
"Ais-wa, Rohi?" Amir tak menyangka, kehadirannya di hotel tengah malam ini membawanya pada sebuah kenyataan bahwa wanita yang dia cari selama ini telah ada di hadapannya.
"Ma-af siapa?" cicit Aiswa pelan. Dentum jantungnya berdetak cepat dan kuat hingga rasanya ingin terbatuk.
Amir diam, menundukkan wajahnya sembari menghela nafas.
"Maaf bila aku salah kira ... ini adalah pesanan Anda," ujarnya menyerahkan goodie bag warna ungu.
"Thanks a lot," balasnya lirih hampir tak terdengar disaat tangan kirinya terjulur.
Degh. Kiri.
"Bahkan suaramu sangat mirip dengannya ... aku tak tahu apakah Anda adalah Aiswaku atau bukan, namun akan segera aku pastikan... entah alasan apa dia berbuat demikian tapi aku akan tetap membuka lebar mata dan telingaku kelak ketika ia membagi cerita ... selamat malam, selamat beristirahat Nona Danesh, Aeyza atau Little A, entah yang mana namamu sebenarnya," pungkasnya sambil lalu berbalik badan dan melangkah meninggalkan tempat itu.
Brugh.
Aiswa jatuh terduduk dilantai seiring kepergian lelaki dambaan hatinya.
"Bii, betapa ingin aku mengatakan bahwa aku adalah Aiswamu, namun rasa hatiku tak tega pada Aruni yang telah sah menjadi istrimu ... inginnya aku melupakanmu, namun rasanya tak sanggup... biarlah aku menanggung luka, bukankah seperti ini yang kau mau? kita masih bisa saling melihat dari kejauhan meski tak dapat bersama?"
Aiswa menutup pintu kamar menggunakan kakinya, dirinya lemah, tenaganya habis terkuras.
Lutut lelah itu lalu ditariknya menekuk hingga menutup dada, kedua tangannya dia gunakan memeluk erat kedua kaki terlipat itu agar kokoh kala kepalanya dia benamkan disana sekedar membuang bendungan bening yang akan menganak sungai lagi.
"Bii," isaknya pilu menyayat hati.
Cklak.
Joanna baru saja tiba dikamar mereka, dia sempat berpapasan dengan Amir saat keluar dari lift dan pria itu menunggu kotak besi yang sama untuk turun ke lantai dasar.
Apa yang dia khawatirkan terjadi. Kini ia dapati sang Nona mudanya menangis tersedu hingga bahu mungil nan rapuh itu kembali berguncang.
"Nona, maaf aku terlambat," sentuhnya pada sosok mungil yang tengah terpuruk di depannya.
"Jo, rasanya aku ga kuat ... tapi mimpiku sedikit lagi aku gapai, dia pria beristri ... jika aku bisa melanglang buana menghindarinya jauh mungkin perlahan aku bisa melupakannya." Aiswa tergugu.
Nona, maaf, tidak ada yang menghalangi kalian untuk bersama. Hanya saja, kami ingin dirinya berjuang dengan benar kali ini.
Dia berjanji mencari tahu tentangmu bukan? bersabarlah sedikit lagi, aku yakin Amir bukan pria bodoh, dia pasti sedang berusaha keras untukmu.
__ADS_1
Dia juga bukan lelaki ceroboh, mungkin kejadian yang lalu membuatnya semakin berhati-hati sebelum bertindak.
*
Sepasang kaki panjang itu sekuat tenaga dia paksa meninggalkan hotel. Dalam perjalanan turun tadi dia berpapasan dengan seorang yang akrab menghiasi ingatannya namun masih belum dapat ia ingat dengan benar, siapa sosok familiar itu.
Dalam perjalanan kembali menggunakan taksi yang sama otaknya terus berputar hingga tanpa terasa dirinya telah kembali ke hotel tempatnya menginap.
Amir mengabaikan sapaan front office yang menyapanya. Ingin lekas tiba dikamarnya untuk membersihkan diri lalu merangkai semua puzzle dalam kepingan ingatan yang seakan mulai merangsek mendesak untuk dipecahkan.
"Astaghfirullah, laa haula wala quwwata illa billah," menghela nafas saat kunci kamarnya telah terbuka.
Seperti rencana semula dia bergegas. Menghabiskan waktu tiga puluh menit hingga salam terakhir sempurna dia lakukan.
Masih diatas sajadah, Amir memejamkan mata. Memohon teguh dalam hati agar semuanya dimudahkan.
"Hampir dini hari," tatapnya pada jam tangan yang dia letakkan dimeja nakas samping tempat tidur.
"Surat tadi mana ya?" teringat tulisan dari sang designer Little A, Amir merogoh saku kemejanya kembali.
Menemukan amplop itu lalu membuka dan membacanya pelan. Ia lalu membawa kertas catatan kecil yang tersedia dikamar keatas sajadahnya.
"Ok bismillah ... tulisan tangannya mirip Aiswa, persis ... saat menerima goodie bag dia menggunakan tangan kiri, untuk wanita muslim seharusnya dia tahu jika semua diawali dengan tangan kanan ... filosofi warna dan designnya sangat mencirikan bahwa dia fahim ... maka sepatutnya tangan kanan yang dia gunakan kecuali dia, kidal ... Rohi kidal meski tidak terlalu tapi ... hmm, aku harus minta bantuan seseorang."
"Assalamu'alaikum Pak, boleh ganggu? ... iya, ganggu soalnya aku minta analisa cepat untuk memindai screen cctv sebuah ruangan malam ini, bisa?"
Setelah panggilannya berakhir, dia harus menunggu selama satu jam kedepan untuk memastikan apakah tulisan ini bermakna sesuatu baginya.
Sementara dia menunggu, hatinya resah maka Amir memutuskan untuk kembali berwudhu sambil muroja'ah hafalannya lagi.
Dalam temaram lampu kamar, saat raganya dia sandarkan ke sisi ranjang dan netranya sejenak mengajak untuk merapat, tiba-tiba dirinya dikejutkan sesuatu.
"Astaghfirullah," Amir bangkit dari posisinya.
"Wanita yang itu, suster saat Aiswa baru sadar saat koma, wajahnya sama persis meski look nya berbeda-beda."
"Hallo Pak, tambahan please... bisakah aku meminta cctv kamar Aiswa pada hari dia dinyatakan meninggal?" Dia menelpon orang yang sama.
Kantuk yang hilang seketika membuatnya bersemangat, jantungnya memompa darah lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
Tangannya kembali meraih catatan dikertas yang telah dia susun.
"Suster mencurigakan dikamar Aiswa, saat brangkar Aiswa didorong menuju lift ... wanita di Singapura saat aku menabrak gadis itu di lorong, juga saat event beberapa kali aku melihatnya dan juga tadi, berpapasan di lift hotel."
"Baik, mari kita rangkai dimulai dari kamu ... dia selalu berada di sekitar gadis itu, berkali mengalihkan perhatian ... dipastikan dia adalah bodyguardnya."
Kring. Ponsel berdering.
"Aku periksa e-mail, terimakasih banyak Pak Kusno Kalani, Anda terbaik ... maaf mengusik jam tidur Anda."
Amir membuka emailnya, dengan sabar dia menunggu lampiran file ter-download sempurna.
Rasa tak percaya, berkali jarinya menekan layar gawai, memperbesar tampilan hingga memutar benda pipih itu berharap screen akan lebih jelas terlihat.
"Benar, wanita itu, cocok dengan semua yang aku tulis tadi." Jarinya kemudian kembali membuka satu file lagi. Menampilkan screen ruangan event malam tadi.
"Kiri, dia menulis dengan tangan kiri awalnya lalu ganti dengan kanan, pantas tulisannya agak berbeda," Amir meraih amplop surat sang designer.
"Ya Allah," Amir bangkit dari atas sajadahnya. Tubuhnya bergetar seakan tak percaya, dia melangkah mondar mandir dalam kamarnya hingga sebuah ketukan di pintu kamar mengaburkan kegugupannya.
Tok. Tok.
Amir membuka pintu kamar. Nampak adik iparnya berdiri disana dengan penampilan lusuh dan terlihat lelah, baru saja tiba dari tugasnya.
"Kak, Naya tidur pules sepertinya, aku tidur sini dulu yaa sampai pagi ... lelah banget," pintanya lesu.
"Masuk Mas, tidur saja ... aku ga ngantuk bentar lagi juga waktu tahajud, juga sedang berpikir keras, maaf jika berantakan." Amir membuka pintunya lebar agar Mahendra dapat masuk ke kamarnya.
"Bang Rey dimana?"
"Dengan Alex ... lagi ngapain Kak?" tanya Mahen melihat beberapa lembar kertas berserakan sembari melepas jas dan sepatu serta melepas bantalan kaki kiri sintesisnya.
"Merangkai puzzle tentang gadis yang aku curigai sebagai Aiswa ... kakinya sakit ya Mas, aku siapin air hangat dulu, sebentar."
"Aiswa? ... eh, ga usah kak, aku bisa ko," ujarnya menahan langkah Amir meski langkahnya pincang.
"Aiswa masih hidup, tapi ini dugaanku...."
.
__ADS_1
.
...___________________...