
"Aey--"
"Ini aku Ma, aku disini ... Aeyza nya Mama, aku sholat dulu, ada ka Dewiq disini."
Aiswa mengenakan mukena, karena masih belum mampu berdiri, ruku serta sujud dalam interval yang sering, dia memutuskan sholat sembari duduk diatas sajadah dengan meluruskan kaki
Dewiq memperhatikan cara Aiswa sholat dalam kondisi demikian. Mungkin akan berguna baginya suatu saat nanti. Batinnya.
Setelah Aiswa selesai, giliran Dewiq menunaikan sholat maghrib disusul kedatangan Papa kedalam ruangan mereka.
"Pa, stop disana, ka Dewiq sedang sholat, Papa jangan melintas di depannya."
"Why Aey?"
"Dosa besar Pa ... sabda Rosulullah tertuang dalam hadist Bukhari, Muslim, An nasai, Tirmidzi dan lainnya : Andaikan orang yang berjalan di depan orang shalat mengerti apa yang akan terjadi pada dirinya, maka lebih baik dia berdiri (menunggu) selama empat puluh (musim gugur) daripada berjalan didepannya."
"Tidak ada sutrah (penghalang) di depan Ka Dewiq ... sebab, pada hakikatnya, orang yang sholat itu sedang berhadapan dengan Allah ... berjalan di hadapan orang yang sedang mengerjakan sholat, juga akan mengurangi nilai sholatnya ... jika aku bisa menghalangi agar tak ada yang melintas didepan orang sholat, maka wajib hukumnya bagiku menahan langkahnya." Pungkasnya.
Pria paruh baya itu tertegun dengan penjelasan Aiswa, dia berdiam diluar pintu, dengan sabar menunggu anak sulungnya selesai sholat.
Aiswa terimakasih.
Setelah mengucap salam, Dewiq lalu membiarkan sang Ayah masuk. Dia sempat berkirim pesan singkat pada Papanya yang berisikan tentang kondisi terkini ibunya.
"Apa Mama mu bereaksi Kak?"
" Tadi matanya bergerak dan bicara satu dua kata, jemarinya juga mulai bergerak meski masih lemah."
"Progress yang baik Kak."
"Dia merespon suara Aey, Pa."
"Aey, teruslah memberikan support untuk Mama yaa." Papa meminta pada Aiswa.
Tatapan rindu ke wajah wanita yang pernah mengisi relung hatinya sebelum kesalahan bodoh yang dia lakukan, membuatnya pergi dari kehidupan mereka yang nyaris sempurna.
"Tentu Pa," Aiswa kembali meraih tasbih kecil peninggalan Ummanya yang sempat Joanna selipkan sebagai satu-satunya benda peninggalan dari masa lalu gadis majikannya itu.
"Ma, ikuti aku yaa," bisiknya di telinga ibu angkatnya. Dewiq bertanya apa yang Aiswa lantunkan.
__ADS_1
"Sholawat Kak, aku memohon pada Allah dengan absen pada kekasih hatinya. Karena satu sholawat yang ditujukan pada Rosulullah akan sampai dengan nasab ayah kita menyertainya juga ... menyebut dan memuji kekasih hatinya, semoga Allah redho atas apa yang kita sedang ikhtiarkan .... laa haula wala quwwata illa billah."
"Tiada daya dan kekuatan melainkan sebab pertolongan Allah, aamiin." Dewiq lirih mengamini doanya.
Ba'da isya, karena tubuh yang masih belum pulih benar. Aiswa tertidur beralaskan telapak tangan kanan wanita yang dia anggap sebagai ibu penggantinya kini, menempel di pipi kanannya.
Melihat Nona muda nya terlelap, Joanna pun ikut memejamkan mata. Dia memang harus mencuri waktu tidur di sela jam kerja yang bisa saja full 24 jam nonstop jika situasi genting.
Tangan wanita itu bergerak. Matanya perlahan terbuka.
"Aeyza."
"Aeyza."
Merasakan sesuatu yang berkedut di pipinya, Aiswa memaksakan netranya terbuka.
"Mama!" serunya terkejut kala wajah wanita itu tengah memandangnya dengan tatapan sendu.
Grep. Aiswa bangkit, tak ia hiraukan rasa nyeri menyergap punggung serta kakinya akibat gerakannya yang mendadak.
"Aey rindu Mama."
Entah perasaan asing apa yang kini hadir di hati Aiswa. Dia bahagia melihat wanita ini kembali sadar meski lukanya cukup parah.
"Ka-kak Aey."
"Sedang di ruang kerja dengan Papa, Ma ... Joanna panggilkan nanti yaa."
" Na-nti sa-ja," lirihnya seiring iris mata hitam legam itu kembali menutup.
Aiswa tetap menggenggam tangannya, memberikan ciuman bertubi disana berharap dia dapat memberikan support agar ibu angkatnya kembali bersemangat bangkit.
***
Queeny akan launching produk terbaru mereka, sesuai rencana Amir setelah kepulangan dari event di Bandung bulan lalu.
Kandungan Naya telah memasuki usia hampir 7 bulan, minggu ini dia tak dapat menemani sang kakak dalam peluncuran produk mereka sebab Naya harus kembali ke Cirebon lebih dahulu untuk menghadiri acara wisuda baginya.
Mahendra meminta Rey tinggal membantu Amir di Jakarta sebab Aruni tak diizinkan ikut serta. Jangan kan untuk melakukan perjalanan, bahkan berjalan terlalu lama pun akan menyebabkan keluar flek kembali.
__ADS_1
"Mas, maaf yaa aku nyusahin terus," ujarnya lemah karena ini adalah cita-cita mereka berdua, project yang dikerjakan keduanya.
Sementara dia hanya bisa tergolek lemah diatas ranjang, mengandalkan sang suami memenuhi segala kebutuhannya.
"Sehat Qiyya, itu lebih penting agar dia juga kuat ... jangan pikirkan apapun, ingatlah hanya yang bahagia saja. Ok?" kecupnya pada telapak tangan yang Amir genggam, serta elusan hangat diperut yang terlihat mulai membuncit.
"Hati-hati disana, lekas kembali ya," kehamilan membuat Aruni menjadi lebih perasa.
"Mbak Sri nemenin kamu disini 24 jam sayang, jangan sungkan minta tolong padanya ... aku bahkan memintanya untuk tidur disini juga, nanti Mang sapri bawakan ekstra bed kesini."
"Iya, aku gapapa."
"Jangan memaksakan diri selain untuk ke bathroom, kamu denger aku?"
"Iya iya, aku tahu Mas."
"Dinikmati yaa sayang, jangan ngeluh apalagi berpikir yang buruk, ga baik."
"Hemm," Aruni hanya menganggukkan kepalanya. Rasanya ia ingin menahan agar suaminya tak pergi, namun apa daya. Naya tidak ada disana.
"Nanti Naya mampir kesini dulu, nginep disini sehari baru besoknya kembali ... jika dia sudah dalam perjalanan, aku pun sama, pulang kesini ... aku pergi dulu yaa Qiyya ... Hai boy, jaga mommy yaa, jangan nakal selama Abi tak ada." Kecupnya pada dahi dan perut Aruni.
Rasanya berat meninggalkan istrinya dalam kondisi demikian, tapi mau bagaimana lagi. Amir hanya berharap Allah menjaga mereka selama ia pergi.
Amir meninggalkan kediamannya setelah memastikan asisten rumah tangga menemani istrinya dikamar, sebisa mungkin Amir menyediakan berbagai media hiburan agar Aruni tidak merasa bosan berada disana setiap hari bahkan minggu.
Mulai dari buku design, novel, majalah cetak, channel televisi yang dia tambah serta berbagai macam compact disk tentang film berbagai genre.
Semuanya dilakukan demi agar istrinya nyaman bahkan kamar mereka saat ini lebih mirip kamar hotel, mini refrigerator alias kulkas pun diletakkan berada dalam jangkauan tangan Aruni yang tak pernah Amir lupa mengisinya dengan segala kesukaan istrinya itu.
Aruni kira, suaminya telah pergi. Namun dia kembali ke kamar saat Mba Sri ada disana duduk di karpet mengerjakan sesuatu.
"Ko kembali, ada yang ketinggalan?"
"Iya, aku lupa bilang ... love you sayang, love you." kecupnya pada bibir Aruni lalu kembali beranjak keluar kamar sembari tersenyum.
Benarkah itu Mas? raba jemarinya pada jejak yang baru saja dia tinggalkan di bibir manisnya.
.
__ADS_1
.
...________________________...