
Dwiana sadar apa yang ia lakukan saat ini salah. Jika ayahnya mengetahui kelakuan dia hari ini, pastilah cambuk akan mendarat di tubuhnya. Atau bisa saja, dia akan kembali di seret untuk memenuhi keinginan cacat logika keluarganya.
"Come on, come on Dwi, gunakan otakmu," Dwiana terus saja mengoceh sepanjang perjalanan.
Kriing.
"Ya?"
"Dwi?" suara Dewiq.
"Dewiq, Rayyan sudah tiba?"
"Belum ... Dwi, hati-hati di-"
Pett. Panggilan kembali di putus Dwiana.
Ia tak bisa konsentrasi jika harus menjawab pangggilan. Kakinya menekan kencang pedal gas. Jarak tempuh yang seharusnya di habiskan dalam waktu 40 menit. Dwiana ingin pangkas menjadi hanya 25 menit.
"Sh-itt, macet!" kesalnya memukul stir.
Ia tak sabar, kakinya menginjak gas putus-putus sehingga mengeluarkan bunyi deru mesin yang lumayan kencang. Membuat beberapa mobil yang ada di depannya menepi agar ia bisa lewat.
Makian antar sesama pengguna jalan, Dwiana terima. Saking kesalnya salah satu driver memberinya jari menunjuk simbol f-uck, untuknya.
Tak ia hiraukan ajakan battle saat akan memasuki pintu tol lingkar luar yang lumayan lengang. Namun ia merasa adrenalinnya di tantang, Dwi membuka kaca mobil, menurunkan pelan.
"Are you ready, Man?" tanya Dwi menampilkan smirk mengejek.
"What, abege. Ga level, lupakan," ujar pria gendut nan arogan.
"Seriously? takut?" balas Dwi.
"Yang menang dapat apa?" tanya pria itu.
"Keys, itu buatku ... nanti aku ongkosi pulang pakai ojek online, tenang saja," imbuh Dwi saat melihat Ferrari Pista Spider berwarna putih.
"Amankan jalurnya," pinta sang pria.
"Kau lah ... kau yang menantangku, atur jarak hingga Tomang," pinta Dwi.
"Imbalanku?"
"Mobilku, setara dengan harga mobilmu," jawab Dwi.
"Aku ingin kau," balasnya.
"Maaf, kau bukan seleraku. Jika kamu menolak mobilmu sebagai imbalan, kau boleh menukarnya dengan wanita cantik yang duduk disampingmu itu ... Hai sayang, we're gonna have some fun in this evening, ok baby," imbuh Dwi mengeringkan mata dan memberi isyarat bahwa dia menginginkan sang wanita.
"Sh-itt, are you butc-hi?" tanya pria lagi bergidik ngeri.
Dwiana hanya menanggapi dengan kerling mata nakal untuk wanita pria itu.
(dalam komunitas sesama gen-der, ada dua peran butc-hi dan femi ... butc-hi berpenampilan tomboy layaknya Dwi, kek pasangan cowoknya gitu.)
Cih, gue normal. Demi lekas sampai dan bebas dari buaya macam lo aja. Dwiana membatin.
"Rayyan, maaf. Aku ingin bersenang-senang dengan tujuan memanfaatkan jalur agar lekas sampai. Dia sepertinya anak orang berpengaruh hingga mampu membuka jalan," gumam Dwi mengatur posisi mobilnya sejajar dengan rival.
"... come on come on, Alien, hang on...."
__ADS_1
Deru mesin mobil sport keduanya membelah udara Jakarta sore itu.
Beberapa mobil yang serupa dengan mereka, bersorak, membantu menjadi petugas ala-ala balapan liar.
Saat peluit di tiup, Dwi memacu kembali mobilnya. Ia tertinggal.
"Calm Down, Derens ngajarin aku salip di detik ke lima, menunggu engine powerfull ... and here we go, ready baby," gumamnya membuka panel power tambahan bagi mobilnya.
Wusshhhh. Melesat bagai anak panah meluncur menyusul sang pria.
Mobil keduanya hampir saling berhimpit, menukik tajam saat di tikungan.
Dwiana akrab dengan dunia seperti ini sejak masih putih biru, berkat Derens.
"Ada gunanya juga ya Bang, dunia ugal-ugalan yang kamu kenalkan padaku."
Mobil Dwi disalip saat akan menuju pintu tol keluar.
"Jangan harap," ujarnya kembali menambah kecepatan.
Ciiiiiiiittttt.
Dwiana berhasil mengungguli meski berbeda beberapa inci.
"F-UCK!" teriaknya.
"Your keys, gentle lah Bro, mobilku punya dua kamera depan belakang ... Aku tahu kamu bukan orang biasa, bagaimana jika kita viralkan bahwa kau tak gentle melawan abege," Dwiana menjulurkan tangan kanannya meminta kunci milik pria itu.
"Aku akan buat perhitungan denganmu," ujarnya kesal.
"Buat saja, aku tunggu ... aku gak sempat pesankan ojek online ... ini uang cash, siapa tahu kau tak punya. Ups, uangmu CC semua kan?" ujar Dwiana memberikan dua lembar uang seratus ribu padanya.
Sang pria nampak kesal ia lalu terlihat menghubungi seseorang, sementara Dwi bersiap meninggalkan lokasi.
BMW sport merah metalik meluncur perlahan, seraya ia pun menghubungi seseorang.
"Halo, Renata, ambilkan Ferari Pista Spider putih di pintu tol lingkar luar arah Tomang. Milikku dan simpan di apart Derens. Jangan sampai Mama tahu," ujar Dwi pada salah satu bodyguard ibunya.
Lima ratus meter di depan.
Dwiana melihat keramaian masih mengitari loaksi tabrakan. Beberapa polisi terlihat mengatur laju lalu lintas. Dia memarkirkan mobilnya di sisi jalan, asal.
Brugh.
Suara pintu mobil dibanting keras. Ia tergesa setengah berlari menuju titik kecelakaan.
"Alien, di mana? Alien!" serunya membelah kerumunan manusia.
"Permisi, Pak polisi, korban di mana ya?" tanya Dwiana.
"Anda keluarganya?"
"Iya, di mana Alienku?" tanpa sadar Dwi menyebut Rayyan miliknya.
"Alien?" tanya polisi heran.
"Rayyan, sorry," gugupnya.
"Di sana Nona, ambulance," tunjuk pak polisi ke arah mobil putih bersirine.
__ADS_1
Dwiana berlari menuju mobil yang di maksud.
"Suster, mana Alien? eh Rayyan?" Dwiana panik tak mendapati siapapun di sana. Hanya suster yang tengah membereskan peralatan medis.
"Dokter Rayyan? sedang muntah di samping ujung mobil Nona, mungkin karena benturan memar di kepala," ujar suster.
"What, kepala?" Dwiana memutari mobil, dan ia menemukan sosok pria yang dia khawatirkan.
"Alien, astaghfirullah. Ko bisa begini sih? pasti sakit ya?" tanpa disadari, mulut pedas Dwiana mengeluarkan kalimat khawatir.
"Baby, maaf. Aku gak apa," ucapnya di sela menahan gejolak mual.
"Gak apa gimana? kamu begini," tangannya terulur menepuk punggung Rayyan lembut, beberapa kali hingga muntahan yang sedari tadi tak bisa dikeluarkan, sukses meluncur berkat Dwiana.
Suster membawakan air mineral hendak menyerahkan pada sang Dokter tampan, namun di sambar Dwi.
"Thanks," ucap gadis itu dengan sorot mata tajam, menatap tak suka.
"Minum dulu, masih mual ga? sakit yang mana?" tanya Dwiana beruntun.
"Hanya pusing," jelas Rayyan sebelum meneguk air yang di sodorkan gadisnya.
Ia membiarkan pria muda yang masih berjongkok itu tenang. Sedikit memberikan ruang baginya menata nafas. Pun dirinya, susah payah menetralkan detak jantung yang berpacu dengan waktu.
"Aku antar ke apart, di mana alamatnya?"
"Aku punya rumah di sini, Dwi. Ke Hermana Hospitals dulu, lihat sikon Nyonya Rosalie," pintanya.
"Enggak, kita pulang. Kamu udah begitu loh, masa masih mikirin orang lain sih ... ayo, bisa bangun kan?"
"Sebentar saja, kasihan beliau. Kan ada kamu nanti yang antar, tanggungjawab sebagai dokternya, Dwi. Please...." bujuk Rayyan pada Dwi, ia belum melihat wajah gadis itu yang di liputi awan kesedihan.
"Ok, come on...." lirihnya.
Dwiana enggan memapah pria dengan postur tinggi tegap ini. Dia membiarkan Rayyan bangkit berdiri dan berjalan perlahan.
Polisi sedang bicara dengan lawyernya saat Rayyan melintas meminta izin ke rumah sakit.
Bip. Bip. Mobil Dwiana terbuka.
"Mobilmu?"
"Punya Derens awalnya, tapi dia memberikannya untukku," balas Dwi singkat.
"Derens? pacarmu?" Rayyan berhenti, menahan diri tidak masuk ke dalam bangku sisi kiri kemudi.
"Menurutmu?....."
.
.
..._________________________...
...Api asmara yang kini telah membara πΆπΆ...
...Terlalu rumit ga? bab ini bakal mommy tarik ke depan nanti. Kita flashback masa kelam dwi dulu ya, agar release kek Aiswa dan Dewiq... biar nyambung, halus ga jreknong. ...
...πππ...
__ADS_1