
"Bear." Suara Dewiq mulai melemah.
Ahmad intens memeluk sebelum istrinya memakai hijab. Keinginan yang telah lama ia tahan, luntur saat melihat Dewiq hanya mengenakan tank top hitam berenda dibalik setelan blazer putih yang akan ia kenakan.
"Sebentar, Sayang," bisik Ahmad kali ini mesra.
"Kau mau aku remedial, Bear." Dewiq mencoba agar otaknya tetap waras.
"Enggak ... ayo, aku antar," Ahmad melepas pelukan begitu saja. Nona muda Hermana luruh, jatuh menyentuh lantai.
"Astaghfirullah, Marsha."
Rambut panjang miliknya terurai kembali, nafasnya tersenggal akibat ulah jahil suaminya.
"Maaf." Ahmad menahan senyum melihat istrinya mulai terbakar.
"Hutang satu," ujar Dewiq menatap tajam pada lelaki disampingnya.
"Ampun, maaf. Nanti kita lanjutkan lagi," bujuknya.
"Jangan harap." Dewiq berusaha bangkit perlahan, menampik bantuan Ahmad yang menjulurkan lengannya.
"Sayang, gak boleh gitu loh," imbuh Ahmad melihat reaksi Dewiq yang kesal.
"Terus, kalau pria, boleh begitu?" Dewiq berdiri, menyambar blazer dan pashmina panjangnya.
Brakk. Suara pintu di tutup kencang.
"Gawat. Ku kira, perempuan lama on nya. Istriku ko enggak ya," gumam Ahmad seraya mengejar Dewiq.
Sepanjang perjalanan, Dewiq hanya diam. Sibuk dengan tumpukan buku di atas pangkuannya. Tak mengindahkan ucapan permohonan maaf Ahmad.
Sesampainya di kampus.
"Assalamu'alaikum." Nyonya muda Tazkiya melenggang pergi setelah mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumussalaam, aku tunggu ya, Sayang," ujar Ahmad mengelus pucuk kepala Dewiq sebelum ia pergi.
"Lah, gak dijawab," keluh Ahmad, kembali masuk dalam mobil yang dia parkir di pelataran kampus, menunggu Dewiq selesai ujian.
"Masih dua jam lagi, ngapain ya?" Ahmad pun mencoba browsing sesuatu untuk mengusir rasa bosan.
Sudut bibir pria kalem dengan jambang tipis menghiasi wajahnya, tertarik ke atas membentuk senyuman.
Detik berikutnya, ia sedang bernegosiasi dengan seseorang di ujung gawai yang tengah ia tempelkan di telinga kirinya.
"Ok," ujar pemilik nama Ahmad Hariri, menutup percakapan.
Sudah satu jam menunggu, Ahmad mulai bosan. Netranya memendar ke sekeliling. Di ujung seberang jalan, ia menemukan seorang gadis kecil penjual bunga.
Keturunan Tazkiya itu pun keluar dari mobilnya, berlari menyebrang jalan menuju tempat dimana sang penjual berada.
Lama dia menjelaskan sesuatu padanya hingga tak lama, buket yang ia inginkan pun siap.
Tak sia-sia ia meminta agar begini dan begitu, hasilnya memuaskan.
"Semoga Marsha, suka. Ini hari terakhir dia ujian."
Dua jam telah berlalu.
Namun Dewiq masih belum muncul. Ahmad berusaha sabar tatkala melihatnya keluar bersama seorang kawan.
__ADS_1
Sadar bahwa Ahmad telah lama menunggu, niatan untuk mengerjai pria itu pun urung Dewiq lakukan, tak tega melihat wajah polos suaminya.
"Sayang, sudah selesai?" tanyanya lembut menyambut sang istri.
"He em, sudah," jawab Dewiq acuh sembari memutari mobil, masuk begitu saja meninggalkan Ahmad yang masih berdiri mematung di sana.
"Sabar, Mad. Lu yang mulai," gumam Ahmad mengusap dadanya.
"Kita ke supermarket dulu ya, Sha. Aku ingin juice tapi di kulkas tadi gak ada buah," ujar Ahmad mencoba mengulur waktu.
"Hem," jawab Dewiq seperlunya.
"Jangan ngambek ... selamat ya Marsha ku, terima kasih sudah sangat berjuang di antara godaanku," ucap Ahmad seraya mengambil buket bunga dari jok belakang.
Dewiq terpesona. Sorot matanya memancarkan kekaguman.
"Indah, Bear. Darimana?" Wajah yang sedari tadi ditekuk itu pun luluh.
"Semoga kamu suka," balas Ahmad ikut bahagia melihat reaksi Dewiq.
"Rose pink, daisy and baby breath. Kau tahu semua bunga kesukaanku, Bear?" tanya Dewiq sumringah.
Alhamdulillah, kebetulan yang menyenangkan.
Ahmad hanya tersenyum. Sungguh tak menduga bahwa kebawelan dan ke-sok-tahu-annya kali ini justru berakhir baik.
Setelah berbelanja dan memutuskan makan malam diluar, mereka berdua kembali ke rumah. Suasana nampak lengang seperti biasanya.
Saat mulai menapaki tangga menuju kamar di lantai dua, Ahmad sudah berdebar. Apakah kejutan kali ini bisa meluluhkan hati istrinya kembali.
Ceklak. Dewiq membuka pintu kamar. Ia terpana.
"Surprise," bisik Ahmad di telinga kiri Dewiq.
Di lantai salah satu sudut kamarnya dihias dengan banyak petal bunga mawar merah membentuk ikon love lengkap dengan box hadiah berisi sesuatu di sana.
"Bear?"
"Untukmu, Sayang." Ahmad membopong istrinya memasuki kamar mereka, meletakkan Dewiq perlahan di atas tempat tidur yang telah berganti dengan sprei putih dengan buket mawar di ujung ranjang.
"Maaf untuk yang tadi sore." Ahmad berjongkok, menumpu kedua tangan di atas pangkuan istri cantiknya, sorot mata teduh itu menatap intens kedua manik mata pujaan hati.
"Bear." Dewiq hanya mampu menyelami arti dari binar mata suaminya.
"Sunnah dulu," ajak Ahmad menyelipkan lengan ke punggung Dewiq lalu menariknya hingga duduk dan kembali menggendongnya menuju bathroom.
Sadar, kemungkinan akan di minta hak malam ini, Dewiq izin membersihkan dirinya lebih dahulu.
Masih tercipta suasana syahdu nan temaram selepas sujud mereka, kini keduanya telah kembali ke peraduan. Pria tampan itu meraih box coklat dari atas meja rias, yang belum sempat dia serahkan.
"Apa ini, Bear?" Dewiq menerima kemasan berwarna hitam dengan pita emas. Membuka dan membaca pesannya pelan.
"Buka saja, Sayang," bisiknya mesra membelai pipi.
"Sha, aku melangkah mendekatimu perlahan, mengatakan rindu dari atas awan. Rinduku, segala tentangmu yang membuat ingatan dan hatiku, jatuh cinta."
"Aku mengenal kata rumah dan pulang, karenamu, yang ku sebut sebagai hunian, tempat menyimpan kedamaian ... meski kita sama, kadang sendiri merenungi, menghibur haru nan kesepian dalam batas ruang."
"Untuk Marsha-ku, Heathrow, London."
"Bearrr, terimakasih," Dewiq memeluk suaminya, lalu mengurai guna menyelami kedalaman iris mata yang meneduhkan itu.
__ADS_1
Perlahan mereka mendekatkan wajah. Namun, Ahmad meragu, hanya diam ketika kulit mereka sudah saling menempel.
"Bear, kamu mah, yang betul." Dewiq memukul pelan dada suaminya.
"Sha, kamu gak tahu aku nervous," cicit Ahmad.
Dewiq tergelak, hancur sudah nuansa romantis yang dia idamkan. Pria tampan itu memulai apa yang seharusnya mereka lakukan sejak lama.
"Mas, semua ini untukmu," bisik Dewiq, membelai wajah suaminya. Dia terbawa dengan kelembutan yang pria pujaannya suguhkan.
Ahmad terkejut, "Betul, Sayang?"
"Iya, meski aku dan Dwi urakan, kami masih menjaga diri. Juga karena kami antipati terhadap pria, malah aku dan Dwi jika ke club janjian memakai kostum yang sama agar dikira les-bian," ungkapnya.
Ahmad terharu. Ia sudah berprasangka. "Tahu gini, aku gak latihan ngikutin saran Amir, Sha," keluhnya merasa bodoh. Dewiq hanya tertawa menanggapi kepolosan suaminya.
"Ku kira aku akan terlihat bodoh karena belum pernah melakukan, nyatanya kita sama," Ahmad kali ini merasa lega.
"Baca doa, Sayang." Dia mulai percaya diri mengikuti insting kelelakiannya sepanjang yang ia pahami.
"Titip aset Tazkiya ... ikuti aku, Sha," Ahmad membisikkan lirih doa di telinga kanan Dewiq.
Wanita ayu mengikuti semua yang suaminya ucapkan. Ia terlalu haru dan bahagia, kini telah resmi seutuhnya menjadi Nyonya Hariri.
"Syukron Sayang." Lelaki yang tak Dewiq duga akan seromantis ini, lalu membawanya serta ke bathroom. Meladeni semua keinginannya. Rasa malu pun dia tepis, demi keintiman yang diinginkan.
"Diem mulu, kenapa sih?" tanya Ahmad saat membantu mengeringkan rambut Dewiq. Keturunan Hermana hanya memandang pantulan suaminya dari cermin. Ia kemudian berbalik dan memeluknya.
"Sha, kenapa?" Ahmad terheran dengan sikap istrinya sejak tadi yang terlihat lebih pendiam. Dia mulai berprasangka kembali. Apakah Dewiq belum sepenuhnya siap.
"Thanks ya Bear, sudah memilihku," isaknya terdengar.
Degh. Ahmad salah duga.
"Hmm, mulai," Ahmad menarik Dewiq ke pangkuan, duduk di sisi ranjang.
"Sha, jika hidup ibarat sebuah buku, kamu gak akan bisa membuka bab baru jika masih membaca ulang bab yang sebelumnya ... kita saling menyempurnakan, Ok? tidak ada lagi bahasan demikian," Ahmad membelai wajah Dewiq yang muram.
"Aku tulus ... love you Sayang, bobo yuk," ucap Ahmad membelai kepala Dewiq mesra.
"Aku pun, entahlah. Hanya merasa sangat happy telah menjadi wanita seutuhnya terlebih suamiku adalah putra Tazkiya yang mashur. Apalah arti sosok Dewiq bila bukan bersanding dengan Ahmad Hariri?" tutur putri sulung Hermana Arya.
"Tidak ada kata terlambat. Yang penting sang hamba menyadari bahwa apa semua hal terjadi di masa lalu membawa diri menuju perubahan yang lebih baik lagi," imbuh Ahmad Hariri.
"Tanpa menghakimi ya Bear. Menerima semua kesalahan," Dewiq masih gamang. Ingat kelalaian juga semua dosanya.
"Betul. Rahman dan Rahimm, Maha memafkan, mendengar dan bijaksana. Sifat Allah. Jadi, jaga baik sangka pada-Nya ya, Sayang, sebab apa?" kata putra sulung Maryam seraya menarik selimut dan meminta istrinya mendekat.
"Sebab Tuhan sesuai prasangka hamba-Nya, gitu kan?" jawab sang dokter muda.
"Nah itu tahu, pinternya istriku." Ahmad memuji keluwesan Dewiq yang mau belajar cepat dan menyesuaikan dengan dirinya.
"Selamat tidur, Sayang. Baca doa ya, masih ingat kan urutannya?"
"Hmm, masih. Bismillahirrahmanirrahim...." Keduanya larut dalam kein-timan, meleburkan kesalahpahaman yang sempat terjadi di antara mereka. Lagi-lagi, cinta membawa banyak perubahan bagi setiap insan yang menyadari bahwa itu adalah bagian dari nikmat juga hidayah. Cinta Allah untuk mahluknya.
.
.
..._________________________...
__ADS_1
...Hore lunas, 😂 ... makasih masih setia, menikmati, nyimak dan sejenisnya. Thanks untuk yang sudah Fav, unFav, loh. Dan yang masih bertahan meski mulai membosankan... 🤭... Mommy boleh kan, minta keikhlasan untuk kasih Rate bintang 5 dan follow? jika berkenan... kalau tak, yaa jangan... luv ❤😘...