DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 147. PENJELASAN AHMAD


__ADS_3

"Aku ... bismillah, semoga ini menjadi jalan penebusan dosaku agar hatiku tenang menjalani hidup ke depan."


"Saat kalian datang menjengukku ... menjelang sore kau ku izinkan menemui Aiswa yang sedang menangis kala itu bukan? setelah hari itu baik kamu maupun Aiswa kerap menanyakan kabar yang sama padaku ... sejauh ini, hanya Umma yang tahu."


"Hingga saat kamu memintaku untuk menyampaikan khitbah bagi Aiswa ke Buya ... disaat yang sama Hasbi pun curhat padaku tentang kekecewaannya padamu sebab tak membantuya saat dia berjuang mendapatkan cinta Naya dulu, adikmu."


"Hasbi mulai membencimu meskipun aku mengatakan bahwa mungkin Naya telah lebih dulu di khitbah oleh pria lain sebelum dirinya, namun dia tak menerima berbagai saran dari ku ... hingga suatu malam, dia mengetahui dari Naya jika kamu telah mengutarakan niat untuk mengkhitbah Aiswa ... adikmu meminta pertolongan pada Hasbi agar aku menyampaikan lamaranmu pada Buya."


"Aku lupa menyampaikan amanahmu Mir, sungguh ... karena saat itu tour travel Buya kolaps, dana haji dan umroh digelapkan salah satu admin kami namun aku menutupinya dari Buya."


"Kau tahu bukan? Buya menginginkan anaknya selalu sempurna, begitupun aku ... ingin dipandang oleh Buya, apalagi saat aku kembali dari Mekkah, Buya langsung memberikan tanggung jawab mengelola bisnis diluar pesantren."


"Dalam kekalutan dibayangi oleh hujatan dan cacian para jama'ah ... ditambah nama baik Buya dipertaruhkan, aku menerima tawaran Hasbi yang akan meminjamkan dana nya untuk menutupi kasus ini ... awalnya ku kira dia tulus tanpa maksud tersembunyi namun setelah aku menandatangani perjanjian kerjasama barulah dia mengatakan keinginannya yang terselubung."


"Aku sudah melamar Aiswa pada Buya langsung ... kau wajib mendukungku ... bukankah kau belum menyampaikan amanah Amir pada Buya?" Ahmad menjelaskan perkataan Hasbi kala itu.


"Saat itu, barulah aku menyadari kekhilafan fatal yang aku perbuat padamu ... namun aku tidak punya pilihan, dia mencuri start dari ku sebab pernyataan adikmu Naya tentang rasa sukamu pada Aiswa."


"Aku tak pernah berkirim pesan lagi padamu, aku malu Mir."


"Loh, kamu mengirimkan pesan padaku ko, mengatakan bahwa jangan menanyakan Aiswa lagi karena Hasbi telah resmi melamarnya dan akan melanjutkan ke tahap berikutnya juga dua foto yang menunjukkan tanda ikatan khitbahnya."


"Wallahi, aku ga kirim apapun ... apakah dia? karena ponselku pernah di pinjamnya, saat dia bilang handphone miliknya tiba-tiba hang dan dia mengatakan akan menghubungi sekretariat mengenai keterlambatannya untuk datang mengajar siang nanti."


"Jadi Hasbi yang mengirimkan itu?" tanya Amir memastikan.


"Jujur aku ga berkirim pesan padamu, aku memberanikan diri menelepon mu saat Aiswa mulai sakit-sakitan, kau bilang istrimu sedang tidur dalam pelukan ... ya Allah, rasanya aku gimana gitu ... istri, duh...." Ahmad mengelus dada sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


Amir tertawa mendengar keluhan Ahmad. Tawanya pertama kali untuk sang sahabat sejak ia putus komunikasi beberapa tahun lalu akibat kesalahpahaman.


"Ya gimana kan masih baru waktu itu, habis itu pula," tawanya lepas diikuti Ahmad.


"Kamu bikin iri aja ... dapat istri cantik macam Aruni, maaf ya Mir aku ga datang ... ku bilang terlalu malu ketemu kamu," sesalnya lagi.


"Syukron ya akhi, jika aku tahu masalahmu yang sebenarnya saat itu maka aku pun tak akan membencimu walau sesaat ... nama baik Buya lebih penting daripada perasaanku ... dan aku yakin Aiswa juga akan mengerti, sayangnya kamu tidak pernah menjelaskan pada kami hingga sakit hadir menyiksa selama rentang waktu meski di ujung kisah membawaku kembali ke sini...."


" ... aku tidak menyalahkanmu Ahmad, justru berterimakasih telah menjaga asset dan nama baik pesantren terlebih Buya ... hanya saja Hasbi menyisipi niatan baikmu ... Naya sudah dilamar Mahendra dua kali namun terkendala ayah beliau operasi saat akan lamaran resmi sehingga tertunda ... aku ga mungkin menumpangi khitbah Mahendra bukan?" ungkap Amir.


"Nah kan betul prasangkaku, kamu orang yang amanah ga mungkin berlaku dzolim eh malah didzolimi olehku," sesal Ahmad lagi.


"Sudah berlalu ... begini ya akhi, hutangmu pada Hasbi masih banyak?"


"Masih sekitar 40% Mir, sekitar 400 juta lagi ... dan aku belum mampu mengembalikannya meski waktu nya masih enam bulan lagi."


"Maksudnya?" tanya Ahmad bingung.


"Aku akan memberimu 400 juta, kembalikan pada Hasbi ... putuskan kontrak dengannya ... aku akan membayar wanprestasi jika dia minta, yang penting kamu lepas dari nya ... nah semua dana yang aku keluarkan akan dihitung sebagai MoU kerjasama pembagian hak investasi, anggap saja aku tanam modal di usahamu, dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan ... karena sama-sama mengeluarkan modal, maka kepemilikan tour and travel terbagi dua dihitung dari cash flow dan modal yang masuk ... ini lebih jelasnya dengan lawyer nanti ... gimana?" Amir menawarkan opsi pada Ahmad agar terbebas dari intimidasi Hasbi.


"Tapi itu masih milik Buya Mir, gimana?"


"Atau gini, kamu wajib mengembalikan dana yang aku keluarkan dalam waktu dua tahun atau sesuai kemampuan usahamu dilihat dari laporan keuangannya, sekalian audit agar perusahaan mu sehat...."


"Nah, ini lebih baik ... kamu memang cerdas dan solutif dari dulu, aku yang salah jalan."


"Sekarang hubungi Hasbi, atau lawyernya saja bahwa kamu ingin mengakhiri kerjasama dengannya, kita lihat maunya dia bagaimana...."

__ADS_1


"Allah yubarik, jazakallah kheir ya akhi," Ahmad menundukkan kepalanya, malu bahwa dirinya telah berbuat dzolim namun sahabat sekaligus adik iparnya ini sedikitpun tak menaruh dendam padanya.


"Masa lalu, sudah jangan disesali, lepaskan saja toh aku dan Aiswa kini telah kembali bersama kan? yah meski anu...." selorohnya.


"Syukron jiddan Mir ... titip Aish ya, dia masih manja dan terkadang belum mampu mengontrol emosi dengan baik, aku yakin kamu bisa membawa adikku bahagia dunia akhirat," ujarnya.


"Do'akan kami yaa, jangan sungkan untuk selalu ingatkan aku jika mulai keras menegur adikmu ... titip Aiswa jika dia lebih nyaman bercerita padamu dan kembalikan padaku agar kita berdua bisa menemukan solusi terbaik untuk kebahagiaannya," Amir menghampiri Ahmad yang duduk di sisi ranjang lalu menepuk lengannya pelan.


"Nyusul lekas Bro, jangan banyak milih," tegurnya pada Ahmad yang seakan menutup diri dari wanita.


"Nanti, belum ada yang sreg dihati sejak pandangan pertama ... aku pengen kayak kamu, yakin dengan Aruni dan Aiswa sejak awal...."


"Tahu darimana tentang Aruni?"


"Abah, beliau cerita saat aku sowan ke Menteng atas, ketemu Abah disana dan ngobrol banyak...."


"Semoga didekatkan oleh Allah jodoh yang baik ya kakak iparku," Amir mendoakan Ahmad dengan senyuman penuh arti.


"Rasanya aneh ya Mir, kamu jadi adik iparku," tawa keduanya mulai akrab seperti dulu.


Amir kemudian keluar dari kamar Ahmad dibarengi dirinya yang akan pergi ke kantor lawyer Hasbi membahas perjanjian kerjasama.


Alhamdulillah ... aku akan menjual dua dari hadiah perhiasan yang ku berikan untuk Aruni, karena tak mungkin diberikan pada Aiswa ... setengahnya lagi dari tabunganku agar masalah ini selesai ... tugas selanjutnya menyatukan kembali kehangatan keluarga ini yang sempat pudar.


.


.

__ADS_1


...___________________...


__ADS_2