DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 143. DIMABUK CINTA


__ADS_3

"Bii, masa tega sama aku sih," rengek Aiswa membujuk agar Amir bersedia membawanya pergi jalan-jalan sebelum pulang.


"Ada ongkosnya, Rohi," jawabnya tanpa melihat wajah istrinya itu.


Ga, ga bakalan aku lihat kamu sayang, bisa-bisa luluh nanti, mana udara makin dingin.


"Apa?"


"Kis-s dulu," sahutnya sumringah.


"Ish, selalu gitu ... janji ya, c-up." kecup Aiswa dipipi kiri suaminya.


"Kalau ngasih itu yang ikhlas, ga setengah-setengah begitu."


"Diulang deh yaa, lumayanan emang."


Saat Aiswa akan mendaratkan kecupan di pipi suaminya, Amir justru menoleh menghadap wajahnya hingga kedua bibir mereka bertemu.


C-up.


Tak sampai disitu, Aiswa terkejut Amir melakukannya didalam mobil dengan kehadiran Joanna yang duduk dibelakang kemudi, justru menahan tengkuk wanitanya dan semakin memperdalam ciu-man mereka.


"Ehheemm." Suara Joanna.


Nyatanya protes Joanna, Amir abaikan hingga Aiswa memukul bahu suaminya beberapa kali agar melepaskan pagu-tan mereka.


"Bii ... hmmmppp, le-ppaasshhhh," ucapnya terengah setelah ia berhasil melepaskan diri.


"Apa sih, lepas lepas," Amir bersiap menarik wajah Aiswa lagi agar mendekat padanya.


"Joanna," cicitnya malu menahan wajah Amir yang lekat memandangnya.


"Kenapa Joanna?... Jo, kamu terganggu?" tanya Amir pada Joanna dari balik kursi kemudi.


"Engga Den Mas, hanya gerah saja, sedikit ... aku berpura tak melihat ... zina mata," ujarnya menahan dongkol.


Aiswa tertawa mendengar keluhan Joanna dan menyenggol lengan suaminya.


"Maaf ya Jo, maklum si Bapak puasa lama ditambah bonus puasa extra lama jadi gitu," gelak Aiswa dihadiahi tarikan dari Amir hingga masuk ke pelukannya.


"Bilang gitu lagi, nanti aku hukum tau rasa," bisiknya saat Aiswa dalam dekapannya.


"Ampun Bii, ampun, iya engga, ga lagi ... aku tahu hukuman yang kamu maksud, nyerah deh, daripada mesum ga tahu tempat." Tawanya masih terdengar meski Amir menghujani tengkuk yang tertutup hijab itu bertubi.


Ia gemas sendiri dengan Aiswa, entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini nyatanya dia sangat bahagia. Wanita yang lama dia cinta dalam diam akhirnya berhasil memeluk jiwa raganya, sesukanya.

__ADS_1


"Den Mas, Nona ... Big Ben, aku parkir mobil dulu, silakan Anda berdua turun," suara Joanna menghentikan keasikan pasangan yang duduk dikursi penumpang itu.


"Mas, makasih banyak," ucap Aiswa mencium pipi suaminya.


"Mas?"


"Abah, Uyut, manggil Mas, masa aku ga boleh?"


"Bukan ga boleh, aneh...."


"Ko aneh?" balasnya seraya menarik tuas kunci dan keluar dari mobil.


"Aneh aja," ucap Amir dengan nada enggan saat keduanya telah keluar dan berjalan menuju lokasi yang Aiswa inginkan.


Karena Qiyya memanggilku dengan sebutan itu, aku ga mau kamu melakukan hal yang sama Rohi.


"Habibi Qolbi, emang udah paling pas ... Qolbi, My Bii," imbuh Aiswa sembari tersenyum manis menghadap wajah suaminya.


"Aku suka itu, dan lebih suka jika keluar dari sini," Amir menatap wajah istrinya, mengusap bibir merah bagai strawberry.


Keduanya saling bersitatap, menyelami iris mata masing-masing, seakan mengatakan bahwa aku mencintaimu melebihi cintaku pada diri sendiri, aku menyayangimu melebihi rasa sayangku untuk diri sendiri dan tak ingin berpisah apapun ujiannya nanti.


"Sayang, aku selalu memimpikan saat ini dengan mu, dan ketika ini terwujud justru rasanya sangat bersyukur Allah masih memberi kesempatan padaku ... Aiswa fajri, jangan tinggalkan aku ya, love you karena Allah sayang ... semoga cintaku padamu, makin menambah rasa syukur ku atas segala yang Allah beri, cinta yang kian mendekatkan aku padaNya ... ingatkan aku agar selalu dijalanNya yaa Aiswa, kamu rem nya sayang," tuturnya lembut disertai belaian pada wajah wanita yang sangat dia damba.


"Bii, imamku, keridhoan Qolbi atas diriku adalah tujuan utama aku memilih berjalan bersisian dengan mu ... jadikan cinta yang Qolbi punya untukku sebagai peningkatan iman kita bersama ... setiap gundah menghampiri, merapal doa jadi caraku menenangkan diri ... ku sebut nama Qolbi berkali-kali, agar aku berharap bersamamu untuk selalu berada di bawah lindungan-Nya, aamiin."


C-up.


Amir meraih dagu Aiswa, menempelkan miliknya pada bibir semerah cherry ranum agar suhu dingin sedikit mengikis.


Big Ben menjadi saksi keduanya menyatakan cinta setelah halal, mengungkapkan apa yang selama ini terpendam.


Keduanya seakan membungkam garis nasib yang pernah tega memisahkannya, yang pernah menghinakan keduanya atas khilaf dimasa lalu.


"Ya ampun," Joanna terkesiap, lagi, menyaksikan majikannya berlaku mesra di tempat umum.


Memang dinegara Eropa seperti ini, pemandangan pasangan yang saling bermesraan diruang public adalah hal lumrah.


Beberapa pasang mata justru terlihat bahagia melihat sejoli yang sedang dimabuk cinta ini, ada yang menepuk lengan Amir sambil tersenyum bahkan ada yang mengajaknya toast.


"Happy ever after," ucap para bule yang menyapa mereka.


"Thanks," balas Amir beberapa kali pada bule yang memberinya selamat bahkan wanita paruh baya memberinya banyak untaian doa, salah satunya agar Aiswa lekas berbadan dua.


Aiswa mengamini segala ucapan baik yang terlontar dari para manusia asing yang dia temui disana. Lalu melanjutkan perjalanan mereka saling menautkan jari.

__ADS_1


"Dingin Rohi, sini." Amir menarik tangan Aiswa yang dia genggam, masuk dalam saku luar mantelnya. Menarik tubuh mungil nan seksi itu kembali menempel padanya.


"Ga bisa lama sayang, dingin banget ... pulang yuk," bujuk Amir setelah melihat Joanna berkali menggosokkan tangannya agar hangat.


"Ok Bii, pulang."


Joanna berlari kecil menuju mobil mereka dan menjemput kedua majikannya untuk kembali pulang.


Dua puluh menit kemudian. Kediaman Hermana.


"Aey, sudah siap semua?" Hermana Arya bertanya saat Aiswa membantu melepaskan mantel suaminya di voye.


"Sudah Pa, tadi Qolbi yang atur ... dokumennya mana Bii?"


"Ini sayang." Serahnya dengan tangan kanan satu bundel map berisi dokumen keperluan Aiswa.


"Mir, Papa kumpulkan dengan surat numpang nikah kalian juga berkas lainnya...."


"Ok, Pa."


"Pa, ini, makasih banyak," Aiswa menyodorkan kartu platinum yang Hermana Arya berikan padanya saat pertama kali kuliah.


"Simpan Aey, buat kamu itu."


"Aku ada Qolbi Pa," lirihnya.


"Mir, kamu masih izinkan Aeyza pegang kartu dari Papa ga?... Papa tahu Amir mampu, bahkan sangat berkecukupan untuk Aeyza ... tapi Papa juga ingin tetap memberinya jajan sesekali, boleh?"


"Boleh Pa ... asal jangan ikuti kemauannya jika Aeyza meminta pada Papa, karena ada aku ... dan dia adalah tanggung jawab ku ... kiranya Papa paham maksudku," sambung Amir menegaskan posisinya.


"Tuh, denger Aey, simpan yaa," ujar Hermana Arya tersenyum meninggalkan keduanya menuju ruang kerja.


"Thanks Pa."


"Aey, mau Mama bawakan apa dari sini? kakak udah siapin kargo buat kamu itu tinggal isinya aja," Mama muncul dari ruang makan menahan langkah mereka menaiki tangga.


"Masakan Mama aja, selain itu ga usah, baju ku tinggal disini biar ga banyak bawa barang."


"Ok sayang, gih istirahat lalu turun makan siang...." Anjuran Mama diangguki keduanya saat melangkah naik menuju kamar di lantai dua.


Saat baru memasuki kamar.


"Banyak banget yang sayang sama kamu, Rohi ... semoga aku ga kalah saing," ucapnya cemas saat Amir memeluk Aiswa dari belakang.


.

__ADS_1


.


...________________________...


__ADS_2