DI ANTARA 3A

DI ANTARA 3A
BAB 180. KEJUJURAN AMIR


__ADS_3

Amir masih setia menunggu istrinya keluar dari toilet, ia cemas namun tak bisa masuk ke dalam.


"Aiswa, sayang, sudah?" ia mengetuk pintu luar toilet bersamaan dengan seorang wanita yang keluar dari sana.


"Eh, maaf. Ku kira istriku," ucap Amir kala wanita tadi terkejut sama seperti dirinya.


"Istrinya masih muntah Pak, masuk aja sepi ko di dalam," sahut wanita tadi sambil lalu.


Amir bimbang memilih masuk atau menunggu, sementara ia khawatir.


"Bismillah, masuk. Maaf ya Allah, demi istriku," lirihnya seraya mendorong pintu toilet agar terbuka lebar.


"Sayang, astaghfirullah." Amir terkejut melihat Aiswa di wastafel menyangga tubuh dengan kedua tangannya agar tak jatuh.


"Sakit, Bii," cicitnya lemas.


"Yuk bangun, bisa ga? pelan-pelan." Amir mengangkat tubuh Aiswa, meraih tas tangan istrinya kemudian memapah keluar dari sana.


"Pulang aja ya, makan di rumah. Aku sudah pesan. Kamu tunggu di mobil dulu sementara aku bilang untuk di bungkus saja," bisiknya lembut masih membantu Aiswa berjalan.


"Iya, aku pusing bau kopi banget ya disini."


Amir hanya diam menanggapi keluhan Aiswa, hatinya berharap tentang sesuatu dan ia terus berdoa dalam hati semoga dugaannya menjadi nyata.


Jemari kirinya menekan remote mobil lalu ia membuka pintu sebelah kiri dan merebahkan Aiswa disana.


"Landai ga sayang? segini cukup ga?" Amir menurunkan sandaran kursi agar Aiswa nyaman berbaring.


Lalu dia membuka bagasi belakang, mengambil selimut dari sana untuk istrinya.


"Sebentar ya Rohi, aku bayar dulu," ujarnya menghapus peluh di dahi Aiswa serta menyelimutinya.


"Manis banget sih, aku gak apa padahal tadi memang lemas karena kan habis muntah Bii," ujarnya menahan lengan Amir saat akan meninggalkannya.


"Tetep aja aku khawatir, habis ini ke dokter dulu yaa. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa, dari London itu kamu udah sakit kena jetlag parah ditambah transfusi padahal baru fit dan nyampe sini kecapean ... langsung kejar modul kuliah, sedangkan kargo aja di rumah belum dibongkar sudah sebulan lebih itu. Aku gak mau kamu keterusan nanti meskipun badanmu gak berasa apa-apa," Amir menceramahinya panjang.


"Diomelin Qolbi ko seneng ya," Aiswa tersenyum manis.


"Kebiasaan anak umma begini ternyata. Bandel, terlalu gigih padahal fisiknya gak kuat... besok jangan puasa dulu ya, siapin bukaan buat aku aja. Setara pahalanya buat kamu," kali ini Amir serius, tidak mau terlalu lembut padanya sebab Aiswa mulai kembali berambisi untuk segera menyelesaikan studinya.

__ADS_1


"Permisi, pesanan sudah siap, Pak." Suara waiter menyambanginya ke tempat parkir.


"Oh iya, sebentar Mas, aku kesana." Amir merapikan selimut Aiswa, mengecup dahinya lalu menutup pintu.


Aiswa melihat kepergian suaminya masuk ke dalam resto kembali untuk mengambil pesanan mereka.


"Aku cemburu Bii, sama Mba Runi. Kamu pasti sangat berlaku manis juga padanya kan? ... tapi kamu sekarang milikku, milik kami," Aiswa mengusap perutnya.


Ia menyadari bahwa sudah terlambat datang bulan lebih dari satu pekan yang lalu. Menurut apa yang dia pelajari saat masih Aliyah dulu, mungkin kini dirinya telah berbadan dua. Memang belum diketahui pasti, namun mereka melakukan 'itu' terlalu sering sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan pun berpeluang besar.


"Semoga ya Bii, Allah menitipkan rezeki padaku lebih cepat, aku excited banget pengen punya mini Qolbi." Aiswa bahagia membayangkan jika itu benar terjadi.


Ia masih sumringah bahkan ketika Amir telah duduk disebelahnya pun, Aiswa mengindahkan kehadirannya.


"Happy banget, mikirin apa? aku ya?" Amir mengusap kepala istrinya.


"Iyalah masa tetangga sih? nanti kayak lagu itu tuh ... selimut tetangga," Aiswa tertawa.


"Aku sedang berharap sesuatu," ujarnya seraya memundurkan mobilnya keluar dari parkiran resto.


"Aku pun," Aiswa menatap suaminya dalam posisi setengah berbaring.


"Semoga ya sayang, kalaupun enggak ya kita ikhtiar lagi," Amir masih optimis.


"Kan mulai," Amir memilih menepi ke sisi jalan.


"Ya gimana, suamiku terlalu sempurna. Jika aku tidak bisa mengimbanginya nanti...." Aiswa tidak melanjutkan kalimatnya. Ia takut.


Amir menarik tuas rem, agar ia leluasa bicara.


"Sayang, bahkan jika Qiyya masih ada. Dan kamu terbebas dari Hasbi, aku tidak akan menikahimu, karena janji yang mengikatku," imbuhnya.


"Kamu meminta syarat dariku juga sama kan? tidak mendua, meski aku tidak dapat memegang janji namun aku berusaha Rohi, sama seperti yang aku sampaikan saat melamar Qiyya ... banyak banget nikmat Allah selain keturunan Rohi, punya istri yang maa sya Allah, itu juga nikmat," lanjut Amir lagi.


"Lagipula semua guruku juga tidak, aku khidmah pada beliau, sayang ... aku bahkan tidak sekhawatir ini pada Qiyya, tidak mengharap seperti padamu ... aku sudah bilang belum? menikahi Qiyya karena sayang, sebatas itu meski sayang yang ku berikan untuknya berbeda dengan untukmu ... bahkan aku mengucapkan kata cinta tak pernah dari hati karena memang aku belum bisa mencintainya. Hatiku terlalu penuh karenamu, Rohi."


"Jika malam melihat Qiyya tidur, kadang terlintas rasa bersalah ku padanya, aku membohonginya hanya agar dia semangat melanjutkan hidup, agar dia bahagia disisa waktunya."


"Jadi Qolbi?" Aiswa terkejut Amir membuat pengakuan padanya.

__ADS_1


"Aku menghormati, menghargai, menyayangi dan memuliakannya karena dia istriku ... juga ingin membantu Qiyya mencapai semua angannya sebelum ia berpulang. Aku melakukan semua kewajiban ku padanya karena aku suaminya ... kamu paham kan Rohi? namun hatiku tetap milikmu, ck, berkata jujur tapi ingin romantis itu susah ternyata...." Amir kembali menarik tuas rem ke atas lalu menginjak pedal gas sehingga mobil kembali melaju.


Aiswa hanya diam, salahnya memancing sesuatu yang sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin Amir mengucapkan agar hatinya tenang.


"Bii."


"Aku tahu, kamu mau bilang cinta sama aku kan?"


Amir menoleh ke arah kiri dimana Aiswa masih berbaring, netranya bertabrakan dengan sang istri yang tengah menatapnya lekat.


"Jangan nangis, please Rohi ... aku gak bisa lihat kamu nangis, ya Allah salah ngomong ya aku," Amir kembali menepikan mobilnya lagi.


Mengusap air mata yang membasahi pipi Aiswa.


"Maaf sayang, maaf yaa jika masa ku dengan Qiyya membuat hatimu risau. Tanyakan apa yang ingin kamu ketahui padaku."


Aiswa hanya memandang Amir, mengucap banyak syukur.


"Enggak apa Bii, katanya mau ke dokter, yuk sekalian cari obgyn, biar enak nanya nya." Aiswa menghapus air matanya dengan jari kanan, membelai wajah Amir yang terlihat merasa bersalah.


"Janji yaa, bilang sama aku semua yang buat hatimu gelisah, ya sayang ya, jangan tinggalin aku lagi ... please Aiswa," sesungguhnya Amir amat takut kehilangan Aiswa kedua kalinya, namun dia belum bisa memahami dengan benar setiap keinginan istri pendiamnya itu.


"Kebalik gak sih Bii? aku takut Qolbi ninggalin aku," senyumnya terbit.


"Aku lebih takut, apalagi jika ada dia disini dan kamu bawa pergi, mau jadi apa hidupku? di depan ada bidan, ke sana dulu ya, besok ke obgyn." Ia mengulurkan tangan mengusap perut rata Aiswa.


Amir melajukan kembali mobilnya hingga 400 meter kemudian dia masuk ke pelataran klinik yang melayani periksa kehamilan.


Keduanya menunggu giliran dengan saling menautkan jari. Ketika nama Aiswa dipanggil, keduanya pun masuk.


"Duh ga bisa lihat istriku yaa suster?" keluh Amir yang diminta menunggu di depan meja bidan.


"Sabar ya Pak, kan cuma disekat tirai, Ibu gak diapa-apain ko," ucap suster tersenyum.


"Bii, jangan norak, kan udah pengalaman," ucap Aiswa dalam hati.


.


.

__ADS_1


...______________________...


...Habis hibernasi nyusun draft judul baru 😁. Tumben kesayangan mommy anteng semua 😅, meluncur yang uwu semua hari ini....


__ADS_2