
"Karena?" tanya Amir
"Karena siapa tahu dia mau ngusik Qolbi lagi, kan?"
Meski dalam hati pria yang masih duduk di sofa dalam kamarnya itu meragu, Dirinya lebih memilih mengikuti keinginan Aiswa, mengabaikan pangggilan Hasbi.
Malam menjelang.
Setelah edisi menghabiskan waktu sore berdua, mereka pamit untuk kembali pulang. Awalnya Umma melarang karena Aiswa pernah mengatakan akan pergi ke Jerman dua minggu yang akan datang.
Jika di Jakarta, akses akan lebih mudah menuju Bandara. Dan Paspor mereka bisa dikirimkan oleh Joanna atau Alex.
Aiswa menolak dengan alasan rindu kamarnya, juga ada Abah menunggu mereka di rumah. Akhirnya Umma pun meloloskan keduanya kembali pulang.
Dua jam kemudian.
Jagorawi telah di lalui, Aiswa mulai mengantuk. Setelah memastikan istrinya terlelap, Amir mencoba menghubungi Hasbi.
Tuut. Tuut.
"Gak diangkat juga, ada apa ya? kemarin notif nya banyak banget," gumam Amir seraya terus memperhatikan jalanan.
Dua kali mencoba, hasilnya tetap sama. Ia pun tadi tak sempat pamit pada Ahmad. Kakak ipar sekaligus sahabatnya itu sedang menghindar dari serbuan pertanyaan umma, mengapa bisa terjadi cekcok serius padahal baru saja menikah dan keinginan untuk menjadikan Dewiq halal sangat menggebu kemarin.
"Kamu, kurang pedekate. Belum paham karakter Dewiq dan karena kalian itu masing-masing punya impian. Ambisi ingin di pandang istri juga satunya ambisi ingin segera menyelesaikan studi lalu bakti. Sebetulnya bisa sejalan, komunikasi. Asal Ahmad mau mengalah menemui Dewiq," Amir berargumentasi.
"Aku setuju dengan Qolbi, nanti aku bujuk kakak besok," Aiswa ikut bicara meski matanya terpejam.
"Loh, belum tidur?" tanya Amir heran, Aiswa menyahuti argumennya.
"Entah, kalau Qolbi ngomong itu kadang telingaku masih bisa mendengar meski aku ngantuk."
"Lanjut tidur lagi, Sayang. Bentar nyampe ko ini sudah mau habis cikampeknya.
Dua jam berlalu begitu saja. Mobil Honda Jazz hitam, memasuki pelataran kediaman Raden Mas Brajawisesa tepat pukul sebelas malam.
Alex menghampiri Amir saat baru keluar hendak membuka pintu kiri agar Aiswa turun.
"Den Mas, maaf. Aku yang bicara pada Abah bahwa ada indikasi pencurian saat sebelum pergi," Alex mengakui perbuatannya.
"Gak apa Bang. Lagian Abah juga pasti tahu dari laporan yang aku lingkari itu. Juga dari foot note di pembukuan milikku," ujar Amir seraya menarik lengan Aiswa.
"Gitu ya?"
"Iya, istirahat aja Bang, besok paling di minta Abah kumpul, pagi," lanjut Amir.
__ADS_1
Alex meninggalkan majikan mudanya kembali ke gudang. Sementara pasangan itu masuk ke rumah melalui pintu samping.
"Mir, loh dah sampe? Abah kira gak jadi. Kamu gak ngabarin," tegur Abah setelah mendengar ucapan salam.
"Jadi, buru-buru tadi Bah," jawabnya sambil salim, di ikuti Aiswa.
"Kandungan kamu, sehat Nduk?" Abah membelai kepala menantunya saat ia meminta salim.
"Alhamdulillah sehat, Aish ga kenapa-kenapa. Do'ain ya Bah," pintanya lembut.
"In sya Allah. Istirahat Nduk, Abah boleh pinjem Amir gak sebentar?"
"Boleh ... Bii, aku masuk duluan ya," Aiswa menoleh ke samping kanannya.
"Iya Sayang, isya jangan lupa ya," ujarnya di angguki oleh Aiswa.
"Hmm, gimana gak cepet tekdung, bawaanya kalem bener, adem kayak es gitu ya, Mir. Bikin pengen nempel mulu ... Putri Yai Hadir salim emang ajib," Abah terkekeh melihat Amir yang tak lepas memandangi istrinya hingga menghilang dibalik pintu kamar.
Kedua pria beda zaman itu duduk di ruang keluarga.
"Ko bisa Mir, puluhan juta loh. Kamu teledornya kebablasan," tegur Abah, tumben Amir tak bisa meng-handle pekerjaan dengan benar.
"Aku salah, terlalu lama meninggalkan rumah dan gak pegang langsung pembukuan meski seharusnya bisa dilakukan pengecekan by email dibantu oleh Bang Alex," jawab Amir.
"Masih, aku sengaja meminta Mang Sapri agar menahannya sampai aku kembali," sambungnya lagi.
"Pelajaran nya begini. Setiap usaha, apapun itu pasti ada saja resikonya. Entah rugi atau kecurian atau bahkan musibah. Ini sudah di atur oleh Allah, sebagai teguran kita semua," ucap Abah.
"Kamu santai karena ada orang kepercayaan di sini. Lupa dan asik dengan aktivitas yang lain. Aiswa, Naya dan sebagainya. Ga imbang, lalai, Mir makanya di tegur."
"Ibadah, pekerjaan dunia dan akhirat harusnya lebih dominan akhiratnya. Bayar zakat, juga infaq jum'at berapa kali kamu lewatkan? Alex bilang, kamu gak hadir saat pembagian sedekah jumat itu. Ini kan indikasi kamu cuek dengan karyawan, Abah gak ngajarin itu."
"Lalu, menjaga Aiswa sampai begitu, melarang ia membaur dengan karyawan. Apa maksudnya?"
"Aiswanya oke aja, tak ingin berlebihan tapi kamu nya begitu. Abah tahu, Aiswa itu porselen tapi ya di jaga gak sebegitunya loh, Raden Mas Amirzain Zaidi bin Ahmad Zaid Sanusi. Takut amat kecolek," sindir Abah sambil tersenyum.
Amir makin merunduk, semua yang dikatakan Abahnya benar. Ia berlebihan hingga mengabaikan urusan ummat. Abah menegur keras dengan menyebut nama lengkap dan gelarnya.
"Di perbaiki ya, Den Mas. Hablumminannas nya, karyawan butuh sosok ajeg, panutan yang membaur ... Abah juga barusan negur adikmu, Mas Panji. Jangan ngumbar keposesifan. Diperhatikan lagi semua karyawan kalian ... Queeny, Quennaya, Qiswa, Meela.Co."
"Kamu ingin mereka loyal gak, Mas? ke kamu, Aiswa ke adikmu?"
"Nggih Bah, ingin," jawab Amir.
"Semua itu timbul, loyal, setia karena nyaman dan percaya bahwa majikannya akan menaungi jika mereka kesusahan. Dia mencuri karena merasa jauh dengan kamu, gak nyaman mau cerita tentang kesulitannya, makanya begitu. Kamu turut andil loh Mas."
__ADS_1
"Innalillahi, ya Allah ampun...." lirih Amir.
"Besok, jangan di fokuskan sama barang yang di curi. Tanyakan alasannya, sebab dan lainnya. Sopan ya Mas, gak pake emosi," pinta Abah.
"Abah gak akan ikut campur, hanya lihat saja. Anggap yang hilang itu sebagai sedekah. Barangkali kita lupa mengeluarkan hak orang lain, infaq kurang atau zakat maal kelewat hitung atau bahkan khilaf. Sebagai penolak bala saja. Untung Allah cuma negur kamu puluhan juta, coba lebih dari itu, Mas?"
"Nggih Abah, maturnuwun diingatkan semua ini. Maafin aku ya, Bah," Amir semakin menundukkan kepala.
"Nggih, sampun ... maaf Abah negur kamu langsung pas baru datang ya Mas. Gih, istirahat. Layani istrimu," senyum Abah terbit melihat Amir hanya diam.
Putra keduanya ini memang peka dan hatinya sangat lembut. Di tegur begini saja pasti akan membuat Amir gak bisa tidur.
"Sana Isya dulu. Aiswa udah punya obatnya itu," Abah masih saja menggoda Amir yang diam. Ia bangkit mengusap kepala putranya sayang. Mengecup ubun-ubunnya lalu mendoakan.
(Abah sampe anaknya gede masih aja do'ain dengan cara begitu ya, baper)
"Mas." Abah menepuk bahu Amir sambil lalu.
Amir lalu bangkit, menuju kamarnya. Tanpa banyak kata, dibantu Aiswa yang masih terjaga ia ganti baju lalu isya.
"Kenapa, Bii?"
"Gak apa, Sayang. Maaf ya jika sudah mengekangmu secara gak langsung," Amir naik ke atas ranjang. Memeluk istrinya yang lebih dulu berbaring di sana.
"Kita perbaiki semuanya, Hablumminannas."
"Bii," bisik Aiswa.
"Yuk."
"Apa?" Aiswa tersenyum samar.
"Aku gak akan bisa tidur setelah di tegur Abah, lembut tapi jleb. Abah bilang, kamu obatnya. Dan ini, sayang kalau di anggurin."
Aiswa hanya tersenyum menanggapi reaksi suaminya saat melihat dirinya memakai sesuatu yang menjadikan pandangan Amir indah.
.
.
..._____________________________...
...Tanggungjawab punya banyak karyawan juga bagian dari ibadah dunia. Berlebihan melakukan sesuatu juga gak baik meski niatnya baik. (Ibroh)...
...Di selesaikan semua masalah yang pernah mommy ungkit dulu ya. Sebagai pengingat mommy juga, bahwa karyawan juga bagian dari keluarga bukan mesin pencetak uang....
__ADS_1