DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 134. JAMINAN


__ADS_3

Entah kebetulan atau memang sudah suratan takdir, Hermana Arya berada di kediaman mereka sejak semalam.


Iringan dua mobil pun memasuki pelataran yang tak begitu luas bagai mansion mereka di Jakarta, namun diakui oleh Amir bangunan bergaya Victorian salah satu ciri khas Inggris pada abad pertengahan ini memanjakan matanya saat ia turun dari mobilnya menuju fasad depan.


Sangat mencirikan keluarga konglomerat.


Joanna memutar handle pintu berwarna merah itu perlahan, membukanya lebar agar sang Nona juga tamunya dapat masuk kedalam.


Aiswa memberikan isyarat pada Amir agar menggantungkan mantelnya pada standing hanger di sudut voye.


"Bii, pake ini ... ga usah dilepas socknya, biar hangat," ucapnya sembari menyiapkan sepasang sandal rumah untuk Amir.


"Duduk disana Bii, dan letakkan sepatumu disini" ujarnya lagi menunjuk bangku panjang yang bersisian dengan rak sepatu.


Amir yang mendapatkan perlakuan manis dari Aiswa tersenyum simpul saat wanita itu masih menunduk karena meletakkan sandal untuknya tepat di sebelah kakinya.


"Syukron," balasnya lirih.


"Hem," imbuhnya seraya mengurai tali mantel yang membalut tubuhnya.


"Eh, mau apa? ko buka disini?"


"Ck, aku cuma lepas mantel, lagian ga lihat gamisku apa?" sungutnya sebal.


"Aku kira kan mantelmu dibawa ke kamar, ga dibuka disini ... curigaan amat," godanya.


"Aey? Aeyza ... lama sekali disana, sedang apa sayang," suara Mama memanggilnya, terdengar derap kaki mendekat.


"Ya Ma, sebentar ... Bii, ayo," ajaknya agar bergegas.


"Yuk, bismillah...."


Baru saja Amir hendak melangkah masuk, Mama Rosalie muncul di pintu pembatas antara Voye dengan ruang tamu kediaman mereka.


Beliau menatap Amir sesaat lalu tersenyum seraya mengalihkan pandangan pada anak gadisnya.


"Ada tamu ... ko ga diajak masuk segera Aey? dingin loh ... mari masuk Nak, maafin Mama yaa ga tahu jika kamu mau kesini, Aeyza ga pernah bawa teman main kerumah soalnya." Sebenarnya Mama tahu bahwa lelaki tampan di depannya ini pastilah Amir, dia hanya menjaga perasaan Aiswa agar tidak merasa sungkan.


"Ini baru beres ganti sandal rumah Moms, ehhmm Kakak mana?" Aiswa berusaha mengalihkan kegugupannya, ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Amir disana.


"Dikamar ... siapa namanya Aey? ga dikenalin sama Mama?" serunya, tangan kanan Mama melambai ke arah Amir sebagai isyarat untuk mengajaknya masuk keruang tamu.


"Tanya sendiri aja, assalamu'alaikum ... Kaaaak," serunya setengah berlari menaiki belasan anak tangga menuju lantai dua.


"Ya ampun, anak itu tetap saja begitu jika pulang ke rumah, teriak bagai dihutan ... maafkan yaa ... Nak? "

__ADS_1


"Amirzain, Nyonya."


"Mama, panggil begitu ... duduk dulu ya, Mama panggilkan Papa sebentar, kebetulan beliau baru tiba semalam dan sedang main catur ditaman bersama tamunya," ujar Mama meninggalkan Amir disana berpapasan dengan maid yang mengantar minuman hangat bagi tamunya.


Rosalie bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan sosok yang akan membuat Aeyzanya tersenyum lebih sering dari sebelumnya.


"Pa, ada tamunya Aey, dari jauh, temuin ya lekas," pintanya pada Hermana Arya saat Rosalie telah ada disisinya, mengabaikan kehadiran Rayyan yang sedang asik berdua dengan sang suami.


"Siapa sayang? aku ga punya janji disini, kan niatnya cuma mau liburan dengan anak-anak," sahutnya memeluk pinggang sang istri mesra, yang berdiri disampingnya.


"Amirzain."


Uhuk.


"Sorry Moms, Amirzain yang itu, hmm, tampan? meski lebih tampan aku sih ... dari Indonesia?" ujar Rayyan memastikan.


"Kayaknya iya ... ayo Pa," Rosalie mengajak Hermana Arya agar lekas bangkit, menarik lengan pria itu tak sabar.


"Sayang, iya aku kesana ... ga sabaran banget pengen mantu," kekehnya melihat Rosalie antusias.


"Aku ikut Pa," ujar Rayyan ikut bangkit dari duduknya.


Ketiganya menuju ruang tamu dimana Amir berada. Dan benar saja, dokter Rayyan paling shock mengetahui bahwa sosok yang dikenalnya sebab kakek buyutnya pernah menjadi pasien di Singapura, berada di tempat yang sama dengannya.


"Loh dokter kenal ya?" Rosalie berpura tak mengetahui.


"Kenal Ma, di Singapura." Jawab Rayyan.


"Assalamu'alaikum, saya Amirzain Zaidi, Tuan," Amir bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan menyalami Hermana Arya.


Beliau kira pemuda ini hanya berjabat tangan biasa, tak akan pernah mengira apabila Amir meraih tangannya untuk dia cium.


"Wa'alaikumussalam ... duduk Nak, ada perlu denganku?"


"Aku langsung saja agar tidak menyita waktu Anda lebih banyak Tuan ... Aku sudah mengkhitbah Aiswa Fajri langsung pada Abuya Hariri salim sekitar tiga hari lalu, memberikan tanda mata sebagai ikatan atas khitbahku dan beliau menerimanya ... juga sudah menerima jawaban dari Aiswa, untuk itu aku meminta izin serta restu dari Anda sebagai wali sementara dari calon istriku," tuturnya panjang berharap Hermana Arya langsung paham akan maksudnya.


"Jadi kamu sudah tahu semuanya?"


"Iya ... aku tak melarang Aiswa jika ingin berkunjung, dia tetap akan menjadi Aeyza bagi keluarga Anda ... juga aku akan mendukung semua yang Aiswa inginkan termasuk melanjutkan studinya disini ... Klan Hermana tentunya tidak menerima kompensasi, namun jika dibutuhkan, aku siap menanggungnya...."


Hermana Arya mengulum senyum, salut akan keteguhan serta kesiapan Amir. Terlihat jelas ketegasan dalam setiap kata-katanya.


"Nanti dulu, ini ada apa? Aeyza, Aiswa? ada yang bisa jelaskan padaku?" dokter Rayyan bingung.


"Jika Anda merestui kami, aku ingin melangsungkan akad nikah disini, esok ba'da maghrib sembari menunggu Abahku serta wali sah Aiswa tiba," pungkasnya.

__ADS_1


"Pa," Rosalie mengisyaratkan dengan anggukan kepala, berharap sang suami meloloskan keinginan mereka berdua.


"Nak Amir, aku akan tanya kesediaan Aeyza sekali lagi ... Jo, tolong panggilkan Nonamu," perintahnya.


"Kami disini Pa," Dewiq menyahuti sang ayah dengan Aiswa disisinya.


"Duduk sini Nak," Mama Rosalie bangkit agar kedua putrinya duduk ditengah mereka.


"Aey, kamu bersedia?"


"Pa, maksudnya apa ini?" Rayyan menjeda kalimat Hermana Arya.


"Diam dulu kamu Rayyan, dengarkan saja," sergah Dewiq.


"Aey," Mama menyentuh telapak tangan Aiswa di pangkuannya.


"Aku sudah memberikan jawabanku tadi kan Bii?"


"Iya sudah, tapi beliau ingin mendengar langsung darimu Rohi," tutur Amir lembut.


"Iya ... bila Kak Dewiq dan Papa mengizinkan," tunduknya malu.


"Apa jaminanmu untuk adikku agar bahagia?"


"Nona Dewiq, aku tidak punya jaminan apapun. Allah menyebutkan cinta sebagai salah satu tanda-tanda keagungan-Nya di dunia. Salah satunya tertuang alam Ar-Rum ayat 21."


"Istri adalah bidadari kedua setelah Ibu kandung, salah satu perintah Rasulullah adalah untuk memuliakan istri, karena seorang laki-laki yang mampu memuliakan seorang istri adalah laki-laki yang paling mulia ... tujuanku ke sana," ujarnya.


"Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya ... ini juga sabda Rosulullah, tertuang dalam hadist at Tirmidzi ... Aku mengimani ajaran Allah serta Baginda Nabi sebagai tuntunanku, in sya Allah."


"Jadi apa artinya?"


"Membahagiakan Aiswa itu wajib, Nona Dewiq, jika aku adalah lelaki yang beriman dan ingin Allah muliakan kedudukanku serta rumah tangga kami ... karena dengan bahagianya Istriku, maka banyak nikmat Allah akan menaungi rumah tangga kami," Amir menjawab desakan Dewiq telak.


"Kak."


"Hasbi?"


"Itu urusanku dengannya, yang pasti aku tak akan tinggal diam jika ia mengusik istriku lagi."


.


.


...___________________________...

__ADS_1


__ADS_2