DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 228. SEBUAH MISI PENEGASAN


__ADS_3

Triple R.


Mahen mengantar Dwiana ke cafe. Sebab mobil milik Dwi di bawa oleh Rey.


Pria tegas itu mengatakan pada Renata agar dia menikah, jika hak asuh Raiden tak ingin jatuh pada Raharja. Karena bagaimanapun posisi single parent kalah kuat secara materi jika dibandingkan dengan mertuanya itu. Belum lagi jika di tinjau dari segi lainnya.


Renata bingung, namun Andre yang ada di sana mengatakan hal yang membuat semua personel di meja itu melihat ke arahnya.


"Menikahlah denganku, Rena. Ini bukan untuk sekedar menyelamatkan status Raiden, namun agar aku dapat melindungi kalian."


Mahen hanya tersenyum melihat kegigihan Andre.


"Honey, mangsamu, ambilah," bisik Mahen pelan di telinga Naya, ia pun di hadiahi sikutan dari lengan sang istri.


Renata hanya diam, nampak menimbang.


"Bukan masalah sepele, harus ada prosesi dahulu bukan? lagipula aku belum mengenal Anda dengan benar, Pak Andre," jawab Rena.


"Ta'aruf saja, minta Abuya Hariri mendampingi kalian. Yang penting niatnya sudah ada dan segera lakukan khitbah, Dokter Andre ... jadi Renata terikat oleh Anda, tinggal penentuan tanggal akad saja sembari menanti masa ta'aruf usai atau jika memang telah mantap sesuai arahan Abuya ya kan tinggal di gelar," saran Mahen.


"Bukan khitbah dulu ya, Mas?"


"Khitbah itu melamar, berarti sudah di tentukan tanggal kapan akan akad. Sedangkan ta'aruf adalah perkenalan, jika cocok dan ingin lanjut maka dianjurkan khitbah...."


"Dwi, gimana denganmu?" tanya Mahendra.


Gadis itu masih diam, dia kembali shock.


"Eh, aku? setuju saja dengan Mba jika untuk kebaikan Raiden," sahut Dwi


"Rayyan bukan Raiden. Gimana?" tanya Naya.


"Entahlah, Kak. Aku lelah," Dwi bangkit meninggalkan mereka menuju pintu karyawan.


"Biar aku yang bicara padanya nanti," ujar Renata.


Kesepakatan sore itu melahirkan satu solusi. Andre akan menghadap Yai Hariri juga keluarga Renata, lusa nanti.


Pasangan beda jarak usia itu pun akhirnya pamit setelah mengukuhkan rencana lusa nanti.


Dalam perjalanan pulang, dalam mobil Mahendra.


"Abang, lusa itu sibuk banget ya kita. Dewiq pulang, syukuran. Kak Amir dan Aiswa gak datang jadi kita kurang personel dukungan. Kita ke Renata atau gimana? belum lagi Rayyan minta janji temu kan...."


"Kita bagi tugas," ujar Mahen.


"Aku punya rencana untuk Rayyan, Abang dengarkan aku." Sorot mata istri kecil petinggi Exona itu berbinar menyampaikan ide yang muncul di kepalanya.


"Ok, aku bantu apa?"


"Mijitin aku aja, cape banget pasti nih. Kepalaku mau pecah. Abang, notes ada kan?" ujar Naya ingin menyalurkan ide.


"Buka Dashboard, Sayang ... gak usah di minta jika itu ... mulai hubungi semuanya malam nanti, esok pagi kita briefing dengan Rayyan sekaligus Andre. Aku mengundurkan diri dari Exona awal bulan depan, semoga di setujui Om Galuh," imbuh Mahen.


"Serius? gak pehape lagi kan?"


"Jimsey Exona alias Galuh Baratayuda, mood nya kayak kamu, persis Uyut juga. Naik turun, yah namanya juga usaha. Aku ingin fokus di kebun juga kamu dan Maira. Ini kan impian aku dulu, masih inget gak Ainnaya?"


"Ingat donk. Aku jadi punya banyak waktu sama Abang, gak sabar rasanya kita jalankan Queeny, Quennaya juga kebun, sama-sama. Abang nganterin aku kemana-mana, wuih impian aku banget bisa manja begitu," Naya sumringah.


"Maaf ya baby, jika waktuku kurang buatmu dan Maira."


C-up.


"Naya, kamu tuh ya. Aku belok ke hotel nih," ucap Mahen terkejut istri mungilnya itu memberikan kecupan singkat saat dirinya tengah berkonsentrasi melihat jalanan.


Yang di tegur justru tersenyum manis seraya menulis pada catatan atas ide yang akan dia gunakan dalam dua acara pria sahabat mereka lusa nanti.


...***...


Lusa.


Pagi ini Tazkiya kedatangan keluarga Hermana yang menitipkan Dewiq tinggal di lingkup pesantren sejak hari ini.

__ADS_1


Umma sumringah sepanjang hari meskipun keluarga sang besan telah pulang beberapa jam lalu. Dewiq sangat diperhatikan olehnya, sebagai pengganti Aiswa. Umma memanjakan istri anak sulungnya itu.


"Gak usah ikut Ahmad lamaran nemenin Dokter Rayyan sore nanti ya Sha, temani Umma disini," pinta umma pada Dewiq.


Ia memilih ikut memanggil Dewiq dengan Marsha seperti Ahmad. Karena selain memang mungil, dia juga kerap bicara cepat, bertanya detail, persis tokoh kartun Marsha.


"Iya, aku juga masih lelah Umma, Mas Ahmad pergi bareng Mahen katanya ya," balas Dewiq.


"Iya. Buya ke lamaran Dokter Andre di jam yang sama dengan Naya dan EO nya. Kita doain aja dari sini."


Umma mengusap punggung menantunya yang tengah berbaring. Ada rasa iba menelisik hati Umma. Ketiganya pernah punya luka, dan kini Dwiana tengah gigih berjuang agar ia juga dapat meraih bahagia untuk hidup barunya.


"Dwi, Umma doain dari sini ya, Nak. Dwi berhak bahagia. Menantuku sudah lebih baik, Aiswa apalagi. Amir sangat telaten menjaga anakku, ya Allah nikmat punya menantu dia itu. Tegasnya Amir itu tetap lembut sehingga Aish juga nurut senurut-nurutnya ... Ajaib memang sosok Amirzain bagi Aiswa putriku," lirih Umma.


"Bear juga sabar ngadepin aku, Umma. Ngalah mulu, jadinya aku suka merasa bersalah dan ujungnya ngikutin dia," gumam Dewiq masih menyahuti Umma.


"Cara Ahmad kadang persis Buya meski baik, di perhatikan ya, Sha."


Umma membelai kepala Dewiq sayang, mengecup keningnya sebelum meninggalkan wanita muda yang mulai masuk ke alam mimpi sendiri.


...***...


Malam hari.


Ketiga gadis tengah terkoneksi panggilan video call dari laptop masing-masing. Aiswa ditemani Amir yang masih setia mengusap perut buncitnya. Bermain dengan calon bayi mereka.


"Kuis nih kuis," seru Aiswa.


"Yoh, kuis. Dwi, Dokter Rayyan gak tepati janji kah?" pancing Dewiq melihat Dwi murung.


"Entahlah. Dia aja gak hubungin aku sejak insiden dua hari lalu. Padahal dia yang bilang, aku harus ini dan itu. Aku ikuti maunya dia, eh dianya begitu," sungut Dwi.


"Ciyeee, mulai nih mulai," goda Aiswa.


"Mana kuisnya, Aish?"


"Ok kuis, untuk Dwi. Siapa lelaki yang pernah hadir dalam mimpi?" tanya Aiswa.


"Qolbi, donk ... always Qolbi, hayo mau protes apa, Kak? eh gue dosa donk ya, Qolbi bukan suamiku dulu," Aish tergelak, Amir yang mendengar percakapan mereka pun hanya tersenyum melihat Aiswa justru sangat antusias ikut andil dalam ide yang Naya rencanakan.


"Misi kamu berat amat ya Rohi," bisiknya. Dibalas Aiswa dengan gerakan tutup mulut.


"Dwi jawab," tegur Aiswa.


"Alien, gak ada selain dia."


"Ngaku nih yeeeee, lelah tau gak sih, pura-pura mulu, Dwi," sahut Dewiq.


"Kak?"


"Bear, dia cinta pertama gue," jawab Dewiq lugas.


"Lagi ya lagi, apa yang kamu inginkan dari laki?" tanya Dewiq


"Eh bukan kuis ini namanya," protes Dwi


"Lah, dia baru sadar," Aiswa dan Dewiq tertawa atas kepolosan Dwiana.


"Aish?"


"Kek Qolbi lah, semua sempurna. Fix no debat," balas Aiswa cepat.


"Dwi?"


"Kek dia, tenang juga gak pernah maksa. Cuek tapi care."


"Siape, jeng?" desak Dewiq pada Dwi.


"Sean?"


"Regard?"


"Andre?" Dewiq menyebut semua pria yang dekat dengan Dwi, selama ia mengenalnya.

__ADS_1


"Ck, Regard sekertaris Papa ... Andre, itu calon ipar gue, Sean? gak tau gimana kabar dia sejak gue balik sini kita lost contact," tutur Dwi panjang.


"Siapa? Rayyan?" tebak Aiswa.


"Siapa lagi, cuma dia yang care sejauh ini," gumam Dwi, saking lirihnya Aiswa dan Dewiq sampai menaikkan volume mereka.


"Jadi? kesimpulannya?"


"Aku hanya belum yakin dengan hatiku," ujar Dwi lagi.


"Bukan Dwi, kamu perlu bukti tapi kamu juga takut mencoba hubungan, kan kan," tebak Aiswa.


"Semua mengarah ke Rayyan, hatimu condong padanya ... oh Dwiana sayang, kesian amat gak punya kaca," sindir Dewiq. Dwi butuh pemantik.


"Eh, Marsha and the Bear, enak amat Lu kalau ngomong ya, kagak ada saringan apa tuh mulut. Gue tanya, apa Lu kagak trauma tuh ciuman? Lu inget kagak, kita di pojokan demi agar gak di ganggu, fu-ck, gue aja jijik inget itu," Dwi kesal.


Sedangkan Aiswa dan Dewiq tertawa lepas. Cerita saat mereka ke club dan akan di gelandang sekelompok pria. Keduanya memilih berciuman di pojok ruangan.


"Ya trauma dikit, Bear mana gak ahli pula, jadi membangkitkan ingatan kelamku denganmu, kita bahkan sampai ngulang-ngulang ... beuh," Dewiq tergelak disusul Dwi dan Aiswa.


Amir menggelengkan kepala mendengar pengakuan ketiga gadis saat ini. Tak menyangka keseruan mereka pun sama dengannya jika sudah ngobrol dengan para sahabat.


"Ya makanya. Gue gak punya pengalaman, grogi lah. Apalagi Alien itu, duh, alamak bikin nervous," jujur Dwiana akhirnya.


"Aish, Lu udah dua periode, masih grogi gak?" cecar Dwi di susul Dewiq tertawa lepas kali ini.


Amir tak dapat menahan tawanya. Ia pun mengambil bantal agar suaranya tak terdengar.


"Yah kena, gue ... gimana ya? Qolbi ahli sih, meskipun gue baru awalan sama dia tapi dia pegang kendali donk ... sesama dua periode kan, meski beda kampanye," Aiswa tak dapat menahan lagi tawanya.


Obrolan malam para gadis membuat Amir terhibur. Hasil yang didapat menyatakan bahwa sesungguhnya Dwi menaruh hati dan ingin Rayyan menjadi sandaran baginya namun ia tak punya keberanian.


"Rohi, ciuman pertama?" desak Amir saat panggilan mereka berakhir.


"Suamiku lah," jawab Aiswa menatap manik mata suaminya, berharap dapat menutupi kegugupan nya.


"Yang mana?" tanyanya lagi menahan senyum.


"Maunya yang mana?" tantang Aiswa.


"Gak berani ah, takut sakit," sambung Amir.


"Yang ini, Ini nih, ini," ucap Aiswa.


C-up.


"Ciuman dalam, mesra dan lembut serta selalu ku nikmati semua berasal dari mu, Bii, bukan darinya," Aiswa berusaha meyakinkan suaminya.


"Yang itu, pertama sih emang tapi gak aku nikmati. Aku gak salah jawab kan? gak bohong."


"Hmm, paling bisa emang."


"Ih, nyata ko, Bii. Butuh bukti lagi?" Aiswa tak melepaskan pandangan dari wajah suaminya itu.


"Enggak, lebih dari cukup. Syukron, Sayang."


"Bii."


"Ya?"


"Jangan meragukan aku, seperti aku tak pernah meragukan Qolbi."


.


.


..._________________________...


...Over limit kata, tanggung sih, trabas dah semoga gak kepanjangan.....


...Visual Rayyan Ar-rasyid...


__ADS_1


__ADS_2