DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 203. KATA CINTA


__ADS_3

Ba'da subuh Ahmad membantu Dewiq ganti baju namun istrinya menolak.


"Bear, malu. Aku bisa sendiri ko, pelan dibantu suster," cicit Dewiq.


"Ada aku Sha, masa sama suster sih. Lagian kewajibanku bantuin kamu. Jangan sampai pahalaku di tergadai bahkan di ambil oleh suster. Aku gak mau, ayo," Ahmad mengambil baju pasien yang baru didalam lemari dan menutup tirai.


Kedua mertuanya sempat heran hingga menggoda mereka.


"Mas, Kak, di rumah sakit loh lagian ini masih pagi, ngapain?" Hermana usil.


"Ganti baju Pa, emang mau ngapain?" jawab Dewiq menepis anggapan.


"Ngapa-ngapain juga udah boleh kan Pa? asal tahan telinga aja dan tolong kunci pintunya," sambung Ahmad yang diiringi kekehan Mama Rosalie.


"Puas ya Mas sekarang ... gih, jangan sampai ada yang kelewatan," pancing Rosalie.


"Banget Ma, satpam udah di PHK sekarang. Maaf gak di bekelin pesangon ya Ma," jawabnya lagi sembari berbisik agar Dewiq melepas bajunya.


"Gak mau Bear, aku bisa sendiri," Dewiq masih saja mengelak.


"Sha, hak aku loh," bisik Ahmad membuat pipi Dewiq merona.


Akhirnya dia pasrah, Ahmad membantunya melepaskan baju dan memakaikannya kembali.


Ya Allah, tahan tahan tahan. Hai kamu yang di bawah, sabar ya, ini ujian. Ahmad membatin.


"Sha, nyesel aku maksa kamu," gumam Ahmad.


"Buru Bear," Dewiq sudah tak nyaman, malu dipandangi oleh suaminya.


"Lanjutin dah Sha, aku haus...." Ahmad membuka tirai. Diiringi suara tawa Dewiq.


"Mas, lambai kamera ya. Nyerah," Hermana tertawa lepas.


"Ternyata uji nyali dalam terang itu lebih sulit ya Pa ... jaman aku esde dulu, melihat pemandangan gunung itu menyenangkan. Eh, sekarang juga sih sama hanya saja suka ada yang bergejolak meski bukan demo de-pe-eer," ujarnya disambut tawa kedua mertuanya.


"Ya Tuhan, Ahmad Hariri." Tawa Mama masih saja terdengar.


"Sabar Mas, gak akan kemana ko," imbuh Hermana.


"Sabar ko ... namun tetap saja sih Pa, ada yang sesak meski bukan Asma," balas Ahmad disambut tawa Hermana yang kian puas.

__ADS_1


Setelah sesi semi horor dan panas, dilewati. Ahmad kembali mendekati ranjang istrinya. Menyiapkan makanan lum-at dan berniat menyuapi seperti yang dilakukan mertua laki-laki nya.


"Jangan sampai aku kalah dengan Papa ya sayang," bujuknya saat Dewiq enggan membuka mulut.


"Sha, ibarat sebuah perjalanan, kita sedang memulainya dari sini. Cinta itu bagai jantung yang membutuhkan detak, karena ia berdetak maka menghadirkan sebuah rasa ... salah satunya bahagia. Bahagiaku ketika melihat kamu bahagia, bukan karena aku tapi karena kamu yang juga menginginkan aku bahagia ... ribet banget deh Sha ... padahal aku cuma mau minta kamu aaaaaa doank," Ahmad mengelus dadanya.


Dewiq yang melihat kekonyolan suaminya hanya tertawa. Merasa tak tega, ia pun menurut apa yang Ahmad minta.


"Aku sedang dan akan terus berusaha... mencintai kamu, memberikan semua yang terbaik bukan karena segala kelebihanmu saja namun karena aku mencintai kekuranganmu juga dan akan melakukan hal yang sama" Ahmad mengecup kening Dewiq saat semua makanan dalam pinggan telah berpindah ke lambung wanita yang dia cinta.


"Bear, cinta juga memandang kelemahan namun mengubahnya menjadi suatu kekuatan. Cinta juga tak mengenal materi serta perbedaan tapi perjuangan untuk tetap mempertahankan ... aku gak akan melepaskan genggamanku."


"Jangan berusaha terlalu keras membuktikan diri padaku ya Bear, you did it," senyum Dewiq terbit.


"Aah, ini mah diabetes. Terlalu manis untuk di lupakan...." ujar Ahmad menirukan sebaris bait lagi jadul.


"Mulai gilanya," ucap Rosalie seraya membalikan badan membelakangi mereka karena Hermana Arya sudah meninggalkan kamar perawatan menuju ruang meeting membentuk team dokter khusus bagi keluarganya.


"Jangan lupa Ma, aku gila karena anak Mama. Jadi kalau harus ada yang diobati, yaa Marsha bukan aku," seloroh Ahmad menanggapi sang mertua.


Jam sembilan pagi. Team dokter datang ke kamar perawatan mereka.


Dewiq di ajukan banyak pertanyaan tentang memori. Setelah beberapa menit berselang. Brangkar Putri Mahkota Hermana Arya itu di dorong suster menuju ruangan rontgen dan MRI.


Ahmad setia mendampingi sang istri di dalam ruangan, bahkan ketika Dewiq mengeluh sangat kesakitan pada beberapa bagian tubuh saat dilakukan test. Pria itu dengan sabar menerima segala cakaran, cubitan serta pukulan dari istrinya sebagai pelampiasan rasa sakit yang menghujam tubuh.


"Bear, udah Bear ... gak mau lagi, udah," rengek Dewiq memohon.


"Bu Dokter boleh istirahat ... Ini bisa jadi ibroh Sha ketika kamu menghadapi pasien. Kamu juga harus memikirkan kondisi mental dan fisiknya. Bukan hanya rentetan pengobatan yang di mau tenaga medis ... Ok sayang," bisik Ahmad mencium pucuk kepala Dewiq.


Degh.


"Bear, apa ini hukuman ku?"


"Karma? bukan donk," jawab Ahmad.


"Jadi apa?"


"Ikhtiar bumi, usaha manusia sebagai cara merayu agar Allah deras menurunkan rahmat, kesembuhan bagi siapa yang meyakini," imbuhnya.


"Dosaku banyak, Bear."

__ADS_1


"Allah Maha Pemaaf. Sakit juga penggugur dosa, aku udah cerita kan waktu Dwi? nah sama." Ahmad mengingatkan Dewiq saat ia panik Dwiana kritis.


"Jika dalam asmaul Husna disebut sebagai Al Afuw yang secara sederhana memiliki makna bahwa Allah merupakan Dzat yang mengampuni dosa-dosa hambaNya hingga tidak menyisakan kesalahan sekecil pun ... Dzat Al Afuw juga mengampuni niat jahat yang tidak terwujud ... disambung oleh surat al hajj ayat 60 juga Annisa ayat 149...."


"Makna lebih dalamnya lagi, ini juga untuk mengingatkan diri bahwa Allah menciptakan mahluk dengan sebaik-baiknya, maka kita wajib meneladani sifat ini sebagai acuan hidup sehari-hari ... memaafkan sesama, contohnya," pungkas Ahmad.


"Gitu ya Bear," lirihnya.


"Iya sayang, semangat hijrah dimulai dari sekarang, bersamaku." Mereka saling memeluk erat hingga suster meminta keduanya bersiap untuk test akhir.


...***...


Apartemen Dwiana.


Setelah Dewiq ditemukan kemarin, Dwiana menepi. Bukan tak ingin menjenguk namun ia teringat kakak lelakinya yang mengalami tragedi serupa.


Pagi ini Dwi berniat mengunjungi peristirahatan terakhir sang putra sulung Raharja Arka, Derens Rahardian.


Tak banyak yang tahu tentang kisah ini, bahkan kedua sahabatnya. Bukan tidak ingin membagi namun Dwi adalah sosok tertutup untuk semua hal yang menyangkut keluarganya.


"Bang, aku menempati apart milikmu. Boleh kan? sekalian mengenang bahwa kamu bagian keluarga Raharja ... oh bukan, kamu hanyalah kakakku, meski bukan kakak terbaik karena pernah akan menjual adiknya demi satu ons op-ium," Dwiana memandang sosok tampan terbingkai pigura indah di kamarnya.


"Dwi, akankah kamu bisa keluar dari bayang masa lalu kelam? apakah Rayyan sanggup menerima semua ini nanti?... ck, aku bahkan malu ketika memandang diriku bagian dari keluarga Raharja," ucap Dwi seraya membuka pintu kamar, hendak turun dari apart menuju basement di mana BMW sport merah miliknya berada.


Ting.


Notifikasi pesan, Rayyan.


"Assalamu'alaikum." Dwi hanya membaca pesannya.


"Tlah lama kita tidak bertemu, tak pernah ku dengar cerita tentangmu ... apa kabar kamu, sayang?"


"Apa kabar kamu, sayang...." Rayyan mengirimkan tiga pesan yang sukses membuat Dwiana tersenyum.


"Alien, ada aja idenya ... lagu siapa ya ini, pernah dengar...."


Dwiana menaiki lift turun masih dengan senyum menghiasi wajahnya.


.


.

__ADS_1


...___________________________...


...😌😌😌 ambyar...


__ADS_2