DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
184. KEGELISAHAN DUA GADIS


__ADS_3

"Bear."


"Ya?"


"Kamu selalu bikin aku lega, dengan cara yang berbeda, thanks ya Honey. Aku sedang berusaha menebus semua waktu yang telah terbuang percuma. Aeyza menyadarkan aku berapa bakti ku sangat kurang pada Papa, terlebih Mama. Sedangkan aku tak punya cukup waktu karena mungkin sebentar lagi tanggung jawab Papa terhadapku usai sudah ... aku ... aku, Bear aku, 😭," Dewiq menulis seraya menahan isak tangis, ia duduk di kursi taman ditemani oleh Ulfa.


"Marsha, aku gak akan menghalangi kamu untuk terus berbakti pada kedua orang tuamu sayang ... aku akan menemani meraih semua mimpimu, karena mimpi yang dilangitkan tak akan pernah turun ke bumi. Dia akan terus membersamai orang-orang yang berusaha tanpa kenal lelah."


"Hidup itu bukan melulu tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tetapi menghargai apa yang kamu miliki, dan sabar menanti yang akan menghampiri ... tidak masalah seberapa sering engkau jatuh, yang terpenting adalah seberapa cepat kamu bangkit ... sudah ya, jangan memaksakan diri lagi. Please pandang aku Sha, jika enggan melakukan untuk dirimu, setidaknya kamu pikirkan aku atau Mama, Ok?"


"Mas, terimakasih banyak sudah sangat care dengan Kakak,🥺." Mama menulis dengan rasa haru, sungguh ia beruntung Dewiq mendapatkan figur seperti Ahmad yang mengayomi dan bisa meredam ambisi putrinya, meski kadang gesrek.


"Kewajibanku Ma, untuk Marsha ku...."


"Aku pulang Bear, aku pulang. Gak masuk kelas lagi...."


"Istirahat dulu hingga fit ya Sha, baru lanjut lagi. Mimpimu akan tetap menunggumu kok, ya 'Azizie...."


"🥺 Iya Bear."


"Apa artinya itu Mas?" Mama bertanya pada Ahmad.


"Rahasia, nanti Mama ngamuk. Udah dulu ya Ma, aku mau lanjut kerja lagi."


"Fii amanillah, Sha, kabari jika sudah dirumah ya."


"Hari ini Mama bonusin kalian dah, mau ngomong sayang, honey, Mama diemin."


"Makasih banyak sudah menjadi Mama yang jinak hari ini 🤭, Assalamu'alaikum." Ahmad mengakhiri chat.


Ahmad meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia merebahkan kepalanya pada sandaran kursi di ruangan kantor travel. Netranya memejam, ingin rasanya terbang ke London, memberikan support bagi calon istrinya.


Dia tahu, menjadi suami Dewiq tentu tidak bisa egois memiliki seutuhnya gadis itu meski status dirinya adalah orang yang lebih berhak atas sang istri.


Dewiq telah disiapkan oleh Hermana Arya sebagai penerusnya. Inilah yang membuatnya kerap mawas diri.


"Kamu dan aku sama-sama sulung ya Sha, banyak tanggung jawab yang kita pikul di bahu masing-masing. Semoga Buya tidak akan pernah mengajukan pilihan padaku untuk memilih kamu atau pondok karena keduanya tidak dapat aku pilih," Ahmad bermonolog.


"In sya Allah, aku akan terus mencari cara agar semuanya berjalan sinkron, mimpi dan keluargamu serta aku dan keluargaku ditengah keinginan membangun keluarga kecil kita sendiri ... mungkin inilah jalanku, kuatlah bersamaku ya Sha." Ahmad menutup beberapa file yang masih terbuka. Ia ingin memandang wajah kekasihnya yang dijadikan wallpaper laptop.

__ADS_1


"Dibalik wajah manis ini ternyata Dewiq arzu menyimpan banyak kisah. Aku membutuhkan seseorang yang mempunyai visi misi modern mengingat Buya menyandarkan banyak harapan padaku dan Allah menuntun ku padamu, my little Marsha, love you sayang."


Dua puluh menit berlalu.


Ting. Notifikasi pesan masuk.


Mama kembali mengirimkan pesan pada Ahmad. Mengatakan bahwa Dewiq sudah tiba dirumah dan langsung menuju kamarnya.


"Dia nurut sama kamu, Mas. Tuh, gak banyak debat langsung tidur setelah minum jahe hangat tadi dan Mama balur badannya agar hangat," ujar Mama memberikan sebuah foto calon istrinya yang berselimut diatas dipan.


"Alhamdulillah, aku lega. Jujur sempat khawatir sih dia marah tadi Ma," balas Ahmad.


"Enggak ... makasih ya Mas."


"Sama-sama Ma, aku ashar dulu ya, di sini sudah jam empat... oh iya Ma, akhir bulan ini jadi kan pulang? aku ingin mengajukan sesuatu pada Papa," tanyanya lagi.


"Kayaknya jadi, kalau Kakak sehat. Gih, langsung ke Papa yaa."


"Ma, mau tanya tentang masa ha-id Dewiq berapa lama?"


"Enam sampai delapan hari, kalau dia ga stress ... ini nanya begini wajib ya Mas?" tanya Rosalie heran karena Amir juga pernah menanyakan hal serupa padanya dan umma.


"Ok Mas, Mama jawab lengkap nanti."


Ahmad kembali mengakhiri percakapannya dengan sang calon mertua. Dia lalu bergegas menunaikan sholat Ashar dan berniat menemui Hermana Arya.


Bear, kenapa aku semakin rindu kamu. Padahal baru sekilas pandang tapi hatiku yakin padamu, My Bear Ahmad Hariri.


...***...


Sesuai permintaan Dokter Rayyan, Aiswa mencoba menghubungi Dwiana. Kedua tamunya masih menginap di kediaman sang suami, sengaja ditahan oleh Amir agar Rayyan kembali dengan sebuah jawaban.


Diskusi keduanya mengenai pertimbangan tempat tinggal pun telah disepakati semalam. Jakarta menjadi tempat pilihan terbaik untuk saat ini meski Mama akhirnya mengalah kembali dan kali ini harus mengikuti Rayyan meninggalkan Bandung.


Tuut. Tuut.


Dering ponselnya menggantung diudara, belum terjawab hingga detik akhir.


"Hallo, Aish maaf." Suara seorang gadis dengan nafas teesenggal.

__ADS_1


"Kenapa Dwi? kamu marathon?"


"Enggak, ponselku ketinggalan di toilet, untung masih ada. Ini aku lari buru-buru tadi," ujarnya masih menata nafas.


"Minum, bawa gak? infuse water Dwi, kamu yang ngajarin aku cara buatnya."


"Iya, aku bawa, pear jahe dan lime. Aku ingin waras agar dapat segera bebas," ujarnya.


"Menikah Dwi, agar bebanmu terbagi. Menikah juga membentuk dunia baru meski problem juga akan muncul seiring waktu namun kita tidak sendiri," pancing Aiswa.


"Ck, mana ada yang mau denganku Aish? lihat siapa aku? pecandu, terbuang, gak ada pantas-pantasnya jadi cewek," sambutnya lagi seraya duduk di kursi lorong kampus.


"Siapa bilang? Dokter Rayyan kamu mau kemanakan?"


"Aiswa, dia sangat bersih untukku, menjulang tinggi bukan bagai duniaku. Circle dokter Rayyan itu sempurna, bukan untuk gadis macam aku."


"Memang duniamu apa Dwi? urakan? kan dulu, sekarang masih? kan enggak, lalu? Allah saja maha Pemaaf Dwiana, tidak memandang rendah mahlukNya kecuali berdasarkan ketakwaan...."


"Iya ke situnya sih. Sudahlah, lagipula semua laki-laki sama, seperti Papa. Kala sukses wanita tak pernah cukup satu. Bahkan aku tidak tahu apakah memliki seorang adik sekandung dari Papa atau tidak," Dwiana tertawa miris melihat nasib hidupnya.


"Dwi, urusan orang tuamu yaa urusan mereka," bujuk Aiswa lagi.


"Tapi tetap saja, mereka memandang silsilah darimana aku berasal, nasab ya namanya? .... apa jadinya aku ketika memiliki rumah tangga sendiri namun tak pernah tahu bagaimana kehidupan sebuah keluarga yang baik? apa jadinya aku Aish?" seru Dwiana kesal.


"Belajar, sama-sama belajar Dwi. Temukan orang yang tepat, yang mengerti dirimu. Bukalah hatimu Dwiana," lirih Aiswa.


"Apa? pada siapa?!" sergahnya dengan nada tinggi.


.


.


...________________________...


...Fenomena seperti Dwiana, jadi anak brokenhome itu ga enak. Kemana-mana menundukkan kepala karena takut ulah kedua orang tua terendus teman atau bahkan keluarganya yang berujung pada kerenggangan antar kawan karena larangan bergaul dengannya. Peluk Dwiana. ...


...Visual Dewiq sebelum dan sesudah berhijab ya, plus Mama Rosalie. ...


__ADS_1



__ADS_2