DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 227. MENAGIH JANJI


__ADS_3

"Mak-sud nya?" tanya Rayyan.


"Hmm," Ia bingung menjelaskan


"Kamu sedang menjalani proses terapi kan Dwi?"


"Aku tidak mengasihanimu, lanjutkan semua yang ingin kau lakukan. Aku akan menunggu, bila perlu ikut andil di dalamnya jika kau mengizinkan. Bukan inginku mencampuri wilayah yang menjadi privasimu kini. Mungkin juga kau menganggap itu bagian sisi kelam yang membuatmu merasa kerdil di hadapanku."


"Karena aku menghargaimu, ingin menjadi bagian bertumbuhnya seorang Dwiana," bujuk Rayyan.


"Tapi dokter, kan Mama Anda...."


"Masa depan, itu urusanku Dwi. Mama hanya memberi restu, jikalau pun tidak. Kita mencoba bujuk beliau bersama, segala-galanya memang butuh perjuangan bukan?"


"Iya sih, tapi," bimbang Dwi dalam setiap kalimatnya.


"Kamu harus makan dan istirahat dengan benar meski aku tak dapat mengingatkanmu setiap saat," ujar Rayyan menggeser kursinya bersisian dengan gadis itu.


"Sayang ... meski ada banyak orang lain yang lebih baik, aku nggak akan menyerah untuk menjadi yang terbaik dalam hidupmu ... jika jiwaku harus berkelana melanglang buana lebih dahulu demi izinmu, tetap saja itu tidak bisa mengubah hatiku untuk menunggu cinta yang sama," Rayyan memberikan penegasan dalam kalimatnya.


Dwiana melihat dari ekor mata, sosok tenang yang sejatinya ia kagumi.


"Alien...."


Ar-rasyid, mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemejanya.


"Kau mau?"


"Aku sedang detox, Dokter. Sudah tidak lagi, terimakasih."


Ia pun urung menyalakan lintingan tembakau yang akan di bakarnya.


"Ko gak jadi?" tanya Dwi tak enak hati.


"Aku gak mungkin meracuni calon ibu anakku. Ku pikir jika kau masih menginginkannya, kita bisa mati sama-sama nanti."


"Alay," Dwiana tertawa.


Sebenarnya masih banyak yang ingin Rayyan bahas, namun ia memilih perlahan. Biarkan Dwi menaruh percaya padanya lagi setelah lama mereka tak bersua.


"Aku punya dojo, milik kakak, juga cafe sebagai sumber penghasilan kami. Aku juga meneruskan kuliah online, tak lagi meminta pada Papa. Waktuku akan habis dengan semua urusanku," ia mulai mencoba terbuka pada Rayyan.


"Jika waktumu tak cukup. Aku yang akan menyediakan waktuku untukmu," balas Rayyan cepat.


Menjelang tengah malam, Rayyan mengajak Dwiana pulang. Baru beberapa ratus meter mobil yang mereka kendarai meninggalkan resto. Dwiana telah tertidur.


"Lah, rumahnya dimana ya?" Rayyan menelpon Andre menanyakan kemana dia mengantar Renata namun ponselnya tak aktif.


"Maaf ya, aku membawamu pulang. Ada Mama di rumah, kamu tidur dengan Mama saja nanti," ujar Rayyan seraya menghubungi ibundanya agar menyiapkan tempat untuk Dwiana.


Keesokan pagi.


Dwi sangat pulas karena terlalu lelah kemarin hingga waktu subuh, ia baru terjaga. Dirinya terkejut mendapati kamar asing saat membuka mata.


"Pagi sayang, alhamdulillah pules ya," suara Mama rini memecah keheningan di pagi buta.


"Ma-ma?"


"Rayyan tak menyentuhmu, Mama dan Bibi dibantu art tetangga yang gendong Dwi semalam," terang Mama.

__ADS_1


"Maaf."


"Dia gak tahu rumahmu, jadi pulang ke sini. Mandi ya sayang, Rayyan sudah siapkan baju, baru disetrika karena langsung di cuci, semoga semua pas ya," Mama menyerahkan goodie bag berisi perlengkapan untuknya.


Blush.


Pipinya merona melihat isi di dalam tas kertas itu.


"Kewajiban calon suami, kata Rayyan," Mama paham gadis itu rikuh melihat isinya.


Ba'da subuh yang mengesankan bagi Dwi. Hingga after breakfast ia pun pamit sekalian mengantar Rayyan menuju rumah sakit.


"Kabari aku ya," ujar pria tampan dengan wangi mint mendominasi, sebelum ia turun


"Iya."


"God girl, hati-hati."


...***...


Tiga bulan berikutnya.


Lusa, Dewiq akan kembali dengan keluarganya ke Indonesia. Umma sibuk menyiapkan jamuan untuk menyambut menantunya itu. Kandungan Aiswa memasuki usia delapan bulan sehingga Amir menahannya di Jawa.


Hubungan Dwiana dan Rayyan masih terjalin baik. Bahkan kini ia kerap menawarkan menemani Dwi saat konseling meski jawaban yang di dapat pria itu sama, penolakan.


Diantara banyaknya pasangan, mungkin Andre dan Renata lah yang tak banyak menemui kendala. Sejauh ini Raiden justru semakin lengket dengan calon papa barunya itu.


Hingga suatu siang.


"Lepaskan, dia putraku. Anakku, jangan," Renata berteriak, penarikan paksa Raiden oleh sekelompok orang berjas menarik perhatian khalayak. Untung Andre datang hingga dapat menghalau mereka.


"Anak buah mantan mertuaku, sekaligus mantan majikanku. Raiden cucu mereka, nampaknya ingin mengambil hak asuh untuk dijadikan penerus Raharja," wanita cantik ini pun terisak. Memeluk putra semata wayangnya.


Isakan pertama yang Andre dengar sejak mengenal keduanya.


"Ray, kita perlu bicara. Ajak Dwi juga sore ini di cafe," Andre berkirim pesan pada karibnya.


Dwiana mendapat kabar bahwa iparnya diganggu sang ayah pun tak terima. Ia meminta Naya menemani menemui ayahnya.


Bunda Maira, menebak akan terjadi keributan besar mendengar dari cerita Dwiana. Ia meminta Mahen agar menghubungi Rayyan untuk ikut serta sekaligus menagih janji saat melamar Dwiana dulu.


Sore menjelang, setelah jam pulang kantor. Mahen sudah di sekitar kediaman orang tua Dwi disusul Rayyan yang baru saja tiba dibelakang mobil mereka.


Saat memasuki halaman, ketiganya ditahan oleh sekretaris Raharja. Mereka lalu di bawa menuju ruang kerja.


Baru saja memasuki hunian mewah itu. Suara Dwiana bergema disusul teriakan Raharja yang mengejar anak gadis satu-satunya.


Naya menerobos dua orang bodyguard di depannya. Berniat menahan Dwiana agar gadis itu tenang dan tidak kabur lagi.


"Honey," Mahen panik reaksi Naya diluar ekspektasinya.


"Dwi, ada aku. Ada aku," Naya menangkap lengan Dwiana saat ia menepis semua yang menghalangi.


"Dwi, lihat aku, ini aku, Naya." Naya terus mendekap tubuh yang memberontak. Sakit di dadanya akibat pukulan Dwiana tak ia hiraukan.


Mahen terpaksa melumpuhkan serbuan anak buah Raharja di temani Rey, menghajar kurang lebih tiga orang yang berniat memisahkan istrinya dan Dwi.


Terjadi keributan di ruang tamu keluarga Dwiana.

__ADS_1


"Kak," Dwiana sadar. Dia telah kembali.


"Tenanglah, ada aku."


"Anda sudah tidak sopan, gentleman!" seru Raharja saat dirinya telah mencapai anak tangga paling dasar.


"Anda lebih tidak sopan, melukai istriku, menggunakan Dwiana, putri mu sendiri," sergah Mahen tak kalah sengit.


"Mahendra Guna, atas dasar apa Anda ikut campur masalah kami?"


"Dwi yang mendatangiku, memintaku untuk menjaganya. Tak ku kira, anda sangat jauh bertindak. Kau pikir, insiden di apartement ku yang menjegal Dwi dan memaksanya pulang, bukan ulahmu? aku diam karena menghormati istriku ... selama aku mampu menjaga keluarga ku, orang-orang yang istriku sayangi, aku tak segan membereskannya," kecam Mahendra.


Rayyan takjub, ketegasan Mahen membungkam Raharja.


"Honey, bawa Dwi ... Rey," titah Mahen pada Naya dan meminta Rey menjaga mereka.


"Tuan, sadarkah Anda? apa maumu? biarlah Dwiana hidup tenang. Biarkan Renata dan cucu Anda bebas tanpa kekangan ... jikalau anda menginginkan mereka, mintalah, dekatilah dengan cara yang baik," ujar Mahen.


"Aku bermaksud baik. Hanya saja, yang ku tahu caranya seperti ini...." Pria tua ini pun jatuh lemas terduduk di kursi.


"Kau! melukai Dwi, susah payah anak itu bangkit ... kau tau berapa banyak waktu yang istriku habiskan untuk anakmu ... ck, tau gini, aku tak akan mengizinkan Naya," sentak Mahendra tak terima, usaha Naya akan sia-sia.


"Mas, tahan Mas," Rayyan menahan Mahen yang emosi.


"Keluargaku berantakan. Lilyana belum pulih. Dwi kabur, aku baru mengetahui cucuku ... perusahaan tidak ada penerus ... aku harus bagaimana?" keluhnya menahan sesak.


"Restui kami, aku akan membujuk Dwi dengan caraku ... juga membicarakan ini dengan Renata. Dan ku mohon, Anda jangan ikut campur dengan metode yang aku pakai," ucap Rayyan.


Hening menjeda beberapa saat.


"Baik. Kapan?"


"Secepatnya, kami akan melamar resmi dua hari lagi," imbuh Rayyan mantap.


"Mas," Rayyan menatap Mahen.


"Sure," Mahen paham, Rayyan butuh bantuannya.


"Aku tak tahu, jika putriku mengenal Mahendra Guna, petinggi Exona, sang tangan emas Jimsey."


"Jangan salah sangka! aku melihat putrimu, hanya karena istriku! jangan harap kau bisa memanfaatkanku melalui Dwiana untuk kepentinganmu...." sarkas Mahen pada ayah Dwi itu.


Glek.


"Apa dia bisa membaca pikiran?"


"Aku terbiasa bertemu mahluk semacam Anda, Tuan. Baiknya kau tepati janji pada Dokter Rayyan ... beliau Dokter pribadi keluarga Kusuma ... jangan coba-coba berdalih. Kau tahu bukan, aku ada dibelakang mereka! Selamat Sore...."


Mahen mengajak Rayyan keluar dari kediaman megah itu.


"Mas," lirih Rayyan.


"Kita bicara setelah ini, Dokter. Esok pagi, di kantor Queeny karena aku sudah janji pada istriku menemaninya besok ke sana," ujar Mahen saat akan masuk ke mobilnya.


.


.


...________________________...

__ADS_1


...Atu apa dua lagi lah... lo gue end 🤣...


__ADS_2