
Mahen melanjutkan perjalanannya ke Malaysia, karena Jimsey Ekona mengutusnya untuk menemui salah satu klien mereka yang bermasalah pada sistem keamanan, dan meminta agar wakil direktur divisi IT and techno itu sendiri yang datang.
Saat telah duduk di kelas bisnis pesawat yang dia gunakan, Mahen membuka suara kembali setelah pikirannya berkutat tentang ungkapan legal yang dikatakan Dewiq beberapa menit yang lalu.
"Rey, maksudnya legal apa ya?"
"Bos, apakah kedua kubu tahu?"
"Maksud kamu, Hermana Arya juga keluarga Aiswa tahu? ... tapi Rey, kurasa Umma tidak, kau lihat bagaimana ekspresinya saat di pemakaman, beliau tak beranjak."
"Kan aku ga ikut waktu itu Bos, mana tahu."
"Benar, aku lupa... sh-itt record cctv smua musnah, hanya dari lift itu saja kemarin ya? apakah tidak ada cara membuat lawyernya buka suara Rey?" Mahen menyeringai memikirkan cara.
"Aku akan coba, Bos... lembut dan kasar kah," tanya Rey memastikan.
"Lembut saja, pastikan dia bisa membuka mulutnya ... siapa saja yang melegalkan urusan pemalsuan kematian Aiswa, tidak mungkin jika kuasa hukum mereka abai... Hermana Corp, akan kehilangan pamor akibat skandal ini bila tak hati-hati."
"Baik."
Jika kedua kubu tahu, pantas bila ini disebut kegiatan legal. Jikalau pun ada pihak yang mengusik, maka mereka punya bukti kuat ... yes, mungkin demikian....
Kak, maaf aku tak bisa memberitahu ini kepadamu, tapi aku akan memastikan kalian aman ... selamat berjuang, Amirzain..
***
Malaysia Expo.
Pekan ini akan menjadi rentetan hari yang sangat sibuk bagi keluarga Abah. Pasalnya kedua anaknya mengemban misi masing-masing bagi bisnis mereka.
Mereka dan team telah tiba sehari sebelum acara dimulai. Sungguh bukan event biasa, kabarnya Travelaja, adalah perusahaan jasa akomodasi terbesar di negara ini setelah pengukuhan perusahaan itu oleh kementrian terkait, dua hari lalu dan pekan ini adalah selebrasi bagi kesuksesannya.
"Nona, aku telah menyusuri semua stand dalam jajaran Anda, its all clear." Lapor Mega pada Naya.
"Thans Ga, istirahat lah." Menyodorkan satu cup minuman dingin pada Mega.
"Nduk, besok aku bantuin kamu dulu lalu sorenya aku ke hall hotel untuk pelatihan ... malamnya, Mas Panji hadir juga kan saat pagelaran?"
"Sepertinya begitu, tapi aku lihat sikon Kak ... kalau Maira capek, aku ga pergi ... dia ga mau diam kan udah kesana sini aja maunya jalan melulu."
Sebelum malam menjelang, sekali lagi Amir menuju lokasi guna memastikan bahwa semua venue untuknya telah siap sesuai dengan denah agar dia tenang esok hari.
__ADS_1
*
Kuala Lumpur Internasional Airports.
Seorang gadis belia nan anggun baru saja menjejakkan kaki di Malaysia ditemani asisten pribadinya.
Kacamata hitam, bots, serta gamis hitam dengan aksen gold dibagian depan, dipadu outer abu tua dengan hijab pasmina panjang melilit kepalanya. Berjalan penuh percaya diri melewati beberapa lounge menuju parkir lot area dimana anak buah ayahnya telah menunggu.
"Jo kita ke tempat event dulu ya, aku ingin melihat lokasinya," pintanya seraya mengaktifkan kembali ponselnya.
Aiswa mengabarkan pada Ibundanya bahwa ia telah tiba dengan selamat di Malaysia. Si-al masih menggelayutinya, rupanya Mama mulai terkontaminasi rayuan Rayyan hingga dokter genit itu pun mengikutinya kini.
Aiswa menangkap gelagat sang ayah angkat bahwa nampaknya beliau hendak menjodohkan Rayyan dengan sang kakak karena beberapa kali dirinya memperhatikan apabila Rayyan mengunjungi mereka, keduanya nampak nyambung dan serasi.
Jika dugaannya benar, maka sepatutnya dia menghindar toh selama ini memang dirinya berkali mengatakan pada Rayyan bahwa ada seseorang yang masih berdiam di hatinya. Pun dirinya kerap meminta Dewiq menemani pria itu bila Rayyan mulai mengganggunya.
"Nona, aku sudah mengkonfirmasi kedatangan Anda pada panitia acara dan mereka menunggu Anda di venue, akan dilakukan briefing ringan dengan beberapa partisipan yang telah datang meninjau lokasi." Joana melaporkan detail pekerjaannya.
"Ok, tapi jangan lama-lama yaa, aku pusing ... sungguh ga bakat naik pesawat, selalu saja begini."
"Baik."
Dua puluh menit selanjutnya.
"Hi Good evening Miss Little A, this way ... Let me introduce myself, Silvina as the project manager on this event ... did you just arrived?"
"Hai Miss Silvina, glad to see you ... i just got to town ... can you speak bahasa, hmm i mean, Indonesian?" tanya Aiswa seraya melepaskan kacamata yang bertengger di kepalanya.
"Oh sure ... maaf kalau begitu, lebih enjoy ya Nona."
Wow, matanya eksotis. Bule atau contact lens sih?
"Benar, aku lebih nyaman dengan bahasa ibu, jadi nanti aku dan teman-teman meletakkan wardrobe dimana? ruang make up untuk kami?" Aiswa ingin memastikan ruangan yang akan dia gunakan bersama kawannya nyaman terlebih busana yang dia usung adalah syar'i.
"Sebelah sini Nona," Silvina membawa Aiswa melewati beberapa pria yang tengah briefing dengan teamnya yang lain.
Amir yang baru saja tiba dilokasi, langsung di arahkan mengikuti briefing di ruangan yang baru saja Aiswa lewati.
Saat dipintu masuk dari samping, keduanya berpapasan namun saling membelakangi.
"Jo, tolong bawakan ini sebentar, Mama calling, " pinta Aiswa agar Joanna membawa tas tangannya.
__ADS_1
Suaranya, Rohi?
"Sebelah sini Mas Amir."
Qolbi?
"Silakan Nona, Anda dapat meletakkan semua disini dan disana ... ruangan Anda adalah yang paling luas diantara talent lainnya. Privasi bagi Anda dan team telah kami siapkan ... mohon menunggu disini terlebih dahulu, kami akan memanggilkan guide program bagi Anda agar dapat berkoordinasi langsung," ujarnya menjelaskan panjang lebar sebelum dia keluar ruangan.
Aiswa merebahkan tubuh lelahnya di sofa putih nan empuk di ruangan itu, matanya terpejam sembari kakinya dia angkat keatas sofa.
"Ah, leganya."
Tadi kurasa mendengar suaranya, tapi ah ga mungkin. Meskipun dia ada, jaga diri Aiswa, ada isterinya.
Sementara di ruangan lain.
Suaranya sangat mirip, tapi masa iya, ah halusinasi ku mungkin karena lelah. Tapi wanita tadi, sekilas seperti wanita saat di Singapura. Hmm Aiswa tak akan se stylish itu sih.
Keduanya saling memikirkan satu sama lain. Betapa semua kenangan, suara, kebiasaan bahkan gestur pun seakan tak rela meninggalkan ingatan keduanya. Memori yang mereka ciptakan walau sesaat sudah saling menancap hingga berakar kuat di sanubari bahkan disetiap helaan nadi.
Malam menjelang.
Rayyan menunggu Aiswa di depan Hall atrium event berlangsung. Dengan setia dia mengirimkan berpuluh pesan berharap untaian kalimatnya terbalas dari sang pujaan hati.
"Dokter, Dokter Rayyan? wah jumpa disini, kebetulan kah? ... Anda sedang menunggu seseorang?" tanya Amir tekejut akan kehadirannya saat akan menuju Hotelnya dengan memesan taksi.
"Hai ... Mas Amir ya? ya ampun dunia sempit yaa ketemu lagi disini ... aku menunggu wanitaku, masih didalam ... anda ikut event ini juga? harusnya tahu dia donk ya karena wanitaku juga salah satu pengisi acara." Rayyan tak kalah kaget dirinya dikenali.
"Oh ya? aku hanya peserta pameran serta menggantikan Ayah mengisi sharing wirausaha disini, sebagai undangan saja ... tapi nampaknya semua sudah keluar dokter."
"Anda jauh lebih keren ... eh tapi dia bilang belum, sedang jalan keluar katanya...."
"Aku duluan kalau begitu, mari dokter." Amir berlalu pergi.
"Aey, Aeyza...." Rayyan melambaikan tangannya.
Amir menoleh saat akan memasuki taksi yang telah dia pesan, hujan yang seketika mengguyur membuatnya menutup pintu tergesa.
Aiswa? Aeyza? apa telingaku salah dengar yaa?
.
__ADS_1
.
...___________________________...