DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 229. PENYESALAN DWIANA


__ADS_3

Malam itu juga, Amir mengabarkan pada Naya tentang hasil misi Aiswa dan Dewiq atas isi hati Dwiana.


Adik perempuan Amir itu mengatakan bahwa ide nya diterima oleh Rayyan. Dan dokter muda itu setuju menjalankan rencana mulai esok hari.


Keesokan Pagi.


Setelah Mahen mengatur semua keperluan perizinan untuk Relay Radio. Siang ini Naya mencoba siaran untuk di sambungkan saat malam nanti, di Solo.


Rayyan masih di temani Mahen di dalam ruangan lainnya karena Dwiana juga akan datang menemani Naya siang itu.


Semalam Bayu, pimpinan Radio Solo mengatakan pada Mahen bahwa fans Naya sampai mendatangi lokasi demi memastikan program live cover musik akan di hadirkan kembali meski berbeda kemasan.


Siang ini, semuanya Mahen wujudkan demi mengobati rasa kangen istrinya, saat ngehost dalam pelarian dulu.


"Assalamu'alaikum warohmatullah ... Hai sobat Slo, semoga kalian dalam keadaan sehat sentosa ya ... happy ga, Kinoy siaran lagi? kita test friendsetter Ratislo, kumpul kuy...."


"Menemani tengah hari atau ujung malam nanti, perjumpaan kembali kita ini akan Kinoy rayakan dengan satu cover sholawat dulu deh yaa biar adem ... stay tune, Kinoy will be right back on seratus tujuh koma satu, Ra-tis-lo FM ... check this sound...."


Iklan. Intro. Dwi datang dan duduk disebelah Naya.


"Ok, take a breath ... ditemani petikan halus akustik by gadis manis secantik Rose, sesuai namanya ... (Naya menyebutkan nama Dwi dengan nada tersenyum sehingga lebih ramah terdengar) and here we go...."


Kedua pria yang berada di ruangan berbeda, terkesima dengan kemampuan wanitanya.


"Kalau Naya, aku gak heran. Dia energik dan idenya selalu segar. Dwi, aku gak sangka, Mas," ucap Rayyan.


"Itulah, mereka cocok karena senasib. Istriku selalu ada saja kejutan darinya. Meski keluarganya religius namun Abah dulu tak se fleksibel ini ... luka Naya sekaligus menyatukan kembali keluarga mereka. Banyak bersyukur dan pahami wanitamu, dengarkan dia, sebelum jatuh argumen kita, itu saranku Dok," sambung Mahen.


"Aku harus banyak belajar dengan Mas Mahen."


"No, pelajari Dwi. Anda akan banyak dapat pengajaran darinya ... sejatinya bukan aku, tapi Naya yang mengajariku banyak hal. Ibaratnya gini, Dok, semakin kita hafal detail, pahami pasangan, maka semakin banyak hal baik yang bisa didapat darinya. Aku hanya penyambung saja," Mahen selalu saja terpesona oleh istri kecilnya itu.


"Begitu ya?"


Kedua pria yang duduk di ruangan rahasia saling sharing tentang mengenal karakter wanita masing-masing hingga Dwi pun Naya ajak ke sebuah ruang meeting.


Mahen mengantar Rayyan keluar gedung saat para wanita telah berpindah ruang.


"Dwi, ada proposal yang masuk ke Queennaya untuk acara wedding pekan depan. Klien meminta aku mengisi suara untuk tiga lagu pembuka sebelum resepsi nanti. Gak sanggup sendiri karena sebelumnya Queennaya juga meng-handle sebuah acara ... pun aku ikut serta hingga malam hari," ujar Naya.


"Acara pagi Kak? jam tujuh akad ya? Ballroom Hotel luxury Hall 2, private table tiga ratus orang ... live musik acara empat jam, dimulai saat resepsi dua jam setelah akad," Dwi membaca semua susunan acara.


"Kita buat playlist lagunya dulu. Ini kisahnya tentang pernikahan yang ditunggu namun sang wanita masih enggan meski ia ingin. Jadi keluarga prianya memaksa," ucap Naya.


"Kamu cari lagu yang cocok ya Dwi, aku bagian lainnya."


"Kesian amat, apa gak punya alasan dia itu? ko nunda padahal katanya cinta," cibir Dwi.

__ADS_1


"Entah," Naya mengendikkan bahu.


"Kak, hmmm...."


"Apa? mau nanya Rayyan? aku gak tahu, dia gak ada call ke kami gitu? Abang juga gak ada kabar sih, tapi nanti aku tanya lagi," Naya tersenyum tipis.


"Gitu ya, dia ilang, apa sibuk banget kali ya," keluh Dwiana.


"Bilang aja Dwi, kirim pesan," saran Naya.


"Malu, Kak," tunduk Dwiana. Jika tentang Rayyan entah mengapa ia merasa rikuh, seperti bukan dirinya.


Lelaki tampan itu terlalu tenang bagi sosok Dwi yang tomboy.


"Hmmm, cinta tapi malu, gimana tuh Dwi?"


"Ish Kak Naya. Aku balik ya, besok playlist sudah siap. Hasil detox aku, bulan ini keluar kan ya?"


"Iya, semoga hasil baik ya Dwi. Jika ada yang harus diobati, kita obati agar kamu lega."


"Thanks Kak Naya." Dwi enggan beranjak, ia masih melihat Naya yang sudah berdiri disampingnya.


"Ko liatnya gitu? mau meluk ya? sini," Naya membuka kedua tangannya lebar bersiap menyambut Dwiana


"Aku sampai saat ini gak percaya, bisa lebih ringan menjalani hidup yang baru. Banyak dikenalkan dengan dunia baru yang ternyata membuka hobiku yang lain ... jika bukan karena dukungan bunda Maira, Rose gak akan semudah ini menjalaninya," bisik Dwi.


"Karena Rose, untuk Rose. Take care ya sayang," Naya melepas Dwi pergi.


Malam hari. H-3.


Rayyan mengirimkan pesan pada Dwiana menjelang tidur.


"Hai Dwi, sudah tidur?"


Lama tak ada balasan darinya.


Satu jam kemudian.


"Maaf, baru sampai rumah setelah jemput Raiden dan Mba dari cafe," balas Dwiana.


"Dwi, aku ingin minta maaf karena menghilang beberapa hari ini bahkan hampir satu pekan ... maaf ganggu waktu istirahat malam ini, hanya ingin membagi kabar bahwa aku akan menikah dengan seorang wanita yang pekan lalu telah dilamar oleh Mama," tulis Rayyan.


Hening.


Dikamar yang redup oleh cahaya lampu pijar seorang gadis masih mengenakan kostum wushunya, berdiri diam mematung di sisi ranjang.


Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa kelopaknya tak kering karena biasanya berimbas pada penglihatan yang menjadi samar.

__ADS_1


Bibir tipisnya mengeja baris kalimat disana, bergetar menahan rasa sesak yang merangsek masuk menusuk relung hatinya yang gelap.


"Meni-kah?" ucapnya terbata.


Tanpa bisa di cegah, lolos lelehan lava bening dari sudut mata elang pemilik nama Dwiana rose.


"A-li-en, meni-kah?" ulangnya lagi.


Dwi menyeka air matanya kasar. Membalas pesan Rayyan dengan nada marah.


"Menikah? katamu akan berjuang? dan menanti cinta yang sama? oh fu-ck, mulut manis pria memang buaya," sarkas Dwiana.


"Jangan salahkan aku, kau yang mengelak sedangkan Mamaku menghendaki lain. Dia orang tua ku satu-satunya Dwi. Aku ingin membahagiakan Mama," balas Rayyan.


"Oh ok, alasanmu dapat aku terima. Kau sudah tahu rupa wanitamu?"


"Sudah, dia seperti mu, pemalu namun cantik, " Rayyan sudah menahan senyum di ujung sana. Ia tahu, Dwi pasti terluka namun dengan cara inilah dia akan mendapat jawaban pasti darinya.


"Jangan bandingkan aku dengannya. Kamu akan melukai dia juga Ray," Dwi sudah tak tahan, dia menangis.


"Aku call ya," tulis Rayyan lagi.


Tuut. Tuuut.


Ponsel Dwi berdering. Ia mengangkatnya.


"Dwi maaf," lirih Rayyan.


"Go ahead, A, jalankan baktimu untuk Mama, jangan kecewakan beliau." Isakan Dwi masih terdengar meski samar.


"Jangan nangis, aku berat melakukan ini. Aku sayang kamu, Dwi, sungguh," bisik Rayyan. Ada rasa tak tega.


"Tak apa, agar hatiku lekas membaik ... apakah jika aku bilang bahwa aku juga sayang A Rayyan, semua akan kembali padaku? enggak kan? ... mari, lupakan bahwa kita pernah bertemu dan saling mengenal ... semoga di lain waktu jika kita bersua lagi, hatiku sudah lebih baik dan dapat menyapamu dengan wajah tegak ... bye A, thanks sudah pernah memberi secercah harapan untukku...."


Pettt.


Dwiana memutus panggilan. Ponselnya ia lempar ke atas ranjang. Tubuh tegap itupun jatuh luruh bagai tak bertulang.


Dwiana menekuk lututnya, menangis meluapkan sesak yang tersisa.


"Aku menyesal, tak lebih awal mengatakan bahwa aku suka kamu, A...."


Sementara di kamar Rayyan.


"Sayang, maaf, maafin aku ya ... maaf ... so sweet, akhirnya aku tahu isi hatimu yang sesungguhnya. A Rayyan, manis banget sih Dwi...."


.

__ADS_1


.


...__________________________...


__ADS_2