
Solo, malam hari.
Kabar diterimanya lamaran Gamaliel telah menyebar ke Wardhani. Dirinya menanyakan pada Danarhadi apakah akan pergi atau tidak, inginnya mereka pergi namun gengsi masih menahannya.
" Mas, pergi ga ke Semarang? " tegurnya pada Amir yang berada disamping rumah, duduk di kursi malas sembari membaca kitabnya menghadap kolam koi.
" Maunya sih pergi, Uyut juga? "
" Engga, nanti saja jika walimah. Siapin bajunya dari sekarang Mas, mau seragaman atau bagaimana dengan keluarga Gamal? Abahmu bilang sih Gamal sudah menyiapkan. "
" Aku belum tanya lagi, Abah baru bilang nuansa hijau. "
" Aku punya designnya Kak, mungkin cocok. " Aruni bergabung dengan mereka.
" Mana coba lihat Nduk? " sambung Danarhadi.
" Ini Yut. " Aruni menyerahkan draft koleksi rancangan yang telah ia buat lalu duduk dihadapan Danarhadi.
Amir sekilas pandang melihat beberapa design dari tempatnya yang berdekatan sang Buyut.
" Ini bagus Nduk ... yo Mas? "
" Yang sebelumnya, aku lebih suka itu Yut ... Dek, kamu bisa ukur dari baju jadi kan? "
" Dek? " Danarhadi memastikan pendengarannya.
Degh. Duh, ni mulut kenapa sih.
" Hm, Qiyya. " Amir berpura membaca kitabnya karena tatapan menelisik Danarhadi disertai senyum penuh arti.
" Bisa ... ma-af Kak, contoh ukuran bajunya mana? " Aruni bertanya hati-hati.
Melihat interaksi kedua cicitnya yang mulai terjalin baik, Danarhadi ingin memberi mereka ruang.
" Ada, bentar aku ambil. " Amir berniat bangkit dari posisi nyamannya.
" Biar Uyut aja, baju kamu yang mana Mas? Uyut sekalian mau bikin kembaran untuk keluarga kita nanti, sekalian kamu juga Nduk. "
" Yang navy aja Yut, itu enak dipakainya, seragaman waktu open house resepsi Naya disini. "
" Oh iya, keren ya Mas ... ok yang itu saja, bentar Nduk ... Mbaaa, Mba, ambilkan bajuku dan Den Mas yang navy waktu open house di kamar yaa, " serunya pada abdi dalem yang ada diruang tengah.
" Ya ampun, ku kira mau ambil sendiri. " Amir menggelengkan kepalanya.
" Cape ah jalannya ". Tawa Danarhadi hingga bahunya terguncang.
" Siapa suruh bikin rumah guede amat, " cebik Amir seraya melanjutkan bacaannya.
" Baca apa? jelasin ke kita. "
Haduh, celaka, gegara Gamal nanya sih ah, jadi aku malah pegang kitab ini buat jelasinnya.
" Mas, jangan pelit ilmu, " tegur Danarhadi.
" Uquddu Lujain, " ucapnya singkat.
" Tentang apa Kak itu? " cecar Aruni.
" Hmm, yakin mau tahu? "
" Bilang aja kenapa sih, Mas ... sekalian jelasin. "
Amir menarik nafas dalam.
__ADS_1
" Bismillah, ini sedang menerangkan pada Gamal tentang pernikahan, menguraikan bagaimana dan tata cara hubungan su-a-mi is-tri, " jelasnya perlahan sembari melihat ekspresi kedua orang didepannya.
Aruni langsung menunduk, semburat pink tak sengaja Amir tangkap, mencetak sebaris senyum di wajahnya hingga memunculkan ciri khas wajah Aruni.
Eh, dia punya lesung pipi.
" Hm, ga usah dijelaskan deh Mas ... pusing nanti karena kita semua jomblo. " Danarhadi tergelak diikuti Amir yang tertawa ringan.
" Punten Ndoro, ini bajunya. "
" Makasih Mba, " sambut Amir.
" Dd- ... Qiyya, ini. " Ish mulut mulut mulut. Lama-lama Amir kesal dengan dirinya sendiri.
Aruni dengan cekatan mengukur dan mencatat semua detail ukurannya. Menanyakan pada keduanya apakah akan memakai kain dengan full motif atau hanya di beberapa bagian tertentu.
" Besok aku akan cari kainnya sesuai permintaan Uyut dan Kakak, aku permisi duluan yaa, mulai mengantuk tadi habis minum obat. " Pamitnya santun.
" Kontrol kapan Runi? biar Uyut antar nanti. "
" Masih lama Yut, bulan depan. "
" Qiyya, suka madu? aku punya madu Clover honey, pemberian Mas Panji saat beliau ke New Zealand. Masih ada satu botol utuh yang belum aku buka. Kamu bisa coba, bisa menjaga imun tubuh. "
" Ga begitu suka, tapi boleh di coba. "
" Sebentar aku ambilkan. "
" Udah malam, masuk yuk istirahat. " Danarhadi bangkit diikuti keduanya.
Aruni menunggu di ruang keluarga saat Amir masuk ke kamarnya.
" Qiyya, ini dan ini, niatkan meminta kesembuhan hanya pada Allah ya ... sholawat dulu boleh tiga kali atau lebih lalu minum madunya dan akhiri dengan minum zam-zam, yakinlah bahwa apa yang masuk ke tubuhmu adalah wasilah kesembuhan, kesehatan ... karena kunci sebuah obat adalah yakin bahwa Allah yang Maha Menyembuhkan. "
Sehat selalu Qiyya, kamu cantik bila tersenyum hingga nampak lesung pipimu.
*
Keesokan hari, saat Amir akan lari pagi ia melihat Aruni di teras depan tengah abai dengan sekitar, fokus pada isi tas dan secarik kertas yang dia pegang.
Aruni memakai kaos lengan panjang slim fit berwarna merah dan rok hitam hingga menutupi mata kaki. Rambutnya diikat tinggi menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Anak surai yang menjuntai membuatnya terlihat seksi, dimata Amir.
" Astaghfirullah. " Amir melepas jaketnya, menghampiri dari belakang tubuhnya.
" Qiyya, diam dulu. " Ia menyampirkan jaketnya menutupi kepala Aruni.
" Kak, dih rambutku rusak. " Aruni yang terkejut melepas jaket dari kepalanya.
" Pakai jaketnya dengan hoodie atau aku melarangmu pergi, " tatapnya tajam.
" Aku mau ke toko kain, kan pake mobil ga perlu jaket ... ini. " Menyerahkan kembali jaket Amir.
" Lepas ikat rambutnya. " Sentaknya.
" Udah rapi Kak, pergi ah. " Dirinya mengabaikan Amir.
" Aruni Fauqiyya, tidakkah kamu sadar bahwa kamu tengah membuka auratmu lebih jauh? "
Degh. Aruni terhenyak, ia lupa.
" I-iya, maaf Kak.... " tangannya terulur melepas karet rambutnya. Ia menunduk takut, Amir masih menatap tajam padanya.
" Maaf, aku sebenarnya tidak punya hak apapun terhadapmu, aku hanya tidak suka kamu begitu, " lirihnya menyadari kekeliruan sikapnya.
__ADS_1
" Aku makasih Kak. "
" Pergilah, hati-hati. Aku duluan."
Lah dia seenaknya pergi habis bentak aku, kirain mau nganterin sekalian. Bilang apa tadi? dia ga suka? Oh tuhan, dia manis sekali.
***
Sepekan kemudian.
Komplek Al Islah telah menyiapkan diri menyambut iringan keluarga Gamaliel untuk peresmian lamaran, di hari ini sesuai tanggal yang telah disepakati pada pertemuan terakhir mereka.
Dua tenda dengan nuansa hijau muda dan broken white dihias dengan juntaian bunga baby breath putih dan dedaunan hijau, deretan kursi dengan jumputan bunga mini diujung sandaran, kian menambah apik dan sempurna lokasi perhelatan.
Tepat pukul sembilan pagi rombongan keluarga Gamal memasuki lokasi acara.
Nuansa serba hijau tua menjadi pilihan untuk dikenakan serempak hari itu. Termasuk kemeja lengan panjang milik Amir, senada dengan kain yang dikenakan Aruni.
Iya, Aruni ikut pergi bersama Amir ditemani Mban mewakili keluarga Wardhani.
Rentetan acara telah berjalan lancar tiga puluh menit yang lalu. Kini para tamu yang hadir tengah menikmati sajian dari tuan rumah.
" Kak, mau apa? aku ambilkan. "
" Buah dulu, nanti kita makan barengan sama mereka kalau kemari. "
" Loh, mereka lagi pada makan. "
" Lah, sih, ga sopan ditunggu malah duluan. "
Gamal melihat interaksi antara Aruni dan Amir dari kejauhan, gatal rasanya ingin menjahili mereka berdua hingga tiba saatnya keluarga inti sedikit melonggar, dia menghampiri keduanya.
" Kayaknya bentar lagi nyusul nih. "
" Siapa Mal? "
" Lu berdua lah, " pancingnya lagi dan sontak membuat Aruni malu karena menjadi pusat perhatian.
" Qiyya, tolong ambilkan minum deh. Buat nyiram ni orang. "
" Ciye panggilan sayang. " Sorak Gamal mengundang perhatian Abah dan Abyan padanya.
" Brisik Lu. " Amir bangkit hendak pamit lebih dulu karena jengah.
" Mal, sorry telat. Selamat yaa, " sapa seorang pria yang suaranya akrab terdengar di telinga Amir.
" Eh, kenal dengan Gamal Mir? ... gimana kabar? " Ia berpura terkejut.
" Kheir Alhamdulillah. Qiyya yuk balik, " ajaknya pada Aruni yang masih duduk disebelahnya.
" Loh, Mbanya yang waktu di lounge Bandara kan? kenal Amir juga? wah dunia memang sempit ... kita belum kenalan, kebetulan ketemu lagi disini. " Ulur tangannya didepan Aruni. (bab 40)
" Kalian bertiga kenal ya? " Aruni menjulurkan tangannya.
" Ga penting Dek. " Amir menarik paksa jemari Aruni yang menggantung di udara lalu menyeretnya pergi dari sana, sikap keduanya tak luput dari pandangan Abah yang menaruh prasangka.
.
.
..._____________________________...
borokokok datang lagi 😌
__ADS_1