
"Qolbiku...." Aiswa baru kali ini melihat suaminya marah dengan nada tinggi. Kini ia tahu, betapa besar cinta lelaki yang memeluk ini untuknya.
Demi wanita yang tengah berada dalam dekapan, ia kehilangan kesabarannya.
"Istirahat Sayang, kamu kelihatan cape banget. Aku disini, gak akan kemana-mana. Biar Fariz dengan suster dulu," Amir melepaskan pelukannya. Duduk disisi wanita sholihah seraya menggenggam erat jemari. Ia mengusap pipi Aiswa yang sempat basah karena tetesan air mata yang tak dapat dia cegah.
"Mau telpon Umma, boleh Bii?" pinta Aiswa.
"Boleh, Sayang. Ini...." pria tampan yang juga terlihat lelah itu menyerahkan benda pipih bercasing hitam setelah nada dering video call tersambung.
Tuut. Tuut.
"Iya Mir, Assalamu'alaikum." Suara serak bercampur sumbang milik Umma, terdengar.
"Umma, Aish sudah jadi Ibu." Tangis Aiswa pecah saat melihat wajah teduh Sang Bunda pada layar gawai.
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah, laki-laki betul Nak?" tanya Umma dengan nada bergetar.
"Iya, laki-laki. Beratnya 3.4 kilogram dan panjangnya 52 cm ... Althafariz Fayyadh, do'ain Umma," putri bungsu Hariri salim memohon doa dari wanita yang dia sebut ibu sholihah itu untuk putranya.
"Waladun sholih, penyejuk hati orang tua, menjadikan hidupnya penuh kebaikan serta membawa kemuliaan bagi siapapun di sekitar, sesuai namanya ... Maa sya Allah, bagus banget, dari siapa Sayang?"
"Qolbi, Abah dan aku, Buya ngasih nama Fayyadh, sama seperti Abah. Kukira janjian, nyatanya enggak ... jadi kami putuskan pakai nama itu," tutur Aiswa seraya menyeka air matanya.
"Amir nemenin kan? Mir...."
"Iya, Qolbi marah tadi waktu gak diizinkan masuk ... beik, Umma," sahut Amir disela penuturan Aiswa. Tangan kanannya memegang ponsel berhadapan dengan Aiswa, sehingga ia tak leluasa melihat mertua alimnya itu.
"Alhamdulillah, Mir ... Jazakallah ya Nak, kamu bukan hanya sandaran bagi anak Umma tapi juga kami, orang tuanya. Di saat kami harus memilih antara kedua putra putri, kamu menunaikan tugas kami dengan sempurna ... Allah yubarik ya Amirzain," Maryam mengucapkan banyak terimakasih pada menantunya. Anugerah indah bagi keluarga Tazkiya.
"Allah yubarik fiik," lirih Amir membalas doa Sang Nyai.
"Kakak dimana Umma?"
"Sakit, tuh ranjang keduanya deketan. Parah, ngidam apa itu namanya. Satu tumbang, satunya ikutan. Buya dan Papa Hermana ikut gantian jaga karena permintaan mereka itu," Umma terkekeh geli mengingat kejadian kemarin.
Kedua pria berwibawa itu harus rela ketika pasangan senewen karena ngidam meminta hal aneh pada keduanya. Ahmad meminta Buya nyanyi lagu naik delman lengkap dengan boneka kuda. Marsha meminta ayahnya dance ala BTS.
Dua A hanya tertawa menimpali keluhan Umma terhadap apa yang terjadi di sana. Hingga beberapa menit kemudian, panggilan itu berubah menjadi multi call ke tiga wanita, Mama Anggi dan Rosalie.
__ADS_1
Satu jam berlalu begitu cepat.
Brangkar Aiswa didorong suster sebab telah diperkenankan pindah ke kamar perawatan, saat keduanya baru selesai mengabarkan berita bahagia lewat panggilan juga grup pesan.
Abah menyambut kedatangan anaknya, ikut membukakan pintu kamar VVIP yang didalamnya telah dibanjiri hadiah sambutan kelahiran baby, cicit Sang Arya Tumenggung Danarhadi.
"Adek mana Bah?" tanya Amir kala melihat ranjang bayinya kosong.
"Itu, digendong Uyut," sahut Abah.
Buyutnya muncul dari balik tirai ketika ranjang cicit mantunya itu berangsur menempati posisinya.
"Siapa namanya, Mas?" tanya Danarhadi tak melepas pandang dari wajah mungil dalam dekapannya.
"Althafariz Fayyadh ... sudah, diletakkan lagi Yut, berat. Uyut dan Abah pulang saja ya, istirahat," pinta Amir pada kedua sepuh mereka.
"Abah disini, mau kasih hadiah dua juz buat Fayyadh, jelang tahajud. Uyut bentar lagi pulang dengan pak Kusno," ucapnya lagi.
"Curang kamu Sa," keluh Danarhadi seraya menyerahkan bayi tampan itu ke tangan Amir.
"Besok kan Uyut dinas, gak baik tidur disini, masa mau nambah extra bed? bukan hotel Yut," bujuk Abah pada kakeknya itu.
"Gak baik buat tulang belakang, aku telpon dokter Rayyan nih biar di suntik aja dah," ancam Abah lagi.
"Bisanya ngancem aja. Ya sudah, Uyut pulang. Nduk, Mas, Uyut pulang ya. Besok kesini lagi," Danarhadi mendekat pada Aiswa. Mengelus kepala ibu muda itu penuh sayang.
"Hebat Aish, bobok ya, besok mulai perawatan kayak Naya sampai empat puluh hari. Nanti Mban subuh ke sini bantuin kamu juga Fayyadh mandi," pesan Danarhadi seakan tak ingin dibantah. Aiswa hanya tersenyum menanggapi perhatian yang beliau beri.
"Mas, jagain, urusin yang bener. Orang tuanya jauh loh, kamu satu-satunya tempat dia menopang diri," titah Danarhadi kemudian, di Iya kan oleh Amirzain.
Tak lama, ruangan itu kembali sunyi setelah kepulangan Danarhadi. Abah meminta Amir untuk beristirahat karena putranya terlihat lelah.
"Abah yang jagain disini. Itu diluar juga ada orang Uyut dan Mas Panji, jangan kuatir sama Fayyadh. Gih tidur kalian," Abah seakan tahu, Aiswa tidak tenang.
"Fariz atau Fayyadh, Bah?" tanya Amir untuk memanggil putranya.
"Kamu maunya gimana, Mas?"
"Fayyadh juga gak apa, ya Sayang?" ia meminta persetujuan Aiswa.
__ADS_1
"Iya Bii, Fayyadh. Sesuai keinginan kedua Eyang," ucap Aiswa seraya menguap.
Abah mengangguk lalu bangkit pergi ke bathroom didalam kamar, mengambil wudhu bersiap akan mengaji.
Ketika lelaki sepuh itu kembali, ia melihat Amir naik ke ranjang Aiswa, memeluk istrinya itu seakan takut kehilangan.
"Mas, astaghfirullah. Mbok tidur di extra bed itu loh, kan Abah gak tidur. Kasihan Aish kan masih sakit, kamu gimana sih, turun gak!" Abah menarik kaki putranya agar turun dari brangkar.
"Gak mau, enak begini ... Sayang, kamu keganggu sama aku?" Amir makin ketat memeluk istrinya.
"Enggak Bii, aku kangen malah bobok begini dipeluk Qolbi, kemarin kan keganjal perut," Aiswa menahan tawanya.
"Tuh kan, mantu Abah yang mau, bukan aku."
"Nduk, gak sakit?" Abah masih saja khawatir.
"Enggak, hilang sakitnya pas lihat Fayyadh lahir sempurna," jawab Aiswa sembari melihat putra tampan miliknya terlelap di ranjang bayi, tak jauh dari jangkauannya.
"Bilang sama Amir, kalau sakit ya. Beneran gak apa?" Pria sepuh ini kembali meyakinkan dirinya.
"Nggih, gak apa. Syukron Abah, titip Fayyadh dulu ya," pinta Aiswa tersipu malu namun diangguki cepat oleh mertuanya.
"Heh, puasa!" Abah menepuk kaki Amir lagi dengan tangan kanannya saat melihat putranya itu tak henti menciumi wajah Aiswa, meski ayahnya ada dihadapan.
"Iya tahu, Bah. Ish, mulai rese deh Abah ketularan Kakak," sungut Amir kesal.
Lelaki sepuh keturunan ningrat lalu mendorong ranjang Fayyadh ke balik tirai, tubuh senja itu lalu duduk di sofa. Mulai membacakan surat demi surat yang masih ingatannya mampu hafalkan.
"Jadi hafiz ya Sayang, seperti Abi. Jangan macam Eyang, baru sepuluh juz sudah tepar." Pria yang masih terlihat tampan, mengangkat cucunya lalu mendekap dalam pelukan. Ia menciumi bolak balik wajah mungil itu, melantunkan kalam Allah di telinganya.
"Meela, cucu kita, bagai poto kopian Amir, persis wajahmu...."
.
.
...________________________...
...Alhamdulillah selesai.... 🥺🥺🥺...
__ADS_1