
"Frosbite?"
"Just in time, at the last moment, almost too late." (mendekati detik akhir, hampir saja terlambat)
"You're from Indonesia?"
"Are you too?"
"Alhamdulillah, Bandung asalku."
"Me too, Bandung, Otista," balas Rayyan sumringah, tak menyangka mendapat kawan sejawat disini berkat Dwiana.
"Apakah dia parah, Dokter Andre?" Rayyan melihat name tag di jas putih yang Andre kenakan.
"Andre Bagasfa, internist ... you? aku rasa Anda berprofesi yang sama dengan ku, mengerti frosbite," tebak Andre.
"Rayyan Ar-rasyid, specialis syaraf on SIH dan aku sedang cuti disini," terangnya lagi.
"Sesuai dugaan, seorang Dokter jua ... pasien baru saja dilakukan tindakan, mengganti pakaiannya yang basah, serta diberikan obat agar dia tidak hipo maupun frosbite, ko bisa? pacarmu?"
"Kawan, aku tak sengaja menemukannya berkat karibnya yang meminta bantuanku," sesal Rayyan, andai dia tak mengindahkan keinginan Dewiq mungkin Dwiana tak harus merasakan sakit berkepanjangan.
"Oh, ku kira, dia kuat in sya Allah ... mungkin besok baru siuman ... kau bisa istirahat Dokter Rayyan," ujar Andre kemudian.
"Just Rayyan, please."
"Ok, and ini resep yang harus disiapkan untuk esok pagi, Anda bisa menaruhnya di bagian farmasi lebih dulu karena ini racikan obat, ah pasti sudah paham ... aku tinggal ya, tekan bel jika Anda membutuhkan kami." Andre meninggalkan Rayyan disana.
Dia masih setia menunggu Dwiana keluar dari ruang tindakan menuju kamar perawatan. Tak lama, brangkar Dwiana di dorong oleh dua orang suster menuju kamar yang telah disiapkan sebelumnya.
Rayyan bagai de javu, melihat sang Papa yang sama terbaring tak berdaya di saat terakhirnya. Sebisa mungkin kenangan pedih itu dia hapus, berganti sosok cantik yang lemah terbaring disana.
Baru ia sadari, pelipis Dwiana luka dan terdapat jejak dua jahitan disana. Bibir merah itu kini masih terlihat sangat pucat meski wajahnya telah berangsur mendekati tone kulit yang dia punya, putih merona.
"Kamu sangat kurus Dwi, kenapa, kau tak hidup dengan benarkah disini?"
"Dwiana Rose, namamu cantik seperti dirimu ... persis mawar, indah namun berduri, itu hanya sebagai pelindung mu kan Dwi, bukan dirimu yang sebenarnya...."
Rayyan masih memandang lekat sosok gadis belia yang beberapa minggu lalu sangat menabuh genderang perang dengannya hingga perjumpaan terakhir yang sedikit meninggalkan kesan bahwa dia tidaklah sepedas perkataan yang kerap keluar dari mulut mungilnya itu.
"Kamu lemah dan rapuh...."
Rayyan duduk disisi tempat tidur Dwiana, memeriksa hela nafas lembut nan teratur yang dia hembuskan lemah.
"Istirahatlah, aku disini menjagamu," tuturnya lembut, bagai menjaga benda berharga miliknya.
Alien, Alien, Sean, siapapun tolong aku....
Rayyan melihat gerakan samar dari tubuh di sampingnya. Dia gelisah.
__ADS_1
"Dwi, tenanglah ... kamu sudah aman bersamaku, Alien musuhmu...."
"Tenanglah Dwi...." Rayyan berkali membisikkan kata yang sama, berharap jiwa yang tengah melanglang buana itu mendengar suaranya.
Merasa dirinya juga tak tenang, Rayyan bangkit menuju toilet dalam kamar itu, berniat mengambil wudhu untuk melaksanakan tahajud. Jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul dua pagi.
Ia menggunakan ponselnya untuk mendapatkan arah kiblat yang akurat, lalu tubuh lelah akibat shock tadi, dia tundukkan menghadap sang Ilahi Robbi.
Memohon ketenangan, kesembuhan bagi Dwiana juga meminta kemudahan bagi dirinya untuk menunaikan bakti terhadap keinginan Mama yang memintanya segera berumah tangga.
...***...
Indonesia.
Semalam Amir tiba di Cirebon pukul satu dini hari, dijemput oleh Alex.
Baru juga sampai di stasiun, ketegangan antara dua manusia telah terjadi. Alex tak mengizinkan Joanna menyentuh ataupun meletakkan barang sembarangan di dashboard mobilnya namun Joanna tak mengindahkan larangan itu.
Joanna meletakkan pouch senjata miliknya diatas dashboard. Alex bersitegang memintanya jangan mengekspos apa yang dia punya didepan kedua majikannya meski dia yakin keduanya telah akrab dengan senja-ta.
"Astaghfirullah, kalian berdua ... istriku lelah, lekas pulang, Bang...." Pinta Amir pada Alex agar segera meninggalkan stasiun.
Tiga puluh menit setelahnya.
Disaat keduanya masih saja meributkan sesuatu yang tak penting, Amir mengajak Aiswa masuk kedalam rumah. Membuka handle pintu kamar depan perlahan lalu menekan saklar agar ruangan menjadi terang.
Aiswa mengikuti arahan suaminya duduk di sofa panjang depan bedroom yang berwarna ungu tua, tubuhnya yang baru saja fit, ia paksa melakukan transfusi darah untuk Reezi lalu kembali melakukan perjalanan panjang, ia masih lemah.
"Rohi, bisa ga? atau aku temani ... baju ganti sudah aku siapkan di dalam, ayo." Ajaknya seraya memapah sang istri menuju bathroom.
"Bii, pouch make up nya belum dibongkar loh, sabun mukaku, tolong ya...."
"Ini sayang, aku siapkan disini juga yang masih baru ... gih bersih-bersih lalu kita istirahat," jelasnya seraya mengambilkan sabun yang Aiswa butuhkan dari rak dipojok shower.
Aiswa baru menyadari interior bathroom semuanya bernuansa ungu, mulai handuk, kursi, bahkan hingga ke tempat sabun, shampo, sandal hingga curtain bahkan shower, closet cover dan keset.
"Bii, ini semuanya," Aiswa membola.
"Buat kamu, biar betah disini bersamaku," Amir mengecup bibir Aiswa sekilas sebelum ia keluar dari sana agar Aiswa bisa segera membersihkan diri.
Masih mendengar keributan kecil diruang keluarga, akhirnya dia menegur kedua orang yang masih berselisih paham.
"Bang, Jo ... mau sampai kapan? ini hampir jam dua pagi loh ... berisik, kalau mau ribut lanjutkan besok pagi aja setelah sarapan agar tenaga kalian powerfull," tegur Amir sedikit tegas pada mereka.
"Dia, Den Mas," cicit Joanna.
"Kamu yang mulai, dateng-dateng bikin rusuh disini," sergah Alex tak mau kalah.
"Masih?" tanya Amir kemudian pada keduanya yang direspon dengan kepergian Alex setelah membungkukkan badannya pada Amir dan diamnya Joanna.
__ADS_1
"Jo, kamarmu sebelahan dengan Mba Sri ya, dari sini kesamping sebelum dapur ... pintu warna toska."
Degh.
Toska, warna ku.
"Den Mas?"
"Apa? biar kamu betah disini, semua serba toska didalam sana, pergilah dan lihat ... selamat istirahat Jo," imbuhnya seraya meninggalkan Joanna yang masih terdiam ditempatnya.
"Terimakasih banyak," ucap Joanna membungkukkan badan. Sungguh ia tak menyangka, keluwesan hati majikan prianya hingga memperhatikan warna kesukaan orang lain dengan status seperti dirinya yang hanya seorang pengawal. Demi agar betah di tempat yang baru menemani Nona mudanya.
"Cari dimana yang seperti Anda, Den Mas," lirih Joanna sambil menarik kopernya menuju kamar yang ditunjukkan Amir tadi.
Amir melangkah kembali masuk dalam kamarnya dan mendapati Aiswa sedang didepan meja rias diam mematut diri. Ia menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa ko bengong?"
"Ini semua Qolbi yang siapkan?"
"Aku hanya pesan, Mang sapri yang mengawasi pengerjaannya."
"Kapan Bii?"
"Setelah akad nikah ... ini sebagai hadiah, karena sudah mau jadi istriku dan ikut kemanapun aku pergi ... maaf ya sayang, baru bisa segini ngumpulin yang serba ungunya, nanti kita hunting bareng jika masih ada yang belum sesuai dengan keinginanmu," ujarnya masih memeluk Aiswa dari belakang.
"Istirahat yuk, ngantuk. Ponselku juga mati."
"Bii," lirihnya.
"Ya?"
"Makasih banyak," Aiswa berbalik badan, memeluknya erat.
"Sama-sama, semoga betah di kamar ya sayang." Amir membelai lembut rambut istrinya yang wangi strawberry.
"Besok kita lihat workshop dan butik, lekas sehat Rohi."
Sementara dikamar Joanna.
Bruk.
"Bunda...."
.
.
..._______________________...
__ADS_1