
Jangan ya Allah, lindungi aku kali ini.
Batinnya tak henti melantunkan doa agar Sang Ilahi mau berbaik hati padanya kali ini. Hasbi dan entah siapa itu, baru saja melintas dengan seorang baby sitter yang mendorong stroller.
Apakah dia wanita yang ka Dewiq sebutkan dulu? istri pertamanya? dan anaknya?
Ya Allah, berarti benar jika aku dimadu?
"Aey? cepet banget dah bobok lagi." Mama membelai kepala anaknya dengan tangan kirinya.
Aiswa hanya diam semakin merunduk dan menempel pada Mama.
Mendengar seseorang menyebut nama Ai, dalam pendengarannya. Apa yang Aiswa takutkan pun terjadi.
Sreg.
Hasbi berhenti sejenak, menoleh ke belakang tubuhnya, melihat seorang gadis yang hanya tampak bagian belakang kepalanya saja.
"Mas, lihat apa?" Serli terheran suaminya berhenti melangkah sembari menoleh kebelakang nampak memperhatikan dua orang wanita yang duduk di kursi tunggu poli diapit oleh dua orang yang terlihat bagai pengawal pribadinya.
Ai-- bukan, posturnya lebih kurus darinya, juga mana mungkin karena mereka sepertinya bukan orang biasa.
"Bukan siapa-siapa ko, pulang yuk ... kasihan Safaniya juga udah capek tungguin antrian dokter gara-gara aku terlambat jemput kamu."
"Kirain kamu kecantol cewek lain Mas, aku lagi ga bisa kan ... selingkuh deh," rutuknya kesal.
"Mana ada, kan aku udah resmikan dokumen kita Sayang, gimana sih ... lagian Buya udah mewanti bakal dicoret jadi anak Buya kalau aku berulah lagi, kamu lupa?"
Mereka berdua kembali melangkah menjauh dari poli tempat Aiswa menunggu tadi.
Huft, lega.
Aiswa menghela nafas sehingga Mama terkejut.
"Aey, kenapa sayang, Aey!" Mama menepuk pipi anaknya pelan.
"Aw sakit Ma ... aku gak apa, tadi cuma lega aja."
"Nona, maaf aku tidak teliti."
"Ada apa Jo? kenapa?" Mama cemas.
"Hasbi Ma, tadi didepan kita yang lewat," Aiswa menjelaskan alasan dirinya memeluk Mama sembari menghembus nafas lega tadi.
"Oh ya ampun, maafin Mama sayang, ga tahu wajahnya."
"Ga apa Jo, untung aku pakai masker kemana-mana setidaknya meminimalisir jika ada yang mengenaliku."
"Sabar ya Aey, belum saatnya kata kakakmu."
__ADS_1
"Iya Ma," Aiswa tersenyum, hingga matanya menyipit.
"Mrs. Rosalie Hermana," Suster memanggil Mama agar bersiap menuju ruangan dokter.
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya Aiswa diminta masuk mendampingi saat akan pembacaan diagnosa.
Dirinya duduk di sebelah Mama berhadapan dengan dokter muda, tampan, dan suaranya seksi, menurut Aiswa.
"Hai Miss, please have a seat," sapanya ramah menjulurkan tangannya hendak berjabat.
"Afwan dok, thanks." Aiswa menangkup tangan didepan dada sembari sedikit membungkuk.
"Oh sorry," ucapnya kikuk dengan wajah memerah merasa bodoh tak peka dengan tampilan gadis di depannya yang memakai hijab.
"Dari Indonesia ya? aku bicara pakai bahasa saja jika begitu, tidak keberatan bukan?"
"Silakan dokter, justru lebih enak bagi saya," imbuh Mama seraya tersenyum.
"Aey, buka maskernya, ga sopan," Mama menyenggol lengan Aiswa yang menempel padanya, meminta agar dirinya membuka masker saat dokter akan bicara.
"Ma, kan ga usah juga boleh ya, Dok,?"
"Iya tak apa ... aku bacakan ya," sesekali mencuri pandang pada Aiswa, kala gadis itu tak terlalu fokus dengan dirinya.
"Nyonya Rosalie, Anda masih merasakan pusing atau mual jika melakukan aktivitas yang terlalu lama menggunakan otot leher? ataukah terjadi pegal bahkan nyeri pada panggul Anda?"
"Sesekali iya Dokter."
"Tidak ada opsi lain Dok," Aiswa akhirnya bersuara.
"Kita lihat kesimpulannya besok, Nona."
"Aey, gimana donk ini ... kuliah kamu sayang," Mama cemas, siapa yang akan menemaninya disini jika hasil lab esok hari tak begitu baik.
"Moms, tenang dulu, aku akan telpon Kakak dan Papa setelah ini." Aiswa membuka maskernya menenangkan Mama.
Ya Tuhan, cantiknya. Pantas ga mau membuka masker. Sudah punya pacar belum ya? Eh, jabat tangan saja tidak mau tadi, mungkin dia ga suka pacaran.
"Dokter, dua pekan itu mutlak ya tidak dapat bergeser ... aku berharap Mamaku baik hanya saja aku juga butuh informasi lengkap untuk disampaikan kepada Papaku," Aiswa memalingkan wajah dan posisi duduknya dari Mama lalu menghadap dokter di hadapannya.
Dokter Rayyan tak segera membalas pertanyaan Aiswa. Dia sibuk menyetok pandangannya agar dapat mengingat wajah ayu itu agak lama.
Aiswa yang ditatap intens beberapa detik, memilih menundukkan wajah lalu memakai kembali maskernya. Sedangkan Mama hanya tersenyum melihat dokter muda itu takjub akan kecantikan Aiswa.
Sadar dirinya salah, sang dokter buru-buru meminta maaf.
"Maaf, maaf, ehem ... hanya waktu estimasi saja Nona, kita tunggu hasil besok pagi ... jika Anda tidak keberatan, Aku meminta kontak Anda agar dapat membantu menjelaskan kepada Ayah Anda."
"Silakan Dokter, anak sulungku juga Dokter, jadi mungkin akan lebih mengerti, Aeyza hanya butuh informasi istilah medisnya saja ... begitu kan Aey?"
__ADS_1
"Ya Moms, maksudku begitu," Aiswa masih merunduk sesekali memainkan ponselnya.
"Nomor Anda Nona," Dokter Rayyan bersiap mencatat nomor Aiswa.
"628xxxxx, Aeyza."
Aey, bukannya itu nomor Joanna ya.
"Ok thanks Dokter, kita akan kembali esok pagi...." Aiswa bangkit.
"Aku baru saja misscall ke nomor Anda Nona," Dokter Rayyan terburu berucap agar Aiswa mendengarnya.
"Handphonenya aku silent," jawabnya berlalu pergi di selingi senyuman Mama.
"Maaf ya Dokter, bila anak bungsu ku kurang sopan."
Mama bangkit setelah menjabat tangan dokter Rayyan sebagai ucapan terimakasih lalu mengikuti Aiswa yang sudah lebih dulu keluar ruangan. Ketika suster telah menutup pintu, Mama melihat Aiswa tengah berbincang dengan Joanna, mungkin perihal nomor kontak tadi.
Mama sadar, putri angkatnya itu tetaplah anak Kyai terpandang yang sangat menjaga adabnya.
Aeyza, nama yang indah sesuai dengan orangnya meski cuek dan judes tapi dia, cantik. Aeyza, bolehkan aku kenal lebih dekat denganmu.
***
Solo, Indonesia.
Abah panik saat mengetahui kakeknya Danarhadi jatuh di toilet siang tadi saat akan sholat dzuhur.
Kusno Kalani menghubunginya agar dia bersegera pulang ke Solo karena tidak ada yang menemani beliau.
"No, Kakek gimana sekarang?"
"Baik Den Mas, hanya saja tidak dapat bangun karena masih sangat pusing, kata dokter mesti dirujuk ke rumah sakit namun beliau belum bersedia," ujarnya.
"Aku bawa mobil diantar Alex, berangkat sekarang mungkin nanti malam sampai. Amir ga bisa pergi karena Naya ada disini, Mas Panji sedang ke London."
"Nggih .... ada Den Gamal disini, kebetulan beliau sedang sowan ke Raden Wardhani, Den Mas, jangan buru-buru."
Abah menutup panggilan lalu menuju ke kamar putranya untuk meminta Amir agar menjaga Naya selama suaminya belum kembali.
"Semoga Uyut ga apa, harusnya memang kudu ke Jakarta sejak kalian nikah itu loh Mir, tapi susah ... kudu Naya yang bujuk, sedangkan Mas Panji sedang pergi, dia juga rekomen ke Singapura sekalian agar Uyut mendapat pengobatan yang paripurna," Abah menjelaskan pada Amir dikamarnya yang sedang bermain dengan Maira.
"Coba nanti aku bujuk uyut juga Bah ... Singapura yaa," terlihat garis wajahnya berpikir serius.
.
.
..._____________________________...
__ADS_1
...Kasih saingan lah satu, 😅...