
"Tanya apa, Mir?" Umma mendesaknya kembali. Melihat wajah yang saling menunduk tanpa kejelasan.
"Kalian kenapa sih?... Buya? Amir?" cecarnya lagi.
"Assalamu'alaikum." Suara santri putra di depan ruang tamu, hendak menjemput sangat Yai karena ada kajian menjelang sholat dzuhur di Aula pondok Putra.
"Wa'alaikumussalaam," jawab ketiganya dari ruang makan dimana mereka saat ini berkumpul.
"Tanyakan pada Umma Mir, agar kamu tenang... Buya pergi kajian dulu ya sebentar, jangan dulu pulang... tunggu Buya kembali," pintanya sambil bangkit dari duduknya yang tak lagi nyaman sejak pemuda itu menanyakan perihal kebenaran tentang anak kandungnya.
"Nggih Buya," sahut Amir pelan sembari mengulurkan tangan meraih jemari gurunda untuk dia cium.
Setelah kepergian Hariri salim, justru terjadi keheningan yang menjeda. Umma dengans segala pikiran buruknya tentang sang suami yang seakan menyembunyikan sesuatu terhadapnya sedangkan Amir khawatir bahwa pertanyaannya ini akan melukai sosok alim dan bersahaja baginya.
Umma sangat Aiswa cinta dan sayangi, pun dirinya, sosok wanita pemilik wajah syahdu nan cerah karena jejak wudhu yang tak pernah kering membasahi kulitnya adalah tempatnya untuk sekedar melepaskan rindu pada figur Umminya.
Melihat Umma meski dari kejauhan semenjak dahulu, selalu membuatnya tenang apalagi kala Ahmad mengajak dirinya masuk ke kediaman sang Yai dan mengenalkannya langsung pada beliau, Amir seolah mendapat asupan energi pengobat rindu akan Umminya.
"Mir, mau tanya apa? umma ingin istirahat sebentar lagi...." ujarnya disertai senyuman tipis menghias wajah senjanya.
Akhirnya umma memulai pembicaraan kembali setelah beberapa menit lamanya mereka dalam diam.
"Sebelumnya maaf jika apa yang aku utarakan akan membuka kesedihan Umma kembali," Amir tak enak hati, dia menundukkan wajahnya.
"In sya Allah, sedih berlebihan itu tidak baik ... Umma akan terus belajar sabar Nak, Amir jangan sungkan sama Umma, kamu itu bagai putra Umma sendiri disini...." ujarnya lembut, teringat Ahmad putranya yang sejak kematian Aiswa justru menghindar dari segala urusan pesantren.
Padahal tiada seorang pun yang menyalahkannya, semua sudah berlalu namun nampaknya justru Ahmad lah yang paling terpuruk, entah penyesalan seperti apa yang menggerogoti jiwa anak itu.
"Bismillah ... ini perihal Aiswa, Umma ... apakah saat memandikannya, umma melihat sesuatu yang berbeda?" tanya Amir bersamaan dengan wajahnya yang melihat sosok wanita dihadapannya.
"Maksud Amir gimana? yang berbeda itu apa saja? ... Umma ragu tapi dalam hati selalu meyakinkan diri bahwa itu Aiswa," kenangnya lagi.
"Ragu dimana Umma? luka atau bagaimana? ... jujur sebetulnya aku ingin menanyakan, apakah Umma memperhatikan tanda dibawah cuping hidung Aiswa? hmmm ... ada satu titik tahi lalat kecil disana, memang samar tapi itu ciri khasnya, dan dia terlihat manis karenanya," Amir mengingat jelas saat dia tertidur didalam mobil Brio kala di Semarang dulu. Dirinya memperhatikan struktur wajah ayu yang terlelap dihadapannya saat itu.
Mendengar penuturan Amir, senyum Umma mengembang.
"Kamu detail yaa Mir, sampe mandangi anak Umma begitu, dosa loh," candanya tertawa renyah.
"Eh, astaghfirullah ... maaf Umma, kan dulu itu ga sengaja ... dia sangat dekat denganku, rasanya bagai melihat putri raja yang sulit di jangkau namun dia justru datang padaku," kilahnya menahan malu karena ketahuan tak bisa meredam nafsu memandang yang bukan mahram.
Melihat duda muda nan tampan di depannya yang malu-malu, Umma justru tertawa lepas, tawa yang lama tak dia tampakkan selain pada Aiswa karena saking terhibur dengan sikap Amir siang itu.
__ADS_1
Amir yang dihadiahi tawa renyah Umma makin tak enak hati. Dia mengusap pelipisnya yang tak gatal berharap dapat mengurangi rasa malunya.
"Gini Mir, umma curiga atas bekas luka di pelipisnya juga bentuk alis Aiswa ga begitu, ditambah lagi ... Umma ga lihat ada tahi lalat seperti yang kamu sebutkan tadi ... Umma pikir itu karena alat medis yang lama terpasang diwajahnya," kenang Umma.
"Jadi benar...." lirih Amir hampir tak terdengar.
"Apa yang benar? kamu jangan buat umma penasaran Nak," Umma melihatnya dengan tatapan menyelidik.
"Aiswa sepertinya memang masih hidup, Umma ... aku membawa beberapa bukti untuk mendukung kesimpulanku."
Amir menyodorkan kembali map coklat dihadapannya pada Umma.
Umma meraihnya, ekspresi wajahnya tak percaya.
"Mir, kalian bebas?"
Umma justru menangis di hadapan Amir membuat pria itu bingung harus bagaimana menenangkannya.
"Dia putriku? masih hidup? ... bisakah kau bawa kembali Aiswa ku, Mir?" umma makin terisak.
"Umma, maaf...."
"Umma, maaf...." bujuknya lagi tak ingin beliau larut dalam sedih.
Umma menganggukkan kepalanya perlahan meski tangisnya sesekali masih terdengar. Beliau kembali berkata.
"Umma paham, ga boleh begini ... janji Umma dan Buya adalah memberi kebebasan bagi Aiswa, andaikan dia masih hidup pun, Umma tidak berhak atas dirinya lagi ... jika bukan Aiswa yang kembali atas keinginannya sendiri."
Umma menahan kalimatnya, asa rasa sesak terasa disetiap kata yang beliau ucapkan.
"Umma, aku ingin minta izin, bila ini pasti ... bolehkah aku menemuinya, mencarinya?"
"Kemana Nak?"
"London, kurasa," imbuhnya lagi masih dengan wajah khawatir melihat Umma.
"Kalian bukan mahram, ga baik," umma kurang setuju meski dia pun menginginkan hal serupa. Dirinya hanya berusaha menjaga agar kedua putra putri nya ini tak salah langkah kembali. Dan agar tak memancing murka Allah sebab mereka fahim ilmu.
"Jadi, apakah aku harus menikahinya dahulu disini Umma?"
"Entah, bagaimana Buya dan Abahmu?"
__ADS_1
"Aku akan menunggu Buya jika begitu," ujarnya lagi mencoba bersabar.
"Istirahatlah dikamar tamu Nak, kamu pasti lelah ... nanti Umma ketuk pintu kamar jika Buya sudah datang yaa."
"Beik ... fadhol Umma, syukron."
Umma memanggil khidmah yang berada dalam kediamannya agar mengantar Amir menuju kamar tamu.
Amir bangkit beranjak dari ruang makan mengikuti santri wanita yang membawanya kekamar depan. Dia lalu membuka handle pintunya pelan dan masuk kedalamnya.
Merasa butuh dukungan, Amir melakukan panggilan pada Abah berharap ada solusi terbaik.
"Assalamu'alaikum Bah, aku mau cerita, Abah sibuk ga?"
"Wa'alaikumussalaam, cerita saja Mir, uyutmu juga dengerin nih...."
Amir menceritakan sebab kegelisahannya serta keberadaannya saat ini di kediaman sang guru.
"Pastikan dulu Mas, jika itu benar Aiswa ... Yai mu ga akan berbohong jika memang sudah jelas semua ... juga, tanyakan pada Aiswa apakah dia bersedia menikah denganmu?"
"Lah ko Abah gitu, kan kita itu...."
"Belum tentu Aiswa mau sama kamu yang duda, Mas," Abah tergelak diujung sana, terdengar suara Danarhadi tak kalah seru mentertawainya.
"Ck, dia juga kan itu, ah sudahlah ... berarti aku tinggal meyakinkan dia ya Bah," kilahnya mengalihkan pembicaraan lagi.
"Iya Mas ... juga jangan lupa, izin sama mertuamu, minta maaf jika ada salah selama menjadi menantu mereka juga utarakan niatanmu yang akan menggeser posisi Aruni dengan Aiswa nanti ... ya Mas, kali ini lakukan dengan hati-hati ... Abah dan Uyut dukung kamu asalkan sesuai adab," tutur Abah lembut agar Amir teguh hati dan tak keluar jalur.
"Maaasss, semangat yaa, pergilah, kalau Abahmu rewel ... masih ada uyut yang akan bantuin kamu loh." Suara Danarhadi yang bersemangat membuat hatinya mengembun.
Terimakasih, kalian selalu mengerti aku.
Tok. Tok.
"Mir, Buya pulang ... dzuhur jama'ah dulu lalu kalian bicara diruang baca ya."
.
.
...______________________...
__ADS_1