DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 208. SEMUA RENCANA DWIANA DEMI BAHAGIA


__ADS_3

Dwi masih merenung, menatap hamparan luasnya laut dalam kelamnya malam, sendiri. Derap langkah berat terasa menghampiri, Dwi tahu, itu pastilah suruhan sang ayah meminta agar ia pulang.


"Malam Nona Muda, Anda di minta pulang oleh Tuan besar," ujar Regard, asisten pribadi Raharja.


"Aku hanya ingin Renata, di mana dia," balas Dwi tanpa berpaling muka, masih duduk beralas pasir pantai.


Regard nampak memanggil Renata agar mendekat. Setelah bodyguard sang Mama datang, Dwi meminta Regard menjauh.


"Ren, mobilku? di garasi atau di Papa?"


"Tuan besar Nona, maaf," sahut Rena.


"Hm, aku mengerti. Ren, perlukah aku untuk mendapatkan hak ku?"


"Aku tidak berani, Nona, maaf."


"Ok, aku pulang. Tak akan lagi lari dari pria tua itu. Akan ku hadapi dia hingga tuntas kali ini meski tanpa Derens yang membelaku kini ... Ren, izin resign kapan?" Dwiana bangkit bersama Renata menuju Mansion Raharja tak jauh dari tempatnya kini.


"Pekan depan, Nona," jawab Renata singkat.


Mansion Raharja, beberapa menit selanjutnya.


Regard membawa Dwiana menuju ruang baca. Pertengkaran sudah menguar menusuk gendang telinganya kala pintu besar berwarna coklat tua itu terbuka.


Baru saja mengucap salam, hadiah sudah mendarat di pipinya.


Plakk.


"Kau ingin mengulangi kebejatanmu empat tahun lalu? gadis binal?" murka sang ayah.


"Apa kabar Pa," Dwiana meraih tangan ayahnya lalu mencium takzim, begitu pula pada sang ibu.


Orang tua yang tak ia temui sejak tiga tahun lalu. Semenjak Derens tiada, kini Dwiana berhadapan dengan keduanya.


Kalian nampak lebih tua dari waktu yang lalu, ternyata aku banyak melewatkan setiap guratan halus yang tercipta di wajah kalian.


"Rose," Mama memeluknya, namun terasa hambar. Berbeda sekali dengan pelukan Umma dan Mama Rosalie, pikir Dwi.


Dwiana hanya tersenyum menanggapi sang Bunda yang membelai wajahnya.


"Kembalikan mobil Tuan Muda Felix, dan sejak kapan kau berubah menjadi les-bi?" Sentak sang ayah.


"Sejak tadi, Pa. Mobil itu milikku, aku memenangkannya," ujar Dwi.


Plakk.

__ADS_1


"Kau tahu siapa ayah Felix?"


"Tidak." Dwi mengusap pipinya yang panas, sementara sang ibu sudah adu mulut lagi dengan ayahnya.


"KAU---"


"Apa yang Papa mau?" tantang Dwi.


"Tuntaskan kuliahmu, kembalikan mobil dia dan menikah dengan pria pilihan Papa," tuntut Raharja.


"Jika aku yang menentukan. Apa kompensasinya?"


"Semua asset yang telah aku beri," tegas sang ayah.


"Baik, di mulai dari hari ini. Aku tak akan menerima uang lagi dari Raharja Arka ataupun Lilyana. Aku kembalikan semuanya," Dwi meraih dompetnya, mengeluarkan platinum card dua buah, kartu kredit, kunci apartement di Australia, ponsel tanpa kartu, serta akses card deposit box. Semuanya Dwi letakkan di atas meja kerja sang ayah.


"Kau! berani?" Sentak Raharja.


"Aku ingin berbakti pada Papa tapi dengan caraku, jangan khawatir karena aku akan tetap menganggap kalian orang tua ku. Aku hanya hidup terpisah dari kalian. Kuliah akan aku lanjutkan, tanpa bantuan Papa, aku bisa in sya Allah."


"Rose, jangan begitu. Ikuti saja Papa," Lilyana memohon.


"Sudah moms, dan aku lelah. Rasanya ingin menyusul Derens," lirih Dwi pada Ibunya.


"Maafkan aku tidak menjadi anak penurut sejak dilahirkan. Bukan salah kalian, mungkin aku yang kurang bersyukur. Terimakasih untuk semua yang telah keluarga ini beri, meski hanya luka dan hidup tanpa cinta atau bahkan kebersamaan ... do'akan aku agar dapat memaafkan diriku karena aku juga akan belajar memaafkan kalian. Selamat malam," ucap Dwi meninggalkan ruangan.


Dwiana meminta kunci mobil spider pista dari Renata.


(Bab 205, awal petaka, ngebut demi Rayyan)


"Ini milikku Ren, aku yang mendapatkannya. Apart Derens juga milikku, karena dia membeli dengan hasil keringatnya sendiri. Si merah, aku kembalikan sebab itu pemberian Papa untuk Derens," ungkap Dwiana.


"Ah ya, aku akan tinggal dengan kalian," ujar Dwi pada Renata yang hanya di angguki olehnya.


Bodyguard wanita itu meluruhkan air matanya. Akhirnya kehadiran putranya di ketahui meski hanya oleh Dwiana.


"Terimakasih Nona. Anda sangat jauh berubah, seperti dia yang meraih bahagia di saat terakhirnya," gumam Renata.


Dwi memacu mobil yang baru saja ia menangkan tadi sore menuju apart Derens.


Setelah ia tiba di sana, Dwi langsung membongkar lemari, mengeluarkan brankas rahasia milik sang kakak.


"Derens, terimakasih sudah memikirkan bahwa hari ini akan terjadi. Wasiat rahasia untukku, telah ku terima beberapa bulan lalu sesuai usia yang kau inginkan agar aku membacanya. Baik, aku yang akan melanjutkan bisnis latihan karate dan club milikmu," ucap Dwiana mengeluarkan satu kunci kantor, ponsel Derens meski jadul dan beberapa gepok uang.


(bab 204, tentang dojo dan 206 tentang penyesalan membenci Derens, ternyata ini salah satu alasan kakanya yang baru ia ketahui)

__ADS_1


Rose, ini halal. Cafe ku bersih dari obat dan minuman yang kau bilang haram, Renata yang menjaga dan mengelolanya. Tolong jaga dia untukku ya Rose, My Renata.


Raharja tak tahu usahaku ini, ku siapkan untukmu memakai nama Renata. Dia akan mengembalikan semuanya untukmu, Rose. Ajaklah ia tinggal bersamamu, rawatlah anakku.


Kembangkan bisnisku, aku yakin kamu mampu agar kedua orang yang kucintai dapat hidup berkecukupan.


Dwiana membaca sekali lagi, surat wasiat asli dan rahasia untuknya.


"Derens, kau pergi karena urusanmu telah usai ya Bang. Kamu telah menemukan bahagia dengannya. Aku akan jaga Raiden, cucu rahasia Raharja...." tekad Dwi bulat.


Gadis yang di paksa tangguh itu keluar dari apartemen Derens dengan membawa ransel. Menuju Tazkiya.


Subuh.


Keluarga Tazkiya dikejutkan oleh kehadiran Dwiana di teras rumah mereka. Tak banyak yang Dwi bicarakan pada Aiswa, ia hanya meminta kontak Mahendra lalu langsung pergi.


Aiswa dan Umma yang mencegah ia pergi tak di hiraukan. Dwiana hanya meminta Umma memeluknya lama dan mendoakannya.


"Bumil, aku akan cerita nanti. Janji, jangan melupakan aku ya. Do'akan aku," Dwiana memeluk Aiswa erat.


Kedua sahabat satu rasa itu hanya diam. Aiswa tahu, karena ia pernah mengalami ini. Ibu muda itu hanya menciumi wajah Dwi, melantunkan doa sebelum melepas sang sahabat pergi, dengan air mata dalam pelukan Amir.


...***...


Kediaman Rayyan.


Semalam Mama datang dan langsung merawat sang putra tinggal hingga Rayyan bangun dari tidur panjangnya menjelang subuh.


Yang ia pikirkan adalah Dwiana. Pria tampan itu meraih ponselnya, menghubungi seorang kawan.


"Berarti benar yang dikatakan kawanku tentang membangun kepercayaan, hati-hati dan menunjukkan kasih sayang dalam versi yang dia butuhkan?" tegas Rayyan pada psikolog sahabatnya.


(Bab 185, lets try, pernyataan Aiswa dan Amir tentang luka batin Dwiana)


"Ok Ok, aku akan ingat ini. Aku send voice note tentang luka dia yang lain, aku baru ketahui kemarin ... thanks," ujar Rayyan, bertepatan dengan Mama masuk membawa teh chamomile hangat agar putra yang rileks.


"Dwiana?"


"Iya, dia menemaniku kemarin. Aku semakin ingin dia jadi milikku, Ma," imbuh Rayyan.


"Pelan-pelan, keluarga broken akan sulit menerima orang luar. Mereka borju Ray, tugasmu berat. Namun Mama yakin, Dwi sudah mulai nyaman denganmu. Pertahankan itu dan bantu dia memaafkan semua orang yang menjadikannya seperti ini, cinta untuk Dwi bukan yang menggebu Ray ... dia butuh ketulusan, berjuang dengan benar ya," Mama memberi semangat.


.


.

__ADS_1


...______________________________...


...Entah, mungkin hanya mommy yang sesak. 😭😭😭...


__ADS_2