
Semakin malam suhu panas di kamar kian meningkat drastis. Amir menunggu reaksi istrinya. Sedangkan Aiswa masih merasakan gelombang dahsyat yang datang menggulung sukma. Meski meragu, keduanya sepakat melanjutkan ibadah halal mereka untuk pertama kalinya.
Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah.
"Alhamdulillah, doa sayang." Lelaki itu berbisik.
Alhamdulillāhil ladzī khalaqa minal mā’i basyaran, fa ja‘alahū nasaban wa shihran, wa kāna rabbuka qadīran.
Aiswa tersipu.
"Syukron Rohi, aku butuh penjelasan nanti ya," lirih Amir. Dia merasakan sedikit kejanggalan tadi.
"Iya Bii," Aiswa semakin mengeratkan pelukannya, malam ini dirinya telah seutuhnya menjadi milik pria tampan yang dipuja.
"Bii, lekas mandi lalu istirahat, lumayan kan dua jam sebelum tahajud nanti."
"Bersama?" bujuknya lagi.
"Nanti lagi, aku masih kurang nyaman, ingin berendam sebentar."
"Ok sayang, aku siapin airnya dulu," sahutnya lirih seraya menyibak selimut.
Amir menyiapkan air untuk Aiswa mandi dan berendam. Setelah siap, dia mengangkat tubuh istrinya ala bridal style menuju bathroom.
"Sudah aku beri essensial oil. Jangan lama-lama, gak baik mandi air hangat terlalu lama nanti kulitmu kering, ya, Sayang," imbuh sang suami.
Tiga puluh menit kemudian, Aiswa telah berada dalam dekapan hangat suaminya lagi.
"Gak nyaman?" tanya Amir saat mendapati tubuh Aiswa tak dapat tenang berbaring.
"Sedikit, tapi rileks setelah mandi. Bii, dia belum pernah menyentuhku," jujur Aiswa, rasanya ingin segera menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
"Kenapa?"
"Entah, Qolbi gak marah kan?" Cemas Aiswa, khawatir suaminya cemburu.
"Saat itu, kamu istrinya dan aku mengerti apabila kamu melakukan kewajiban pun," balas Amir, membelai rambut wanitanya.
"Mungkin memang tujuan dia hanya untuk melukai Qolbi melalui aku. Terlepas dari itu, bisa jadi ini yang terbaik bukan?" sambung putri Hariri salim.
Amir hanya tersenyum samar, mengecup pucuk kepala Aiswa lembut. "Gak usah di bahas lagi, aku sangat bersyukur dan itu lebih dari cukup. Istirahat Rohi, besok aku janji bil ghoib lagi untukmu," pungkas Amir.
Putra kedua Wisesa, menarik tubuh Aiswa semakin menempel padanya, menyelimuti hingga sebatas leher. Meski ia pun lelah, tangannya tetap membelai punggung Aiswa, memberikan rasa hangat serta nyaman agar lekas terlelap.
Menjelang subuh.
"Bii ... alarmnya ga bunyi ya? sudah mau adzan subuh ... Qolbi," Aiswa mengguncang pelan bahu Amir.
__ADS_1
"Hmm, aku mandi dulu sayang, tolong minum nya," matanya masih terpejam meski dia telah bangun.
"Buka dulu matanya," Aiswa menyerahkan gelas berisi air minum untuk suaminya. Saat adzan bergema, Amir telah siap menuju masjid pondok untuk berjama'ah disana.
"Sampai ketemu saat sarapan sayang, aku bil ghoib dari masjid, dengerin loh jangan bobok lagi."
"Iya Bii, aku nanti di teras bawa mushaf juga."
Princess Tazkiya mengantar sang suami hingga ambang pintu kamar, lalu dirinya bersiap membersihkan diri dan bergabung dengan Umma di pondok putri, mukim di sana hingga jelang saat sarapan nanti.
Karena sang suami meminta dirinya untuk mendengarkan hadiah pernikahan di teras, Aiswa pamit saat kajian subuh akan di mulai. Dia memilih duduk di teras, ikut murajaah bacaan sang suami.
"Suara Qolbi tuh emang candu, ya Allah, beruntungnya aku meski harus banyak melewati onak untuk dapat hidup bersamanya, Amirzain Zaidi," lirih Aiswa, bibirnya menyunggingkan senyuman manis terlebih mengingat peristiwa semalam.
Tepat pukul enam, suami tampan milik Aiswa mengakhiri bil ghoibnya. Dia lalu kembali pulang dan mendapati wanita cantik itu menunggunya di sana.
"Rohi, sendirian?"
"Ehm. Kata Qolbi tadi harus dengerin. Umma masih kajian di pondok putri, Buya kan sama Qolbi," jawab sang putri kesayangan Maryam.
"Gak ada Buya. Ke sekretariat mungkin dengan Ahmad membahas kelangsungan radio dakwah juga usaha Buya lainnya," ujar Amir bertepatan saat mertua wanitanya datang.
"Loh Aish, suguhan untuk suamimu mana?" tegur Umma saat melihat meja di depan mereka kosong.
"Gak usah Umma, aku baru turun kok, masih belum mau makan apa-apa," jawab Amir membela istrinya.
"Astaghfirullah, Umma. Qolbi emang gak mau ngapa-ngapain dulu. Bukan aku gak mau siapin, ish," cebik Aiswa. Maryam selalu saja membela menantu kesayangannya itu.
"Mir, banyakin sabar, minta maklum nya ya. Anak umma begini memang, susah diatur," ucap Maryam seraya berlalu dari hadapan mereka.
Kakak Ainnaya hanya tertawa renyah mendengar keluhan mertuanya. Sementara Aiswa hanya diam, menyebikkan bibir pada sang bunda.
"In sya Allah sama aku, enggak bakalan manja. Justru maunya manjain aku mulu, ya Rohi," goda pria tampan itu.
"Wajib, Bii. Itu naluriah, bawaan hati dan ridho melakukan semua sebab satu perkara, menyenangkan suami," ujar Aiswa tersipu.
"Maa sya Allah, allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Tabarokallah, istriku," puji Amir mengusap pipi bersemu merona milik Aiswa.
"Aduh aduh masih pagi udah menebar virus kesirikan," celoteh Ahmad sebelum dirinya menginjak teras rumah.
"Assalamu'alaikum." Suara Ahmad mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam." Dua A bersamaan menjawab salam sang kakak.
"Aish sana gih bantu Umma siapin makanan buat sarapan. Kan kita ada tamu, gimana sih malah asik berduaan," tegur Ahmad kala tiba di susul Hariri salim.
"Panggil tamu sekalian ya, Aish," pesan sang ayah seraya ikut masuk dalam hunian.
__ADS_1
Aiswa pamit masuk kedalam sementara kedua lelaki sebaya membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan rencana Ahmad.
...***...
Saat sarapan.
Semua tamu diajak berkumpul di ruang tamu, sekat pembatas untuk wanita pun dibuka agar ruangan semakin luas.
Buya mempersilakan para tamunya bersantap menu special pagi ini. Teh delima Turki serta Arabian food dan salad. Hidangan semacam roti dan nasi lengkap dengan lauk pauk khas jakarta pun tersedia.
"Sayang, sini," Amir memanggil Aiswa mendekat padanya.
"Bii, minum ini dulu," Aiswa mendekat seraya membawa segelas lemon tea hangat.
"Banyak banget?" tanya pria tampan terheran.
"Berdua sama aku."
Putra Wisesa menepuk sisi tempat duduknya yang kosong. "Buka mulut," Amir menyuapi Aiswa dengan salad disusul suapan kedua untuknya.
Perlakuan istimewa pengantin pria sontak mengundang reaksi tamu lainnya. Terlebih para jomblo.
"Oyy, bucin jangan disini," Dwiana berceloteh.
"Satu jomblo limited, satu lagi Jones, pas tuh jomblo kuadrat," balas Aiswa untuk sang sahabat.
"Eh ada Dewiq loh ya," protes Dwiana tak terima.
"Dewiq milikku, hanya menunggu diresmikan saja," ucap Ahmad ringan.
Buya dan Umma yang memang telah diberitahu oleh putra sulungnya perihal niatan ini hanya tersenyum.
Uhulk.Uhulk.
Hermana Arya serta Dewiq terkejut, hingga mereka tersedak, sementara Mama, dalam hatinya mengucap syukur. Inilah yang dia inginkan, do'anya dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa.
"What? Arzu? serius?" kali ini Rayyan yang terkejut. Wajahnya sampai melongo tak percaya.
"Tentu, aku gak bercanda terlebih untuk urusan seperti ini. In sya Allah," tegas Ahmad. Dirinya sekilas melihat ke arah wanita yang perlahan mulai dia suka.
"Cantiknya," batin putra sulung Hariri salim.
.
.
...______________________...
__ADS_1
...Fyuh, mengkedeerrrr nulisnya 😂... Lunas yaa guys... Untuk rekan othor, maaf mommy batal pake bahasa Arab yaa karena geli, hahaha, dua kali nulis dengan terjemahan nanti, ga sanggup ... ini pun rada nganu 😂🙏🏾....