DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 155. DIAGNOSA HABRIZI


__ADS_3

Hasbi gelisah saat tubuh Habrizi kembali kejang, Serli sigap menyalakan timer untuk mengetahui seberapa lama durasi kejang dan interval dari peristiwa satu ke lainnya.


"Mas, kasihan Reezi, mana pagi masih lama pula, aku ga bisa menyusuinya," tangisnya pilu.


"Sabar sayang, beberapa jam lagi pagi, sini tidurlah dulu biar besok kita punya tenaga untuk mendampinginya."


"Aku takut dia kejang lagi, panasnya sudah turun tapi ko masih kejang ya? apa anak kita normal?" Tangisnya pecah.


Hasbi pun sama cemasnya, putranya tergolek disana, badan gendut menggemaskan itu nampak kuyu meski belum semalam dia sakit.


"Reezi, Papa janji kita jalan-jalan nanti setelah sehat ya ... jadi kamu harus kuat Nak," bisiknya dari jauh tak lepas pandangannya pada sang buah hati.


Serli masih saja terjaga, melihat tangan montok dengan guratan seakan kulitnya mengetat akibat pertumbuhannya yang pesat, kini harus dipasang infus, hidungnya terpasang selang oksigen yang sedikit membuat tidurnya tak nyaman.


"Anak Mama, sehat lagi ya," Serli mengusap kepala bayinya penuh kasih.


Aiswa, Aiswa, aku harus berkirim pesan padanya.


Hasbi memilih beristirahat lebih dulu saat Serli menolak untuk tidur. Ia juga telah mengabarkan pada Ayahnya tentang kondisi putra sulungnya ini. Yai maksum besok baru akan mengunjunginya di Jakarta.


Keesokan Pagi.


Dokter visit datang menerima laporan kunjungan serta mengontrol kondisi pasien. Serli menyerahkan hasil pengamatan semalam suntuk terhadap kondisi bayinya.


"Kejangnya tidak lebih dari lima menit namun berulang beberapa jam ya Nyonya? demamnya turun," dokter memperjelas laporan Serli.


"Iya Dok, apakah berbahaya?"


"Akan kami lakukan test EEG dan juga MRI pagi ini terhadap pasien, mohon Anda siaga ya."


"Baik dokter, apakah berpengaruh dimasa depan untuknya?"


"Kita akan lihat hasilnya setelah test tadi, Nyonya."


"Baik, terimakasih banyak."


Dokter visit kemudian keluar ruangan bersamaan dengan Hasbi yang baru selesai membersihkan dirinya dari kamar mandi.


"Apa kata dokter sayang?" Tanyanya pada Serli.


"Adek akan ditest EEG MRI Mas, jam sembilan nanti ... Mas, jangan kerja," Serli memohon.


"Engga sayang, aku temenin kalian hari ini ya," ucapnya lembut, menghampiri istrinya dan membelai wajahnya yang sendu.


"Aku ke cafetaria ya, beli sarapan buat kamu," Hasbi menaruh handphonenya untuk dicharge diatas meja yang bersisian dengan brangkar putranya.


"Iya Mas, buah juga ya."


"Ok sayang, jangan stress ... aku ga mau kamu ikut sakit, Reezi butuh kita dan aku yakin anakku akan baik saja."

__ADS_1


"Aamiin," lirihnya atas ucapan sang suami.


Kamu begitu lembut padaku kenapa pada Aiswa tidak demikian Mas, jika saja kamu berlaku adil, mungkin dia masih menjadi milikmu.


"Eh, iya ponselnya." Serli meraih ponsel Hasbi yang ditinggalkan.


Serli memang diam-diam mengetahui kode kunci ponsel suaminya. Jarinya cepat mencari kontak Amir lalu mengirimkan pesan padanya, memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dan memohon doa untuk kesembuhan anaknya yang akan menjalani test kesehatan siang nanti juga mendoakan kebaikan bagi rumah tangganya bersama Aiswa, mantan istri suaminya itu.


Serli memang cerdas, ia selalu tahu apa yang dilakukan suaminya termasuk gugatan terhadap Hermana Grup meski Hasbi tak pernah cerita padanya.


Setelah mengirimkan beberapa kalimat panjang, ia menghapus jejaknya disana. Tak lupa berpesan pada Amir agar jangan membalas pernyataan yang baru saja dia tuliskan untuknya.


...***...


Tazkiya.


Hari ini, Amir akan mengajak Aiswa mengunjungi Arza, sekolah miliknya yang belum pernah dia ceritakan bahkan pada Aruni. Sekalian menyambangi beberapa butik Queeny di Jakarta.


Kepulangannya ke Jawa ditunda hingga esok hari, menunggu jadwal kuliah online Aiswa turun. Istrinya itu sudah ribut karena tertinggal banyak modul setelah satu pekan lebih tidak kuliah.


Saat Aiswa menyerahkan ponselnya sebelum ia keluar kamar, dia melihat notifikasi pesan masuk dari Hasbi. Sejujurnya ia malas, maka ditangguhkannya pesan tersebut.


"Mir, jadi pergi?" Tanya Buya saat berpapasan dari ruang baca.


"Iya Buya."


"Pake mobil Aish yang biasa dipake umma saja ya karena umma mu ga kemana-mana hari ini," Hariri salim menyerahkan kunci mobil milik putrinya.


"Umma lagi ngaji Bii ... Buya, pergi dulu ya." Raihnya pada tangan sang Ayah.


"Sumringah amat, hati-hati kalian." Melihat wajah cerah Aiswa.


"Nggih Buya," balas Amir berlalu dari sana menggandeng jemari Aiswa.


Yaris hitam pun meluncur pelan keluar dari komplek Tazkiya menuju Bekasi.


"Mau kemana Bii?"


"Ke tempat asal mula kamu, modal yang disiapkan buat nikahin kamu pokoknya tentang kamu," ia tersenyum menoleh ke kiri kemudinya.


"Ish ga jelas banget."


"Pokoknya hari ini, seharian diluar bersamaku ... karena seharian di kamar susah, banyak iklan," tawanya lepas.


"Rohi, mau nunda atau engga?"


"Bii, nanya gitu setelah anu ... harusnya sebelum donk, pura-pura atau gimana? aku ga mau nunda, kenapa?"


Amir tertawa, memang sengaja uji coba pikirnya. Jika Aiswa langsung hamil, dia bahagia jikalau pun tidak ya dibicarakan lagi.

__ADS_1


"Kuliah kamu gimana? ga keganggu kalau hamil?"


"Mba Naya aja bisa sambil kuliah, handle Queeny, masa aku engga sih Bii, izinin ya," pintanya memohon.


"Naya punya baby sitter, aspri, sekretaris Queeny, admin, team pelaksana ... banyak tangan dia sih sayang, kan aku belum mampu bayar itu semua ... tapi aku ga mau kamu cape."


"Terserah Bii, bilang ga mampu tapi nanti diurusin semua ... suka gitu emang, satu dua sama Mas Panji," cebiknya lucu, dihadiahi senyuman menawan suaminya.


"Sayang maaf, kenapa dia ga pernah menyentuhmu?"


"Aku ini istri kedua Bii, dia punya Serli."


"Innalillahi" Amir terkejut lalu menepikan mobil ke sisi jalan.


"Menikah dengan Serli secara siri di Singapura saat dirinya melakukan percobaan bunuh diri karena frustasi ditolak Mba Naya ... makanya dia dendam, menyakiti Qolbi lewat aku."


"Astaghfirullah, pantas saja, semua jadi lebih masuk akal ... kamu dilukai olehnya Rohi?"


"Engga, seperti yang umma bilang, aku sengaja menyakiti diriku dengan ibadah berlebihan, hingga umma yang menjagaku darinya ... dia ga pernah betah dirumah, malamnya selalu dihabiskan dengan Serli ... aku sudah menawarkan loh Bii, tapi dia sendiri yang enggan ... aku kalah seksi dengan istrinya mungkin," Aiswa tertawa lepas.


"Ckck, kamu bikin aku cemburu Rohi."


"Bii dia ga pernah sekalipun melihatku tanpa ... hanya pernah melihat rambutku satu kali." Tunduknya malu.


Maaf Bii, aku sungkan bilang padamu bahwa dia juga pernah satu kali meraba dadaku.


"Tak apa, wajar, kamu istrinya saat itu." Amir mengusap kepala Aiswa sayang. Meraihnya dalam pelukan dengan ciuman bertubi diwajahnya.


"Aku ga mau nanya saat dengan Mba Runi ah, nanti jealous karena Qolbi pasti bersikap lembut padanya."


"Aku juga ga mau cerita, maaf ya sayang, masa ku dengan Qiyya cukup menjadi milikku saja ... jangan dengarkan suara disekitar jika ada yang menyinggung tentangnya ya, tanyakan padaku langsung bilamana itu mengganggumu," jujurnya pada Aiswa.


"Iya Bii ... aku memaklumi tugas dan kewajiban Qolbi saat dengannya, ikhlas ko ga apa ... jalan lagi ayo," Senyum Aiswa terbit.


Amir tersenyum hangat, lalu meraih ponselnya.


"Coba buka pesan dari Hasbi sayang, dia bilang apa?"


Aiswa membuka ponsel suaminya, mencari pesan yang diminta lalu membacanya.


"Serli Bii, anaknya sakit parah, innalillahi...."


Hukumanmu kah ini Hasbi?


.


.


...__________________________...

__ADS_1


...Tebakan yok, anaknya sembuh ga? gimana cara anaknya sehat lagi? udah ada clue ya diatas ... hehe...


__ADS_2