
Sudah tiga bulan berlalu, artinya Aiswa sudah menjalani studinya separuh jalan. Minggu lalu Mama dan Dewiq menghadiri undangan untuk para wali murid. Sebuah mini pagelaran yang diadakan kampus Aiswa.
Sesuai tema yang diusung pada bulan itu, autumn maka semua siswa program study design semua angkatan turut ambil bagian didalamnya. Termasuk Aiswa.
Memakai pola mozaik segi enam yang dia aplikasikan dalam gamis berwarna oren tua mirip daun bunga maple yang gugur, sebagai aksen kerut dibagian dada hingga pinggang dengan cutting A-line.
Untuk event kali ini Aiswa meminta Joanna sebagai model.Tubuh kaku Joanne dirasa pas membawakan gaunnya yang terlihat feminim.
Meski enggan, namun tuntutan tugaslah yang membuat gadis itu akhirnya bersedia berjalan diatas catwalk saat event digelar nanti.
Ulfara yang melihat Joanna gladi resik dari bawah panggung hanya bisa menahan senyum simpul kala dia melintas diantara deretan talent lainnya.
Saat event kampus berlangsung.
"Menurut Mama, hasil kerja Aey cukup bagus Kak ... bukannya dia bilang kemarin ada seleksi ketat yaa siapa saja siswa tingkat satu yang bisa berpartisipasi dalam event ini?" ujar Mama kala satu persatu model berjalan dihadapannya.
"Iya Moms, kemarin Aey menelponku, menangis jika designya terpilih untuk event awal ini ... meski dia juga mengeluhkan harus merombak pola yang sudah ada."
"Anak itu, gigihnya persis kamu. Tapi manjanya bagai Aeyza ... bahkan Mama tak merasa bahwa dia bukanlah Aeyza ... tangan kanannya mulai balance ya Kak, mulai terbiasa meski sesekali dia masih luwes beraktivitas menggunakan tangan kiri."
"Jauh lebih baik dari sebelumnya Moms ... bahkan Aeyza belum tentu senekad dia ... Aiswa itu paket lengkap, girly dan berani juga misterius sebab sikap pendiamnya."
"Ga ah, dia ga pendiam hanya tidak bisa bebas mengungkapkan perasaanya saja sejak belia akhirnya dia terbiasa menutup mulutnya rapat bila tak ada yang mengajaknya bicara ... dengan Mama kalau libur kuliah kan dia curhat panjang lebar kadang sampai Mama ngantuk bagai diperdengarkan dongeng." Mama terkekeh mengingat kelakuan Aiswa jika sudah bermanja dengannya.
"Dia nyaman dengan Mama berarti itu tandanya, orang introvert akan sedikit membuka diri pada orang yang bukan hanya sekedar nyaman diajak bicara, dia juga trust pada Mama."
"Alhamdulillah, ternyata lepas dari dendam itu melegakan ya Kak."
"Tetaplah seperti ini Moms, baik setelah dia pergi nanti."
"Dia akan pergi? Lalu Mama bagaimana?"
"Mungkin, suatu saat bila dia ingin."
"Aeyza keduaku, jangan lupakan Mama ya Nak."
Satu jam kemudian.
"Maaaaaaaaaaa," serunya menghampiri Mama yang sedang berbincang dengan salah satu dosen dan seseorang di sampingnya yang tak ia ketahui.
Brugh. Aiswa menabrakkan dirinya memeluk Mama dari samping.
"Ya ampun sayang, sakit ga?" Tanya mama saat tubuh gadis itu menabrak bros burung merak di dada kiri karena Mama berpaling badan padanya.
__ADS_1
"Sakit, hehe."
"Your daughter, Mam?"
"Yes, she is my angel, our."
"Aey, mau es krim? congrats yaa adik kecil, welldone." Dewiq mengusap pelan kepala adiknya.
"Mau Kak, syukron."
"Hai, Aku Keith Mccain," sapa seorang pria tinggi dengan rambut coklat tua dan perawakan tegap.
"Hallo Mr. Keith." Aiswa menangkup telapak tangan didepan dada.
"Apakah anda salah satu pemilik design yang karyanya di pamerkan tadi?"
"Betul, Tuan."
"Apakah karya yang seperti anda kenakan ini? apa yang melatarinya?"
"Memories ... kenangan yang kian lama kian usang yang seharusnya luruh bagai daun musim gugur ... kenangan kuat yang aku ibaratkan bagai warna merah, orens dan coklat untuk moment kesedihan, bila dipadukan mungkin akan seperti daun maple."
"Kenangan yang membuatmu harus melupakannya meski enggan, namun harus melepaskan karena sudah waktunya mengganti dengan rangkaian peristiwa baru, moment baru." Tegas Aiswa sembari matanya menerawang jauh.
Perlahan satu persatu mereka mendekati keluarga Hermana, terlebih Aiswa yang masih bicara mengungkapkan alasan dibalik pembuatan gaunnya.
"Segi enam adalah cerminan kesempurnaan seorang hamba, keyakinan akan Tuhannya. Mengimani segala yang wajib sebagai hamba salah satunya yakin tentang keberadaan-Nya."
"Jadi kesimpulan dari design kali ini adalah meyakini bahwa tuhan itu ada dan maha segalanya, termasuk tentang berkuasa atas segala kejadian yang menimpa hambaNya baik atau buruk."
"Tugas kita sebagaimana hamba adalah menerima dengan lapang. Kenangan tadi ada kalanya diluruhkan sebab tuhan akan menggantinya dengan yang baru, yang jauh lebih baik layaknya musim semi." Pungkasnya panjang lebar.
Qolbi semua kenangan tentangmu masih aku simpan dengan rapi, aku meluruhkannya demi agar hatiku sedikit memperoleh ruang untuk mengisinya dengan kenangan baru, sebagai pasokan tenaga saat aku berjumpa lagi denganmu akankah aku mampu menariknya lagi ataukah membiarkannya jatuh selamanya.
"Amazing, makna yang dalam. Siapa namamu?" kagumnya pada penjelasan Aiswa.
Gadis yang mengenakan hijab ungu motif floral diujungnya, melihat kedua orang disampingnya yang memeluk tubuhnya sedari tadi.
Dewiq menganggukkan kepala,
"Little A, nama panggung ku."
"Apakah sama mempunyai makna?"
__ADS_1
"Si kecil sang pemimpi." Jawab Dewiq dan Aiswa bersamaan.
"Kurasa cukup, adikku belum istirahat, kami permisi," ujar Dewiq.
"Terimakasih atas sambutan hangat Tuan atas putriku, kami undur diri," sambung mama.
Joanna dan Ulfa berusaha menahan para reporter yang masih ingin bertanya pada Aiswa.
"Kak nanti kalau disiarkan, dia bakal tahu gak ya?"
"Lokal Aey, semoga tidak, belum saatnya."
Aiswa hanya pasrah, saat ini hanyalah keluarga Hermana yang menjadi sandarannya.
***
Indonesia.
Malam ini tidurnya gelisah, Amir berulang kali terjaga demi agar istrinya memperoleh posisi yang nyaman saat tidur.
"Dek, ada yang sakit, bilang sama aku."
"Ga tau Mas, aku ga ngerasa apa-apa tapi ga enak begini, ga ngerti mana yang dirasa," ujarnya putus asa.
"Sini, dipeluk yaa ... atau mau makan apa? aku buatkan."
"Ga usah! dibilangin ga tahu ini mau apa juga." kesalnya menahan tangis.
"Sssttt, jangan gitu aah," usapnya pada pipi Aruni yang mulai basah karena air mata.
Amir serba salah namun sebisa mungkin dia sabar menghadapi emosi Aruni yang kerap naik turun bila malam hari.
Hanya dekapan, pelukan intens sembari tetap menenangkannya dengan bacaan ayat Al-Quran selama yang dia bisa, sekalian murajaah pikirnya tak peduli sudah berapa juz mulutnya berucap.
Aku ga ngerti Mas, dia seakan terus mendorongku agar mengeluarkannya. Aku takut Mas, aku takut...
"Sayang, kan udah hafal juz 29 dan 30, kita sama-sama bacain buat dia yuk, biar dia juga tenang ... kalau mommynya happy, tenang, dia juga begitu ... boy, we love you sayang, jangan nakal yaa." usapnya lembut pada perut istrinya.
Bila sudah begini, Aruni hanya bisa terisak memeluk suaminya hingga dia tertidur masih dalam dekapan.
.
.
__ADS_1
..._____________________________...