DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 119. DA3A


__ADS_3

Amir tertegun ditempatnya melihat sesuatu yang diluar nalar. Inginnya menghampiri pasangan itu namun logika menjegal langkahnya untuk maju.


"Ga, aku harus mencari tahu dulu ... dia mungkin hanyalah mirip."


Meski hati enggan berpaling, bisikan nafsu mengingatkannya kembali pada kesadaran yang sejatinya tak ingin dia terima.


Mir, jaga pandangan.


Alex yang menunggunya terheran ketika majikannya itu kembali dengan raut wajah yang menyiratkan bahwa sesuatu tengah mengganggunya.


"Den Mas, kenapa?"


"Ga apa Bang, ke Naya yuk," ajaknya.


Ketika tiba di lokasi Queeny, Naya menangkap gelagat tak mengenakkan diwajah sang kakak. Masih dengan berjuta tanya tercetak jelas diwajah Amir, Naya menghampiri ketika situasi standnya mulai lengang.


"Kak, are you ok? aku mau bicara sebentar tapi tidak disini."


"Maira mana? ajak serta Nduk," ucapnya menanggapi sang adik seakan merasa hal yang sama bahwa dia juga tengah butuh seseorang yang bersedia mendengarkan ketidaknormalan otaknya kini.


Mereka lalu menuju sebuah kedai minuman es teler dilajur stand food and beverage. Duduk disalah satu bangku dekat pintu masuk.


"Pagi tadi, aku seperti mendengar suara Aiswa ... memang agak serak dan mungkin dia flu tapi logatnya aku masih ingat ... maaf Kak, aku ga sedang memprovokasi tapi mungkin hanya rasaku saja."


"Nduk, kamu tau?... di Singapura, aku juga melihat hal yang sama... jam tangan yang dulu kau ingin lihat, salah satu series warna hitam dengan strip biru ocean melingkar ... itu sebetulnya couple dengan Aiswa, aku sudah mengkonfirmasi ulang bahwa design itu memang hanya satu atas permintaanku dulu."


"Lalu?"


"Gadis yang kulihat di Singapura, mengenakan jam tangan yang serupa dengan milikku dan Aiswa ... dan tadi aku melihat seorang gadis yang mirip dengannya ... Nduk, apakah?"


"Aiswa masih hidup? mungkinkah? ... Kak, aku minta bantuan Abang ya," Naya bersemangat.


"Jangan, aku yakin meski Mas Panji mengetahui sesuatu kali ini dia tak akan mengatakan yang sebenarnya terjadi ... aku akan berusaha sendiri karena ini perjuanganku...." tekadnya.


"Kak, tapi ... ini hanya dugaan bukan?"


"Benar, akan aku pastikan Nduk, doakan aku yaa," tatapnya pada sang adik.


"Aku doain Kak, semangatlah." Genggamnya erat pada telapak tangan kakaknya yang mengepal diatas meja.

__ADS_1


Banyak yang harus aku pastikan, jika benar itu kau sayang, tunggulah aku menjemputmu.


Setelah pembicaraan serius dengan Naya. Adiknya itu meminta izin ke toilet sebentar. Maira yang dalam gendongannya pun dia titipkan pada sang kakak.


Bayi montok menggemaskan itu Amir bawa berkeliling. Maira meminta sang uwa membawanya ke stand permen kapas dengan bentuk lucu yang menarik perhatiannya.


"Maira mau? nanti izin sama bunda dulu yaa, boleh atau tidak, sabar sayang," kecupnya pada tangan gendut yang berusaha menggapai permen pada display.


Pemandangan ini tak luput dari perhatian seseorang diseberang yang tak dia sadari hingga sebuah suara mengejutkannya.


Anakmu kah itu Bii?


"Loh, Mas Amir ketemu lagi ... eh ini anaknya ya?" suara Dokter Rayyan.


"Dokter Rayyan, sedang disini juga? sendirian?"


"Dengan Aeyza, entah kemana dia, suka ilang-ilangan," jawabnya sembari celingukan mencari Aiswa yang sedang bersembunyi dibalik stand tak jauh dari sana.


Netra teduh Amir ikut berpendar ke sekeliling. Pandangannya menangkap sosok siluet gadis mengenakan gamis navy, yang siang tadi sempat dia kejar.


Sesaat dia berpaling wajah kala Amir menyadari keberadaannya.


"Maaf Dokter, ini bukan anakku, tepatnya ini keponakanku," ucapnya lantang berharap Aiswa mendengar.


"Nah ini ibu kandungnya Dokter, kenalkan adikku."


"Oh ku kira, karena mirip ... mari gabung, aku sedang memaksa dia mengisi perutnya karena setelah ini dia sibuk," ujarnya mengajak Amir untuk gabung serta.


"Thanks Dokter, kami akan prepare stand Queeny kembali untuk season setelah pagelaran nanti malam ... kami permisi." Naya menolak halus ajakan Dokter Rayyan.


Setelah kepergian mereka, Aiswa kembali ke tempat duduknya.


"Siapa tadi? suami istri ya?" pancingnya ingin tahu apakah telinganya salah mendengar atau sebaliknya.


"Cicit pasienku di Singapura, mereka kakak adik dan bayi itu anak adiknya ... kamu kemana aja sih, makan dulu lekas, kan mau event."


Pendengaran ku ga salah, kukira dia anakmu Bii. Senyumnya mengembang dari balik masker.


"Aku puasa, Anda saja Dokter."

__ADS_1


"Mana ada weekend puasa, jangan ngarang."


"Tenggorokanku sakit untuk menelan, daripada makan ga mood mending puasa, aku duluan mau siap-siap." Aiswa bangkit pergi meninggalkan Rayyan disana yang tengah menyantap hidangannya.


"Sesukamu, Aey ... aku lapar, berjuang juga butuh tenaga," kali ini dia cuek terhadap reaksi Aiswa.


*


Amir memilih tetap berada dalam stand Naya sementara adiknya itu pulang ke hotel dengan baby sitternya untuk beristirahat.


Tak berapa lama, Mega kembali ke lokasi stand membawakan baju ganti milik Amir karena majikannya itu akan menghadiri acara pada malam hari. Sementara dirinya dan Alex tetap berada di stand Queeny.


Ba'da maghrib, lewat pengeras suara, para tamu undangan yang telah hadir dipersilakan satu persatu menuju ballroom, masih dilokasi yang sama.


Acara telah dibuka oleh performa dari band lokal yang menghibur saat Amir tiba.


Suasana ballroom yang memang telah disett temaram agar audience fokus pada catwalk mulai menampilkan deretan model dengan body ramping semampai, berjalan memamerkan hasil rancangan para designer yang berpartisipasi dalam acara.


Kabarnya Travelaja mengundang beberapa designer pemula berbakat dari berbagai kampus ternama di negara pencetak trend mode, salah satunya UK. Dua kampus kenamaan negara Queen Elizabeth itu menggaet lima orang murid terbaiknya dari berbagai tingkat. Tak terkecuali Aiswa, salah satu kandidat murid penerima beasiswa di central Saint Martin london.


Ketika para model dari para designer ini memamerkan karya rancangan mereka, sang designer didampingi oleh MC mengutarakan maksud tersembunyi atas tema gaun yang mereka usung.


Tibalah giliran Aiswa, dirinya maju ke podium samping stage ketika satu persatu gaun rancangannya keluar. Masih dengan wajah tertutup masker dan suara yang sedikit sumbang.


"Aku menamakannya pure like a zamzam, terinspirasi oleh kegigihan Siti Hajar yang tujuh kali bolak balik bukit sofa marwah mencari air hingga bersumber mata air zamzam dibawah kaki Nabi Ismail, ketika harapannya mulai menipis dan hanya bergantung pada Allah."


"Pure, aku menggunakan tehnik pencelupan warna hingga tujuh kali untuk mendapatkan gradasi putih yang aku inginkan. Detail aksen batu swaroski serta batuan murni lainnya yang juga membuatnya berkilau."


"Pure, layaknya cinta, kemurnian kasih, harapan yang menipis kadang tanpa kita sadari, kegigihan ini telah menghadirkan keajaiban hingga membuka kisah yang baru, seperti perjalananku."


Amir tak lepas memandang wajah yang tertutup masker didepan sana, dari bangkunya. Tanpa sengaja netranya membasah.


Aiswa mungkinkah itu kau? Allah jangan biarkan diri ini berkubang dosa bila dia bukan untukku lagi.


Dirinya lalu meminta secarik kertas pada petugas agar memberikannya pada Aiswa nanti saat sesi tanya jawab.


Akan aku rangkai semuanya satu persatu.


.

__ADS_1


.


...______________________...


__ADS_2