DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 209. NEW DAY


__ADS_3

Hari menjelang pagi, saat Dwiana memarkirkan Spider Pista putih itu di sekitar Orchid, Cibubur.


Ia mengejar Mahendra, ingin membicarakan sesuatu yang penting bagi keselamatan dirinya, Renata juga Raiden.


Karena ia hanya punya ponsel jadul dan tak ingin diketahui posisinya nanti. Ia rela tak tidur semalaman demi agar semua rencananya berhasil.


Mobil yang ditunggu pun tiba, melintas di depannya. Dwi mengikuti dari belakang, memberikan kode lampu agar driver mengetahui bahwa dia mengikutinya.


"Bos, di belakang ada yang mengikuti kita, berhenti atau gimana? dia kasih kode," ujar Rey.


"Lanjutkan hingga kantor," balas Mahen.


Exona Landscape and Building.


Camry mewah milik Mahen memasuki basement disusul Dwi. Saat kedua mobil telah terparkir, Dwiana bergegas turun meski Rey menghalangi.


"Dwi?" Mahen terkejut.


"Pagi Mas, maaf aku nekad. Ingin bicara, ada waktu, Mas?" tanya Dwi.


"Naiklah, kita bicara di ruangan ku ... kau belum tidur Dwi? kusut sekali, sudah makan?" sambung Mahen yang di respon gelengan kepala oleh Dwi.


"Rey," ia beralih pada Rey.


"Baik, Bos." Rey meminta pada OB yang ia temui agar membawakan makanan dan minuman, ke ruangan Mahen.


Ceklak.


"Masuk Dwi, duduklah. Kita bicara setelah kamu makan. Aku memeriksa pekerjaanku dulu," ujar Mahen.


"Thanks Mas," balas Dwi duduk di sofa panjang.


Whuah, mewah, wangi parfum wanita. Banyak foto Naya disini, juga aksesoris warna orens, mungkin warna favorit istrinya. Bucin banget ternyata ya.


Dwiana lebih segar setelah sarapan, Mahen pun memulai pembicaraan.


Gadis itu menceritakan niatannya ingin menyewa dua orang bodyguard untuk dirinya serta menjual mobil sport yang ada di basemen, tujuannya agar dia memiliki uang membeli mobil suv biasa saja dan sisanya sebagai pembayaran bodyguard serta renovasi usaha miliknya.


Tak lupa Dwi juga meminta agar Mahendra melindungi dan merahasiakan ini dari siapapun. Setelah menyampaikan detail rencana pada Mahen, tak lama, Dwi pamit meninggalkan mobil itu disana agar di urus Mahen.


"Karena kamu menyelamatkan Dokter buyut Kusuma, maka jasa satu bodyguard free. Aku akan membantu menjualkan mobil itu, uang penjualannya akan segera aku transfer ya Dwi atau kirim by kurir nanti apabila kamu tak ingin aku mengetahui keberadaanmu ... apapun yang akan kau lakukan, hati-hati lah, kerjakan semua tulus dan lekaslah bangkit kembali," pesan Mahen sebelum ia pergi.

__ADS_1


"Aku merasa, Naya seperti ku dan Mas Mahen pasti paham. Aku nyaman bercerita dengan Anda, maaf bila sudah mengganggu di waktu pagi begini," tutur Dwi seraya bangkit, membungkukkan badan lalu keluar ruangan.


"Sure, Dwi. Kamu bagai Naya dalam versi berbeda, sama-sama pernah punya luka masa lalu ... semangat berubah lebih baik, semoga pria mu nanti bisa memahami gejala PTSD yang kau alami dan kamu release dengan tuntas," gumam Mahen setelah Dwiana pergi.


...***...


Satu pekan kemudian.


Baik Dewiq, Aiswa dan Rayyan kelimpungan mencari kemana Dwiana. Bahkan Ulfara tak mampu melacak jejak anak itu.


Dewiq meninggalkan Indonesia kembali ke London setelah bersitegang dengan suaminya. Ia belum pulih benar namun memaksa pergi sedangkan Ahmad bersikukuh meminta Dewiq tinggal.


Selain belum menghabiskan waktu intens sebagai pengantin baru, Ahmad juga khawatir terhadap kondisinya. Sang istri tetap nekad meminta kembali agar tugas CoAss nya tak di undur akibat terlalu lama cuti.


Mereka akhirnya berpisah jalur, Ahmad merelakan Dewiq kembali begitu saja. Keduanya sama terluka, namun gengsi mengalahkan segalanya.


Mama dan Umma tak dapat berbuat banyak. Karena sudah bukan ranah keduanya ikut campur hubungan rumah tangga sang anak.


Amir dan Aiswa pun tidak dapat membujuk keduanya yang teguh dengan keputusan masing-masing.


...*...


Pagi ini Amir memiliki janji dengan Rayyan untuk menemaninya saat mengunjungi kantor Raharja Arka, RA Company.


Tok. Tok.


"Silakan, Tuan Amirzain dan Dokter Rayyan Ar-rasyid," ucap Regard membuka pintu ruangan.


"Selamat pagi, Dokter dan Tuan Amirzain, silakan duduk," sapa Raharja ramah.


Rayyan menyampaikan niatannya untuk mendekati Dwiana Rose putri sang pimpinan. Namun justru kabar mengejutkan ia dapatkan dari mulut sang ayah langsung.


"Dokter, Rose bukan lagi putriku sejak satu pekan lalu. Ia melepaskan semuanya dan kini entah, aku tak berniat mencarinya. Anak nakal itu berkali mengecewakan dan membuat malu," ucapnya menampilkan semburat kemarahan di wajah senjanya.


"Innalillahi," lirih Amir, pantas hari itu dia ke Tazkiya, mendekap Aiswa dan Umma erat. Ternyata itu hari perpisahan.


Rayyan menanyakan alasannya, namun justru membuat Raharja naik pitam.


"Dokter, jangan kurang ajar!"


"Aku tidak bermaksud demikian ... berikan aku izin untuk mencari Dwiana dan menyembuhkan luka yang sudah lama menganga. Aku menghadap dengan hormat pada Anda, meminta Dwiana rose untuk menjadi istriku dan sebagai tanda keseriusan, Mama serta keluarga besar akan berkunjung secara resmi ke kediaman Raharja," tegas Rayyan.

__ADS_1


"Bawa dulu anak nakal itu kembali," balas Raharja.


"Jaminanku?" imbuh Rayyan.


"Keinginan Rose, akan aku kabulkan. Itu jaminan dariku ... sampaikan padanya, Lilyana sakit. Aku sudah mengerahkan semua anak buahku untuk mencarinya, namun nihil."


"Kami tadinya akan bercerai, setelah kepergian Dwi. Istriku stres berat, selama ini ku kira dia masa bodoh namun ternyata upaya yang dirinya lakukan untuk mencari Rose, tak berbuah hasil. Dia juga frustasi," akhirnya Raharja mengakui kesalahan didepan Amir dan Rayyan.


Setelah pembicaraan panjang, Rayyan tak putus membujuk sang calon ayah mertua. Menceritakan apa yang tak sengaja ia ketahui dari mulut Dwiana langsung. Nampaknya Raharja Arka pun tak mengenal keluarganya dengan baik.


Pantas saja, Dwi begitu, lukanya cukup dalam. Batin Amir.


Post traumatis stres disorder, gangguan depresi mayor. Ya Allah Dwi, kamu gak menderita bipolar atau melakukan percobaan bu-nuh diri saja, aku sangat bersyukur. Bismillah, aku akan mencarimu, Rose..... Tekad Rayyan


...***...


Hari pertama tinggal dengan Renata dan Raiden.


Dwi sangat bahagia, tinggal di rumah sederhana dalam komplek yang lumayan nyaman untuk sebuah hunian. Renata menghujaninya dengan kelembutan dan kasih sayang layaknya seorang Ibu.


Rumah type 60 dengan halaman di depan dan belakang, Renata tata dengan berbagai jenis tanaman sehingga sangat asri dan teduh saat Raiden bermain disana.


"Dia lahir sebelum Abang pergi kah?"


"Benar, ku kira Derens orang yang cuek namun ternyata dia sangat manja ... kami menikah di rumah pamanku, karena Ibu dan Abangku pun ikut tinggal dengan Paman di rumah warisan Nenek ... aku mengenal Mas Derens di cafe dekat kampus saat aku masih kuliah dulu, dan semua terjadi begitu saja." Renata menerawang mengingat kepingan memori indahnya bersama Derens.


"Aku di ajak jadi asisten mama kamu agar lebih sering berjumpa, setelah dua bulan Raiden lahir. Lalu bulan depannya, tragedi itu terjadi. Aku kehilangan dia," ungkapnya lagi.


"Kakak punya aku sekarang, jangan sedih lagi. "


"Kamu juga harus release Rose, pelan-pelan ya. Aku bantu," ujar Renata memeluk adik iparnya itu.


"In sya Allah ... selama aku kerja, menata cafe dan dojo. Kakak di rumah saja jaga Raiden. Serahkan semua padaku," tegas Dwi tak ingin keluarga amanah sang kakak terancam bahaya.


"Iya Rose, terimakasih. Aku akan membantu memantau cafe dari rumah seperti yang selama ini aku lakukan, semangat ya untuk kita," imbuh wanita cantik ini.


...***...


"Mir, please angkat donk. Aku ingin ketemu...."


.

__ADS_1


.


...__________________________...


__ADS_2