DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 133. IZIN TERAKHIR


__ADS_3

"Come in, Ad ... thanks, kawal beliau sampai halal dan kembali ke tanah air," Mahendra menerima panggilan Adnan dikantor Exona sore itu, dia salah satu ranger terbaik shadow selain Rey dan Alex.


"Mabruk Kak, semoga segera halal."


Mahendra ikut merasa lega tabir mulai terbuka satu persatu, bahkan Abah sudah mengatakan bahwa beliau telah bersiap apabila Amir menginginkan menikah di London, seperti niatannya. Hanya menunggu jawaban Aiswa saja.


...***...


Tazkiya, Jakarta.


Sore hari ini Hasbi sowan mengunjungi mantan mertuanya. Setelah bercerai dengan Aiswa dirinya sudah tak lagi mengajar di Universitas Tazkiya.


Inginnya Hariri salim menolak kunjungannya namun Umma justru berniat menggantikannya menemui mantan anak menantunya itu.


"Hasbi? monggo masuk Nak," sapa Umma kala melihat pria yang tak kalah tampan dari Amir namun secara adab jauh melenceng, berada dalam ruang tamunya.


"Umma, apa kabar?"


"Alhamdulillah, maaf Umma belum nengokin kalian kesana, semoga keduanya sehat, aamiin."


"Aamiin ... syukron Umma ... Buya ada? aku ingin bicara dengan beliau," izinnya.


"Tadi siang Buya pulang kajian agak demam, jadi sekarang sedang istirahat ... bicara dengan Umma sama saja kan," bujuknya masih lembut.


Sejenak Hasbi terdiam, berpikir apakah mengutarakan maksudnya pada Umma atau ditunda. Namun dimenit berikutnya, dia memutuskan bicara pada mantan ibu mertuanya itu agar rencana gugatannya dapat segera diproses.


"Begini Umma, maaf sebelumnya ... aku seperti melihat Aiswa kemarin, cuplikan wawancara di salah satu program televisi ... mungkinkah itu dia? mengingat Aiswa dirawat di rumah sakit Hermana, anak tunggal beliau yang membantu Aiswa kabur dulu, siapa tahu kali ini mereka bersekongkol menipu kita" tuturnya lancar.


"Kata siapa? tahu darimana?"


"Orang ku Umma ... kan aku menyewa agent dulu saat mencari Aiswa yang kabur...."


"Menipu bagaimana Hasbi? bukankah kamu sudah menjatuhkan talaq atas putriku sebelum dia dinyatakan meninggal? lalu apabila benar Aiswa masih hidup, apa maksud dari semua perkataanmu?"


"Aku hanya ingin kebenaran, menyembunyikan identitas seseorang dan memalsukan kematiannya bisa diancam pidana Umma."


"Iya, lalu hubungannya denganmu apa? jikalau pun benar, kamu sudah tidak punya hak atas Aiswa ... atau kau ingin menjadikan Aiswa sebagai alasan untuk menekan pemilik rumah sakit itu? kepentingan bisnis atau lainnya? begitukah yang kau maksud dengan menipu?" sergah Umma gerah tak bisa menahan sabar, kata-katanya penuh penegasan dan kecurigaan yang telak menohok Hasbi.


Si-all, wanita ini selalu cerdas membaca pola ku.


"Tentu saja, Hermana Hospitals bukan perusahaan biasa, mereka rajanya fasilitas medis Umma ... melanggar kode etik sebab memanipulasi anggota keluarga pasien, seakan memanfaatkan kondisi pasien untuk melakukan sesuatu," kilahnya mengajukan argumen.

__ADS_1


"Memanfaatkan untuk sesuatu? apa lagi ini, sudah sudah, kamu jangan mengada-ada ... biarkan Aiswa tenang, jangan lagi kau seret anakku dalam urusan duniamu yang tak berkesudahan, Hasbi," cegah Umma agar pendapatnya tak melebar hingga menimbulkan fitnah.


"Tapi Umma, kebenaran harus ditegakkan disini ... Umma tinggal bilang mengizinkan aku untuk mengusutnya, maka aku akan bertindak," ucapnya lagi tak putus asa.


"Betul, kebenaran harus ditegakkan tapi bukan olehmu Hasbi, oleh mantan suaminya, ga logis dan ga pantas, publik akan menanyakan motifmu juga ... atau kau ingin membongkar aibmu sendiri ... ingat ada Serli, keberadaanya akan terungkap bahwa kau menikahi anakku untuk menjadi istri keduamu ... seharusnya aku yang menggugatmu dengan tuduhan penipuan." Ancam umma geram, nada bicaranya tegas dan tajam.


Hasbi terhenyak, tak menyangka mertua wanitanya dapat mengintimidasi dirinya.


"Umma bukan begitu...." Hasbi memelas sebagi jurus pamungkas.


"Sudah, pulanglah ... jangan urusi masalah ini lagi, karena ujungnya sudah ketahuan ... Aib putra Kyai Maksum pemilik ponpes di Tegal terlibat skandal kebohongan publik tentang status pernikahannya dengan putri pemilik Tazkiya ... itu judul tagline berita esok pagi, Abuyamu akan malu, Nak Hasbi."


"Saran Umma, jagalah baik-baik rumah tanggamu dengan Serli, kau mencintainya bukan? biarkan Aiswa ku tenang disana... jangan kau seret lagi putriku," Umma lirih berkata untuk kalimat terakhir yang dia ucapkan. Teringat Aiswanya yang malang.


Perjuangan Hasbi mendapatkan motif gugatan sia-sia, inginnya dia mencoba lagi saat Hariri salim bersedia menemuinya nanti.


Dalam perjalanan menuju mobilnya berada, dia menghubungi seseorang.


"Masukkan gugatannya by lawyer, kita pemanasan dulu dengan Hermana Arya." Perintahnya diujung telelon untuk seseorang yang ada di seberang sana.


...***...


London.


"Apakah aku boleh menemui Papa angkatmu Aish?"


"Entah, aku ga berani," masih dengan sisa suara sengau akibat menangis sekaligus flu.


"Biarkan aku yang mencoba, bicara padanya ... meskipun beliau tak mengizinkan, Abuya lebih berhak atasmu karena beliau wali sah mu yang masih hidup ... aku menemui Hermana Arya, sekedar untuk berterimakasih telah merawat dan menjagamu untukku," selorohnya.


"Kepedean," balasnya tersenyum samar.


"Diterima ya."


"Entahlah Bii, hatiku saat ini tak seyakin dulu padamu," Aiswa ingin melihat reaksi Amir apakah Qolbinya sungguh-sungguh.


"Katakan saja, aku harus bagaimana? agar usahaku diterima oleh putri pemilik Tazkiya yang mashur," tantangnya percaya diri.


"Yakinkan Kak Dewiq, Bii...."


"Dimana beliau? bawa aku padanya."

__ADS_1


"Rumah Hermana Arya satu blok dari sini."


Amir mengangguk, namun tak jua beranjak dari sana. Justru ia mengeluarkan ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum, Abah ... tolong bersiap yaa seperti yang aku minta ... Nggih, sudah ketemu dan mau, sisa izin saja."


"Eh, Bii, mau? mau apa?"


Amir tak mengindahkan pertanyaan Aiswa, dia bangkit dari kursinya, memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas dalam diikuti kedua tangannya masuk kedalam saku luar mantel karena cuaca yang semakin dingin.


"Kamu kan tadi bilang mau jadi istriku, lamaranku diterima."


"Kapan aku bilang?"


"Tadi, bilang ga akan pergi lagi dariku juga memintaku meyakinkan Dewiq, itu kan artinya kamu setuju sayang ... sudah ah, dingin, kemana arahnya?"


"Bu-bukan gitu maksudnya," cicit Aiswa pelan.


"Rohi, aku tanya sekali lagi karena ini adalah pamungkas ... setelah ini aku tak akan pernah mengusikmu lagi."


" ... maukah kamu menerima segala kekuranganku dan mengizinkanku berdiri di sisimu?"


"Bii, aku...." Aiswa tak melanjutkan kalimatnya. Dia menatap pria yang telah berdiri tak jauh dari hadapannya.


Memberikan senyuman manis hanya untuk dirinya serta anggukan pelan disertai isyarat mata yang memejam mengalirkan kembali bulir bening ... mungkin inilah yang biasa dijuluki sebagai air mata bahagia.


Amir tersenyum melihat isyarat Aiswa. Inginnya berteriak namun ia tahan, gengsi, meski hatinya seakan ingin meledakkan kembang api cinta ke udara.


"Aku tak semapan Hasbi dan Mas Panji, Rohi, maaf jika nanti tak seglamour mereka saat denganku...."


"Non-sense, ga pantes merendah Bii, jam pemberian darimu bisa untuk membeli satu unit mobil ... ckck pemborosan kata," Aiswa berlalu bangkit dari sana, masuk kedalam mobilnya disertai kekehan Amir yang juga menekan remote mobilnya lalu mengikuti Aiswa konvoi dari belakang menuju kediaman Hermana.


Untukmu yang ku cinta, ku hadiahkan ini padamu. Ila ruhi wal jasadi, al-fatihah... Al Kautsar, allahumma sholli ala sayyidina Muhammad...


Allah Ya Rahiiim, tunjukkan segala kebaikan untuk rumah tangga kami, aamiin.


.


.


...______________________...

__ADS_1


Mata masih merah, nulisnya jadi lama. Thanks yaa kesayangan sudah setia menunggu UP, luv kalian ❤


__ADS_2