
"Maaf, maaf sayang yaa."
Rayyan masih menenangkan Dwi dalam pelukan. Meski petugas catatan sipil sudah menunggunya untuk sign berkas.
Quennaya melanjutkan ke acara berikutnya, para undangan kembali diarahkan untuk menempati table sesuai dengan nama yang telah tertera, juga jamuan pembuka mulai dihidangkan sementara Dwiana belum tenang.
Raharja dan Lilyana yang berada di kursi roda menghampiri kedua pasangan pengantin. Rayyan kemudian menarik Dwi agar duduk di private table khusus keluarga. Menghapus air mata yang masih saja menetes di wajah ayunya.
Dwi beringsut menempel pada suaminya, mencekal lengan jas yang dikenakan Rayyan saat Raharja mendekat.
"Easy, ada aku. Papa gak akan berani padamu lagi," bisik Rayyan, menggenggam tangan istrinya erat.
"Selamat ya Dwi. Maaf, Papa hanya dapat mengantarmu hingga di sini, tak bisa memberi wejangan dan contoh yang baik padamu untuk menata masa depan," ucap beliau dengan nada sendu.
"Maafkan Mama juga ya Dwi, jauh dari kata pantas sebagai panutan dan Ibu," sambung Lilyana.
"Honey, say something," pinta Rayyan menoleh ke sisi kanannya. Ia membuka lengan kanan, merangkul Dwiana agar lebih tenang.
"Hmm, lupakan saja. Aku sedang mencoba memaafkan diriku dan Papa Mama. Beri aku waktu," jawab Dwiana.
"Beri istriku kesempatan menata hatinya lagi, aku akan membantunya namun tak akan memaksa Rose untuk berkunjung bila dia enggan ... kewajibanku berbakti pada kalian, namun menghargai istriku di saat yang sama. Bakti Rose pada Mama dan Papa, in sya Allah akan aku bantu tunaikan," imbuh Rayyan menegaskan kedudukannya serta tanggungjawab terhadap istri juga mertua.
"Baik. Datanglah kapan saja kamu mau ya, Rose," Lilyana berujar.
Dwiana hanya mengangguk pelan menanggapi kedua orang tuanya. Hingga saat sesi sungkeman pun, ia masih merasa hambar.
Berbeda saat Umma dan Mama Rosalie bahkan mertuanya memeluk. Gadis itu trenyuh bahkan menitikkan air matanya lagi terlebih saat Umma mendoakan untaian kalimat panjang penuh harapan baik baginya, Dwiana terisak.
Tiga jam berlalu begitu cepat. Kini Rayyan dan Dwi sudah bergabung dengan keluarga Kusuma.
Riuhnya keluarga ini saat Amir dan Mahen berebut dengan uyut mereka karena mencekal kedua cicit menantunya.
"Nanti donk Mas, uyut masih kangen. Terlebih sama Aish, liat perut buncit nya ko lucu," sesepuh Kusuma tak henti tertawa.
"Jangan pegang-pegang Yut, dia milikku," Amir cemburu, tak suka bila ada yang menyentuh Aiswa selain dirinya.
"Honey, aku lapar," rengek Mahen berusaha agar Naya lepas dari sang buyut.
"Kek, udah, lepasin. Kasian mereka itu, satu lapar, satu senewen. Lagian habis ini kan Aish itu ke Solo, lahiran di sana sesuai maunya Kakek," ucap Abah membujuk Danarhadi.
"Iya iya, gih sana. Aish, jangan lupa ya janji battle cacing lagi," seru Danarhadi saat Aiswa di gelandang Amir menyingkir ke meja sebelah.
"Iya, Ok," balas Aiswa.
Rayyan hanya bisa ikut tertawa lepas atas obrolan keluarga Kusuma saat Dwi meminta agar ia bergabung dengan ketiga sahabatnya itu.
"Gue udah curiga ya ama kalian. Terlebih ka Naya tuh," protes Dwi saat baru duduk.
"Tapi kamu diem aja tuh," balas Naya.
"Ya gimana, ku kira emang betulan begitu."
"Bilang aja pasrah, susah amat Neng," Dewiq menimpali.
__ADS_1
"Ho'oh, nanti malam juga kayaknya gitu, gaya pasrah. Apa tuh Kak, namanya?" tanya Aiswa pada Naya.
"Gedebog pisang," sahut Naya, dihadiahi jitakan pada dahinya oleh Mahen.
"Duh, sakit Abang," keluh Naya mengelus dahinya.
"Di saring, kebiasaan kalau udah ngumpul suka begitu," protes Mahen atas sikap pecicilan Naya yang muncul jika sudah kumpul keluarga.
Ketiga gadis ini tertawa.
"Emang kamu enggak, Aey?" tanya Dewiq pada Aiswa.
"Bii, waktu aku pasrah gak?" giliran Aiswa iseng menanyakan pada Amir.
"Gak tahu, lupa, kan lagi enak," jawabnya asal, Aiswa memberinya cubitan di lengan.
"Sakit, Rohi," elak Amir saat Aiswa akan mencubitnya lagi
Geeerrrr.
Bahkan Mahen pun ikut tertawa lepas mendengar celotehan Amir.
"Kayak kamu enggak aja Wiq," balas Amir.
"Yeee, enggak lah," kilah Dewiq.
"Gak salah ya Sayang," Ahmad menimpali dari arah belakang dirinya.
"Bear, ih," Dewiq menepuk lengan Ahmad saat ia duduk disampingnya.
"Ya ampun, obrolan apa ini?" Mahen bersuara.
Suasana haru berubah keriuhan akrab hingga waktu jamuan habis. Semua tamu pun berangsur-angsur kembali pulang.
Aiswa sekalian pamit karena akan ke Solo persiapan kelahiran bayinya juga akan mengikuti pagelaran event nasional tahun ini di sana, Solo fashion designer of the year.
Tersisa Andre, Renata dan Mama.
Andre menyampaikan pada Rayyan bahwa tadi dirinya telah berbicara dengan Raharja mengenai status Raiden. Ia pun menegaskan akan membebaskan Renata memilih apakah bersedia menjadi pengganti sementara bagi Raiden memegang perusahaan mertuanya hingga sang cucu berusia diatas 21 tahun nanti.
Juga mengenai hak asuh Raiden tetap pada Renata, ibunya, meski Andre akan menjadi ayah sambung bagi cucu mereka.
"Sudah Ok, alhamdulillah clear," ujar Andre saat keduanya meninggalkan ballroom.
"Aku antar Mama balik ya, kamu ke atas kan? cuti berapa hari?" tanyanya lagi.
"Selasa, masuk. Cukup lah buat ngurusin pindahan Dwi ke rumah dulu. Honeymoon nanti awal tahun depan saat cuti tahunan aku dah turun. Kan aku baru aja pindah ke indo belum lama," terang Rayyan.
"Sama donk, aku cuti paling bisa dua hari. Ini mau ngobrol sama Naya dulu deh gimana enaknya. Gue suka konsep dia, total turun langsung ke event acara," pungkasnya.
Keduanya berpisah di parkiran hotel. Rayyan melepas Mama dan karibnya itu. Mobil Dwi telah di parkir ulang oleh Mega sebelum mereka pamit, ia menerima kunci dari office boy saat akan menaiki lift menuju kamarnya.
Biip.
__ADS_1
Rayyan membuka pintu kamar hotel.
"Honey," panggilnya pelan mencari Dwiana.
"Aku di bathroom," jawabnya.
Rayyan melepas jas juga vest nya di sofa, sambil lalu menuju ke sana.
"Sini, aku bukain," ia melihat Dwiana kesulitan melepas pengait kecil di ujung gaun.
Dwiana mengangkat rambutnya ke atas agar Rayyan lebih mudah juga agar tak tersangkut pengait saat menariknya kebawah langsung
"Emmphhhh," Dwi menutup mulutnya, ia terkejut saat benda kenyal menyentuh tengkuknya yang terbuka.
Memberikan kecupan basah disana. Ia meremang, terlebih tangan halus itu mulai menyusuri punggung menuju perutnya yang rata. Perlahan kebaya yang ia kenakan tersingkap.
"A, mandi dulu," bisiknya dengan nafas menderu.
"Sebentar, kamu wangi," bisik Rayyan pelan, masih menyusuri dengan ciuman-ciuman kecil di setiap lekuk tubuh putih mulus miliknya yang ia dekap.
"Ngghhh, A, udah," Dwiana menahan nafas saat asetnya disentuh telapak tangan suaminya.
"Milikku," gumamnya, menghembus nafas hangat menyapu ceruk leher Dwiana.
Benar yang dikatakan Aiswa, ternyata dia pasrah atas perlakuan suaminya itu.
Entah kapan kebaya yang Dwi kenakan luruh jatuh menyentuh lantai, ia lupa. Kini tubuh bagian atasnya terekspos jelas.
"Seksi," Rayyan memutar tubuh sang istri menghadapnya.
Jemari lelaki itu menyusuri bibir sensual Dwiana lalu perlahan mendekat. Hanya dapat mengikuti alur, gadis yang masih mengenakan bra putih berenda itu memejamkan mata, bersiap menyambut perlakuan manis pria pujaan.
C-up.
Basah, mint, lembut. Menguar menelisik kedalam rongga mulut Dwiana perlahan. Rayyan memperlakukannya istimewa, dengan penuh kelembutan, tidak tergesa-gesa.
Mencecapi setiap inci benda kenyal milik istrinya, seakan tak puas ia pun mengangkat tubuh Dwiana agar duduk diatas wastafel. Melanjutkan aksinya intens. Melesakkan bibirnya kembali bertukar saliva.
"A, mandi dulu," Dwi terengah, memaksa melepas pagu-tan.
Ar-rasyid, memandang istrinya penuh cinta.
"Thankyou Honey ... kita mandi," ujarnya mengangkat Dwi menuju bathtub.
.
.
..._______________________...
^^^Mo kasih visual Abah, kali ada yang ngefans^^^
__ADS_1