DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 235. JALAN PINTAS


__ADS_3

Belum sehari kabar kehamilan penerus kedua klan terpandang, halaman parkir rumah sakit sudah berderet karangan bunga dari berbagai macam kolega kedua keluarga mereka.


"Berlebihan gak sih, Bear? liat tuh, aku belum pindah ke kamar perawatan saja, bunga, boneka, kado udah numpuk di sana. Kita gimana balasnya coba itu?" keluh Dewiq, pusing melihat banyaknya tumpukan barang di sudut kamar VVIP yang di huninya.


"Itu namanya rezeki, kan kita gak minta mereka buat kirim ini itu. Diterima saja lalu do'akan agar rezeki mereka juga terganti dan mengalir deras ... kan niatan mereka sodaqoh, memberi selamat, doa dan ikut sukacita atas kabar bahagia ini ... jikalau pun ada niatan lain, itu bukan urusan kita, Sha," tuturnya panjang.


"Iya sih tapi sumpek jadinya. Apa dibagikan saja ya? ke yang butuh?" tanya Dewiq meminta saran.


"Kalau kamu sudah enakan, sudah pulang. Kita buka satu persatu ... mana yang kita butuhkan mana yang tidak. Sekaligus melihat siapa pemberinya, jika kita ada jodoh dapat kabar yang sama dari mereka kan kita bisa gantian ngasih ... ini juga agar mereka tidak tersinggung, kita menghargai pemberiannya," Ahmad memberikan penawaran pilihan.


"Ok."


Ahmad memutuskan agar Dewiq sementara beristirahat di rumah sakit hingga kondisi tubuhnya lebih sehat.


Belum juga sehari, pasangan calon orang tua ini sibuk sahut menyahut, gantian mual muntah.


Sejak siang tadi, rasa mual hebat yang dialami Dewiq sudah mereda, menjelang sore hari ini giliran Ahmad yang muntah hingga ia lemas.


Umma yang menemani keduanya sampai menggelengkan kepala heran. Melihat keduanya tak nafsu makan. Namun bila salah satunya sedang makan, pasti di recokin entah Ahmad mengganggu Dewiq atau sebaliknya.


"Umma baru liat, ada ya yang begini? ini karena kalian berantem mulu sih, jadi adek bayi juga ikutan riweuh," seloroh umma hampir lelah meladeni keduanya.


Jika Ahmad menempel pada Umma, Dewiq tiba-tiba menangis. Jika Umma mendekat pada Dewiq, Ahmad uring-uringan bahkan gak bisa keluar toilet karena mual hebat.


"Baru satu hari loh ini," ujar Buya menahan tawa.


"Mentang-mentang perdana Hermana, banyak tingkah. Sing sholeh ya Nak. Kasihan ayah ibumu, yang wajar jangan menyusahkan. Sehat jiwa raga ... aamiin," Umma melantunkan doa, mengelus perut menantunya itu perlahan hingga Dewiq tertidur.


"Memang pada dasarnya manja ini, dua-duanya. Nular ke cucumu, Maryam," sahut Buya menimpali.


Mansion.


Mama Rosalie merengek meminta pada suaminya agar ia juga diperbolehkan menjaga Dewiq di rumah sakit.


Hermana Arya melarang Rosalie karena ia baru saja pulih pasca kecelakaan pesawat saat Dewiq hendak menikah enam bulan lalu. Rosalie mempunyai riwayat sakit sebelumnya sehingga Rayyan memberikan warning tegas kali ini hingga beberapa bulan kedepan tidak lepas dari kursi roda agar syaraf di sekitar tulang belakangnya tidak kembali cedera. Terlebih, lutut Rosalie juga memar parah saat kejadian lalu.


"Nanti kalau Dewiq sudah diperbolehkan pulang. Papa akan suruh menginap di sini. Keluarga Tazkiya itu telaten ko Sayang. Terlebih Nyai Maryam itu, luar biasa menjaga anak kita," ujar sang suami.


Rosalie hanya diam. Ia enggan bicara sebagai aksi mogok protes pada keputusan suaminya.


"Ya sudah, besok besuk saja tapi ga stay, langsung pulang jika jam besuknya habis," ujar pria separuh abad itu.


"Beneran boleh?"

__ADS_1


"Iya, daripada aku di suguhkan wajah bagai Segitiga Bermuda, dingin, misteri dan menyeramkan," keluh Hermana Arya sambil lalu meninggalkan istrinya di depan ruang televisi bersama Ulfa.


"Gitu amat, lengkap ngatain istri ya, Mas," seru Rosalie.


Hermana Arya berhenti melangkah, dia menoleh pada wanita yang masih duduk di kursi roda.


"Bilang apa tadi?" pintanya agar sang istri mengulangi.


"Yang mana?"


"Tadi, yang tadi... ujung kalimat, kau bilang apa?" desak Hermana Arya lagi.


"Mas?"


"Lagi, coba katakan lagi," pintanya seraya mendekat dan kini bersimpuh didepan kurus roda istrinya. Memandang penuh harap serta cinta.


"Mas, Mas Arya...." lirih Rosalie.


"Aku harus menunggu selama 23 tahun, dan akehilangan Aeyza, demi mendengar panggilan itu yang berasal dari mulutmu," gumamnya haru.


"Maaf, maaf, aku tak memperlakukanmu sebagai mana mestinya," sesal Rosalie.


"Terimakasih Sayang, mulai sekarang panggil aku begitu ya," pintanya dengan sorot nata berbinar.


Rumah sakit.


Meninggalkan Ahmad dan Dewiq dengan ngidam yang aneh, Umma menelpon anak keduanya. Wanita alim ini duduk di depan kamar VVIP dimana Dewiq di rawat intens.


"Halo assalamu'alaikum, Aish. Sedang apa Nak?"


"Wa'alaikumussalaam.. itu, habis makan Umma," suara diujung sana.


"Udah mulai mules?"


"Udah, tapi hilang timbul. HPL semingu lagi sih Umma, tadi ke dokter katanya kontraksi palsu. Aku harus rajin gerak tapi akhir-akhir ini aku ingin minum sesuatu yang dingin dan Qolbi melarangnya. Emang gak boleh ya Umma?" tanya Aiswa.


"Boleh, tapi gak manis. Dan jangan terlalu sering, hati-hati Aish. Amir di mana?" sambung Umma.


"Ini, nempel sama aku."


"Mir, sudah siapkan perlengkapan kelahiran belum di travel bag? buat ibu dan bayi?" tanya umma pada menantunya.


"Nggih, sampun Umma," balas Amir.

__ADS_1


"Ya sudah. Umma nemenin kakakmu, ngidamnya aneh maa sya Allah dan dua-duanya. Jaga diri ya, kabari Umma kalau kamu merasakan sesuatu nanti. Mir, titip Aiswa ya," pinta umma menutup panggilan.


...***...


Solo.


Setelah mendapatkan wejangan panjang lebar dari Umma. Aiswa merasakan mules yang lebih intens.


"Bii, kata dokter tadi pagi kan ini baru bukaan satu ya. Terus aku baca dan tanya sama kakak, dan ibu-ibu yang sudah pengalaman di kelas senam hamil kemarin itu katanya buat mancing bukaan kalau belum sakit banget kudu itu ya...."


"Apa, itu apa?" Amir sudah melepaskan segala pekerjaannya, ia izin pada Naya agar fokus pada kelahiran anak mereka dahulu.


Bahkan Danarhadi sudah menyewa patwal yang standby di pendopo kediamannya agar saat Aiswa kontraksi, kondisi jalanan lancar menuju rumah sakit.


"Itu Bii," bisik Aiswa.


"Iya gitu? ko aku baru denger, memang kamu gak kenapa-kenapa Sayang?" tanya Amir tersenyum pada istrinya.


"Ya gak sih Bii, coba yuk," ajak Aiswa semangat.


Amir tertawa lepas, istrinya memang istimewa.


"Beneran? bukan karena dorongan keinginan kan?" Amir memastikan, ia tak ingin terjadi apapun terhadap keduanya.


"Ya dua-duanya, kan dicoba, lagian ... itu Bii, kan mau puasa," cicitnya malu.


"Maaaadd, fix Lu kalah ama adek Lu." Amir bangkit, lalu memapah istrinya masuk ke kamar.


"Oyy mau kemana itu? aku baru mau nyamperin Kakak, minta pendapat design mana yang akan naik," ujar Naya dari arah ruang tamu. Menggendong Maira.


Abah meminta keluarga kumpul saat Aiswa lahiran nanti. Naya kemarin datang dengan suaminya, hari ini rencananya menunggu Abyan dan Qonita yang akan ke Solo, bergabung dengan keluarga mereka.


"Bentar Nduk, mau cari jalan lahir dulu," jawab Amir, diiringi tawa Naya yang menggema.


"Dua kali ya, biar langsung trabas," serunya.


"Kebiasaan ... susulin yuk," ajak Mahen mulai usil.


.


.


...________________________...

__ADS_1


__ADS_2