DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 160. MARSHA & THE BEAR


__ADS_3

Di saat yang sama.


Ahmad mencoba memberanikan menghubungi Dewiq setelah kemarin Mama Rosalie memberikan nomor kontaknya pada Ahmad.


Maju mundur, tulis hapus pesan sudah berkali ia lakukan. Ingin rasanya mengikuti kata hati namun ia sungguh tak punya keberanian hingga satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Ting.


"Assalamu'alaikum, Mama tadi memintaku mengirim pesan pada Kakak, ada apa ya?"


Degh. Degh. Degh.


Baru saja dia membaca pesan dari seseorang yang sedang ditunggunya, hatinya bagai di hantam gempa, goyang hampir retak tak beraturan.


Seseorang yang sedari tadi mengusik jemari dan pikirannya, gadis yang telah berhasil mencuri pandangan matanya yang suci tak ternoda malah mengiriminya sebuah pesan.


Bukannya membalas pesan Dewiq, Ahmad justru membuat grup berisi mereka bertiga. Dewiq seketika bingung namun Ahmad segera mengetik pesan setelah kontak Mama dia masukkan.


"Assalamu'alaikum, Mama, izin menjadikan Mama sebagai satpam kami yaa ... kalau Umma yang aku boyong kemari malah takut berubah menjadi sipir wanita," tulisnya kocak disertai emot tertawa.


"Wa'alaikumussalam." Tulis Dewiq.


"Wa'alaikumussalam, ya ampun Mama kira ada apa Mas, ya sudah ngobrol aja kalian ... Mama nyimak," ujar Rosalie kemudian.


"Bismillah, Dek, aku ingin mengirim sesuatu ke sana, minta alamat boleh? inginnya semoga dalam jangka waktu satu bulan kedepan, kita sudah punya keputusan untuk melanjutkan atau sebaliknya...."


"Nanti Mama yang kirim ya Kak, kuliahku masih panjang, kalaupun meneruskan niatan, kita ga bisa satu tempat tinggal ... awal tahun nanti aku CoAss, lalu mengabdi dahulu."


"Kenapa Mama? cuma buat kirim alamat doank, kamu kan bisa Kak?"


"Kan Mama biar ada kerjaan sih Ma, satpam kan?"


"Ok lah, Bu satpam melaksanakan tugas ... Mas, ini alamatnya, mau kirim apa?"


"Ada deh Ma."


"Dek, mau berapa lama? halal dulu kan bisa ya ... aku ga ganggu profesi kamu ko karena aku juga masih begini, bisnis Buya baru normal semua ... maaf ya calon suamimu masih gembel," Ahmad insecure.


"Gembel Tazkiya maksudnya? yang punya ini, itu," balas Dewiq kemudian.


"Punya Buya itu Dek, bukan aku."


"Iya Kak, punya Buya ... mau kirim apa sih?"


"Queenny, Qiswa limited series sebelum launching ... aku ingin kamu punya koleksinya dulu."


"Kakak minta aku pakai hijab? malu ya jika aku begini?"


"Bukan begitu, coba manjat pesan diatas ... baca lagi pelan, kan aku bilang ingin kamu punya koleksi series terbarunya design adikku ... mengoleksi gamis ga ada salahnya bukan?... kapan mau dipakai yaa gimana kamu mau sentuh pakaian itu dengan hatinya kapan? aku ga maksa loh ya ... aku ga nyuruh, Allah yang nyuruh, bukan aku."


Hening.


"Ma, boleh kirim foto ga?"


"Kata Umma boleh, sedetik lalu hapus lagi." Rosalie membalas tulisan Dewiq.


"Kak dan Mas, sorry yang jadi Admin hanya Mama, jadi semua pict ga bisa langsung masuk galery karena Mama yang setting ya, deal?" Rosalie menulis kembali.

__ADS_1


"Deal, Ma."


"Ok, Ma, deal."


"Kak, silakan."


Dewiq send pictures. Sedangkan Ahmad bersiap ingin men-screenshot.


Hening. Ahmad terpana.


Eh iya.


"Hapus Kak," perintah Mama lagi.


"Done."


"Sejak kapan, Dek?"


"Sejak kembali ke sini, aku ga lepas lagi Kak ... hmm, doain aku ya Bear, biar istiqomah."


"Bear?"


"Kakak bagai beruang bagiku, aku mungil ga keliatan kalau disisi kakak ... macam Marsha and the Bear, Kakak boleh jadi pelindungku nanti."


Ya Allah, dia sudah punya panggilan khusus untukku? meski artinya beruang namun maknanya ... meleleh aku Dek...


"Dewiq dulu itu nakal, Mas ... tolong bimbing yaa, seperti yang dia katakan, dia itu bagai Marsha."


"Ok Marsha, My Sha ... Marsha ku, semoga istiqomah ya Sha, aku sudahi dulu, nanti ku kabari jika paket sudah meluncur ya."


"Mau kemana Mas? kerja lagi?"


"Syukron Bear."


"Afwan Sha. Ma."


Degh. Degh. Degh.


Hati keduanya menyisakan jejak yang tertinggal di kolom chat meski dari tempat berbeda. Masih saling memandang whatsapp grup yang baru saja ditinggalkan. Kedua pasang mata itu menatap lekat gawai mereka masing-masing.


...***...


Pasangan pengantin baru ini tiba di Tazkiya menjelang Ashar. Amir masih memapah istrinya turun perlahan dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah.


Buya yang baru saja tiba khawatir melihat Aiswa diperlakukan demikian oleh suaminya, mengira putrinya sakit.


"Mir, Aish kenapa? sakit lagi?"


"Engga, kecapean Buya ... kemarin pulang hampir tengah malam dan siang tadi jenguk putranya Hasbi, gendong Reezi berdiri terus jadi cape," jelas Amir agar mertuanya tidak cemas.


"Buya kira kenapa? Aish, disini masih ada Umma loh, kalau di Jawa kamu ga nurut suamimu lalu sakit yang repot suamimu juga ... nurut Nduk," ujar Buya menasehati sambil mengikuti langkah mereka masuk kedalam rumah.


"Iya Buya, Aish denger...."


"Istirahat kalian ... jangan kemana-mana lagi dulu, kan besok mau pulang jadi?"


"Lusa Buya in sya allah, tunggu Aish betul-betul fit ... masih ada urusan dengan Ahmad juga besok," balas Amir saat akan memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Mir, jangan lama-lama... kita ngobrol bentar," Ahmad menyembul dari pintu kamarnya kala Amir baru saja membuka handle pintu kamar mereka.


"Bentar, nidurin dia dulu...."


"Heh, sore-sore begini," sergah Ahmad.


"Ya akhi Ahmad Hariri, tolong otaknya jangan travelling ... nidurin bukan yang itu, ck, parah sih emang kudu dinikahin ini," sungut Amir kesal.


Ahmad tergelak. Tertawa hingga ditegur Umma.


"Kak, kebiasaan!"


"Tau nih Kakak, mesum aja," kesal Aiswa kakaknya selalu saja usil.


"Ya jangan pake bahasa yang ambigu donk, menidurkan kek jangan nidurin ... Umma, aku ga salah kan?" kilahnya meminta pembelaan umma.


"Kamu ini, Umma laporin Buya loh ya ... siapin mahar kamu Kak jika memang sudah tak dapat menahan," ujar Umma dengan tatapan tegas.


Glek.


"Aku ga ikutan ... ayo sayang, istirahat dulu." Amir memapah Aiswa masuk lalu menyiapkan segala kebutuhannya.


Umma dan Ahmad menyusul kekamar mereka kala Amir melepaskan semua atribut yang menempel ditubuh Aiswa.


"Eh, kakak ipar keluar dulu ... Aish mau ganti baju, mau lepas hijab, sana gih," usirnya pada Ahmad.


"Yee, dia adek gue," Ahmad malah duduk di sofa dalam kamar mereka sebelahan dengan Umma.


"Tetep aja kamu laki-laki, Kak ... sana dulu, kepo aja sih lagian...."


"Kan mau belajar sama Amir, Umma, cara manjain istri tuh gimana," dalihnya lagi.


"Buya, Buya." Umma melangkah keluar namun ditarik Ahmad.


"Iya deh iya, Mir jangan kelamaan, penting." Sungutnya keluar kamar.


Setelah Ahmad pergi, Umma menanyakan perihal kondisi putra Hasbi.


"Aish tadi transfusi darah untuk Reezi Umma, tapi kita ga bilang ke dia ... anaknya sehat sih cuma kurang apa ya? mungkin ibunya gelisah jadi Reezi ga tenang juga," tutur Aiswa seraya melepas hijabnya.


"Pake ini sayang, sini." Amir telaten mengurusi Aiswa mulai ganti baju hingga menyiapkan makanan dan suplemennya.


Umma yang melihat ini sedikit merasa malu namun dirinya pun ikut bahagia melihat putrinya diperlakukan sedemikian rupa oleh menantunya itu.


"Tiduran dulu sambil nungguin Ashar bentar lagi, aku ke Ahmad ya sayang."


"Besok umma nengokin kesana, ruangan apa Mir?"


"VVIP lantai lima kamar 02 ... Habrizi, nama putranya."


"Ya sudah ... besok Umma mau siapkan hantaran buat lamaran Ahmad sekalian, anak itu meminta lekas melamar .. Umma pusing," ujar Umma bangkit dari sofa lalu keluar kamar.


"Appa?" Seru keduanya.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2