
Karena Amir kembali pulang memakai jasa ojek online sehingga tak membutuhkan waktu lama, ia tiba di Tazkiya lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan mobil.
"Assalamu'alaikum."
"Mba, Aiswa masih dikamar?" Tanyanya saat melihat dua santri khidmah diteras.
"Nggih Kang, didalam ... kita sengaja diluar karena Mba Aiswa didalam kamar terus ga keluar sejak semua pergi tadi."
Nurut, alhamdulillah.
"Syukron Mba." Dia melangkah masuk setelah melepaskan sepatunya.
Tok. Tok.
"Sayang."
"Bii, sendiri?" ia tak melihat Ahmad bersamanya setelah membuka pintu kamar dan menyalami tangan suaminya.
"Iya, pakai ojek online ... aku bersih-bersih dulu ya Rohi, setelah ini packing ... bisa tolong pesankan tiketnya dulu? pakai ini sekalian dibayar ya, pin nya tanggal lahir kamu," pintanya beruntun seraya menyerahkan ponselnya pada Aiswa lalu melangkah ke kamar mandi.
"Aku?"
"Iya sayang, tolong ya," ujarnya sambil lalu.
Aiswa membuka aplikasi jasa travel online dalam ponsel suaminya, memilih rute kereta serta jam keberangkatan.
Mengingat kedua orang tuanya belum kembali juga beberapa urusan mereka masih ada yang ditangguhkan maka Aiswa memilih jam keberangkatan terakhir, pukul sembilan malam via stasiun Gambir.
Aiswa hanya membawa sebagian bajunya sedangkan Amir menyiapkan berbagai dokumen yang baru saja diantarkan oleh santri yang biasa mengurus masalah terkait kepindahan domisili Aiswa.
Tak banyak barang yang dibawa, hanya dua koper ukuran sedang milik keduanya. Lalu mereka sibuk dengan gawai masing-masing meski kini Aiswa berada dalam pelukan suaminya.
Ia tengah membaca chat dari Dwiana yang mengatakan bahwa dirinya sakit sudah hampir tiga hari tanpa yang mengurusi kecuali tetangga unitnya yang baik hati.
"Sean, dia selalu mengantar makanan untukku, susu, suplemen dan lainnya didepan pintu. Seakan dia hantu karena tak pernah menampakkan batang hidungnya didepanku...." tulisnya disana.
"Lalu kamu tahu dari mana Dwi jika itu darinya?"
"Dia mengirimkan pesan," balas Dwiana lagi.
"Kalian satu kampus atau dia jangan-jangan naksir kamu deh Dwi, perasaan dia care banget sejak kamu pindah ke apart itu kan?" Aiswa menulis panjang disaksikan oleh Amir.
"Sayang, Rayyan lagi jalan ke Aussie ya? mau nyamperin Dwiana? apa dia tahu kalau Dwi sakit?" Tanya Amir sesaat setelah ia membaca chat-an Aiswa dengan sahabatnya itu.
"Eh, tau darimana Bii?"
"Storynya barusan, boarding pake pesawat sana."
"Apa jenguk Dwiana?"
"Sakit parah ya?" Tanya Amir.
__ADS_1
"Dwiana cuma flu berat ko ... masa aku kepo sih? biarin deh kali mereka temenan ... ngantuk, tidur dulu ya Bii."
"Dwi, Dwi... istirahat ya, aku mau tidur dulu karena balik ke Jawa malam nanti."
"Take care ya Aish, doakan aku lekas sehat lagi nanti kita ngobrol virtual bareng Dewiq."
"Ok, bye Dwi, Assalamu'alaikum."
"Katanya mau bobo tapi chat-an ga udah-udah ... nanti aku bangunkan Ashar ... pesan tiket jam berapa Rohi? malam ya?"
"Iya Bii," jawabnya dengan menguap masih mengenggam ponselnya.
"Kebiasaan jeleknya Aiswa kalau nguap suka lupa menutup mulut," ujarnya seraya telapak tangan kirinya menutup wajah Aiswa yang mulai mencari posisi nyaman menempeli tubuhnya.
"Cuma didepan Qolbi."
"Tetap ga baik sayang," sambungnya mengecup pucuk kepala Aiswa.
Tangan kirinya mengusap pelan kepala sang istri yang bersandar manja padanya.
Jemari kanannya tetap mengetik pesan panjang untuk adik bungsunya itu. Urusannya dengan Naya tentang design Queeny yang baru saja ia rampungkan belum usai. Warna yang diinginkan Naya kali ini bertentangan dengan keinginannya.
Karena merasa tak jua mencapai titik temu, Amir pun melakukan panggilan handsfree.
"Nduk, dengerin aku dulu ... Quenny itu setiap seriesnya selalu menggunakan warna pastel, memang itu ciri khasnya Quenny tapi sesekali buat gebrakan baru, sedikit tegas ... bisa memakai gradasi ... kamu tahu ga tehnik transparansi? nah coba konsulkan dengan produsen ... harusnya tadi aku ke kamu, tapi ini mau balik ke rumah, tab ku sedang di charge oleh Aiswa tadi," terangnya panjang lebar.
"Kak, coba tanya Mba Aish deh ... untuk series ini, better pilih warna apa?"
"Nanti ya Nduk, Rohi baru aja tidur."
"Boleh tapi kamu atur atau buka sistem PO dulu, kita lihat feedback dari para Mitra bagaimana? PO satu pekan Nduk setelah itu closed apapun hasilnya itu yang naik, jika kamu ingin stock, lebihkan sedikit warna yang paling banyak diminati."
"Atau jika ingin lebih antusias lagi, sistem vote untuk mencari tahu warna apa yang sedang trend in ... kalau sistem Vote berarti kita tentukan seriesnya, ini bisa dipakai buat dongkrak penjualan series yang slow moving ... coba hubungi semua Mitra, mereka kesulitan jual yang mana? kita bantu habiskan stock mereka dulu sebelum naik repeat produksi."
"Ish kenapa selalu keren marketing analisisnya, makan apa kak? atau habis itu ya?"
"Kamu kali Nduk."
"Kak, kabari ya ... see you di Gambir jam delapan malam nanti." Naya menutup panggilan Amir.
"Qolbi memang keren," gumam Aiswa.
"Belum tidur?"
Sunyi.
Pluk. Ponsel Aiswa jatuh di samping tubuh Amir.
"Kebiasaan ... eh, wallpapernya, dapat darimana sayang? aku mau ya biar samaan." Amir tak sengaja menekan tombol on saat meraih ponsel Aiswa, ketika ingin membuka isi galerynya ia mengurungkan niat.
"Nanti saja deh, minta sama kamu langsung.." Kecupnya didahi Aiswa lalu ikut memejam masih dengan memeluknya.
__ADS_1
Tok Tok.
"Ya?" sahut Amir disela kantuknya.
"Saya Jo, Den Mas ... maaf, mau tanya, barang Nona yang dari Mansion mau diletakkan dimana? apa dibawa ke Jawa?"
"Menurut Aeyza gimana? waktu minta kamu Jo?"
"Ga bilang, aku beberapa hari di mansion membereskan kepunyaan Nona disana, sudah aku pisahkan."
"Dia sedang tidur, nanti ya Jo, jika bangun biar Aeyza lihat," seru Amir dari dalam kamar.
...***...
RSPP.
Keluarga Hasbi panik kala mendapatkan kabar dari Ahmad tentang kondisinya. Yai maksum akhirnya meminta mereka dirawat dalam satu ruangan agar memudahkan dirinya mengontrol keluarga putra bungsunya itu.
Beberapa saat kemudian.
Setelah Hariri salim kembali pulang dengan istrinya Maryam. Ahmad menghampiri brangkar Hasbi.
"Bi, alhamdulillah selamat, ko bisa?"
"Entah aku juga belum tahu ... mungkin saingan bisnis ... dengan siapa tadi? Amir?"
"Iya, dia malah yang nolongin kamu, mapah juga biar ga jatuh," jelas Ahmad padanya.
"Makin banyak aja utang gue, syukron."
"Kerjasama kita impas ya Bi, sudah resmi oleh lawyer semalam ... kamu dihubungi susah bener ... salinan dokumennya sudah ada di lawyer kamu juga ... makasih sudah nolongin aku dulu bagaimanapun cerita akhirnya tetap saja kamu pernah menyelamatkan nama ku dan Abuya."
Ahmad, padahal aku memanfaatkanmu namun kau....
"Iya ga apa ... keluargaku begini, aku ga mood, Mad."
"Cobaan, ujian sabar, diterima, sing ikhlas siapa tau jadi penggugur dosa kecil kan...."
"Aamiin."
"Amir pulang ke Jawa sore nanti, tadi dia titip salam maaf ga bisa nunggu sampai kamu siuman karena belum packing ... juga doain Reezi semoga lekas sehat lagi. "
Sunyi.
Semakin aku mengingkari kebenarannya semakin dia mengitari ku kuat.
"Aku pamit ya, lekas sehat kalian...."
.
.
__ADS_1
...___________________...
...Mata lelah 😞...