DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 97. IKHLAS (2)


__ADS_3

Menjelang malam, Aruni sudah mulai berangsur sadar sepenuhnya. Amir dengan telaten menyiapkan segala keperluannya untuk mengganti baju, pembalut dan lainnya.


Abah sibuk menerima panggilan dan menjelaskan secara ringkas kondisi terkini cucu dan menantunya via grup keluarga serta tak lupa memohon doa terbaik dari semuanya.


Sementara orang tua Aruni, masih dalam perjalanan kemungkinan esok pagi baru tiba.


Meski masih dalam kondisi emosi yang labil, Amir perlahan menjelaskan tentang kondisi bayi mereka pada Aruni.


"Mas, lihat adek, aku janji ga akan nangis...."


"Janji yaa, kita doakan yang terbaik untuknya Qiyya," sahutnya menguatkan.


Aruni mengangguk samar tanda setuju meski batinnya belum tentu menerima bahkan tegar saat melihatnya nanti.


Amir beranjak dari kursi samping tempat tidur Aruni untuk mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas meja sofa dihadapan Abah.


"Mir, bismillah kuatkan Runi," lirih abah saat putranya mengambil ponsel yang sempat dia pegang.


"Nggih Bah, meski aku juga rasa tak sanggup," balasnya seraya kembali keranjang Aruni, duduk dihadapannya dalam jarak dekat. Jemarinya membuka layar gawai dan memberikannya pada sang istri.


"Hai Moms, aku tampan bukan?" Amir menunjukkan dua buah foto nampak samping dan hadap depan bayinya.


"Dia ... hai Nak, ini mommy ... kamu kecil sekali, yang kuat disana yaa," lirihnya mengusap foto yang terpampang jelas dimatanya.


"Namanya Mas?" sorot matanya berkaca-kaca.


"Naufal Asmaralaya, lelaki tampan dari surga."


"Cakep banget sih, kamu persis Abi, Nak." Belainya lagi pada foto bayi kecil mungil yang masih memerah.


"Ga bisa dijenguk ya Mas?"


"Belum boleh, transfer cinta sayang dan doa dari sini aja Moms, Naufal pasti tahu ko kalau kita selalu menjaganya meski dari jauh."


"Mommy sayang adek, maafin yaa," Aruni mulai menahan serak agar dukanya tak lagi jatuh.


"Udah janji loh tadi ga mau nangis, Naufal tahu kita sudah berusaha."


"Mas, adek lucu banget." Tangisnya pecah.


"Hmm , janjinya mommy palsu nih."


Amir menarik tubuh istrinya dalam pelukan. Meletakkan foto anak mereka begitu saja dalam pangkuan Aruni.

__ADS_1


"Aku ga bisa ... aku ikhlas tapi biarkan aku puas melihatnya dulu ... aku tahu aku ga boleh begini, aku tahu Allah itu maha adil meski hati ini sakit merasakan sebaliknya," Aruni terus meracau dengan air mata yang telah menganak sungai.


"Iya sayang, iya, aku tahu ... kamu boleh nangis sepuasnya lalu kita sama-sama berdoa untuknya yaa, Naufal sudah membahagiakan kita didunia ... dia hadir dalam kemustahilan dan dia datang padamu untuk menunjukkan betapa tampan wajahnya, lembut seperti mommynya." Keduanya saling memeluk erat mentransfer sisa energi yang ada.


"Adek ... Mas, aku sayang padanya tapi karena aku...."


"Sudah, jangan diteruskan." Amir kian erat memeluk tubuh ringkih miliknya.


Abah yang menyaksikan keduanya ikut trenyuh seakan merasakan sesak yang menghimpit dada keduanya.


Tekad Amir saat menikahi Aruni memang bulat, kala itu dia ingin Aruni bahagia meski mengetahui kondisi yang sebenarnya diderita gadis itu.


Abah sudah mewanti dengan berbagai resiko juga khawatir padanya, tapi nyatanya putra keduanya itu dapat menjalankan peranannya dengan baik meski suatu masa dirinya kembali lemah dihadapkan pada sosok Aiswa.


Dini hari.


Sudah sepuluh menit yang lalu abah membangunkan Amir yang tidur satu ranjang dengan Aruni di brangkar sana.


Aruni masih merasakan sakit akibat luka sayatan sisa operasi kemarin. Hingga tak mengizinkan amir jauh dari jangkauannya.


"Mir, bangun dulu." Tepuk Abah pelan di kakinya.


Mata yang lelah itu terbuka pelan melihat wajah gelisah sang ayah, dia pun beringsut menggeser tubuhnya melepaskan diri dari pelukan Aruni.


"Kenapa Bah?"


Amir berusaha secepat mungkin mengumpulkan jiwanya yang separo masih mengambang, mencuci muka lalu bergegas menuju ruangan dimana putranya berada. Sesampainya disana, dokter Amelia meminta dirinya masuk mengenakan pakaian steril khas ruangan NICU.


Langkahnya pelan mendekati salah satu inkubator, nampak dalam pandangannya sosok mungil persis dalam foto yang dia miliki juga gelang khas yang melingkar di tangan kecilnya. Banyaknya peralatan medis yang menempel di tubuh Naufal mendadak membuatnya sesak.


Adek, Abi datang. Mommy titip salam untukmu Nak.


Naufal putraku, bila adek ingin pergi, pergilah nak Abi ikhlas. Mommy juga, namun bila adek ingin tinggal, kami sangat sukacita menyambutmu.


Abi kembalikan semua pada Naufal yaa, karena Abi tahu Naufal bukan hanya milik kami.


Jagoannya Abi, bismillah.


Amir berusaha terus mengatakan bahasa kalbu lewat sentuhan tangan dari balik pembatas kaca bahwa dia sangat mencintainya, memohon maaf padanya bahwa sebagai orang tua masih sangat jauh dari sempurna dalam menyambut kehadirannya.


Semoga Naufal tidak menyesal sudah hadir ditengah Abi dan Mommy ya sayang.


Beberapa menit setelahnya. Tuuuttt. Tuuutt.

__ADS_1


Dokter melakukan tindakan lanjutan atas kondisi bayi mungil yang belum waktunya hadir ke dunia itu.


Amir menepi, sebisa mungkin dia tegar, ini yang terbaik menurut allah. Hatinya tak henti merapal doa semoga Allah berkenan memberikan mukjizat kedua ditengah keluarga kecil mereka.


Namun nampaknya, harapan yang Amir langitkan belum mampu menembus 'Arsy, mungkin mereka berdua belum pantas diamanahi sesuatu yang berharga, milikNya.


"Pak Amir, maaf ... kami sudah melakukan yang terbaik," Dokter Amelia berucap lirih menundukkan kepala.


Amir hanya mengangguk samar, sibuk menahan agar cairan bening yang merangsek keluar dari celah matanya tak jebol dengan mudah.


"Aku boleh menciumnya?"


"Silakan Pak, setelah peralatan medis dilepaskan. Silakan tunggu diluar dahulu ya."


Amir mengikuti arahan dokter, ia menyandarkan tubuhnya yang gontai pada salah satu dinding dekat pintu masuk, menguatkan jari untuk mengetik pesan pada Abahnya dengan susah payah.


"Naufal Bah, dia berpulang." Tulisnya tertatih.


Tak ada balasan, namun ponselnya berdering.


"Ikhlas ya Mir, tabunganmu, Abah sudah minta orang rumah bersiap... Naufal bawa kesini dulu, biarkan Runi melihatnya dan menggendongnya sekejap."


"Nggih." Suara nya kian parau menahan duka.


Tak berapa lama, Naufal telah diserahkan padanya. Amir membawanya dalam dekapan, menuju kamar istrinya berada.


Saat dia tiba, nampaknya Aruni sudah punya firasat, dia terbangun mengulurkan tangan menyambut Naufal.


Diluar dugaan Amir, istrinya terlihat bahagia saat Naufal diberikan olehnya untuk didekap dalam gendongannya. Diciuminya wajah sangat kecil dengan hati-hati nan penuh cinta.


"Mommy ikhlas, adek yang tenang disana, mommy sayang Naufal."


Aruni menciumi seluruh bagian tubuh putranya sampai puas, membelai wajah, menyusuri lekuknya, memainkan jemari kecil nan kurus, serta rambut hitam legam bagai miliknya sebelum diserahkan kembali pada Abah dan suaminya.


"Sampai jumpa lagi, sayang," bisiknya di telinga imut naufal saat menyerahkan perlahan pada Abah dengan wajah tersenyum.


"Mas, Naufal wangi banget."


"Sayang," mereka berpelukan lama dalam diam, tak ada lagi isak tangis yang bergema.


.


.

__ADS_1


...___________________________...


...😭😭😭...


__ADS_2