DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 46. MENGAGUMI


__ADS_3

Flashback on.


Joglo Ageng.


Sudah beberapa hari ini Aruni tinggal di kediaman buyutnya yang lain. Awalnya ia hanya berniat untuk singgah, namun buyut Danarhadi mencegah kepulangannya ke kediaman Wardhani lantaran beliau kesepian.


" Runi, disini dulu nemenin uyut. Kamu terakhir kesini sudah sangat lama lagipula setelah Naya si tarzan pulang jadi sepi lagi, " kekehnya mengingat kelakuan konyol cicit barbarnya itu.


" Naya energik ya? ceria. "


" Begitulah, beda dengan kedua kakak lelakinya, kalem. Oh iya, siang ini cucu dan cicitku akan datang, kamu bisa kenalan nanti ... perhatikan busanamu, raden mas Amirzain itu hafiz, Runi. "


" Kan aku ga tinggal di Joglo utama Yut, " sanggahnya enggan.


" Tetap saja, pasti papasan nanti kan dia mau nemenin Uyut disini sekalian healing atau apa itu bahasanya, melupakan kekasihnya sebelum kita umroh nanti. "


" Nanging saiki wis dadi kenangan ... aku karo kowe wis pisahan ... aku kiri, kowe kanan ... wis bedo dalan. "


" Halah, jian malah nembang, podo karo awakmu Nduk ... inget ya Runi, yang santun berbusana. " Bangkitnya dari sana. (sama denganmu yang lagi patah hati)


" Nggih Yut, " ujarnya sambil melanjutkan sarapan.


Beberapa saat sebelum Amir melihatnya, ketika Aruni akan memasuki ruang makan.


Dari kejauhan.


Mereka siapa? cicit yang diceritakan uyut pagi tadi kah?


Aruni lupa belum mengganti pakaiannya setelah belajar melukis tadi, ia hanya melepas celemek panjangnya lalu bergegas masuk ke ruang makan sebab cacing dalam perutnya bergejolak tak terkendali, bagai gelombang massa yang berebut minyak goreng saat operasi pasar gara-gara harganya melambung tinggi.


" Den Roro, bawahannya, itu. " tunjuk Mban segan pada Aruni saat akan memasuki ruangan.


" Oh iya, maaf Mba ... terimakasih. " Ia berbalik arah, berlari kecil menuruni anak tangga menuju kamarnya.


Flashback off.


Karena ditinggalkan oleh Amir dan Abah, kedua pria yang telah sampai di meja makan tadi, urung duduk. Mereka memilih meluruskan kaki di teras samping, berayun di kursi malas sembari memperhatikan gerakan ikan koi yang berenang indah timbul tenggelam di kolam.


" Mal, Nak Alex sini, kita makan dulu, " suara Abah memanggil.


" Amir mana? Warni, panggilkan Den Mas ... sekalian dengan Aruni ... Gamal, Alex jangan sungkan yaa, " ujarnya menyapa mereka.


Beberapa menit kemudian, Amir bersedia bergabung setelah di bujuk Abah. Nampak Aruni telah berada disana, duduk paling ujung menjaga jarak sesuai permintaan Danarhadi.


Siapa dia, kalem sekali.


" Mir, do'a. "


Tanpa banyak kata, Amir mengikuti semua permintaan buyutnya itu. Hingga sesi makan siang usai, ia belum juga membuka suaranya lagi.


" Setelah dzuhur berjamaah, kalian semua ke ruang baca Uyut yaa, termasuk Alex. Uyut ingin tahu, kamu punya mainan apa ... teamnya Mas Panji biasanya ulung. "

__ADS_1


" Baik. " Sahut ke empatnya berbarengan.


Abah mengajak sholat berjamaah di mushola rumah itu. Sekali ini Amir menolak untuk menjadi imam karena ada sang Ayah. Lagipula dirinya takut kembali mengingat Aiswa usai salam nanti.


*


Ruang Baca.


Danarhadi menjelaskan sekilas pada mereka tentang silsilah yang sesungguhnya. Siapa dan darimana Aruni serta hubungannya dengan Ibu Gamal.


" Kalian saudara satu nama, kecuali Gamal hanya sebatas Wilonanya saja, namun karena dia menyayangimu maka kamu cicitku juga. Entah bila Wardhani dan Darusman, hanya kamu yang bisa membujuknya bila ingin beliau hadir di pernikahanmu nanti. "


" Baik Uyut, aku akan mencoba mengunjunginya sore ini, " sahutnya.


" Kalian sudah saling mengenal kan? "


" Engga ... belum.... " Amir menjawab engga, sedangkan Gamal dan Aruni kompak mengaku belum.


" Mas, ini Aruni Fauqiyya ... kalian berdua kenalan sendiri lah, Uyut hanya mewakilkan cicit kalem bin alim bin pemalu bin pendiam bila bersinggungan dengan wanita. " Sindir Danarhadi untuk Amir yang hanya menundukkan kepala sedari tadi.


" Salam kenal Ka Amir, aku Aruni ... Hey Mal, gue Aruni. "


" Hmm, " Amir hanya mengangguk samar tanpa melihatnya.


" Segitunya, ama dia sopan kenapa sama aku begitu? " protes Gamal.


" Kan kata Uyut tadi, Mas Amir eh Ka Amir begitu, aku respect lah ... kalau kamu kan keliatan.... "


" Cih banget Lu, lagak macam artis majalah satwa. " Aruni bangkit, keluar dari ruangan itu sambil menghentakkan kaki tanda dia kesal.


Oh dia yang namanya Amir. Sombong banget sih, mentang-mentang ganteng, apa suaranya hanya untuk mengaji yaa? sabar Runi, jangan jatuh cinta, karena kamu ga paham apakah boleh mempunyai hubungan dengannya meski satu turunan.


(hayo, boleh ga? part yang kemarin bikin pusing tentang silsilah keluarga, mulai kita urai).


" Pffttt.... " Amir menyumpal mulut Gamal kala ia hendak membalas Aruni.


" Kalian ini, sana selesaikan diluar kalau mau ribut. Uyut mau ngobrol sama Nak Alex. "


" Maafin ya Yut, sekrup di mulutnya doll. Izin istirahat Yut. " Amir menarik lengan Gamal agar bangkit.


" Hahaha ... gih sana bobok dulu Mas, mau dikamar Uyut atau sama Abahmu? ... Gamal sih anggap saja tarzan macam Naya, barbar. " Tawa Danarhadi menggema.


" Kamar Uyut aja, " sahut Amir sambil berlalu keluar dari sana.


Menjelang Ashar, Amir membuka matanya. Rasa nyaman berbaring di ranjang uyutnya membuat ia sangat lelap tertidur.


" Sudah bangun Mas? Abah dan Gamal pergi ditemani Alex ke rumah Wardhani, mungkin akan menginap disana beberapa hari sembari membujuknya. " Danarhadi duduk di tepi ranjang memandangi cicit kebanggaannya.


" Iya Yut ... sudah adzan yaa? "


" Sebentar lagi ... Mas, hatimu sudah enakan? "

__ADS_1


" Lumayan, kenapa Yut? "


" Engga, Uyut watir sama kamu Mas, ga ada yang nemenin kamu kan. "


" Ada Mas Panji, Naya dan Mba Qonita. Ka Abyan menghadiahi tamparan yang membuatku sadar. Mencoba ikhlas meski sulit terlebih hatiku mengatakan dia sedang tidak baik saja secara fisik dan mental. " Amir menggeser posisinya, mendekat ke pangkuan uyutnya.


" In sya Allah pelan-pelan lupa ya Mas ... Uyut belum meluk kamu rasanya kangen ga ada obatnya. " Danarhadi membelai serta mencium kepala Amir. (inget eyang 😭)


Saat makan malam, hanya ada Amir dan Aruni. Uyut dipanggil ke keraton ba'da maghrib tadi. Ia canggung ketika akan berbalik arah, Aruni telah melihatnya.


" Mas, eh Ka ... mau balik lagi? aku mengganggu kah? " tanyanya sungkan.


" Bu-kan. " Amir terpaksa duduk diujung meja, berjauhan dengan gadis itu dan menyantap makan malamnya tergesa, merasa tak nyaman.


" Hm, aku duluan. " Bangkitnya kemudian menuju kolam ikan disamping dan sayangnya Aruni mengikutinya.


" Ka, maaf jika kehadiranku mengganggu, aku akan pamit malam ini, tolong sampaikan ke Uyut ya. " Senyumnya manis sembari berbalik badan hendak pergi dari sana.


" Ja-ngan Qiyya ... tunggu uyut dan pamit langsung pada beliau. "


" Qiyya? kakak manggil aku Qiyya? " kepalanya meneleng heran.


" Eh, salah yaa? maaf, siapa namamu tadi? "


" Aruni ka, Aruni Fauqiyya ... Eh, tapi Qiyya juga namaku ya. " Aruni menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Amir hanya tersenyum.


Ya ampun, senyumnya. Fix kamu semakin tampan saat tersenyum Amirzain.


" Maaf, aku kedalam ya. "


" Iya ka, silakan. " Aruni masih mematung ditempatnya, di depan pintu hingga Amir tak bisa lewat.


" A-ku ga bisa le-wat, " ucapnya sembari tersenyum tipis dan telunjuknya mengisyaratkan ke arah pintu.


" Oh, maaf. " Aruni hanya cengengesan dan menggeser posisinya, membiarkan Amir melewatinya.


Wangi banget sih.


Setelah Amir pergi Aruni langsung berlari menuju kamar, menutup kencang pintu hingga tubuhnya melorot bersandar.


Degh. Degh. Degh. Jantungku, baru nyium parfumnya doank sudah begini, aah senyumnya mengalahkan Aksan.


Hai Aksan, gimana kabarmu disana? maaf bila pada akhirnya aku harus melupakanmu.


.


.


...______________________________...

__ADS_1


*jangan sampai karena ga paham nasab, kadung cinta namun ternyata masih satu lajur.


__ADS_2