
"Aku tahu kamu tulus, Bear. Hanya saja, aku...."
"Aku paham maksud kamu, Sha. Hati melihat apa yang tidak terlihat oleh mata ... saat aku melihatmu, masa depanku juga terlihat, udah itu aja."
Ahmad menarik Dewiq dalam pelukan.
"Besok kita jalan. Aku udah siapin semuanya tadi," bisik Ahmad ketika ia mulai nyaman.
"Kemana, Bear?"
"Rotterdam dan Helsinki, Sha."
Dewiq bangkit. Menatap suaminya tak percaya.
"Sha, kenapa?"
Bukannya mendapatkan jawaban, Dewiq malah memeluk suaminya begitu saja.
"Itu keinginan aku. Kamu yakin Bear, tidak mencari tahu tentang aku?"
"Alhamdulillah, enggak ... aku baru pesan paket honeymoon siang tadi, Sayang. Besok aku tunjukkan tiket kita, sekarang tidur dulu. Lelah, Sha."
Malam kedua berangsur menghangat setelah pemanasan lokal yang terjadi di antara mereka satu jam lalu.
...***...
Sudah satu bulan sejak Rayyan menghadap Raharja, ia belum menemui titik terang di mana Dwi berada.
Sahabat sejawat saat Dwi di rawat di klinik Aussie lalu, Andre pun membantu mencarinya di sana, namun hasilnya nihil.
Siang ini, dia tengah berkirim pesan pada Andre, lelaki muda itu mengatakan bahwa orang suruhannya menemukan berita bahwa Dwiana telah mengajukan kuliah online sejak satu bulan lalu.
Apartemen miliknya pun terkunci dan semua barang di dalamnya telah di rapikan oleh pengurus gedung sesuai permintaan keluarga.
"Begitu ya?"
"Kau bilang bukan pacarmu," protes Andre.
"Bukan pacar tapi calon istri," jawab Rayyan.
"Pantesan sebegitu khawatir. Oh iya, aku juga akan selesai tugas dua bulan lagi Ray. Dan bakal balik Indo kayaknya. Aku apply ke beberapa hospital di Jakarta atau Bandung," ungkap Andre.
"Jakarta saja, biar kita dekat. Kabari lagi jika ada informasi baru tentang Dwiana, Dre," pinta Rayyan.
"Sure. Doaku buat kalian. Oh ya, Ray, Dwiana punya typus loh. Ini yang harus kamu jaga ... ah, kamu paham lah gimana." Andre mengingatkan Rayyan.
"Makanya aku khawatir. Thanks ya Dre," Rayyan mengakhiri chat dengan kawan satu profesinya.
__ADS_1
Ting. Notifikasi pesan masuk.
"Mama Minta jemput di cafe? triple R? tumben," celetuk Rayyan menanggapi pesan sang Mama.
Rayyan memutuskan menelpon sang bunda.
"Dimana, Ma?"
"Cipayung? jauh amat ... 30 kilo dari sini, ngapain Mama ke sana?"
"Oh baik, baik, Nyonya Rini Atmaja. Pangeran akan menjemput Bunda Ratu di sana." Rayyan mengakhiri panggilan saat suster menemui di kantornya bahwa ada keluarga pasien ingin bertemu dengannya saat visit sebentar lagi.
Menjelang petang.
Dokter Muda spesialis syaraf itu menuruni basement, menekan remote mobil miliknya. Honda Civic Blue metalik kemudian meluncur meninggalkan RSPP menuju kawasan Cipayung, Jakarta Timur.
Hampir dua jam perjalanan telah Rayyan tempuh, jarak yang panjang serta beberapa kali terjebak kemacetan, juga karena ia berhenti untuk sholat maghrib. Membuatnya tiba di lokasi menjelang cafe tutup.
Pria muda dengan out fit casual serba coklat, memasuki cafe, mencari keberadaan sang Mama.
"Moms," panggil Rayyan saat melihat tas tangan yang tak asing baginya.
"Ray, sini. Ko lama banget sih," Mama melambaikan tangan seraya melayangkan protes pada putra semata wayangnya.
"So sorry, macet. Lagian main ko jauh-jauh. Yang ngajak gak tanggungjawab pula," sungut Rayyan.
"Halo, Aku Rayyan. Maaf jika beliau merepotkan," ucap Rayyan.
"Sama sekali tidak. Senang jumpa dengan Anda berdua. Aku pamit...." ujar Renata hendak bangkit namun urung saat Mama Rayyan bicara kembali padanya.
"Mba Renata bilang, nama cafenya dibentuk dari nama tiga orang loh Ray. Ini cafe recircle dari sebelumnya yang terkenal dengan julukan Dewa Petir, karena minuman sodanya ya, Mba?" ungkap Mama.
"Oh, trending. Makanya emak-emak sosialita pengen eksis ... tapi nuansanya emang cozy ya, cocok untuk hangout atau kongkow keluarga. Konsepnya keren," ujar Rayyan.
"Adikku yang punya ide. Hampir semua di rombak dan akhirnya menjelma suasana baru ... di sudut sana, dia biasanya main akustik saat weekend ... Dewa petir itu arti nama anakku, Raiden, karena kami dulu kesulitan mencari nama usaha yang menarik," puji Renata untuk Dwi sekaligus mengenang masa awal merintis usaha ini.
"Adiknya keren plus cakep ya, jadi pasti weekend full nih," seloroh Rayyan.
"Adikku perempuan, tomboy dan cuek. Kapan-kapan, boleh berkunjung saat weekend. Aku undang Anda berdua, private...." sahut Renata.
"Ma, haus. Boleh minum dulu gak?" bisik Rayyan.
"Sure. Sebentar aku minta waiter buatkan minum ya Pak Rayyan," imbuh Rena memanggil salah satu karyawannya.
"Rayyan saja."
Beberapa menit selanjutnya. Saat semua karyawan akan briefing. Renata pamit.
__ADS_1
"Maaf aku tinggal. Tak apa disini dahulu, aku sekalian menunggu adikku jemput. Kebetulan dia juga terlambat karena dojo penuh malam ini," sambungnya sebelum meninggalkan mereka dan bergabung dengan semua karyawan.
"Alhamdulillah, done. Triple R, melesat jaya, Go Go Go, kita bisa."
Rayyan dan Mama mendengar penutupan briefing karyawan. Ekslusif bagi mereka karena sang owner kebetulan ada di sana malam ini.
Renata menyilakan tamu terakhirnya keluar cafe saat dia akan menarik rolling dor dibantu salah satu satpam.
Tak lama, Rayyan melajukan mobilnya menuju pintu keluar, bertepatan dengan Toyota Rush silver yang datang dari arah pintu masuk deretan ruko cafe mereka.
"Rose, macet ya? Raiden bobok?" tanya Renata saat membuka pintu kiri bagian depan, tepat ketika Dwiana memarkirkan mobilnya di depan pintu cafe.
"Tidur Mba, tuh, di Car Seat. Maaf lama ya, yang daftar wushu makin banyak aja. Aku gak salah promo berarti ya Mba ... menyasar anak usia sekolah, karena negeri kita sedang darurat pele-cehan sek-ual terhadap anak," tutur Dwi.
"Kamu, memang punya jiwa bisnis, Dek." Renata mengusap kepala Dwi.
"Besok jadi pergi konseling dengan kawanmu?"
"Jadi Mba, Kak Naya bilang aku jemput beliau jam sembilan pagi karena appointment pukul setengah sepuluh ... oh ya, Raiden sudah makan dan sholat isya, di Dojo," imbuhnya.
"Terimakasih Tuhan, Engkau berikan seorang Dwiana Rose sebagai pengganti sosok tegas suamiku," lirih Renata memandang gadis di sampingnya.
"Rose, aku dan Raiden, sayang kamu," Renata memeluk lengan kiri Dwiana.
"Aku pun. Do'akan aku sembuh ya, Mba."
"In sya Allah," Renata mengamini setiap doa dari bibir Dwiana.
...***...
Mama Rini masih membicarakan kenapa ia sampai tiba di sana.
"Makanannya enak dan terjangkau, rame banget pas jam makan siang dan balik kantor tadi, hampir full dan kata karyawannya setiap hari begitu."
"Kamu gak ada kepikiran bikin usaha sampingan gitu Ray? di sana bagus karena dekat perkantoran, perumahan elite juga kampus, rumah sakit dan kostan ... terus banyak voucher. Coba deh pikirkan, tehnik marketing nya ok punya. Cafe banyak di Jakarta, tapi konsep kayak dia itu unik.... "
Rayyan diam mendengarkan. Memang interiornya cantik dan maskulin. Suasananya juga, menu, tempat ibadah, wifi dan cozy ala rumah. Modern ada, tradisional juga feelnya dapat.
"Nanti coba aku cari ulasannya ya Moms, setelah itu kita putuskan ... cafe banyak sih, gak cuma disana aja," imbuh Rayyan.
"Mama mau suplai teh rencananya ke sana, serta produk olahan perkebunan kita. Gimana?"
"Hmmmm...."
.
.
__ADS_1
..._____________________________...