
Aiswa masih saja tertawa meskipun mobil mereka telah jauh meninggalkan pintu tol masuk Cipali tadi.
Amir yang berpura tak mendengar Aiswa mengejeknya pun akhirnya ikut tertawa, kala istrinya itu mengatakan bahwa.
"Pak, lagi apa Pak?" ujarnya sedikit menahan geli.
"Lagi tanggung, Pak," tawa Aiswa kembali pecah, diikuti oleh Amir.
"Udah sih sayang, kan kamu juga nikmatin lah. Wong terbawa suasana gitu tadi," kilah Amir keki.
"Pelajaran Bii, bisa juga teguran. Cobalah membuang me-sum pada tempatnya," kekeh Aiswa lagi.
"Ya Allah Nak, Umma kamu kalau udah keluar gilanya begitu tuh, lama reda," sindirnya pada Aiswa.
"Abi kamu Nak, ga tahu tempat. Jangan kayak Abi yaa, untuk satu hal ini. Lainnya sih wajib kayak Abi," balas Aiswa mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Obrolan mereka terjeda kala Mahen menghubungi ponsel Amir.
"Raden Panji Mahendra Guna calling ... lengkap amat," gumam Aiswa melihat nama yang tertera di ponsel suaminya, terpasang pada dashboard.
"Raden Panji itu gelar kehormatan dari Sinuhun, aku udah pernah cerita kan? Mama beliau juga punya gelar dari keluarga Minang," jawab Amir.
"Ya Mas, assalamu'alaikum. Baru masuk Cikampek kok ini, masih jauh." Amir menerima panggilan via bluetooth.
"Hah, dikawal setelah masuk Jagorawi? eh, semenjak keluar rumah? wah kerjaan Bang Alex ini pasti ya," tanya Amir.
"Oh ok, maaf ngerepotin Mas Panji jadinya. Padahal ga usah, kek pejabat aja dikawal."
Call ended.
"Ko bisa ya Bii?"
"Ya kerjaan mereka gitu, Shadow nama team Mas Panji. Orang-orangnya beneran gak keliatan dimana posisinya. Cepet banget, kayak waktu di London itu kan."
"Bodyguard ya? kayak Joanna, Ulfa," sambung Aiswa.
"Bang Alex, Rey, Bram, Adnan, Pras, Candi ... mereka ini andalan utama Mas Panji, orang terdekat yang siap mati jika pertahanan level bawah hingga middle jebol. Naya itu kemana-mana sendirian padahal yang ngawal Naya dan Maira itu belasan. Dan Candi, pengirim signal terbaik agar bantuan segera datang," pungkas Amir mengagumi rahasia adik iparnya.
"Eh keren amat, banyak duit ya?"
"Loyalitas, aku ga tahu sedalam apa Mas Panji pernah menyelamatkan hidup mereka satu persatu," imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Amazing kan? ini baru Mas Panji, belum Pak Kusno dan Om Jimsey serta Uyut. Makanya Naya dulu itu di incar banyak CEO yang ingin memanfaatkan keluarga Kusuma, dan cuma Mas Panji yang bisa melindunginya."
"Identitas keluarga ku yang disembunyikan oleh Abah puluhan tahun akhirnya terbongkar karena Mas Panji mengajak Naya ke party kawannya ... Mas Panji bilang kan tadi, semua yang ia lakukan ini demi kamu, karena istriku sedang hamil agar selamat hingga tujuan," tutur Amir.
"Kusuma, karena latar belakang keluarga kalian maka Allah menitipkan orang-orang yang bisa menjaganya dengan baik," lirih Aiswa.
Benar kata ka Dewiq, pantas saja Hasbi sangat menginginkan Kak Naya dulu. Mungkin selain cinta dia juga memandang itu karena Hasbi adalah keturunan yang sama dengan mereka, Ningrat.
Perjalanan keduanya di habiskan dengan bercanda hingga Amir mengetahui BMW Sport Hitam milik Pras menyalip didepan mobil dengan memberikan kode lampu sein, mengawal mereka hingga tiba di Orchid, kediaman Mahen.
Orchid.
Mahen menunggu di bawah, ia tengah berbincang dengan manager gedung kala Amir datang dari basement.
"Mas, syukron tadi," sapa Amir pada adik iparnya.
"Kak, Mba, langsung naik yuk. Maira masih agak rewel karena imunisasi lalu, maaf ya jika nanti istirahatnya terganggu," ujar Mahen.
"In sya Allah gak," balas Aiswa.
Mereka naik ke unit Mahen. Saat Naya membuka pintu, Maira yang susah tidur langsung menangis meminta gendong pada Amir kala melihat uwa tampannya datang.
"Assalamu'alaikum Maira, sakit ya sayang. Sini bobok sama Uwa ya di atas," Amir membawa Maira bersamanya karena tak tega melihat Naya seperti kelelahan.
"Biar Mas, sama kita dulu. Kalian istirahat saja," ujar Aiswa yang mengikuti suaminya.
Tak lama Maira tidur, Amir pun turun.
"Loh, Maira mana?" tanya Naya yang sedang membuat jahe hangat untuknya.
"Tidur Nduk, ditemani Aish. Oh iya besok lusa gimana? kamu udah siapin, Nduk?"
"Udah semua Kak, cuma Abang punya plan B buat jaga-jaga, semoga sih enggak kejadian. Gak akan gagal kalau Abang yang turun deh ... Sayang, ko jadi pengen kayak gitu ya," Naya merajuk, mendudukkan dirinya di pangkuan Mahen.
"Nanti kalau Maira sehat, kita jalan," ucap Mahen menciumi wajah istrinya.
"Itu kado dari kita ya Kak, aku siapkan fasilitas Hotel untuk mereka jika rencana yang Naya susun meleset," sambung Mahen.
"Dia kawan terbaik yang aku punya, kini menjadi kakak iparku ... Oh iya Mas, Nduk kalian pelajari kontrak Sheila hijab yaa karena besok siang kan pengesahan jika setuju," Amir menyerahkan draft kontrak milik Sheila.
"Ini udah hampir jam dua belas, tidur gih Kak. Abang baru pulang satu jam lalu jadi masih nunggu rileks dulu."
__ADS_1
"Aku belum ngantuk Nduk, sengaja makanya ngobrol ini dulu. Kontrak Aiswa juga terpisah," balas Amir.
Mahen masih meneliti semua poin yang tertera di dalam perjanjian kerjasama antar mereka.
"Ini gak ada yang janggal sih Kak, keduanya punya peran dan profit yang hampir sama. Jika Sheila lebih tinggi, wajar karena dia memiliki sisa stock untuk produk yang slow moving nanti dan itu konsekuensi atas selisih dari profitnya. Juga untuk promosi serta lainnya ... kurasa ini logis," rinci Mahen.
"Honey, coba kamu lihat poin enam hingga sembilan. Menurut kamu gimana?" Mahen bertanya pada Naya.
Beberapa menit berlalu.
"Aku setuju dengan Abang. Kita minim resiko Kak, ditawarkan profit segini sudah sangat baik loh karena design murni milik kita bukan? ya meski values nya dibawah standar harga per design dengan jumlah sekian."
"Tapi profit kita stabil dan ini salah satu income selama beberapa tahun mendatang tanpa kita pusing dengan material lainnya ... Sheila nampaknya memang ingin mendompleng cutting Queeny namun ini juga bagus untuk kita, bisa jadi ajang trial market luar. Ambil deh," imbuh Naya.
"Pinter," bisik Mahen.
"Kontrak kerja Mba Aish, juga ringan kan? hanya hadir saat launching saja. Sepertinya dia memang mengagumi ya, di lihat dari cara menghargai kerja kita ... aku sih yes, Abang juga, sekarang tinggal Kakak dan Mba Aish aja," lanjut Naya.
"Keren amat si Bapak, bawaan bayi yaa rezekinya deres amat," goda sang adik bungsu pada Amir.
"Di aamiini, Nduk."
"Kapan hari waktu Maira imunisasi, kita ketemu Hasbi Kak, luka parah loh dia itu ternyata saat Reezi sakit ya? dia kenapa sih? dipukuli preman?"
"Iya, entah apa masalahnya." Amir sungkan menanggapi dan ditangkap oleh Mahen.
"Bobok yuk sayang, besok lagi," ajak Mahen bangkit.
"Duluan ya Kak," ucap keduanya masuk ke kamar mereka.
Amir masih duduk di ruang keluarga, ditemani secangkir teh panas dari Maid yang menyiapkannya.
Ahmad, kamu adalah sahabat terbaik di dunia dan aku berharap kita juga akan bertemu di surga.
Kita memiliki banyak perbedaan tetapi Ahmad lah yang selalu mengerti akan semua perbedaan. Hasbi, akankah kita bertiga dapat kembali seperti dulu?
Kualitas paling indah dari persahabatan adalah memahami dan dipahami, terimakasih kalian telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku.
.
.
__ADS_1
...________________________...
...Otak mommy penuh ini, ngebayangin godaan Ahmad nanti. Bobok dulu ya, semalam pulang safar jelang midnight. Jaga kesehatan yaa kesayangan Mommy... 🥰...