiana berbunyi, namun karena ia sedang konsentrasi pada mobil di depannya sehingga sekilas pandang melihat ID Caller, jemarinya menekan tombol bluetooth.


"Ya?"


"Dwi, bisa jemput aku?"


Degh.


Rayyan. Kenapa dia?


"Hmmmm, aku...."


"Aku tahu kamu di Jakarta, jemput aku di RSPP ya. Aku sangat mengantuk sedangkan harus ke Hermana Hospitals. Jika aku nyetir, bisa berabe," pintanya memohon dengan suara lemah.


"Aku...."


"Tapi kalau kamu keberatan, gak usah Dwi. Biar aku pelan atau pakai ojek online saja. Thanks yaa and sorry jika sudah ganggu kamu," ucap Rayyan memutus panggilan.


"Ya sudah, aku juga sibuk ... sore nanti ke Dewiq gantiin Ahmad. Kesian juga tuh laki, mungkin belum istirahat. Aiswa lagi hamil muda, Amir ga mungkin izinin dia lama di rumah sakit," lirihnya seraya memutar stir masuk ke tol dalam kota meneruskan perjalanan menuju Tangerang.

__ADS_1


Satu setengah jam kemudian. Moon Hill Memorial Park.


Dwi memasuki pelataran pemakaman elite di sana. Memarkirkan kendaraan ke sisi barat lalu menaiki dua barisan tangga di atas bukit sebelum akhirnya langkah kaki gadis berwajah campuran oriental, berbelok ke arah kanan memasuki kavling keluarganya.


"Hai semua, kakek, nenek dan Bang Derend ... Assalamu'alaikum ya ahlal kubur," lirihnya menahan suara serak.


"Aku tahu bukan muslim yang taat, namun aku masih mengingat kala Aiswa mengajarkan aku cara ziarah kubur ... jangan di ketawain ya, aku kan lagi berusaha memperbaiki diri kembali," ucap Dwiana.


"Bismillah, ila hadroti nabiyyil musthofa ... al fatihah,"


"Wa ila arwakhi...."


"Tsumma ila hadroti ikhwanihi minal anbiya'i wal mmursalin...."


"Tsumma ila jami'il ahlul qubuur...."


"Wa limanijtama’naa hahunaa bisababih...."


"Wa khushuushon ilaa ruuhi...."


"Lahumul faatihah...."


(biasanya disebutkan nama, kecuali muslimin wal muslimat)


Dwiana meragu, betul tidak ya susunannya menyebutkan Rosulullah, sahabat, para anbiya'i, muslimin dan keluarganya. Ia berhenti sejenak untuk mengingat kembali.


"In sya Allah benar," gumamnya seraya tersenyum.


"Aku akan selalu mendoakan kalian, dalam sujudku ... selalu menyebut nama kalian jika aku mengingat di setiap kesempatan meski jarang ke sini ... maafkan Dwi baru bisa melakukan ibadah kembali dengan benar setelah bertemu Aiswa, kalian pasti tahu kan?"


"Sampai jumpa lagi, Dwi janji akan rutin ke sini jika sudah di indo lagi ... Assalamu'alaikum," imbuhnya meninggalkan kavling milik keluarga.


Saat menuruni undakan tangga terakhir, ia di tegur oleh penjaga kavling.


"Nona Raharja?"


"Iya, kenapa Pak?" tanya Dwiana.


"Enggak apa, cuma Nona yang suka kesini. Semoga sehat selalu ya Non," sapanya.


Dwiana mengerti, ia menyelipkan satu lembar uang seratus ribu, pada genggaman tangannya yang tengah memegang sapu.


"Jangan Non, gak boleh ini. Saya hanya menyapa saja," ujarnya menolak.


"Buat jajan, gak ada cctv di sekitar sini Pak, terima ya karena aku jarang ke sini nanti," ungkap Dwi seraya meninggalkan bapak penjaga kavling.


BMW sport merah kembali melaju meninggalkan pemakaman menuju tempat latihan saat dirinya masih sekolah menengah dulu. Ibunya menginginkan sang putri menekuni balet sedangkan ayahnya ingin Dwi agar berlatih karate seperti anak sulung mereka. Namun dia malah memilih wushu.

__ADS_1


...*...


Kelapa gading.


Dua jam berlalu begitu saja ia isi dengan latihan. Hari menjelang sore.


Badannya sudah berpeluh, ia memutuskan untuk mandi di tempat latihan sebelum menuju rumah sakit.


Setelah ia bersih dan segar kembali lalu berganti baju dengan kaos panjang ber hoodie dipadu celana yang sama, Dwiana pun keluar dari tempat latihan menuju mobilnya.


Baru saja menyalakan mesin dan menarik tuas rem, ponselnya kembali berdering.


"Ya?"


"Dwi, di mana?" suara Aiswa.


"Baru mau ke rumah sakit, kamu juga?"


"Nanti nunggu Qolbi, aku merasa diriku suka seenaknya jadi aku juga malas kemanapun bahkan menjenguk Kakak," keluh Aiswa menyadari perubahan hormonal nya.


"Dokter Rayyan kenapa? di mana? Ok Ok, aku ke sana."


Terdengar suara Amir semakin mendekat membicarakan tentang Rayyan.


"Eh, Aish, kenapa dengan Dokter Rayyan?" tanya Dwi. Aiswa pun menanyakan pada Amir hal yang sama.


"Dwi ... Dwi, kamu dekat gak dengan lokasi? mobil Dokter Rayyan menabrak dinding pembatas marka jalan satu jam yang lalu. Dia masih ada di sekitar wilayah Tomang...." ucap Aiswa.


Mendengar itu, Dwiana langsung tancap gas, jaraknya lumayan jauh. Lima belas kilo dari tempatnya kini.


Semoga kamu gak kenapa-kenapa ya Alien, tunggu aku sebentar lagi.


"Dwi, Dwiana, Dwi...." panggil Aiswa.


"Ya? sudah dulu."


"Dwiana! Jangan ngebut, DWI! dengar akuq kan!" Seru Aiswa.


Pett. Panggilan di putus oleh Dwiana.


Tak ia hiraukan lagi rambu lalu lintas, semua di trabas ketika melihat celah sedikit saja untuk ngebut, Dwiana tak melepaskan kesempatan itu.


"Sudah lama gak ugal-ugalan, kamu ternyata masih ok juga ya Dwi," gumamnya terus memacu mobil sport miliknya yang memang di design untuk melaju dengan kecepatan tinggi.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


...Pengen mengulang masa menjadi Dwiana. Keren 🤭. ...


__ADS_2