DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 24. IKHLAS


__ADS_3

" Qalbi.... " suara Aiswa memanggil yang menahan langkah Mahen serta Amir saat akan meninggalkan tempat itu.


" Hasbi, Mas, beri waktu bagi Aiswa dulu. " Pinta ayah Hasbi pada Putranya.


" Maaf Nak Hasbi, apa sebaiknya di telaah lagi lamarannya? " Hariri Salim mencoba melunak.


" Lho, Yai gimana? apa alasan lamaran kami tidak diterima pagi tadi? "


" Ana.... " Tenggorokan Hariri salim seperti ada yang menghalangi untuk bicara.


" Buya, tidak perlu. Aku bersedia menikah dengannya. Aku tidak mau orang-orang baik yang telah melindungiku terjerat fitnah keji. Calon suamiku seorang yang baik akal budi, betul begitu Ahmad Hasbi? " tegas Aiswa lantang.


" Aiswa. " Lirih suara Umma dan Buyanya bersamaan.


Amir tersenyum getir mendengar kekasih hatinya mengucapkan kalimat yang bagai pedang tepat menghunus jantungnya. Sekilas dari ujung matanya, Amir melihat Hasbi menampilkan seringai ejekan yang di tujukan untuknya.


Tatapan tajam Aiswa pada Hasbi, beralih pada sosok bersahaja di depannya. Dengan sorot mata yang masih sama lembut dan mengagumi, Aiswa mengatakan.


" Qalbi, terimakasih sudah menemani, menerima, menanggung cacian, makian bahkan dosa demi aku. Terimakasih atas sayang dan cinta yang baru ku tahu, walau sesaat aku bahagia, terimakasih atas keteguhan hatimu demi agar aku tak menjadi durhaka. Aku ... akan membawa mati cintaku padamu ... aku mengikhlaskan mu sebagaimana engkau mengikhlaskan ku. " Tunduk kepalanya tak kuasa menahan dorongan perihnya netra yang terus mendesak agar bulir bening itu kembali jatuh.


Amir memejam, menahan sesak yang kian menghimpit dadanya.


" Aku mencintaimu karena Allah, maka aku ikhlas melepasmu karenaNya ... beribadahlah dengan benar, berbaktilah pada suamimu, hargai dan hormati dia dengan sebaiknya. Tetaplah jadi Aiswa yang santun dan lembut yaa, Rohi. Jaga kehormatan diri dan suamimu ... aku pamit. " Tunduknya memalingkan wajah agar raut wajah sendunya tak terlihat oleh Aiswa sembari memaksakan kakinya terus melangkah.


" Assalamu'alaikum. " Salam keduanya tepat bersamaan langkah kaki mereka keluar dari kediaman Hariri salim.


Aiswa terisak pelan dalam pelukan ummanya. isakan kedua wanita yang teramat pilu mengiris hati bagi setiap netra yang melihatnya.

__ADS_1


Setibanya mereka di pelataran pondok Tazkiya, Mahen menghampiri Naya, memintanya pulang lebih dulu dengan Candi dan Rey.


Mahen melihat kakak iparnya hanya diam dan langsung masuk ke mobilnya begitu keluar dari rumah itu, mengerti bahwa pasti dia tengah melawan rasa sakit yang telah bercokol lama didadanya.


Kedua mobil hitam dengan type berbeda itu kembali melaju membelah jalanan Jakarta di malam hari yang sendu, meski berbeda arah tujuan.


Mereka berdua larut dalam diam, dari audio mobil mengalun lagu Rapuh Padi menemani perjalanan sebagai soundtrack hati yang terluka.


" Mas, begini yaa rasanya? pantas saja Naya waktu itu memilih pergi tanpa pamit. Karena saat kita izin untuk menjauh, sakitnya menjadi berkali lipat. " Ia baru merasakan bagaimana perjuangan adiknya kala melawan ujian cintanya seorang diri. Dirinya masih beruntung, ditemani dan di kelilingi orang-orang yang menyayanginya.


" Aku limbung ka, waktu Naya meninggalkanku. Rasanya semua tulang belulang dipaksa lolos dari tubuh, sakit. "


Mahen membelokkan mobilnya menuju Ancol Beach Bay.


Ia mungkin tidak bisa membandingkan rasa kesakitan yang dulu ia terima dengan sakit yang kakak iparnya rasakan saat ini. Tapi menjauh dari segala hingar bingar sejenak, mungkin bisa membantu meredakan perihnya luka yang tengah menganga di hati.


Angin laut langsung menerpa wajah kedua pria yang masing-masing tengah merasa bahwa waktu rasanya sedang berhenti berputar mengitarinya.


" Silakan ka, bila ingin menghempaskan segalanya. Area sudah aman bagi kita, aku menunggu di sini. " Mahen mengeluarkan sebungkus rokok dan duduk di kap mobilnya, pandangannya menatap jauh pada hamparan laut luas mengingat kala ia kehilangan Naya dulu.


" Syukron, Mas. "


Amir menjejakkan kakinya satu persatu menuruni tangga menuju hamparan pasir pantai yang dingin, sedingin hatinya.


Ia pun kebas, tak ia rasakan terpaan angin yang seakan menampar wajah untuk segala kebodohannya.


" Aiswaaaaaaaa.... " teriaknya bersahutan dengan deburan ombak yang menyuguhkan gempuran riaknya seakan dia tahu bahwa seseorang tengah memakinya.

__ADS_1


Tubuh yang masih ringkih itu pun akhirnya luruh terduduk lemas diatas dinginnya pasir yang nampak bagai karpet hitam menghampar.


" Rabbku ... aku tahu semua yang berasal dari mu adalah baik. Aku akan mengikuti sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri yang kemudian menjadi letih dengan kesabaranku. "


Amir merenungi segala salah dan khilafnya selama ini. Kekhusyukan nya terusik kala ponselnya berdering tanpa henti.


Di layar terpampang nama seorang wanita. Tak ia gubris, hatinya sedang tidak baik saja. Namun sebuah pop-up pesan menarik perhatiannya.


" Tolong aku.... " nampak sebuah kalimat tercetak dilayar sebelum akhirnya menghilang seiring redupnya layar ponsel yang sengaja tak ia buka.


.


.


...______________________________...


...Kularut luruh dalam keheningan hatimu...


...Jatuh bersama derasnya tetes air mata...


...Kaubenamkan wajahmu yang berteduhkan duka...


...Melagukan kepedihan di dalam jiwamu...


...Tak pernah terpikirkan olehku...


...Untuk tinggalkan engkau seperti ini...

__ADS_1


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


__ADS_2