
"Sakit apa? di opname?" Tanya Amir.
"Sebentar ... dia memperkenalkan diri lalu menceritakan anaknya akan menjalani test EEG MRI siang ini di RSPP ... dia meminta doa dari ku dan permohonan maaf serta mendoakan kita ... dia mengatakan jangan membalas pesannya." Aiswa membaca deretan kalimat disana.
"Masih bayi ya? jika MRI berarti berhubungan dengan otak ... semoga hasil testnya baik, aamiin."
Ucap keduanya seraya melanjutkan perjalanan. Baru saja Yaris hitam itu melaju kembali, ponsel Amir berdering.
"Bii, Abah." Aiswa menunjukkan nama yang tertera di layar.
"Jawab sayang, eh aku bluetooth aja ya."
"Assalamu'alaikum, Mir dimana?"
"Wa'alaikumussalam dijalan mau ke Bekasi dengan Aish, kenapa Bah? aku balik esok yaa ... masalah butik sudah selesai ko."
"Bukan itu, sudah tahu kabar putranya Hasbi? kata Yai maksum di opname sejak kemarin dan akan jalani test lumayan serius, do'ain yaa ... Nduk, Abah minta ikhlas ridhonya buat do'ain anaknya ... hmmm itulah," Abah rikuh ingin menyebut mantan suami Aiswa.
"Nggih Abah, in sya Allah nanti kita jenguk."
"Sayang...." Amir menggelengkan kepala tanda kurang setuju.
"Alhamdulillah, syukron Nduk, hati-hati dijalan ya, titip Amir...."
Setelah panggilan terputus. Amir langsung menyatakan ketidaksukaannya.
"Rohi, aku ga suka ya kamu main jenguk aja," Amir cemburu.
"Anaknya ga salah Qolbi sayang, jangan timpakan kesalahan ayahnya terhadap kita pada anaknya, ga adil namanya Bii," tuturnya lembut.
"Aku juga ga kesana kalau Qolbi ga izinkan, lagipula kalau mau simpan penyakit hati, mereka itu menyakitiku, keluargaku juga suamiku ... tapi sesama muslim kan wajib saling mendoakan bukan? orang yang paling dibenci Allah adalah yang menaruh dendam, hadist siapa coba itu?"
"Bukhari wa muslim sayang."
"Ceritakan asbabun nuzul tentang Al Maidah ayat dua, Bii...." senyum Aiswa terbit sementara Amir mulai tersudut.
"Hmm kalah telak deh ... iya iya, boleh jenguk."
"Cerita dulu, atau tafsir deh menurut Qolbi...."
"Ga enaknya sama yang fahim tuh begini nih."
"Dih, kan diingetin." Aiswa tertawa melihat suaminya terdesak.
__ADS_1
"Asbabun nuzul ketika Rosulullah hijrah ke Madinah saat haji wada, Baginda nabi dengan para sahabat di hudaibiyah, dihalangi oleh kafir quraish saat akan ke Baitullah... saat itu ada orang musyrik yang hendak ke Baitullah datang dari timur ... para sahabat berkata, kita cegah dia sebagaimana kita dicegah saat akan ke Baitullah."
(Asbabun nuzul adalah kisah yang melatari turunnya ayat suci Al-Quran)
"lalu?"
"Tafsir al-maidah ayat dua itu ada larangan juga anjuran berbuat kebajikan ... tentang ke empat bulan harom karena dimuliakan dan yang berkaitan dengan itu ... juga tentang, jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum mendorong kita melakukan hal yang diluar batas ... inti pokoknya adalah seorang muslim dilarang saling membenci, harus tolong menolong, berbuat kebaikan dan takwa bukan sebaliknya, permusuhan atau dosa." Pungkas Amir.
"Jika kita ditimpa ujian yang berat maka mintalah pada Allah dengan sabar dan sholat...." Aiswa tersenyum manis menoleh ke arah suaminya.
"Karena Allah bersama orang-orang yang sabar ... iya sayang iya, syukron diingatkan." Amir mengusap kepala istrinya sayang, meraih jemarinya lalu menghadiahi dengan kecupan.
"Mungkin dia pemantiknya, tapi kehendak Allah pasti ada didalamnya, ingin kita sabar dan lebih dekat memohon padaNya ... jadilah aku sekarang sama Qolbi, kan begitu ... bener ga? Maa Sya Allah, baru sadar ya Bii, padahal petunjuknya ada di Al-Baqarah 153," Aiswa tak henti bersholawat.
"Allahumma sholli wasallim wabarik alaih ... pinter banget sih ... kita jenguk kalau ga kemalaman ya, jaraknya ujung ke ujung soalnya ... kalau ga sempat, besoknya lagi."
"Alhamdulillah, syukron Habibi Qolbi, masih jauh ya?"
"Bentar lagi sampai," ujarnya masih mengecupi jemari kanan Aiswa yang ia genggam.
Lima belas menit berlalu.
"Arza-Tahfidz-Boarding School." Aiswa mengeja papan nama sekolah saat mobil mereka memasuki gerbang bangunan megah.
"Maa sya Allah Qolbi," Aiswa terharu.
"Sekarang aku titipkan ini padamu, isi dengan program ketrampilan yang kamu mampu bagi mereka juga pengembangan diri lainnya, agar ketika masuk tsanawiyah, akhlak para santrinya terutama santriwati seperti Aiswa Fajri, sholihah in sya Allah ... ya sayang, bantu wujudkan cita-citaku," Amir menatap Aiswa masih didalam mobil sebelum mereka turun.
"Aku."
"Jazakillah kheir Rohi Habibati, sudah sangat memotivasi aku untuk merintis segalanya termasuk Quenny, Qiswa dan ini...."
"Qiswa?"
"Brand moslem wear milikku, meski masih dalam naungan Queeny ... Qiswa, Qiyya dan Aiswa, kalian berdua istriku ... aku memulainya dengan Qiyya dan melanjutkan denganmu ... mau kan sayang?"
"Qiswa juga artinya cover, busana syar'i untuk menutup aurat wanita."
Aiswa hanya menunduk, ia terlalu bahagia, sosok di hadapannya ini mencoba berlaku adil bagi kedua istrinya, meski Aruni telah berpulang Amir masih mengenangnya dengan membawanya serta dalam mimpi yang akan dia lanjutkan dengan Aiswa.
"Sayang, maaf jika tidak berkenan ... kita cari nama baru, Ok?"
Aiswa menghambur kepelukan suaminya begitu saja. Ia terisak dalam pelukan dada bidang tubuh lelakinya. Ini mimpinya juga.
__ADS_1
"Allhamdulillahilladzi bini'mati...." lirihnya tak dapat meneruskan kalimat karena terlalu bahagia.
"ala tattimuss sholihat, aamiin...." Amir mengusap kepala istrinya penuh sayang, menghadiahi dengan banyak kecupan.
"Sudah, maaf jika aku salah ya Rohi."
"Engga Bii, aku happy ... terlalu happy," ucapnya disela isakan.
"Allahumma ba'daha Ya Robb ... turun yuk, sekalian makan siang dengan santri di kantin ... disapa anak didiknya ya sayang, beri wejangan sedikit." Amir menyeka air mata Aiswa, mengecup keningnya lalu mengajaknya turun.
...***...
Sementara di RSPP, waktu yang sama.
Pasangan muda tengah harap cemas menunggu hasil lab. Yai Maksum baru saja tiba ketika ranjang bayi cucunya didorong oleh suster kembali ke kamar perawatan.
Serli meminta izin pada Hasbi ke toilet untuk pumping asi bagi Reezi.
"Gimana Bi?" Tanya Kyai Maksum setelah dia duduk disofa dalam ruangan itu.
"Belum Buya, nanti jam tiga baru diagnosa test turun ... lalu harus menunggu dokter Reezi untuk pembacaan hasil jam tujuh malam nanti," sahutnya lemah merasa tidak berguna.
"Lama sekali, gimana nasib cucuku ... kamu jangan diam saja Bi," tegur sang kakek.
"Ya mesti gimana, kan ga bisa tindakan karena diagnosa belum ketahuan, Buya," balasnya setengah putus asa, ia juga jengah menunggu seakan waktu lambat berjalan.
Dalam kekalutan dua orang pria, pintu ruangan dibuka oleh suster yang datang membawa obat bersama dokter visit.
"Pak Hasbi, tolong siapkan ini ya, untuk jaga-jaga jika diagnosa keluar sore nanti." Dokter memberikan kertas berisi catatan termasuk obat yang akan di pakai siang ini untuk putranya.
"Baik dokter," Hasbi menerima selembar kertas bertuliskan sesuatu disana dan ia harus segera menyiapkannya.
"Semoga pasien tidak terdiagnosa seperti yang kita khawatirkan ... sabar ya Pak, kami akan maksimal melakukan upaya medis ... saya permisi."
Sayang, Habrizi putraku, lekas sehat kembali...
.
.
...__________________________...
...Meleleh adek, Mirrrrrrrrrrr.... 😌...
__ADS_1