DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 53. TERPESONA


__ADS_3

Tiga puluh menit lagi akad nikah akan digelar, keluarga mempelai wanita sudah memasuki ruangan. Nampak Almahyra berada dibalik sekat bertirai dibelakang kursi yang diduduki Gamal.


Saat GR terakhir selesai tadi, Amir bersiap hendak membuka acara dengan lantunan ayat suci Al-Quran, namun Aruni menahannya.


" Ka, sini aku beresin kancing lengannya, pakai pin manset biar sama kayak bros aku, " tariknya pada lengan kemeja Amir.


" Maaf ga u-sah, " tepisnya menolak disentuh.


" Ka ... ini aku, Aruni ... sini aah, lekas. " Aruni menarik kembali lengan Amir.


" ... Qiy-yaa, Qiyya? " matanya mengerjap beberapa kali.


" He em, aku, daritadi emang siapa? boro ngasih senyum atau bilang makasih, negur juga enggak, " gerutunya sebal.


Amir hanya tersenyum, membiarkan gadis itu menyelesaikan tugasnya memasangkan pin manset di lubang kancing lengannya.


" Syukron ya Dek, " bisiknya.


" Hem, sama-sama ... sekarang sudah rapih, sukses ya Ka, pergilah. " Melepas Amir pergi dengan menyatukan kedua jarinya membentuk gerakan OK.


Aruni terpesona. " Kenapa sih kamu semakin manis, Kak. "


Tak lepas pandangan gadis ini pada sosok tampan didepan sana, bukan hanya parfumnya yang membuatnya kecanduan, suaranya saat mengaji kerap membuat sukmanya lebih tenang.


Seharusnya setelah selesai mengaji, Amir tetap berada di tempatnya sesuai GR tadi, namun ia justru kembali ke barisan dimana Aruni berada.


" Ko balik sini? lupa GR tadi? "


" Takut penghulunya salah, tar dikira aku mantennya kan repot ga ada lawannya. "


" Hmm, bapak ngehalu, " senyum Aruni terbit hingga lesung pipinya terbentuk.


" Cantik, " lirihnya dengan ekspresi datar.


" Lepas ini, ganti baju couple keluarga. "


Aruni hanya menunduk, wajahnya bersemu merah. Hatinya bagai ditarik jutaan kupu-kupu yang akan membawanya terbang.


" Warna couple keluarga kita kan beda, "


" Kita sama ... thanks hijabnya kak, aku pakai setelah ini. "


" Sejak kapan? "


" Sejak kakak kasih ke aku, jika yang dimaksud memakai hijab. "


" Karena aku? "


" Dih ge-er, bukanlah ... sudah lama berhijab tapi masih plin-plan lepas pakai dulu, beberapa hari ini mulai mantap, do'akan istiqomah. " Keduanya mengobrol lirih disela MC membawakan acara.


" Aamiin, in sya Allah seterusnya. "


Prosesi akad nikah berlangsung, Abah dan buyut Wardhani menjadi saksi nikah Gamal, dengan Kyai Jazuli yang menikahkan.


" SAH ... SAH .... alhamdulillah, barokallahulakuma.... " Riuh suara hadirin mengucapkan doa kebaikan bagi kedua mempelai.


Saatnya tugas Aruni, mendampingi Almahyra bertemu suaminya sekaligus menandatangani dokumen.

__ADS_1


" Giliranku, " bisiknya.


" Jangan tebar pesona, " balas Amir yang hanya direspon senyuman manis oleh Aruni.


Hatiku.


Tanpa Amir sadari, interaksi manis dengan Aruni menjadi pusat perhatian sepasang mata dari kejauhan. Tugasnya sebagai pendamping Gamal, memaksanya turut andil sepanjang acara dengan Aruni disampingnya.


Seperti saat ini, tiga puluh menit setelah akad. Waktunya kedua mempelai menuju pelaminan. Iringan pengantin yang telah berganti busana telah bersiap diujung pintu Hall.


Menghampar karpet merah sebagai pijakan, keduanya telah berada dibelakang pengantin. Amir mendampingi Aruni yang bertugas membantu Almahyra, mengatur agar gaun dengan ekor menjuntai panjang tetap terurai mewah sepanjang melintasi karpet merah.


" Bah, cocok itu. Lamarin sudah, kemarin Qonita juga dapat jawaban yang sama dari Runi, " Pinta Abyan.


" Abah menghargai adikmu, dia belum yakin, do'akan Ka agar dia juga mendapatkan istri sholihah. "


Mir, sebelum tahu itu Aruni, kamu terlihat enggan, sekarang malah menikmati. Apa Runi, pilihanmu Nak?


Suara MC memanggil keluarga Danarhadi untuk berfoto. Mulai keluarga besar, hingga satu persatu keluarga kecil turunannya. Tiba saat giliran Amir, Gamal sengaja meminta MC agar memanggil Aruni serta.


" Mal, jangan macam-macam, " tegurnya.


" Semacam ko, masa kamu sendirian? bajunya udah couple kan? " balasnya.


Amir meminta Aruni agar dia berdiri di sebelah Alma, bukan Gamal.


" Ciye, bapak, gue udah punya istri keles, takut amat diambil, " godanya yang tak digubris oleh Amir.


Kala Amir membantu Aruni turun dari pelaminan usai foto. Terdengar suara Naya, diselingi intro nada, kiranya dia hendak menyumbangkan lagu.


" Hadirin yang berbahagia, sembari menikmati hidangan atau memberikan ucapan selamat untuk mempelai ... ditemani Kinoy Dinara, mengabulkan special request dari mempelai pria untuk sahabat sekaligus saudara harta karunnya ... Pacar Lima Langkah ... kakak, please enjoyed. " (nama Naya saat on air)


" Tak perlu kirim surat ... SMS juga nggak usah.


" Kalau rindu bertemu ... Tinggal nongol depan pintu " (asyik-asyik)


" Tangan tinggal melambai ... Sambil bilang: Hello, Sayang. " Suara Naya mengalun merdu.


Belum hilang kesal perihal foto, malah ditambah dengan tingkah Naya.


" Abah, Mas, ko dibiarkan si tarzan itu berulah, " tegur Amir sembari menarik kursi untuk Aruni duduk.


" Ka, please duduk ... tolong aku, atau aku tidur diluar malam ini, " Mahen memohon.


" Lah, aku dikorbankan. "


" Duduk saja Mir, sesekali lah, kasihan adikmu itu kangen siaran. "


" Mana koplo lagi tuh bocah, bikin malu aja, " sungutnya kesal.


" Suara Naya bagus yaa, " Aruni berkomentar namun malah mendapatkan lirikan tajam pria disebelahnya.


" Maaf Kinoy sambil duduk yaa, titah Pak Bos biar mommy dan babynya tak kelelahan, terimakasih. " pungkasnya sebelum turun dari sana.


Naya, kamu sedang hamil ya? seharusnya yang kau kandung itu, anakku.


Saat Naya kembali ke bangku VVIP mereka, Amir menegurnya keras.

__ADS_1


" Nduk, malu-maluin tau ga sih! kamu lagi hamil. "


" Yeee, Abang ngizinin ... marah sama Gamal sana, dia bilang keluarga kita ga nyumbang apa-apa, dia ga butuh uang dari kita karena kita pasti mampu ngasih yang dia mau ... makanya dia minta itu, kode tuh. Gajah didepan mata tak nampak semut di lautan terlihat. " Cecar Naya tak terima.


" Kak, udah donk. Naya lagi hamil, dia ngos-ngosan pula, " Aruni mencoba menengahi.


" Malu Dek. " Alih pandangnya pada Aruni.


" Dek? " tanya Naya, Abyan dan Mahen.


" Ciyyeeeeee, " seru mereka serempak termasuk Abah. Qonita hanya tersenyum tipis sementara Aruni, menundukkan kepala malu. Amir melengos pergi, keterlaluan, pikirnya.


" Bang, adek jangan ditinggal, " sambung Naya mengundang tawa keluarga mereka.


Kak, seharusnya aku yang berfoto dengan pengantin tadi, duduk disampingmu, tertawa bahagia dengan keluargamu.


Amir menyingkir ke halaman samping Hotel, duduk di kursi taman memejamkan mata. Menghalau emosi agar tak menjadi, mengingat ini acara sakral keluarganya. Dirinya merasa ada yang tengah memperhatikan dari kejauhan, ia pun membuka matanya pelan.


" Aiswa? " lirihnya. Pandangan mereka bertemu, Aiswa menatapnya sendu.


" Begini yaa? ajang reuni dengan mantan rupanya, " suara angkuh terdengar panas ditelinga Amir.


" Jangan fitnah, aku tak tahu Aish disana, atau ini memang niatmu untuk menyakitinya dengan mengajaknya kemari? "


" Memang itu misiku, " bisiknya ditelinga Amir.


" Si-alan! " Cekalnya pada kerah kemeja Hasbi.


" Sayang, No! ... jangan kotori tanganmu, brengsek seperti dia harusnya di beri sianida. " Sentak Aruni menggebu seraya menarik lengan Amir agar melepas cekalannya.


" Ck sayang, kamu akan di tipu oleh sosok alim ini, Nona. "


" Oh ya? penipu teriak penipu? aku pikir hanya ada wanita yang ja-lang, ternyata pria juga ada. "


" Cukup, jangan hina suamiku. " Aiswa membelanya. Amir terhenyak.


" Bawa suami anda Nyonya, suami sampah anda yang pernah menggodaku. "


" Ah ya, lupakan suamiku ... kamu hanya masa lalunya. "


" Dek, sudah cukup. " Menyentuh bahu Aruni agar tenang.


Kak, dia istrimu kah? ... Dek? panggilanmu untuknya? ... maaf aku membela suami laknat macam Hasbi demi agar harga diriku tak jatuh didepanmu, terlebih didepannya, istrimu.


Ternyata aku tidak mampu mengucapkan kalimat seperti yang engkau ucapkan padaku dulu untuk memintamu menjalankan kewajiban sebagai suami dengan baik. (bab 15 & 24)


Sungguh, aku iri dengannya, dia sangat cantik ... dan hatiku semakin terasa sakit.


Amir mendorong pinggang Aruni, meninggalkan pasangan yang membuatnya sakit dengan rasa yang berbeda.


Sakit melihat Aiswa, gadis yang masih menunggu relung gelap hatinya. Dan sakit karena sahabat yang menyakiti istrinya sendiri sekaligus wanita yang ia cintai.


" Kak, maaf tadi aku ngaku-ngaku, " cicitnya takut.


" Aku paham, makasih Dek ... hmm Qiyya.... "


.

__ADS_1


.


..._____________________________...


__ADS_2